Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Di meja makan besar kediaman Wen, suasana begitu hangat dan meriah. Begitu semua orang mulai menyantap masakan buatan Feng Wu, pujian tak henti-hentinya terdengar. Terutama Bibi Yun, istri Paman Wen, jatuh cinta sekali pada bakso buatan Feng Wu.
"Wu'er, kuah ini sungguh luar biasa! Gurih, segar, dan hangat sekali di perut!" puji Bibi Yun sambil terus menyendok. "Kalau setiap hari bisa makan ini, aku tak akan bosan seumur hidup!"
Bukan hanya Bibi Yun tapi semua orang seakan tak cukup makan. Mereka saling berebut mengambil bakso, capjay, dan dimsum yang tersaji di meja, tertawa riang sambil bercanda memperebutkan suapan terakhir. Feng Wu duduk di samping Jenderal Wen, menatap pemandangan itu sambil tersenyum bahagia.
Setelah makan malam selesai dan semua orang berpisah untuk beristirahat, Feng Wu kembali ke paviliunnya. Malam semakin larut, udara terasa sejuk dan menenangkan. Ia masuk ke kamar, menutup pintu rapat, dan bersiap untuk mandi lalu beristirahat.
Namun saat tangannya menyentuh kancing bajunya, tiba-tiba indra keenamnya memberi peringatan. Ada orang di ruangan ini.
Belum sempat ia berbalik, sesosok bayangan hitam muncul dari balik tirai jendela begitu tiba-tiba, begitu tenang, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Sosok Itu adalah Pangeran Ketiga.
Feng Wu mundur selangkah, matanya menyala karena kesal. Tangannya terkepal, hampir saja ia melayangkan pukulan namun ia menahan diri. Ia tahu, di hadapannya berdiri seorang Pangeran, putra Kaisar. Menyerangnya secara fisik bisa menimbulkan masalah besar.
"Yang Mulia!" tegurnya dengan suara rendah namun penuh ketidaksukaan. "Bagaimana bisa Yang Mulia menyusup masuk ke kamar gadis di tengah malam buta? Bukankah ini sangat tidak pantas?"
Pangeran Ketiga tidak tampak malu atau bersalah. Ia justru berjalan mendekat, berdiri di hadapan Feng Wu dengan wajah datar namun ada sedikit canggung.
"Aku datang karena..." suaranya berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada sembarangan "Aku lapar. Akhir-akhir ini tidak ada makanan yang masuk di tenggorokanku. Hilang nafsu makanku."
Feng Wu menatapnya lekat-lekat, lalu seketika paham. Matanya membelalak sedikit, lalu ia menunjuk pria itu dengan tak percaya.
"Lapar? mana mungkin, itu pasti hanya alasan saja."
Pangeran Ketiga tidak menjawab langsung, namun tatapannya yang tak berani menatap mata Feng Wu menjawab semuanya. Ia datang tidak mungkin demi makanan.
Feng Wu menghela napas panjang, menahan rasa kesal yang bercampur dengan rasa ingin tertawa. Pangeran yang ditakuti seluruh istana, yang dijuluki Dewa Kematian kini berdiri di kamarnya di tengah malam.
"Jika yang mulia lapar mengapa harus ke kamarku..." Feng Wu menggelengkan kepala, tak tahu harus berkata apa. "Jika ada yang melihat, bagaimana dengan reputasiku?"
"Tidak akan ada yang melihat," jawab Pangeran Ketiga singkat, jujur tanpa malu. "Cepatlah, bawakan aku makanan masakanmu yang harum itu."
"Mana ada, makanan itu sudah habis tak tersisa" Jawab Feng Wu.
"Jika aku tidak makan, bagaimana jika aku mati kelaparan disini?" ujar Pangeran ketiga.
