Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANISNYA ADONAN DAN JEJAK TEPUNG DI HIDUNG MANCUNG
Hari Minggu menyapa perumahan mewah itu dengan hembusan angin pagi yang sejuk dan riak sinar matahari yang hangat. Di dalam rumah, suasana terasa begitu damai dan tenang.
Di dapur bernuansa modern dengan konter marmer abu-abu yang mengilap, Aisyah sibuk berkutat sejak pukul tujuh pagi. Rambut hitam panjangnya digulung asal-asalan ke atas menggunakan jepitan badak, membiarkan beberapa helai anak rambut menjuntai manis di tengkuk dan pelipisnya. Ia mengenakan kaus oblong katun santai berwarna cream dan apron merah bermotif kotak-kotak.
Suara mixer listrik yang berderu halus mengocok adonan telur dan gula memenuhi ruangan. Aisyah sedang mencoba membuat kue bolu mentega karamel resep lama yang dulu sering diajarkan oleh ayahnya sewaktu Aisyah masih kecil, jauh sebelum pria itu tega kabur meninggalkan keluarganya begitu saja dan melimpahkan semua jeratan utang pada Aisyah serta Ibunya.
"Duh, margarinnya tadi tiga sendok atau empat sendok ya?" gumam Aisyah seraya menatap mangkuk adonan kaca di depannya dengan dahi berkerut.
Setiap kali membuat kue ini, ingatan tentang ayahnya selalu berkelebat di pikiran Aisyah. Pria yang dulu sangat penyayang itu mendadak berubah gelap mata karena judi dan utang, hingga akhirnya melarikan diri entah ke mana, meninggalkan luka mendalam dan kemiskinan yang mencekik bagi Aisyah, Awan, dan Ibu. Namun, Aisyah enggan membiarkan kenangan buruk itu merusak paginya.
Sementara itu di lantai dua, pintu kamar utama terbuka.
Ammar melangkah keluar. Penampilannya pagi ini sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada baju koko berkerah shanghai yang kaku, peci hitam, atau kain sarung woven halus. Hari Minggu adalah hari libur mengajar di pesantren. Pria itu hanya mengenakan kaus polos berlengan pendek berwarna abu-abu tua yang membungkus ketat dadanya yang bidang dan otot lengannya yang kokoh, dipadu dengan celana kain santai berwarna gelap. Rambut hitam tebalnya yang sedikit basah usai mandi dibiarkan terurai berantakan tanpa tatanan minyak rambut, memberikan kesan maskulin yang sangat santai dan segar.
Ammar berjalan menuruni tangga kayu dengan santai. Langkah kakinya yang tak bersuara terhenti di ambang pintu dapur ketika hidungnya menangkap aroma wangi mentega leleh dan vanila yang menguar manis di udara.
Mata cokelat mewahnya tertuju pada sosok wanita yang sedang berdiri di depan meja konter.
Ammar menyandarkan tubuh tegapnya pada bingkai pintu dapur, melipat kedua tangannya di dada. Ia memperhatikan gerakan Aisyah dalam diam. Binar matanya menatap lembut bagaimana istrinya itu bekerja begitu tekun mengayak tepung terigu hingga debu putih berterbangan tipis di sekitar wajah polosnya, lalu mengaduk adonan dengan sendok kayu menggunakan ayunan tangan yang lincah.
Aisyah yang sedang sibuk mematikan mixer mendadak merasakan dorongan insting bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Ia memutar tubuhnya.
DEG!
Aisyah terpaku seketika. Matanya membelalak pelan menatap Ammar.
Ini adalah pertama kalinya Aisyah melihat sosok Ammar dalam pakaian kasual rumahan. Kaus abu-abu yang membungkus tubuh atletisnya, rambut agak berantakan yang jatuh meliuk di kening, serta rahang tegas tanpa peci... membuat ketampanan alami pria itu melonjak berlipat-lipat ganda!
Dada Aisyah berdesir hangat secara mendadak. Pipi mulusnya merona tipis. Astaga, kenapa pria kaku ini bisa sekharismatik ini kalau pakai kaus polos?!
Aisyah berdeham pelan demi menutupi keterpakuannya. "E-Ehem... Mas Ammar? Sudah bangun?"
Ammar mendorong tubuhnya menjauh dari bingkai pintu, lalu melangkah pelan memasuki area dapur. Langkah kakinya begitu tenang dan anggun.
"Aroma di dapur ini ramai sekali," ucap Ammar dengan suara baritonnya yang dalam dan parau khas pagi hari. "Kamu sedang buat apa?"
"Aku... aku lagi bikin kue bolu mentega karamel," jawab Aisyah seraya memegang mangkuk adonan. Namun, raut wajahnya mendadak berubah menjadi agak ragu dan tidak percaya diri. Ia menatap adonan kental berwarna kuning keemasan itu dengan gigitan kecil di bibir bawahnya.
"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Ammar heran, menghentikan langkahnya tepat di sisi lain konter marmer, hanya terpisah jarak selebar meja dari Aisyah.
