Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Pohon Pencerahan dan Umpan dari Sumber Kehidupan
Keempatnya berdiri bersama di depan rumah batu yang tenang di dalam ruang Cincin — Riu Han, Long Siu, Genbu, dan Bai Wing. Udara di sekitar mereka terasa khidmat, seakan tempat itu sendiri mengerti betapa pentingnya apa yang akan dibicarakan.
"Kakek Qin, kemarilah," panggil Riu Han pelan.
Sosok orang tua berpakaian serba putih muncul perlahan di samping mereka, wajahnya tenang namun penuh wibawa yang tak terucapkan.
"Kakek, ada sesuatu yang ingin ditanyakan oleh Long Siu," kata Riu Han.
Qin Siue menatap Long Siu, menunggu. Long Siu memberi hormat dengan tulus, lalu berkata, "Kakek, Anda telah hidup begitu lama, tentu banyak hal yang Anda ketahui. Bolehkah saya meminta penjelasan tentang bagaimana alam ini tercipta?"
Qin Siue mengangguk pelan, lalu mulai bercerita dengan suara yang dalam dan tenang. "Baiklah, akan aku sampaikan apa yang aku tahu. Sejak awal dunia diciptakan, enam hal legendaris lahir bersamanya. Dua Pohon Agung, dan Empat Binatang Suci. Tentang Empat Binatang Suci, kalian tentu sudah mengenalnya. Adapun Dua Pohon, yang pertama adalah Pohon Sumber — yang kalian miliki sekarang. Yang kedua adalah Pohon Pencerahan."
Ia berhenti sejenak, membiarkan nama itu meresap.
"Pohon Pencerahan menghasilkan buah yang memiliki kekuatan luar biasa: membantu para kultivator untuk lebih mudah larut dalam pemahaman akan konsep dan unsur alam. Kalian tentu paham betapa sulitnya hal ini, bukan? Saat kau tenggelam dalam pemahaman mendalam, seperti yang pernah Riu Han alami saat menguasai konsep ruang, hanya pada momen itu saja kau dapat memahaminya sepenuhnya. Begitu kesadaran kembali, kau tidak akan bisa mengulanginya sesukamu. Itulah sebabnya buah ini begitu berharga — ia memungkinkan seseorang untuk fokus, memahami, dan menguasai hal-hal yang paling sulit dengan cara yang jauh lebih mudah."
Keempatnya mendengarkan dengan saksama. Riu Han mengangguk pelan — ia paham betul makna kata-kata itu. Ia pernah merasakan betapa sulitnya menembus tabir pemahaman yang samar, betapa banyak waktu yang berlalu tanpa kemajuan yang berarti. Pohon Pencerahan itu sungguh merupakan harta yang tak ternilai harganya.
Qin Siue menatap Long Siu, dan tatapan itu seakan mengundang pemuda itu untuk berbicara. Long Siu tersenyum, lalu melanjutkan, "Dulu saat aku berpetualang di tempat ini, aku pernah melihat sebuah pohon besar yang sarat akan buah. Saat aku hendak mendekatinya, pohon itu lenyap masuk ke dalam tanah. Di klan kami, memang ada catatan dan dugaan bahwa Pohon Pencerahan berada di Alam Kuno ini. Namun aku tak yakin, itulah sebabnya aku ingin memastikannya."
Riu Han tersenyum lebar, matanya berbinar. "Jadi kau memang melihatnya. Sekarang katakanlah, di mana tempat itu?"
Dengan petunjuk yang diterima, Riu Han mengajak Genbu dan Bai Wing keluar dari Cincin Ruang. Pemburuan harta yang paling berharga pun dimulai. Mereka terbang menembus hutan lebat yang dipenuhi pohon raksasa — sama seperti hutan pertama yang mereka masuki, tempat di mana batang kayu menjulang ratusan meter ke angkasa, menutupi langit hingga ke bawah terasa senantiasa remang. Mereka mencari ke segala arah, menyisir setiap sudut hutan itu, namun tak ada tanda-tanda pohon yang dimaksud.
Setelah berkelana cukup lama tanpa hasil, Riu Han mengajak kedua sahabatnya kembali ke dalam Cincin Ruang.
"Kakek Qin, bisakah Anda mengendalikan Cincin Ruang ini dan mencari keberadaan pohon itu dari atas?" tanyanya.
"Tentu saja," jawab Qin Siue tenang.
Riu Han sendiri juga mampu mengendalikan Cincin Ruang, namun dibandingkan dengan roh yang lahir bersamanya, kemampuannya masih jauh tertinggal. Di bawah arahan Qin Siue, Cincin Ruang itu melayang di udara, sekecil setitik debu di antara pohon-pohon raksasa, berputar menyisir hutan dengan teliti, memeriksa setiap jengkal tanah dan pepohonan. Namun pohon itu tetap tak muncul.
Kebersamaan itu terhenti sejenak, hingga Genbu menyuarakan gagasannya dengan ragu. "Kakak Riu... bukankah sebaiknya kita mengeluarkan sedikit aura Pohon Sumber sebagai umpan?"
Riu Han dan Bai Wing menoleh ke arahnya. Genbu menggaruk kepalanya, menunduk malu. "Maaf... aku hanya menyarankan, tidak bermaksud apa-apa."
Namun Riu Han tersenyum lebar. "Genbu, idemu sungguh cemerlang!"
Ia segera menghubungi Pohon Sumber melalui komunikasi batin. Perlahan, dari dalam Cincin Ruang, menyebar ke luar sebuah aroma yang segar, manis, dan penuh kehidupan — seakan musim semi datang tiba-tiba, membawa warna, kegembiraan, dan semangat yang tak pernah pudar. Angin berhembus lembut, dedaunan berdesir riang, dan keheningan hutan yang berabad-abad lamanya terasa dingin kini terisi oleh kehangatan yang akrab dan menenangkan.
Tak lama kemudian, tanah di hadapan mereka bergetar pelan. Dari celah akar dan tanah yang lembap, muncul perlahan sebatang pohon kuno. Batangnya berwarna cokelat keemasan, kulit kayunya berkerut penuh kenangan, cabangnya menyebar lembut seakan tangan yang terbuka menyambut sahabat lama. Pohon itu bergetar, bukan karena tertiup angin, melainkan karena emosi yang meluap-luap — rindu, haru, dan keheranan bercampur menjadi satu.
Riu Han memutuskan untuk menghadapinya sendirian. Ia melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan tenang mendekati pohon itu. Pohon itu tidak pergi. Saat ini wujudnya tidak raksasa, tingginya hanya tiga meter, seukuran tubuh manusia dewasa, namun keagungannya tak dapat disembunyikan — ia mampu mengecil dan membesar sesuka hatinya, sama seperti Pohon Sumber yang masih muda dan belum sepenuhnya terbangun.
"Salam, Tuan," ucap Riu Han dengan penuh penghormatan. "Namaku Riu Han. Aku datang membawa salam dari teman lama-Mu."
Pohon itu bergetar lebih hebat mendengar kata-katanya. Perlahan, di batangnya yang halus, terbentuklah sepasang mata yang bijak, keriput di wajahnya menceritakan ribuan musim yang telah ia lalui. Terdengar suara helaan napas yang panjang, lembut, dan sedih, bergema di udara tanpa diucapkan dengan mulut.