Feng Wu menatap Pangeran Ketiga dengan tak percaya. "Yang Mulia, sudah kubilang masakan tadi sudah habis dimakan keluarga. Dan sekarang sudah tengah malam, bagaimana mungkin aku bisa memasak lagi? Semua orang sudah tidur, kalau aku mulai memasak sekarang, pasti akan menimbulkan keributan dan membuat semua orang curiga!"
Namun Pangeran Ketiga seakan tak mendengar. Ia berdiri di tempatnya, tak bergerak sedikit pun. "Aku tidak akan pergi sebelum kau memasakkan masakan itu untukku".
Feng Wu menghela napas panjang, merasa kesal sekaligus bingung. "Yang Mulia benar-benar tidak masuk akal. Ini bukan istanamu, ini kediaman Wen. Kalau ketahuan Kakek atau siapa pun bahwa Yang Mulia ada di kamarku di tengah malam, apa yang akan mereka pikirkan? Itu akan sangat merugikan reputasi kita berdua!"
Pangeran Ketiga tetap diam, matanya menatap lurus ke arah gadis itu seakan takkan beranjak sampai keinginannya terpenuhi.
Tanpa memberi kesempatan Feng Wu untuk berdebat lebih lama, Pangeran Ketiga tiba-tiba melangkah mendekat. Sebelum Feng Wu sempat bereaksi, ia sudah meraih pergelangan tangan gadis itu dengan lembut namun tak bisa ditolak.
"Kalau begitu... ikutlah denganku. Di kediamanku, kau bisa memasak dengan tenang. Tak ada yang akan mengganggu, dan tak ada yang akan curiga."
"Yang Mulia! Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" seru Feng Wu berusaha melepaskan tangannya, namun kekuatan pria itu jauh lebih besar darinya.
Pangeran Ketiga tak menjawab. Dengan satu gerakan, ia membawa Feng Wu keluar melalui jendela kamar, melompat turun ke halaman belakang yang gelap dan sepi. Di sana, kereta kuda hitam mewah sudah menunggu dalam diam. Tanpa banyak bicara lagi, ia menuntun Feng Wu masuk ke dalam kereta, lalu duduk di sebelahnya.
"Berangkat," perintahnya singkat kepada kusir.
Kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan kediaman Wen, menuju kediaman pribadi Pangeran Ketiga yang terletak di bagian lain kota. Feng Wu duduk di sudut kereta, wajahnya memerah karena kesal dan bingung. Ia tak menyangka bahwa pria yang begitu berwibawa dan ditakuti seluruh istana bisa bertindak sepeka dan sekeras kepala seperti ini hanya demi sepiring makanan.
Tak butuh waktu lama hingga kereta berhenti di depan sebuah kediaman yang megah namun sederhana jauh dari keramaian, dikelilingi pepohonan rindang, sangat tenang. Pangeran Ketiga turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya membantu Feng Wu turun.
"Turunlah. Di sini aman. Tak ada pelayan yang berani berbicara sembarangan," ucapnya pelan.
Feng Wu menatapnya tajam namun akhirnya turun. "Baiklah. Tapi ingatlah aku hanya akan memasak, lalu aku harus segera pulang. Jangan sampai Kakek menyadari aku hilang dari kamarnya."
Pangeran Ketiga tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya. "Tentu. Aku hanya ingin makan masakanmu, itu saja."
Mereka berdua masuk ke dalam kediaman yang hening dan dingin itu, namun malam itu, di dapur kediaman tersebut, akan tercipta kehangatan yang belum pernah ada sebelumnya.
Di dapur kediaman Pangeran Ketiga yang luas dan lengkap, Feng Wu mulai bergerak. Ia menyingsingkan lengan bajunya, menata bahan-bahan dengan rapi, lalu mulai mengolah adonan bakso, menyiapkan kuah kaldu, serta menyusun dimsum dan capjay. Cahaya lampu minyak yang hangat menyinari wajahnya, membuat setiap gerakannya tampak begitu luwes, tenang, dan memikat.
