NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melodi Pertama

Matahari sore merayap tinggi ketika mataku mendadak terbuka secara paksa. Kulihat angka di layar ponselku, pukul dua kurang sepuluh menit!

Sontak aku tersentak kaget. Pekikan panik hampir saja lolos dari tenggorokanku. Aku benar-benar lupa kalau hari ini punya janji penting dengan Naura, sahabat karibku sejak bangku SD. Hari ini ia berulang kali mewanti-wanti agar aku menemaninya mencari kado ulang tahun untuk pacarnya.

Tanpa buang waktu semenit pun, aku melompat dari kasur, memburu kamar mandi, bersiap-siap secara kilat, lalu memacu sepeda motorku membelah jalanan menuju rumah Naura.

Setibanya di rumah itu, aku menyapa Kak Citra yang membukakan pintu depan. Beliau menyambutku dengan senyum hangat khasnya, lalu mengisyaratkan agar aku langsung saja naik ke kamar Naura di lantai dua.

Dan benar saja... begitu pintu kamar berukir itu kubuka pelan, si pemilik kamar ternyata masih terlelap di atas tempat tidurnya.

"Haduh... anak ini memang enggak pernah berubah dari dulu," gumamku mengelus dada.

Aku melangkah mendekat, lalu mengguncang pelan bahunya. "Ra! Bangun, dong! Jadi pergi enggak nih? Lihat tuh, udah jam berapa?!"

Naura menggeliat malas, mengucek matanya dengan raut wajah yang baru terkumpul setengah nyawa. "Jam berapa sih, Ser...? Masih ngantuk banget..."

"Udah setengah tiga, Naura! Lo tahu enggak, gue ngebut banget dari rumah gara-gara ketiduran juga. Pas gue sampai sini, lo malah masih molor nyenyak banget!" omelku gemas.

"Yaudah deh, gue mandi dulu. Tunggu bentar ya," balasnya santai tanpa rasa dosa.

"Hmm," sahutku malas.

Selagi Naura menghilang di balik pintu kamar mandi, aku melemparkan tubuhku ke atas kasurnya yang empuk. Suasana kamarnya selalu saja berantakan sejak kami masih kecil, baju menumpuk di atas kursi dan alat rias berserakan di atas meja. Beruntung Naura memiliki seorang kakak perempuan yang teramat perhatian, yang selalu rajin merapikan kamarnya dan memanjakannya.

Rumah Naura memang tergolong besar dan mewah. Ia hanya tinggal berdua dengan kakaknya yang bekerja sebagai seorang guru dan belum menikah. Orang tua Naura sendiri sudah lama bercerai dan fokus pada kehidupan serta pasangan baru masing-masing. Karena berteman dekat sejak SD, aku sudah dianggap seperti bagian dari keluarga mereka sendiri.

Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka. Naura keluar hanya dengan balutan handuk mandi melingkar di dadanya. Ia mendudukkan dirinya di sampingku dan mulai mengoceh panjang lebar tanpa henti.

Inti dari ocehan hebohnya sore ini: dia ternyata sedang menaruh hati pada seorang cowok baru di sekolah barunya dan berniat melancarkan aksi pendekatan. Padahal, statusnya saat ini masih memiliki pacar resmi, alasan utama mengapa ia sama sekali tidak bersemangat berburu kado ulang tahun hari ini.

Aku mendengus seraya memotong ocehan tak berujungnya itu. "Mending lo pakai baju dulu deh, Ra. Ngeri gue kalau tuh handuk tiba-tiba lepas. Mana dada lo gede banget lagi."

Naura tertawa lepas. "Yee! Kayak enggak pernah lihat aja! Kita kan sering mandi bareng dari kecil!" celotehnya santai seraya beranjak menuju lemari pakaian.

Sambil memperhatikan jemarinya memilah-milah baju, sebuah ganjalan di benakku mendadak menyeruak keluar. Aku memberanikan diri bertanya, "Eh Ra... menurut lo, Ray bahagia enggak ya sama Indah?"

Ray adalah mantan pacarku sewaktu SMP. Sosoknya tinggi, tampan, kapten tim basket, dan menjadi idola banyak siswi. Kami berpisah hanya karena sebuah kesalahpahaman yang begitu konyol. Waktu itu, ia baru saja menyelesaikan turnamen besar di luar kota dan sangat ingin bertemu denganku di taman komplek tempat biasa kami berkumpul. Namun, di hari yang sama, orang tuaku sedang bertengkar hebat di rumah dan aku sama sekali tidak diizinkan melangkah keluar pintu.

Ray yang menelepon saat sudah tiba di lokasi tidak mau menerima alasan itu. Ia menganggapku egois, tidak menghargai pengorbanannya yang rela datang dalam keadaan lelah. Emosinya meluap, lalu memutuskanku begitu saja sore itu.

