Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25
Si Aktor Lagi Viral Gara-gara Gila
"Jawabanmu ada di muka sendiri," kata Renata, menarikku kembali ke ruang tamunya.
Aku memeluk bantal sofa. "Yang bikin ribut semalam itu minuman."
"Kamu cuma minum setengah gelas. Yang bikin ribut bukan alkohol, tapi kamu sendiri."
Renata mengambil ponsel Bara dari tanganku dan meletakkannya di meja. "Sekarang pilih. Anggap tidak terjadi apa-apa dan hadapi Bara dengan jujur, atau akui kamu mau pacaran dengannya. Bersembunyi di rumahku bukan pilihan ketiga."
"Aku mau menikah."
Kopi yang baru diminumnya tersembur kembali ke cangkir.
"Dengan Bara?"
"Dengan Mas Bagus. Kami memutuskan beberapa hari lalu."
Renata meletakkan cangkir terlalu keras. "Kamu tidur sama Bara setelah setuju menikah dengan Bagus?"
"Kami belum mengumumkan apa pun."
"Itu tidak menjawab."
Aku menjelaskan kesepakatan kami yang praktis. Renata mendengarkan sampai selesai, lalu mengusap sudut bibir dengan tisu.
"Nikah tanpa perasaan itu penyakit," katanya. "Dan kamu memilihnya karena takut pada satu-satunya orang yang benar-benar bisa membuatmu sakit."
Aku tetap tinggal di rumahnya selama beberapa hari. Ponselku ditukar lewat pengemudi, bukan Sigit, dan Bara tidak datang. Kupikir ia akhirnya menghormati jarak.
Ternyata ia hanya mencari panggung yang lebih besar.
Hari pertama, Bara mengunggah selfie dengan rambut berdiri ke Instagram. Seorang penggemar berkomentar, Kapan punya pacar?
Ia membalas, Secepatnya deh. Lagi diusahakan.
Akun gosip menangkap layar balasan itu. Dalam satu jam, namanya masuk daftar tren di X.
Hari kedua, seorang mahasiswi mengeluh laptopnya rusak saat mengerjakan skripsi. Bara membalas pesan itu dan mengirim laptop baru. Penggemar lain meminta tiket konser, ia memberikan dua. Seorang perempuan bercanda meminta lipstik, satu paket produk datang ke rumahnya.
Ketika penggemar laki-laki ikut meminta, Bara menjawab, Cowok juga boleh pakai, kok. Pilih warna.
TikTok dipenuhi kompilasi kemurahan hatinya. X dipenuhi tagar #BaraMahendraGila, #BaraNyariPacar, dan #BaraNggakPunyaPacar. Citra aktor dingin yang kami bangun bertahun-tahun runtuh menjadi laki-laki kesepian yang membagikan hadiah sambil mencari jodoh.
Tim publisitas mengirim laporan darurat ke grup lama kami. Untungnya, tidak ada unggahan yang melanggar kontrak iklan atau menyerang siapa pun. Masalahnya justru semua merek menyukai angka interaksi yang melonjak. Sebuah akun gosip membuat jajak pendapat tentang siapa perempuan yang sedang dikejar Bara. Namaku masuk pilihan terakhir dan tetap mendapat suara terbanyak kedua.
Renata menunjukkan layar itu kepadaku. "Publik mungkin lebih pintar daripada kamu."
"Mereka cuma mengenal aku sebagai manajer galak."
"Mereka melihat cara Bara selalu mencari kamu setelah turun panggung."
Aku menutup aplikasi, tetapi notifikasi terus berdatangan. Bahkan mantan kru yang pernah bekerja dengan kami mengunggah video lama saat Bara menolak makan sebelum aku tiba di lokasi. Sepuluh tahun kebiasaan kecil berubah menjadi bukti publik yang tidak bisa kuhapus.
Pada hari ketiga, aku menyerah dan meneleponnya.
"Kamu ngapain sih heboh begitu? Tim publisitas sampai nggak tidur!"
"Kak Jingga sudah resign."
"Aku masih punya saham di perusahaan."
"Tapi nggak mau jadi manajer aku, nggak mau pacaran sama aku, dan mau nikah sama orang lain. Pakai hak apa mengatur aku?"
