Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Bukan Nyonya Abal-abal
Pasar kota Qinghan.
Kereta sampai di kota Qinghan, Su Wanwan segera turun dari kereta. Ia terdiam sebentar melirik bibi-nenek yang terlihat canggung dan takut-takut itu, dan hanya bisa memutar bola mata malas.
Ia berjalan menuju Labao dan menyerahkan empat sen tembaga. Hal dasar ini membuat Labao terkejut seperti melihat gunung emas, "i-ini... Empat Wen?"
Su Wanwan meliriknya dan mengerutkan kening. "Kenapa, kurang?"
"Tidak, tidak. Terimakasih!"
Su Wanwan ingat pemilik tubuh ini agak pelit, sampai mengutang ongkos jalan atau kadang membayar setengah. Labao adalah pria yang lemah, pernah dia tidak mengizinkan nya ikut lagi dan Su Wanwan asli malah membuat keributan di pasar, memutar balikkan kata membuat Labao kesulitan.
Lagi-lagi dia hanya bisa menghela napas pelan, benar-benar kasihan pada mereka.
"Hu Zheng, ayo jalan"
Hu Zheng berjalan mengikuti nyonya nya dari belakang sambil membawa keranjang di punggung. Dia tidak berbicara sepatah kata pun, dan terus melihat punggung nyonya nya. Saat punggung itu berhenti ia pun ikut berhenti.
"Tunggu di luar sebentar." ucap Su Wanwan lalu berjalan masuk.
Hu Zheng melihat tuan nya masuk, lalu melihat papan nama dan tempat apa yang di masuki nya. "Rumah gadai..."
Di dalam toko.
Tanpa basa-basi Su Wanwan langsung mengeluarkan barang dari pakaian nya. "Benda ini aku gadai putus, berikan harga nya jika kalian mau."
Manajer rumah gadai seketika menarik perhatian nya pada barang yang Su Wanwan bawa. "I-ini... Botol liuli yang sangat langka itu!"
"Astaga, bahkan warna nya lebih murni dari gelas liuli istana." Kagum manajer rumah gadai itu.
Manajer gadai itu melirik Su Wanwan, melirik pakaian nya yang biasa saja dan berdehem pelan. "Nyonya..."
Tangan Su Wanwan terangkat. "Kita berdua sama-sama tahu nilai botol liuli ini, katakan saja kau ingin menerima nya atau tidak. Jika tidak aku akan mencari tempat lain yang menginginkan nya."
Gluk!
Manajer rumah gadai ini sepertinya terlalu meremehkan, dia tersenyum canggung. "Baiklah-baiklah, berapa yang nyonya inginkan?"
Su Wanwan mengangkat lima jari nya.
"Apa? Lima ribu tael perak?!"
"Nyonya, meskipun botol liuli ini langka dan kemurnian nya tinggi. Namun ini hanyalah kota kecil, bukan ibukota kekaisaran. Harga lima ribu tael perak terlalu tinggi."
Su Wanwan. "..." Padahal dia hanya meminta lima puluh tael perak.
Tapi karena manajer gadai sendiri yang memberi nilai, ia tidak keberatan. "Manajer, rumah gadai ini bukan toko kecil. Anda pasti memiliki koneksi dengan Ibukota kan? Menjual nya kembali kesana dengan harga delapan sampai sepuluh ribu jelas tidak mustahil. Anda masih tidak ingin mengambil nya?"
Manajer rumah gadai itu menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, nyonya ini benar-benar pro, pikirnya. "Yang nyonya katakan memang mungkin adanya. Namun kas rumah gadai kami tidak memiliki lima ribu tael perak, bagaimana jika harga nya di turunkan."
"Berapa?" Tanya nya datar.
"Empat..." Manajer rumah gadai itu melihat tatapan Su Wanwan yang semakin dingin, dia mengepalkan tangannya hingga akhirnya melanjutkan. "ribu lima ratus"
Tak!
Su Wanwan menjentikkan jarinya. "Setuju, langsung bayar."
Manajer rumah gadai menghela napas lega, lalu segera memberikan uang dan menulis surat gadai nya. Setelah Su Wanwan selesai menghitung uang dan melakukan cap, ia langsung pergi.