Pangeran Ketiga berdiri di ambang pintu, tak beranjak sedikit pun. Matanya tak lepas dari sosok gadis itu. Semakin lama ia memandang, semakin kencang jantungnya berpacu, sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
"Apa yang terjadi padaku?" batinnya berusaha menahan diri.
Namun semakin ia berusaha menyadarkan dirinya, semakin ia menyadari satu hal yang tak bisa ia pungkiri, hatinya sedang mengagumi gadis itu, tulus dan dalam. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena keteguhan hatinya, kemandiriannya, dan kehangatan yang ia berikan pada setiap hal yang ia lakukan. Ia tak bisa berbohong pada dirinya sendiri, ia mulai jatuh cinta.
Setelah beberapa jam bekerja, Feng Wu akhirnya meletakkan sendok dan menghela napas panjang. Uap panas mengepul dari hidangan yang siap disajikan, bakso kuah yang menggugah selera, capjay yang berwarna-warni, dan dimsum yang tampak lezat. Namun wajah gadis itu tampak pucat dan lelah. Keringat halus menetes di pelipisnya, bahunya terkulai lemah. Memasak di tengah malam setelah seharian beraktivitas tentu bukan hal yang ringan.
Pangeran Ketiga segera mendekat, suaranya terdengar lembut dan penuh perhatian. "Kau lelah... duduklah dan istirahatlah dulu. Tidak perlu terburu-buru."
Namun Feng Wu menggeleng mantap. Ia menatap pria itu dengan tatapan yang tetap teguh, tak goyah sedikit pun.
"Terima kasih, Yang Mulia. Tapi aku tidak bisa istirahat di sini. Aku harus pulang sekarang juga. Sudah terlalu lama aku pergi dari kediaman Wen, dan jika Kakek menyadari maka itu akan menimbulkan masalah besar."
Pangeran Ketiga mencoba membujuk pelan. "Sudah larut malam. Di luar gelap dan berbahaya. Menginaplah malam ini. Ada banyak kamar kosong di kediamanku. Kau bisa istirahat dengan tenang, dan besok pagi aku akan mengantarmu pulang sebelum matahari terbit. Tak ada yang akan tahu."
"Tidak!" potong Feng Wu dengan tegas, nada suaranya meninggi namun tetap terjaga. "Aku tidak bisa dan tidak mau menginap di sini. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh dengan Yang Mulia. Apa yang kita lakukan malam ini sudah cukup berisiko. Tolong... antarkan aku pulang sekarang."
Melihat Pangeran Ketiga diam dan tak segera bergerak, Feng Wu menegaskan kembali dengan wajah yang serius dan tak bisa dibantah: "Jika Yang Mulia tidak mau mengantarku pulang, maka aku akan pulang sendiri. Aku tahu jalan kembali, dan aku bisa melindungi diriku sendiri."
Ia berbalik hendak melangkah keluar, tak ada keraguan sedikit pun di matanya. Kebebasan dan kehormatannya jauh lebih berharga daripada rasa lelahnya.
Pangeran Ketiga melihat ketegasan di mata gadis itu, ia tahu, jika ia menolak, Feng Wu benar-benar akan pergi sendirian di tengah malam yang gelap dan berbahaya itu. Ia tak sanggup membiarkan gadis itu dalam bahaya. Dengan berat hati, ia mengangguk pelan.
"Baiklah," ucapnya lembut namun penuh penyesalan. "Aku akan mengantarmu pulang. Tapi makanlah dulu, setidaknya satu suap. Kau sudah memasaknya dengan lelah, dan perutmu pun pasti kosong."
Feng Wu terdiam sejenak, lalu duduk sebentar untuk menemani pria itu makan. Namun di dalam hatinya, ia berjanji jika ini adalah kali terakhir ia membiarkan dirinya terlibat urusan dengan Pangeran Ketiga. Ia harus menjaga jarak, demi dirinya sendiri, demi masa depannya, dan demi kebebasan yang selalu ia perjuangkan.