Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Nona Manja
Begitu tiba di ruangannya, Zea langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi sambil mengembuskan napas panjang. Wajahnya masih terlihat kesal, bahkan kedua tangannya sibuk merapikan jilbab yang sedikit berantakan setelah rapat tadi.
“Rubah-rubah tua!” gerutu Zea. “Mereka benar-benar mencoba mengambil kesempatan dari anggaran pemerintah, pantas saja masyarakat setiap hari mengeluh.”
Intan yang baru saja meletakkan laptop di meja hanya bisa menggelengkan kepala. “Sudah, Zea, tenang dulu. Jangan sampai kamua cepat tua hanya gara-gara melihat laporan anggaran.”
“Bagaimana aku mau tenang?” Zea mendengus. “Kalau dibiarkan, uang untuk memperbaiki fasilitas masyarakat malah habis untuk rapat, makan, perjalanan, dan entah apa lagi.”
Intan menarik kursi lalu duduk di hadapan Zea. “Makanya tadi sudah kamu ubah semuanya, kan? Sekarang tinggal kita awasi pelaksanaannya.”
Zea terdiam sebentar, lalu tiba-tiba wajahnya berubah lebih santai. “Intan, tolong ya, susun dan catat semua jadwalku hari ini dan juga besok.”
Intan langsung membuka laptopnya. “Siap, Bu Gubernur. Ada tambahan agenda?”
Zea berdiri sambil merapikan kerudungnya. “Aku mau keluar sebentar beli gorengan dan es boba di belakang.”
Jari Intan yang sedang mengetik langsung berhenti. “Oke, sip. Aku titip juga, ya.”
Zea mengangguk santai lalu berjalan menuju pintu. “Mau titip apa?”
“Gorengan, semuanya di campur, bakwan, sukun, pisang, tempe. Sama boba seperti biasanya.”
“Siap.”
Baru dua langkah Zea keluar dari ruangan, Sagara yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung bergeser dan menghalangi jalannya. Wajah pria itu tetap tenang, tetapi tatapannya jelas menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan Zea pergi begitu saja.
“Jangan pergi sendirian, Bu.”
Zea mendongak menatapnya dengan wajah heran. “Kenapa?”
“Berbahaya.”
Zea mengangkat alis. “Aku gubernur.”
“Itu justru alasan Anda harus berhati-hati.”
Zea terdiam sebentar, lalu menunjuk Sagara dengan santai. “Kalau begitu, ikut.”
Sagara menarik napas panjang. “Ke mana?”
“Beli gorengan dan es boba.”
Tatapan Sagara berhenti cukup lama di wajah Zea. “Saya sedang bertugas.”
“Ya,” jawab Zea tanpa merasa bersalah. “Tugasmu menjaga aku beli gorengan dan es boba.”
Sagara terdiam.
Zea langsung melewatinya begitu saja. “Ayo. Jangan lama-lama.”
Intan yang menyaksikan dari dalam ruangan langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa. “Kasihan juga kamu, Kapten.”
Sagara akhirnya menyusul Zea dengan langkah panjang. Ia sendiri tidak habis pikir bagaimana tugas menjaga seorang gubernur bisa berubah menjadi mengawal perjalanan membeli gorengan dan minuman boba.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di belakang gedung kantor gubernur. Zea langsung tersenyum lebar ketika melihat dari celah penjual gorengan yang berada di seberang gerbang tersebut.
“Ah, akhirnya!” seru Zea dengan wajah berbinar.
Sagara melihat ke arah jalan menuju penjual gorengan. “Kalau begitu, mari lewat pintu belakang gedung.”
Sebelum Sagara selesai berbicara, Zea sudah berjalan menuju tembok pembatas. Tanpa ragu, ia memegang bagian atas tembok lalu mulai memanjat.
Sagara hanya berdiri di tempat sambil menatapnya dengan wajah datar. “Gubernur seharusnya keluar melalui pintu.”
Zea yang sudah berada di atas tembok menoleh ke bawah. “Pintu terlalu jauh.”
Sagara menunjuk pintu yang sebenarnya hanya beberapa langkah dari tempat mereka berdiri. “Jaraknya tiga meter.”
Zea mengangguk mantap. “Bagi saya itu jauh.”
Sagara terdiam.