Aisyah menghela napas, menatap Ammar dengan mata bulatnya yang polos penuh ketidakpastian. "Aku gak PD sama rasanya, Mas..."
"Gak percaya diri?"
"Iya," adu Aisyah jujur, jemarinya meremas sendok kayu adonan. "Ini resep lama yang dulu pernah diajarin Ayah sewaktu aku masih kecil, sebelum... ya, sebelum Ayah kabur ninggalin kami. Aku udah lama banget gak bikin kue ini lagi. Tadi takaran gulanya kayaknya agak aku kurangi sedikit biar gak kemanisan, tapi aku takut rasanya malah jadi hambar atau aneh."
Mendengar Aisyah menyebut tentang ayahnya yang kabur, sorot mata Ammar melunak. Ada rasa empati yang mendalam terpancar di matanya. Pria itu tahu betul bagaimana pahitnya perjuangan Aisyah yang harus menanggung beban keluarga setelah ditinggal pergi oleh sosok kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab.
Aisyah mendongak, menatap mata cokelat Ammar dengan pandangan memohon. "Mas Ammar... bantuin cobain rasanya dong? Udah pas atau belum?"
Ammar menaikkan sebelah alisnya, agak ragu. "Saya bukan ahli penilai kue, Aisyah."
"Bukan penilai kue gak apa-apa! Yang penting lidah kamu normal kan?" desak Aisyah gemas.
Aisyah mengambil sebuah sendok kecil bersih dari rak. Ia mencelupkan ujung sendok tersebut ke dalam adonan kental yang manis dan harum itu, mengambil sedikit adonan mentah yang sudah teraduk sempurna.
Aisyah mengulurkan tangannya melintasi meja konter, mengarahkan sendok kecil itu ke arah bibir Ammar.
"Nih, coba sedikit aja. Karamelnya terasa gak?" bujuk Aisyah lembut, matanya berbinar antusias.
Ammar menatap sendok kecil di tangan Aisyah, lalu menatap mata istrinya. Melihat binar penuh harapan dari Aisyah, dinding kaku Ammar meruntuh perlahan. Pria tegap itu membungkukkan sedikit tubuhnya ke depan, lalu mendekatkan wajahnya.
Ammar membuka bibirnya pelan, menyesap adonan manis dari ujung sendok yang dipegang Aisyah.
Garis bibir Ammar mengatup kembali. Pria itu mengunyah dan mengecap rasa adonan itu secara perlahan di dalam mulutnya.
Aisyah menahan napas, menatap Ammar tanpa berkedip. "Gimana, Mas? Kemanisan? Hambar? Atau kurang mentega?"
Namun, respon Ammar justru membuat Aisyah gemas setengah mati. Ekspresi wajah Ammar benar-benar datar, kaku, dan tidak menunjukkan pendar apa pun! Dahi pria itu berkerut sangat dalam seraya matanya menatap lurus ke arah mangkuk adonan, seolah-olah ia sedang menganalisis kitab hukum yang teramat berat!
Satu detik... dua detik... tiga detik... Ammar masih membisu dengan raut kaku yang tak terbaca.
"Ih, Mas Ammar!" seru Aisyah tidak tahan lagi dengan keputusasaan yang lucu. Tawa renyah keluar dari tenggorokan Aisyah. "Muka kamu kenapa kaku banget sih?! Bikin kue doang berasa lagi sidang skripsi!"
Gemastik melihat ekspresi pria kaku di hadapannya, kejahilan jalanan Aisyah mendadak kumat!
Tanpa berpikir panjang, Aisyah mencelupkan telunjuk kanannya ke dalam sisa adonan kental di mangkuk. Dalam satu gerakan cepat dan lincah, Aisyah memajukan tubuhnya melintasi meja konter...
COLEK!
Ujung telunjuk Aisyah yang berlumur adonan kue berwarna kuning pucat sukses mengoles tepat di atas puncak hidung mancung Ammar!
"Hahaha!" Aisyah tertawa lepas, tawanya membahana memenuhi seluruh sudut dapur yang sepi. Aisyah memegang perutnya dengan tangan kiri seraya menunjuk wajah Ammar. "Lihat deh! Sekarang Mas Ammar mirip kucing ketumpahan adonan!"
Ammar membeku total di tempatnya.
Pria yang disegani ribuan santri di pesantren, sosok Habib yang selalu dipandang penuh ketakziman dan keagungan, kini berdiri di dapur rumahnya sendiri dengan satu bulatan adonan kue yang menempel sempurna di ujung hidung mancungnya.
Ammar perlahan menyipitkan matanya ke bawah, mencoba melihat noda adonan di hidungnya sendiri. Pria itu lalu mengalihkan pandangan mata cokelat mewahnya lurus menatap Aisyah yang masih tertawa gembira sampai memegangi matanya yang berair.