Aku menanyakan hal ini pada Naura karena mereka kini berada di satu sekolah yang sama, bahkan masih sering berinteraksi di komunitas ekstrakurikuler basket.

Sambil memakai bajunya, Naura menoleh. "Yang gue lihat sih ceweknya yang kecintaan banget sama Ray. Kalau Ray-nya ya standar lah, dingin kaku kayak biasanya. Lagian kenapa lo enggak balikan aja sih? Kemarin dia nyamperin gue cuma buat nanya-nanya soal lo, tahu."

Mataku terbelalak kaget. "Seriusan lo?! Dia nanyain apa?"

"Katanya, Sera gimana? Di sekolah barunya dia ada barengannya enggak? Kenapa dia enggak satu sekolah sama lo?, Gitu," tiru Naura dengan nada sok misterius.

"Terus lo jawab apa?" tanyaku penasaran.

"Ya gue jawab aja, Dia masih hidup. Mending lo buka blokiran WA-nya terus tanya langsung ke orangnya. Habis itu langsung gue tinggalin," jawab Naura santai. "Gue pikir sih dia sebenarnya belum move on dari lo, Ser."

Aku mendengus ragu, menyandarkan kepala di bantal. "Kalau belum move on, kenapa dia udah punya pacar baru?"

"Ya mungkin cuma buat pelarian," sahut Naura cuek seraya menyisir rambutnya.

"Gila lo."

Kami memang terpaksa terpisah sekolah sekarang. Naura masuk ke sekolah unggulan tempat kakaknya mengajar, sementara aku diterima di SMA lain.

Sore itu berlalu cepat. Aku hanya menemani Naura memilihkan sehelai kemeja kasual untuk pacarnya, lalu kami bergegas menuju area parkiran.

"Lo enggak mau mampir dulu ke rumah gue, Ser? Gue masih banyak cerita nih," tawar Naura saat kami berdiri di samping motorku.

"Entar deh, hari Sabtu gue ke rumah lo lagi ya," janjiku tersenyum.

"Awas ya kalau bohong!"

"Iya, rewel. Sini helmnya."

Naura menyerahkan helm padaku, lalu aku menyalakan mesin motor.

"Hati-hati di jalan, Sera! Makasih ya!" teriak Naura melambaikan tangan saat motorku mulai melaju perlahan meninggalkan lokasi.

Sesampainya di rumah, aku memarkirkan motor di garasi dan bergegas masuk ke dalam kamar. Selesai mandi dan bersiap untuk istirahat, kubuka ponsel pintarku. Jam di layar masih menunjukkan pukul delapan malam.

Jemari tangan kananku meluncur menyusuri galeri foto lama, hingga terhenti pada deretan kenangan bersama Ray sewaktu SMP. Jujur, ada rasa bersalah dan hampa yang tiba-tiba menyusup liar di dalam dada. Aku merasa bersalah pada Ray, berharap dulu ia bisa sedikit saja memahami posisiku yang tertekan.

Lalu kubuka aplikasi media sosial. Di halaman utama, tampak postingan terbaru milik Indah, pacar baru Ray. Foto mereka berdua terpampang rapi lengkap dengan sematan nama akun Ray. Aku menyunggingkan senyum tipis yang tulus.

"Indah baik, cantik... mana mungkin Ray enggak bahagia sama dia. Sepertinya aku enggak perlu mengkhawatirkan dia lagi," bisikku pelan di dalam hati.

Kutaruh ponsel di atas meja belajar, beranjak dari tempat tidur, lalu meraih gitar akustik kesayanganku di sudut kamar. Gitar yang kunamai Robert, hadiah ulang tahun dari Ray tahun lalu. Kupeluk bodi gitar kayu itu, lalu kupetik senarnya perlahan, memainkan harmoni nada yang lembut.

Tanpa terasa, bibirku melantunkan sepenggal lirik lagu dengan penuh penghayatan:

"Saat kau tak ada... atau kau tak di sini, terpenjara sepi kunikmati sendiri. Tak terhitung waktu 'tuk melupakanmu, aku tak pernah bisa... aku tak pernah bisa..."

Keesokan harinya di sekolah, suasana kelas terasa ramai dan riuh seperti biasa. Pada jam pelajaran Seni Budaya, Bu Rani meminta kami membentuk kelompok bebas untuk tugas musikalisasi puisi. Tentu saja tanpa ragu aku langsung berkumpul bersama lima kawanku: Celine, Dea, Irma, Kania, dan Dini.

"Baik Anak-anak, sekarang silakan rundingkan materi dan pembagian peran dengan kelompok masing-masing ya. Ibu tunggu hasilnya minggu depan," ucap Bu Rani ramah sebelum mengakhiri kelas.

