NovelToon NovelToon
Rahasia Suamiku.

Rahasia Suamiku.

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pelakor / Romansa
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Deche

Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ardi Marah.

Ardi menatap Ani dengan tajam dan keningnya berkerut. Ekspresi wajahnya persis seperti ketika saat mereka pertama kali bertemu. “Apa maksud Ibu?” tanya Ardi kesal. Sepertinya ia tidak suka dengan pertanyaan Ani.

      Ani menarik napas panjang. Ia tidak menyangka Ardi akan semarah ini. “Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja setelah semuanya terjadi dan melihat Malika, saya jadi bertanya-tanya apakah Malika anak Pak Ardi atau anak Mas Fardan?” jawab Ani.

      “Ibu menuduh Malika bukan anak saya?” Ardi marah mendengar ucapan Ani.

       Ani menggelengkan kepala. “Saya tidak menuduh. Saya hanya bertanya,” jawab Ani. Ia tidak bermaksud untuk menuduh, tetapi ia butuh kepastian bahwa Malika adalah anak kandung Ardi.

      “Tapi dari ucapan Ibu, seolah Ibu menuduh kalau Malika bukan anak saya!” seru Ardi dengan kesal. Ia tidak terima kalau Ani menuduh Malika bukan anak kandungnya.

      “Maafkan saya. Saya sudah menyinggung perasaan Pak Ardi,” ucap Ani dengan sedih. Ia menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah kepada Ardi.

      Tiba-tiba Malika datang menghampiri Ani dan Ardi. “Papa, haus.” Malika menyenderkan tubuhnya pada kaki Ardi dengan manja. Ardi mengambil botol minum dari dalam tas Malika lalu ia memberikan kepada Malika. Gadis kecil itu meminum air dalam botol minum dengan menggunakan sedotan. Ani memperhatikan gadis kecil itu. Gadis kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan.

      “Udah.” Malika memberikan botol minum kepada Ardi. Ardi memasukkan botol minum ke dalam tas.

      “Papa, Malika mau ice cream,” kata Malika sambil memperhatikan Ardi yang sedang menutup resleting tas. “Nanti, ya, Sayang. Kita beli sekalian pulang,” jawab Ardi dengan sabar. Malika menganggukkan kepalanya, ia kembali bermain.

      Beberapa menit kemudian terdengar suara adzan magrib berkumandang dari mesjid yang berada di dalam lingkungan rumah sakit. Ardi berdiri dari tempat duduk, ia menghampiri Malika. “Ayo kita pulang, sudah adzan magrib!” Malika mengikuti apa yang dikatakan Ardi. Ia turun dari ayunan. Ardi menuntun Malika mendekati Ani. “Salam dulu sama Tante Ani,” kata Ardi sambil mengusap kepala Malika.

       Malika mendekati Ani lalu ia berkata, “Tante, Malika pulang dulu,” pamit Malika dengan wajah menggemaskan.

      Ani tersenyum kepada Malika. “Iya, Malika. Sampai ketemu lagi.” Ani mengulurkan telapak tangan kanan ke Malika. Malika mencium tangan Ani.

      “Bilang apa ke Tante?” tanya Ardi sambil memperhatikan Malika.

      “Assalamualaikum,” ucap Malika dengan mimik wajah yang menggemaskan.

     Ani tersenyum kepada Malika lalu menjawab, “Wa’alaikumsalam.”

      “Saya pulang dulu,” pamit Ardi.

      Ani menganggukkan kepalanya. “Iya, Pak.”

      “Ayo Malika.” Ardi memegang tangan Malika dengan tangan kanan.

      “Dadah Tante.” Malika melambaikan tangan ke Ani.

      “Dadah Malika.” Ani membalas lambaian tangan Malika.

      Ardi dan Malika meninggalkan tempat itu. Pengasuh Malika mengikuti mereka dari belakang sambil membawa tas Malika. Ani memperhatikan mereka dari belakang. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.

      Ani iri melihat Ardi dan Malika. Ardi memiliki putri yang cantik yang menjadi pelipur lara di saat Ardi menghadapi masalah yang sedang terjadi. Sedangkan Ani belum memiliki anak. Fardan belum mau memiliki anak. Alasannya, mereka belum mampu untuk memiliki anak. Padahal mereka sudah memiliki semuanya, baik rumah maupun mobil.

.

.

      Hari demi hari berlalu, tetapi Fardan belum juga sadar dari koma. Ani sudah merasa lelah setiap hari harus datang ke rumah sakit, karena ia harus mengantarkan pakaian bersih untuk Fardan. Ani memutuskan datang ke rumah sakit menjelang sore hari. Dari pagi hingga siang, ia pergunakan untuk membereskan rumah dan beristirahat.

      Pada suatu hari Ani hendak pulang dari rumah sakit, ia baru saja selesai menjenguk suaminya. Ketika ia sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit, tiba-tiba telepon seluler di dalam tas berbunyi. Ani berhenti dan mengeluarkan telepon seluler. Di layar telepon seluler tertulis nomor yang tidak ia kenal meneleponnya.

      ‘Siapa yang menelepon?’ Ani bertanya kepada dirinya sendiri.

      Foto si penelepon terlihat jelas di layar telepon seluler. Ani memperhatikan foto si penelepon. Seorang laki-laki tampan bersama dengan seorang gadis kecil. Ia mengenal wajah laki-laki dan gadis kecil itu.

      ‘Pak Ardi?’ Ani mengerutkan kening sambil memandangi layar telepon seluler. Ia bingung dari mana ia mengetahui nomor teleponnya. Ia belum pernah memberikan nomor teleponnya kepada Ardi.

      Suara dering telepon terus saja berbunyi. Ani pun menjawab telepon. “Assalamualaikum.”

      “Wa’alakumsalam.” Terdengar suara Ardi di seberang telepon.

      “Pak Ardi?!” tanya Ani.

      “Iya, ini saya,” jawab Ardi dari seberang telepon. “Ibu Ani lagi di mana?” tanya Ardi.

      “Saya di rumah sakit. Mau pulang ke rumah,” jawab Ani.

      “Kebetulan sekali, sekarang saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Saya jemput Ibu di depan rumah sakit. Ada yang hendak saya bicarakan dengan Ibu Ani. Kira-kira lima belas menit lagi saya sampai ke depan rumah sakit.” Suara Ardi terdengar serius.

      Ani melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Waktu menunjukkan jam 18:40 WIB. Belum terlalu malam jika ia pergi dengan Ardi. “Baiklah, Pak. Saya tunggu Bapak di depan rumah sakit,” jawab Ani.

      “Sudah dulu. Assalamualaikum.” Ardi mengakhiri pembicaraannya.

      “Wa’alaikumsalam.” Ani memasukkan telepon seluler ke dalam tas. Ia melanjutkan langkahnya menyusuri lorong rumah sakit.

1
falea sezi
uda di selingkuh in ampe punya anak masih cinta🤣🤣 cwekk ooonnnnn
sunaryati jarum
Baru mampit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!