Melihat tawa Aisyah yang begitu lepas, tulus, dan tanpa beban sebuah tawa indah yang tak pernah ia lihat selama mereka bertemu ada sesuatu yang meledak hangat di dalam dada Ammar. Rasa terkejutnya menguap seketika, berganti menjadi hembusan napas kehangatan yang tak terbendung.
Bibir tegas Ammar yang biasanya terkunci rapat kaku, perlahan-lahan terangkat ke atas. Sebuah senyuman tampan dan teramat manis terukir di wajah Ammar senyuman tulus pertama yang ia tunjukkan sepenuhnya pada Aisyah.
"Oh... kamu mulai nakal ya, Aisyah?" bisik Ammar dengan suara bariton rendah yang teramat seksi dan berbahaya.
Tawa Aisyah mendadak terhenti saat menangkap pendar mata Ammar yang berubah. Oh, tidak.
Sebelum Aisyah sempat menarik tubuhnya mundur, tangan tegap Ammar bergerak secepat kilat! Pria itu meraih pinggang ramping Aisyah melintasi meja konter, memangkas jarak di antara mereka hingga dada tegap Ammar yang berbalut kaus abu-abu menempel erat di tepi konter, mengurung Aisyah sepenuhnya!
"M-Mas Ammar... mau apa?" gagap Aisyah dengan mata membelalak lebar, detak jantungnya seketika bergemuruh gila-gilaan.
Ammar tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu mencelupkan telunjuk kanannya sendiri ke dalam mangkuk tepung terigu kering yang ada di samping mixer.
Dengan senyuman tipis yang sangat menawan di bibirnya, Ammar mendongakkan wajah Aisyah menggunakan tangan kirinya yang bebas, lalu...
SREET!
Ammar mengusapkan sisa tepung terigu kering itu ke kedua pipi mulus Aisyah!
"Mas Ammar!" pekik Aisyah kaget.
"Sekarang adil," panggil Ammar dengan suara halus seraya terkekeh pelan sebuah tawa rendah khas pria dewasa yang sangat merdu. "Kamu belepotan tepung, saya belepotan adonan."
Aisyah terpaku. Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa senti. Aroma wangi sabun mandi Ammar bercampur manisnya vanila menyelimuti indra penciumannya. Aisyah bisa merasakan kehangatan embusan napas Ammar yang menerpa permukaan kulit pipinya yang berbalut tepung.
Ammar menatap noda tepung di pipi Aisyah, lalu mengalihkan pandangannya lurus menyapu manik mata cokelat Aisyah yang jernih. Tidak ada lagi keangkuhan. Tidak ada lagi pembatas dingin di antara mereka. Yang ada hanyalah keheningan romantis yang memabukkan di bawah pendar sinar matahari pagi.
Ammar mengulurkan ibu jarinya. Dengan gerakan yang teramat lembut dan perlahan, Ammar mengusap noda tepung di pipi kanan Aisyah, membelaikan jemari tegapnya di atas kulit halus istrinya dengan ketulusan yang mendalam.
"Aisyah..." panggil Ammar lirih, suaranya sehalus sutra.
"I-Iya, Mas...?" bisik Aisyah hampir tak bersuara, terhipnotis oleh sentuhan jemari Ammar.
"Soal adonan tadi..." Ammar mendekatkan bibirnya ke telinga Aisyah, membuat bulu kuduk Aisyah berdiri seketika. "...rasanya sudah sangat pas. Karamelnya terasa manis... sama seperti tersenyumnya kamu pagi ini."
DEG!
Dada Aisyah serasa mau meledak seketika! Pipi mulusnya yang berbalut tepung mendadak membara merah padam sampai ke telinga. Kata-kata manis yang keluar dari mulut pria yang selama ini terkenal kaku dan dingin itu terasa bagaikan sengatan listrik bertegangan tinggi yang melumpuhkan seluruh sel saraf tubuhnya!
Ammar menarik sedikit wajahnya kembali, menatap Aisyah yang kini menundukkan kepala dalam-dalam karena rasa malu dan kebas yang luar biasa.
Ammar terkekeh halus. Tangannya perlahan naik ke puncak hidung mancungnya sendiri, mengusap bekas adonan yang dicolek Aisyah tadi dengan ujung jarinya, lalu menjilat sisa adonan di jarinya dengan santai.
"Lanjutkan bikin kuenya," senyum Ammar manis, merapikan helai anak rambut Aisyah yang jatuh menutup kening ke belakang telinganya. "Saya mau seduh kopi hitam di sebelah sana."
Ammar melepaskan pinggang Aisyah dan berjalan santai menuju kran air dan mesin kopi, meninggalkan Aisyah yang masih berdiri mematung di depan meja konter dengan tangan memegang dadanya yang berdebar heboh.
Aisyah menyentuh pipinya yang bekas diusap jemari Ammar tadi. Senyuman bahagia yang tak sanggup ditahannya perlahan-lahan mekar sempurna di bibirnya. Pagi Minggu ini, di antara aroma mentega dan jejak tepung terigu... tembok raksasa yang selama ini memisahkan hati mereka resmi runtuh tak berbekas.