Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Dipaksa Cerai Dan Diusir
“Tanda tangan, Retna.”
Suara Arman terdengar datar.
Tidak ada kelembutan sedikit pun dari laki-laki yang selama empat tahun dipanggilnya suami.
Retna menatap beberapa lembar kertas di atas meja.
Surat perceraian.
Jari-jarinya mendingin. Telapak tangannya basah oleh keringat. Ia menunggu dadanya naik turun seperti biasa, tetapi tubuhnya seolah lupa bagaimana caranya bernapas.
“Ini apa, Mas?”
Arman duduk di sofa dengan wajah tanpa ekspresi. Di sampingnya, Bu Mira, ibu mertuanya, menatap Retna dengan tatapan dingin.
“Surat cerai,” jawab Arman singkat.
Retna mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Karena aku mau bercerai.”
Jawaban itu begitu mudah keluar dari mulut Arman.
Seolah empat tahun pernikahan mereka tidak pernah ada.
Seolah janji yang pernah mereka ucapkan di depan keluarga hanyalah sesuatu yang bisa dibuang begitu saja.
Retna tertawa kecil karena tidak percaya, tetapi suara yang keluar terdengar patah.
“Mas bercanda, kan?”
“Tidak.”
“Tapi kita tidak pernah membicarakan perceraian.”
“Sekarang kita sedang membicarakannya.”
Retna menatap suaminya lama. Pandangannya kabur, tetapi wajah laki-laki itu tetap asing—dingin, tertutup, dan sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.
“Mas punya orang lain?”
Arman diam.
Diam yang terlalu panjang.
Retna langsung memahami jawabannya.
“Siapa?”
“Tidak penting.”
“Buatku penting!”
“Siapa perempuan itu?”
Bu Mira mendengus.
“Jangan menyalahkan orang lain. Perceraian ini terjadi karena kamu sendiri.”
Retna menoleh.
“Aku?”
“Iya. Kalau kamu bisa menjadi istri yang baik, Arman tidak akan mencari perempuan lain.”
“Selama ini aku kurang baik sebagai istri?”
“Menurutmu?”
Bu Mira berdiri.
“Empat tahun menikah, apa yang kamu berikan kepada anak saya?”
Retna terdiam.
“Aku mengurus rumah.”
“Hanya itu?”
“Aku memasak, mencuci, mengurus semua kebutuhan Mas Arman.”
“Semua itu kewajiban istri.”
“Lalu aku harus memberikan apa lagi?”
Bu Mira tersenyum sinis.
“Uang.”
Retna membeku.
“Uang?”
“Kamu pikir membangun rumah tangga cukup dengan cinta?”
Retna menatap Arman.
“Mas juga berpikir begitu?”
Arman menghindari tatapannya.
“Retna, aku sudah lelah.”
“Lelah karena aku?”
“Lelah dengan hidup seperti ini.”
“Bukankah selama ini kita baik-baik saja?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Arman akhirnya menatapnya.
“Karena aku tidak ingin hidup seperti ini selamanya.”
“Seperti apa?”
“Pas-pasan.”
Satu kata itu menghantam Retna lebih keras daripada bentakan.
Arman melanjutkan.
“Aku punya kesempatan untuk mengembangkan bisnis. Ada orang yang bisa membantu. Ada koneksi yang bisa membuat hidupku jauh lebih baik.”
Retna mulai memahami sesuatu.
“Perempuan itu?”
Arman diam lagi.
Bu Mira yang menjawab.
“Namanya Claudia.”
Retna menatapnya.
“Dia anak pemilik perusahaan besar. Keluarganya bisa membantu Arman mengembangkan bisnisnya.”
“Jadi... Mas menceraikan aku demi dia?”
“Bukan cuma demi dia,” jawab Arman.
“Lalu demi apa?”
“Demi masa depanku.”
Retna tertawa getir.
“Dan aku menghalangi masa depanmu?”
“Sekarang kamu mengerti.”
Air mata Retna jatuh.
Ia mengingat semua yang pernah dilakukannya untuk Arman.
Ketika bisnis Arman mengalami kerugian, Retna menggunakan tabungannya untuk membantu.
Ketika Arman sakit, Retna yang berjaga semalaman.
Ketika suaminya pulang larut malam, Retna selalu menunggu.
Ia tidak pernah meminta mobil, perhiasan, atau rumah mewah.
Ia hanya meminta satu hal.
Dicintai.
Ternyata itu pun dianggap terlalu mahal.
“Mas...” suara Retna bergetar. “Kalau masalahnya uang, kita bisa berusaha bersama.”
“Aku tidak mau.”
“Kalau aku bekerja.?”
“Aku tidak butuh uangmu yang sedikit.”
Retna terdiam.
Arman menatapnya tanpa rasa iba.
“Jujur saja, Retna. Kamu bukan hanya tidak punya uang. Kamu juga tidak punya penampilan yang bisa membuatku bangga.”
Retna seperti ditampar. Ia ingin membalas, ingin berteriak bahwa dirinya telah memberikan segalanya, tetapi suaranya tersangkut di tenggorokan.
Bu Mira bahkan tersenyum puas.
“Claudia jauh berbeda denganmu.”
Retna menatapnya.
“Cantik, pintar, berasal dari keluarga terpandang, dan yang paling penting... keluarganya bisa membantu Arman.”
“Jadi selama ini aku dibandingkan dengannya?”
“Memangnya kamu bisa menang?”
Retna menunduk.