"Baik, Bu!" jawab kami serentak.

Kami berenam langsung merapatkan kursi, berdiskusi menentukan konsep dan lokasi latihan yang pas.

"Di rumah aku aja gimana?" tawar Kania antusias.

Kami semua langsung mengangguk setuju. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, kami berangkat bersama-sama menuju rumah Kania.

Sesampainya di sana, kami disambut hangat oleh Mama Kania yang ramah dan tampak begitu awet muda. Kania juga memiliki seorang adik perempuan yang masih duduk di sekolah dasar, namanya Cila.

"Ayo, ke atas aja kerja kelompoknya!" ajak Kania menuntun langkah kami menuju kamarnya di lantai dua.

Rumah Kania tergolong besar dan unik dengan sentuhan arsitektur gaya Belanda klasik. Kamarnya memiliki balkon luas yang menghadap langsung ke arah halaman depan dan jalanan komplek yang rindang. Udara di sana terasa teramat sejuk dan menenangkan.

Kami duduk melingkar di atas karpet lantai kamar Kania.

"Ada yang bisa main alat musik enggak di antara kita?" tanya Celine memajukan duduknya.

"Aku bisa sedikit, main gitar," jawabku mengacungkan jari.

Dea menimpali riang, "Wah, bagus tuh! Yaudah gini aja, Sera yang main gitar, aku sama Celine yang baca puisi. Nah, Irma, Dini, sama Kania yang bagian nyanyi!"

"Idih... enggak mau! Malu, aku mau nyanyi aja ah!" protes Celine langsung cemberut.

"Aku juga enggak mau baca puisi, ah. Mau nyanyi aja, malu!" tambah Kania tak mau kalah.

Dea menoleh ke dua teman lainnya. "Kalau Irma sama Dini gimana? Mau tukeran enggak?" Dari raut wajah ragu mereka berdua, aku sudah bisa menebak jawabannya. Dan benar saja, keduanya kompak menggeleng pelan.

"Nia, haus nih! Minta minum dong, hehe," celetuk Celine memecah perdebatan konyol kami.

"Yaudah sebentar ya, aku turun ke dapur dulu," jawab Kania lalu beranjak keluar kamar.

Selagi menunggu Kania, kami berlima kembali berdiskusi menyelaraskan pendapat.

"Gini aja deh," usulku menengahi. "Gimana kalau aku sama Dea yang baca puisi, terus kalian berempat yang nyanyi?"

"Terus yang main gitar siapa, Ser?" tanya Celine polos.

"Aku ambil dua peran: main gitar sekaligus baca puisi. Senang kalian?" ledekku bercanda.

Sontak semuanya tertawa renyah. Sambil menunggu Kania, kami mengobrol banyak hal dan saling melempar candaan hangat. Tak lama kemudian, Kania kembali bersama Mama yang membawa nampan berisi cangkir minuman dan piring camilan.

Mama Kania menaruh camilan di tengah-tengah kami seraya menyunggingkan senyum penuh kehangatan. "Semuanya sudah pada makan siang belum nih?"

Tentu saja kami kompak menjawab polos, "Belum, Tante! Hahaha!"

"Kalau gitu Tante masakin dulu ya di bawah, tunggu sebentar," ujar Mama Kania ramah.

"Yeay! Makasih banyak, Tante!" seru Celine bersemangat.

"Makasih ya, Tante," timpalku tersenyum.

Sambil menunggu masakan matang, aku beranjak berdiri dan melangkah menuju balkon kamar. Kuamati pemandangan asri di sekitar rumah Kania dari lantai dua. Suasananya begitu tenang, dipenuhi jajaran rumah-rumah tua berpepohonan rindang.

Pandanganku mendadak terhenti pada sosok laki-laki di halaman bawah yang sedang mengeluarkan sebuah sepeda motor hitam dari dalam garasi. Motor besar itu terasa tidak asing di mataku.

Laki-laki itu memegang helmnya, lalu tanpa sengaja mendongakkan kepala dan menatap lurus ke arahku yang berdiri di atas balkon.

Ia menyunggingkan senyum tipis yang hangat ke arahku, dan secara refleks, aku pun membalas senyuman itu. Setelah itu, ia mengenakan helmnya, menyalakan mesin motor yang meraung halus, lalu melaju keluar komplek. Aku memperhatikan punggungnya sampai sosoknya menghilang di belokan jalan.

Tiba-tiba Kania menepuk bahuku dari belakang, mengagetkanku.

"Wey! Ciye, lagi lihatin siapa tuh? Itu Mas Adrian, Sera!"

1
wlnnn
gemessss deh adrian😍
wlnnn
gemes deh adrian/Drool/
Sunflower Girl
lanjutkan
Fellyc
unchhh😍
Fellyc
semangat yaa
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!