Untuk kesekian kalinya hari itu, ia hanya bisa menghela napas panjang. Dalam hati, ia mulai bertanya-tanya apakah menjaga Zea akan lebih melelahkan daripada menjalankan misi di lapangan.
Zea kemudian turun dengan santai di sisi lain tembok. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung mengangkat tangan ke arah penjual gorengan.
“Mas!”
Penjual gorengan yang sedang melayani pembeli menoleh. “Iya, Bu?”
“Seperti biasa, gorengannya dicampur!”
Penjual itu tersenyum mengenali Zea. “Siap, Bu Gubernur.”
Zea lalu menunjuk ke arah kedai minuman kecil di sampingnya. “Oh iya, pesan es boba tiga, ya!”
Sagara jga manjat tembok, baru saja melewati tembok menatap Zea dengan ekspresi tidak percaya. “Tiga?”
Zea menoleh. “Satu untuk aku, satu untuk Intan, satu untuk kamu.”
“Saya tidak meminta.”
“Makanya saya belikan.”
Sagara terdiam lagi.
Penjual gorengan tertawa kecil melihat keduanya. “Baik, Bu. Gorengan dicampur dan boba tiga.”
Zea mengangguk puas.
***
Malam telah larut ketika Kapten Sagara tiba di markas besar pasukan khusus setelah menyelesaikan tugas pengawalan. Begitu ia memasuki ruang istirahat, beberapa rekannya yang sedang duduk santai langsung menoleh dan wajah mereka seketika berubah penuh rasa penasaran.
“Kapten Sagara!” seru Raka sambil menyeringai. “Bagaimana rasanya mengawal Ibu Gubernur yang cantik itu?”
Dimas langsung tertawa. “Nah, itu yang ingin kami dengar. Katanya gubernur termuda, cantik, tapi kelakuannya juga lumayan.”
Sagara hanya meletakkan kunci kendaraannya di atas meja. “Biasa saja.”
“Biasa saja?” Raka mengangkat alis. “Kapten mengawal gubernur muda dari keluarga pengusaha besar, tapi jawabannya cuma biasa saja?”
Seorang prajurit lain ikut menyahut dari sofa. “Paling juga orangnya kosong melompong, bukan?”
Beberapa orang tertawa kecil.
“Kalau bukan karena keluarganya punya pengaruh dan perusahaan besar, memangnya dia bisa menduduki jabatan itu di usia semuda itu?” lanjut Dimas. “Zaman sekarang, apa sih yang tidak pakai bekingan?”
“Benar,” timpal Raka. “Orang kaya tinggal punya nama besar, lalu semua jalan terbuka.”
“Apalagi perempuan seperti itu,” sambung prajurit lain. “Paling hanya nona manja yang terbiasa mendapatkan semuanya dengan mudah.”
Sagara yang sejak tadi diam perlahan mengangkat wajahnya. Ia memang sempat berpikir demikian sebelum bertemu langsung dengan Zea, bahkan dirinya sendiri sempat menganggap perempuan itu hanya seorang anak keluarga kaya yang mendapatkan jabatan karena latar belakang keluarganya.
Tapi ktika mengingat kejadian sepanjang hari tadi, ada sesuatu yang membuat pikirannya sedikit terganggu. Ia teringat bagaimana Zea berani membantah para pejabat senior, memangkas anggaran yang dianggap tidak perlu, dan menuntut agar pekerjaan pemerintah benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kalau aku jadi kamu, Gar, mungkin aku sudah pusing,” kata Raka sambil tertawa. “Mengawal nona manja seperti itu pasti capek.”
“Benar,” jawab Dimas. “Kamu harus hati-hati. Jangan sampai beliau minta digendong kalau capek jalan.”
Tawa kembali pecah di ruangan itu.
Sagara tiba-tiba menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajam. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya begitu dingin hingga suara tawa mereka perlahan menghilang.
“Kenapa?” tanya Raka yang mulai salah tingkah.
Sagara berdiri tegak. “Kalian sudah selesai?”
Ruangan langsung sunyi.
Dimas yang tadi paling banyak bicara menelan ludah. “Selesai.”
Sagara mengambil botol air di atas meja. “Bagus.”
Tidak ada yang berani melanjutkan candaan mereka.
pimter sekali mereka bikin si kanebo kereing mati kutu
mau bilang apa lagi coba hadeh
hadeh mulai deh ngeles nya