Ia memasukan puluhan uang kertas itu kedalam pakaian nya, dan diam-diam memasukkan nya ke dalam ruang. Ya, sebenarnya dia juga baru sadar jika di zaman kuno ini dia bisa menggunakan ruang dan memasuki nya sesuka hati tanpa terikat rumah. Sementara di dunia modern dia hanya bisa memasuki ruang nya saat di dalam villa nya saja.
"Ayo pergi" ucap Su Wanwan setelah keluar.
"Baik nyonya."
Su Wanwan terus berjalan melihat-lihat toko-toko dan jajanan kaki lima pinggir jalan, dia sebenarnya ingin membeli banyak barang. Namun dengan Hu Zheng saja dia tidak akan bisa membawa semuanya.
"Dimana tempat penjualan kuda?" Tanya Su Wanwan tiba-tiba.
"Itu,,, di ujung jalan sebelah selatan sana." Tunjuk Hu Zheng.
Su Wanwan mengangguk dan segera berjalan menuju jalan yang di tunjuk Hu Zheng, kurang dari seperempat Sichen mereka akhirnya sampai.
Hu Zheng diam-diam terus berpikir keras, apakah tuan nya ingin membeli kuda? Namun darimana ia mendapatkan uang, kuda setidaknya berharga puluhan atau ratusan tael. Apakah dari pegadaian itu?
Namun barang apa yang dia gadaikan sampai berharganya puluhan tael?
"Hu Zheng, kau bisa mengendarai kuda?"
"Tidak bisa nyonya"
Setelah mendengar jawaban Hu Zheng Su Wanwan langsung pergi menuju pengurus peternakan kuda itu. Hu Zheng sedikit merasa bersalah, 'apakah nyonya nya pikir dia tidak berguna?'
"Berapa harga kuda?"
Pengurus itu melirik Su Wanwan lalu sedikit menjawab. "Harga nya berbeda-beda, lihat saja dulu setelah pasti tanyakan lagi."
Su Wanwan mengangguk. Dia menatap kuda-kuda itu dengan teliti, matanya sedikit memancarkan energi hijau dan dengan itu dia bisa melihat aura energi yang di pancarkan kuda-kuda itu.
Ada yang aura energi nya lemah, yang menandakan kuda itu kurang sehat. Ada yang sedang dan lumayan tinggi, hingga beberapa saat kemudian Su Wanwan akhirnya selesai memilih.
"Aku ingin kuda ini, sebutkan harganya."
"Anda memiliki penilaian yang bagus, ini kuda--" Su Wanwan mengangkat tangannya.
"Sebutkan harga nya"
"S-seratus tael perak"
"Tambahkan kereta nya jangan terlihat mewah namun harus yang kuat, besar dan luas. Juga tali kekang nya."
"Akan segera di siapkan" Pengurus peternakan kuda itu dengan semangat 45 langsung menyiapkan pesanan Su Wanwan. Kurang dari lima belas menit kuda sudah selesai terpasang dengan kereta kuda yang cukup besar dan luas.
"Ini kereta kuda dari kayu mahoni tuan, kuat besar dan luas! Semuanya 122 tael."
"Baik, aku bayar 125 tael namun dalam waktu setengah Sichen ajarkan dia mengendarai kereta kuda ini."
Pengurus peternakan kuda itu menerima 125 tael perak dengan senang hati. "Baik-baik tuan, saya jamin sebelum setengah Sichen dia pasti sudah bisa mengendarai kereta kuda."
"Nyonya istirahat lah disini, nikmati teh dan camilan ini." ucap pengurus itu lagi.
Su Wanwan duduk dan menikmati teh, sementara Hu Zheng mendapatkan pelajaran mengendarai kereta kuda dari pengurus.
Setengah Sichen kemudian, kereta kuda itu melaju keluar dari kawasan peternakan kuda.
"Toko terbesar pakaian kota ini, pergi kesana."
"Baik nyonya!"
Di dalam kereta, Su Wanwan berbaring santai sambil memakan anggur. Menikmati kehidupan baru sebagai nyonya sesungguhnya, bukan nyonya abal-abal yang menyusahkan warga lagi.
***
#Teman-teman pembaca, mohon jangan menimbun/menabung Bab. Bacalah langsung setiap update, karena itu akan mempengaruhi retensi. Jika retensi hancur, penulis tidak akan bisa mempertahankan/melanjutkan ceritanya