kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN YANG TERLAMBAT.
Keesokan paginya, suasana di sekolah terasa beda. Tatapan orang-orang makin tajam, bisik-bisik makin jelas — seakan ada yang menyebarkan cerita baru tentang gue. Gue jalan tegak, senyum tipis, tapi di dalem dada rasanya sesak banget.
Saat istirahat, gue duduk di meja biasa. Arka datang, langsung pegang tangan gue erat — tanpa kata, gue tahu dia mau bilang gue di sini.
Belum lama duduk, Kirana muncul. Kali ini dia nggak sembunyi. Dia berdiri di depan meja kita, napasnya berat, matanya merah — campur marah sama sedih.
"Cukup," suaranya gemetar. "Gue nggak tahan lagi menyimpannya sendiri."
Suasana di kantin seketika hening. Semua mata tertuju ke arah kami.
Arka berdiri pelan, melindungi gue di belakangnya sedikit. "Bilang saja. Kami dengar."
Kirana tarik napas panjang, lalu natap lurus ke mata Arka.
"Kamu ingat tiga tahun lalu? Malam kecelakaan itu?"
Arka mengangguk pelan, rahangnya mengeras. "Ingat."
"Orang yang nyetir motor malam itu… yang bikin lo jatuh, yang bikin lo dirawat lama… itu bukan orang asing," suaranya pecah. "Itu kakak gue."
Gue menahan napas. Arka diam, tubuhnya kaku.
"Dia kabur karena takut," lanjut Kirana, air mata mulai turun. "Gue tahu dari awal. Gue minta dia menyerah, dia nggak mau. Gue simpan rahasia ini karena gue takut lo benci kami… takut kalau lo benci gue."
Dia menatap Arka lekat-lekat.
"Dan gue berharap… kalau gue jaga lo, kalau gue selalu ada buat lo.... lo bakal lihat gue. Maafin keluarga gue. gue mau lo Pilih gue. Tapi lo malah pilih Aluna. Dan gue nggak tahan."
Keheningan yang berat melanda. Gue natap Arka — wajahnya pucat, matanya kosong sejenak, seakan kembali ke malam yang menyakitkan itu.
"Kenapa baru sekarang?" suaranya rendah, bergetar. "Kenapa lo biarkan gue cari tahu sendiri selama ini?"
"Karena gue takut lo bakal pergi!" teriak Kirana pelan. "Sekarang lo udah tahu. lo masih mau sama dia? Sementara keluarga yang nyakiti lo bebas tanpa dipertanggungjawabkan?"
Semua orang menahan napas. Gue genggam tangan Arka erat — rasanya dingin, kaku.
Arka berbalik perlahan ke arah gue. Matanya penuh tanya, sakit, bingung.
"Lo… lo tahu soal ini?"
Gue geleng cepat, mata gue panas. "Nggak, Arka. Gue nggak tahu apa-apa. Sumpah."
Dia diam, menarik tangannya perlahan. Jarak kecil itu terasa jauh banget.
"Gue butuh waktu sendiri," ucapnya pelan, lalu berbalik dan pergi — ninggalin gue sendirian di tengah keramaian yang hening.
"Arka!" panggil gue, tapi dia nggak berhenti.
Gue berdiri kaku, air mata mulai turun tanpa izin. Kirana natap gue, senyumnya hilang — digantinya tatapan kosong.
"Gue nggak menyesal bilang," bisiknya. "Tapi gue nggak bermaksud nyakiti lo."
Dia pergi, ninggalin gue yang berdiri sendirian. Sasa sama Bela langsung rangkul gue, tapi pelukan mereka nggak bisa isi kekosongan yang baru terbentuk.
Sore itu gue cari Arka ke mana-mana — nggak ada di rumah, nggak di tempat biasa, nggak di mana pun. Telepon nggak diangkat, pesan nggak dibalas. Gue duduk di teras sampai malam, menunggu, berharap dia muncul.
Saat hampir menyerah, dia datang. Berjalan pelan, wajahnya lelah banget — seakan memikul beban tiga tahun lalu sendirian lagi.
"Arka…" panggil gue pelan, bangkit berdiri.
Dia berhenti di depan gue, natap lama.
"Gue nggak ragu sama lo, Luna," suaranya lembut tapi sedih. "Gue cuma… bingung. Selama ini gue pikir kecelakaan itu murni kebetulan. Ternyata ada orang yang tahu dan diam."
"Gue tahu itu berat," gue mendekat pelan, takut dia mundur. "Tapi Arka… itu bukan salah gue. Dan gue mau hadapi ini bareng lo. Apa pun yang terjadi."
Dia diam, menunduk. "Gue tahu. Tapi rasanya… dunia gue bergeser lagi. Gue butuh waktu buat tenangin diri."
"Boleh," gue usap air mata yang turun sendiri. "Tapi jangan jauh terlalu lama ya? Gue takut."
Dia natap gue, ada rasa sakit di matanya. Lalu mengangguk pelan, berjalan masuk ke dalam rumah — tapi bukan ke arah gue.
Malam itu hening banget. Gue tahu ini bukan berakhir… tapi gue juga tahu, luka lama yang baru terbuka butuh waktu buat sembuh. Dan gue siap nunggu. Selama apa pun itu.