Ia tidak pernah menganggap dirinya cantik. Ia juga tahu keluarganya sederhana. Tetapi ia tidak pernah menyangka kekurangannya akan digunakan untuk menginjak harga dirinya.
“Mas masih mencintaiku?”
Pertanyaan itu keluar begitu lirih.
Arman tidak langsung menjawab.
Kemudian ia berkata,
“Tidak seperti dulu.”
Retna menutup mata.
Jawaban itu cukup.
“Kalau begitu, kenapa aku harus tanda tangan sekarang?”
“Karena aku ingin semuanya selesai.”
“Secepat ini?”
“Claudia dan keluarganya sudah menunggu.”
Retna membuka mata.
“Menunggu apa?”
Arman tidak menjawab.
Bu Mira justru berkata dengan santai,
“Arman akan menikah lagi setelah urusan kalian selesai.”
Retna mencengkeram ujung bajunya.
“Jadi semuanya sudah direncanakan?”
Tidak ada yang menjawab.
Dan diam mereka adalah jawaban paling menyakitkan.
Ternyata selama ini ketika Retna menyiapkan makan malam untuk suaminya, Arman mungkin sedang bertemu perempuan lain.
Ketika Retna menunggu kepulangannya, mungkin Arman sedang membicarakan masa depan bersama Claudia.
Ketika Retna masih berusaha mempertahankan pernikahan mereka, mereka sudah merencanakan bagaimana cara membuangnya.
“Kenapa tidak bilang dari awal?”
Retna menatap Arman.
“Kenapa harus membuatku hidup dalam kebohongan selama ini?”
“Aku tidak ingin ribut.”
“Jadi lebih baik menghancurkanku diam-diam?”
Arman menghela napas.
“Sudah cukup.”
Ia menunjuk surat di meja.
“Tanda tangan.”
Retna menatap kertas itu.
“Aku tidak mau.”
Bu Mira langsung membentak.
“Jangan keras kepala!”
“Aku hanya meminta waktu.”
“Untuk apa?”
Retna menatap Arman.
“Untuk menerima kenyataan bahwa suamiku ternyata tidak pernah menghargai aku.”
Arman berdiri.
“Kalau kamu tidak tanda tangan, urusan ini akan semakin panjang.”
“Memangnya aku punya pilihan?”
“Tidak.”
Retna menatapnya tak percaya.
Laki-laki yang dulu menggenggam tangannya ketika mereka menikah kini bahkan tidak sanggup menatap matanya.
Akhirnya Retna mengambil pulpen.
Tangannya gemetar hebat. Ia menunduk ke lembar pertama dan membaca namanya.
Retna.
Kemudian membubuhkan tanda tangan.
Satu goresan.
Pernikahannya berakhir.
Ia menatap tanda tangannya sendiri, tetapi tulisan itu tampak asing, seperti dibuat oleh tangan orang lain.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada kenangan indah yang diingat.
Hanya sebuah tanda tangan.
Bu Mira segera mengambil surat itu.
“Sudah. Sekarang ambil barangmu.”
Retna menatapnya.
“Barangku?”
“Kamu tidak perlu membawa banyak.”
“Aku punya pakaian di kamar.”
“Ambil pakaian seperlunya.”
Retna masuk ke kamar.
Ia membuka lemari. Pakaian-pakaian yang selama ini disusunnya rapi tiba-tiba terlihat seperti milik orang lain.
Ia memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam satu tas.
Tidak ada barang mahal.
Tidak ada perhiasan.
Tidak ada sesuatu yang bernilai.
Hanya pakaian sederhana dan beberapa foto lama.
Salah satunya adalah foto pernikahannya bersama Arman.
Retna menatap foto itu lama.
Dalam foto tersebut, Arman tersenyum sambil menggenggam tangannya.
Dulu ia percaya senyum itu adalah tanda cinta.
Sekarang ia tidak tahu apakah semua itu pernah nyata.
Retna akhirnya memasukkan foto tersebut ke dalam tas.
Bukan karena ingin menyimpannya.
Melainkan karena belum sanggup membuang kenangan empat tahun dalam satu malam.
Ketika keluar, Arman sudah menunggu di ruang tamu.
“Sudah?”
Retna mengangguk.
“Sudah.”
Arman membuka pintu.
Retna berhenti di ambang pintu.
“Mas.”
Arman menoleh.
“Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Arman sedikit berubah.
Namun ia tidak menjawab.
Retna melangkah keluar.
Pintu tertutup di belakangnya.
Brak!
Retna berdiri sendirian di depan rumah.
Tidak ada uang di dompetnya.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada tempat tujuan.
Tidak ada lagi suami yang bisa ia panggil ketika sedang ketakutan.
Ia memandang rumah yang selama empat tahun disebutnya rumah sendiri.
Kini tempat itu bukan lagi miliknya.
Retna memeluk tasnya erat.
“Mulai hari ini...” bisiknya.
“Aku tidak akan pernah percaya laki-laki lagi.”
Ia kemudian berjalan.
Sendirian.
Dengan hati yang hancur dan hanya membawa beberapa helai pakaian.
Retna tidak tahu bahwa keputusan Arman mengusirnya malam itu justru menjadi awal dari kehidupan baru.
Kehidupan yang kelak mempertemukannya dengan seorang pria asing.
Seorang pria yang tidak menilainya dari kecantikan.
Tidak melihat keluarganya dari kekayaan.
Dan tidak pernah menganggapnya sebagai perempuan yang tidak berguna.
Pria yang suatu hari nanti akan membuat Retna bertanya-tanya...
Benarkah semua laki-laki sama seperti Arman?