Mulutku terbuka tanpa suara.
"Kalau Kakak mau punya hak lagi, datang," lanjutnya.
Aku menutup telepon.
Satu jam kemudian, Mas Bagus menelepon dengan suara berbisik.
"Jingga, tolong ambil Bara."
"Ambil dari mana?"
"Rumah gue. Dia pindah masuk kemarin."
Ternyata Bara membawa satu koper, makan dari kulkas Mas Bagus, dan mengikuti produser itu dari ruang kerja sampai dapur. Ia menanyakan alasan Mas Bagus ingin menikahiku saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Bahkan ketika Mas Bagus masuk kamar mandi, Bara duduk di luar pintu sambil melanjutkan pertanyaan.
"Dia bilang kalau kita menikah, dia bakal manjat ranjang pengantin," keluh Mas Bagus. "Gue nggak bisa tidur karena takut dia benar-benar datang dari balkon."
"Kunci pintu."
"Dia punya kode pagar karena dulu pernah syuting di sini!"
"Aku sudah resign. Malas ketemu mantan bos."
"Dia bukan mantan bos, dia bencana alam."
Aku menolak datang. Namun setelah panggilan berakhir, satu kenangan yang selama ini kukunci muncul lagi.
Sebelum menutup telepon, Mas Bagus sempat berhenti mengeluh.
"Jingga, gue mau tanya jujur. Lo menikah sama gue karena ingin, atau karena mau kabur dari dia?"
"Kita sudah punya kesepakatan."
"Kesepakatan bisa dibatalkan. Pernikahan nggak seharusnya jadi ruang tunggu sampai lo berani mengakui sesuatu."
Aku tidak menjawab. Dari seberang terdengar Bara mengetuk pintu kamar mandi dan bertanya apakah Mas Bagus sedang meneleponku.
"Tolong pikirkan," kata Mas Bagus cepat sebelum sambungan terputus. Untuk pertama kalinya, calon suamiku sendiri terdengar seperti orang yang berharap pernikahan kami gagal.
Dua tahun lalu, Bara pernah menungguku di bawah apartemen sampai dini hari. Saat itu ia baru selesai pesta penghargaan. Matanya merah, bukan karena mabuk, melainkan karena menahan marah setelah melihatku pulang bersama seorang rekan pria.
"Aku nungguin semalaman," katanya. "Aku suka kamu. Kasih aku kesempatan."
Itu bukan pertama kali ia memberi tanda, tetapi pertama kali ia mengatakannya tanpa bisa kutafsirkan sebagai candaan.
Aku menolak.
Di kepalaku, Bara adalah bulan yang dilihat jutaan orang. Aku cuma bintang kecil yang kebetulan berdiri dekat sehingga tampak terang. Jika aku mendapatkannya lalu suatu hari ia sadar ada perempuan yang lebih cantik, lebih muda, dan lebih pantas, kehilangan itu akan menghancurkanku.
Lebih aman tidak pernah memiliki.
"Aku menganggapmu adik," kataku malam itu.
Bara menatapku lama. "Kakak bohong."
Ia pergi sebelum aku bisa menyangkal lagi.
Menjelang akhir tahun, aku pulang ke Bandung. Ibu mengira aku mengambil cuti untuk beristirahat. Ia tidak tahu aku sedang bersembunyi dari mantan artis, calon suami, dan perasaanku sendiri.
Malam Tahun Baru tiba dengan udara dingin dan bunyi petasan dari kejauhan. Beberapa menit sebelum tengah malam, ponselku berdering.
"Selamat tahun baru," kata Bara.
"Masih lima menit lagi."
"Aku di bawah. Bagus titip pesan."
Aku berjalan ke jendela.
Di halaman kecil kompleks, seorang laki-laki berdiri dengan jaket tebal, topi, dan masker. Walau tertutup, aku mengenali cara ia mendongak.
"Kenapa kamu datang ke Bandung?"
"Selama sepuluh tahun kita nggak pernah benar-benar berpisah. Aku nggak mau tahun baru dimulai saat Kakak masih lari."
"Bicara lewat telepon saja."
"Aku kedinginan."
"Kamu punya mobil."
"Kalau aku masuk mobil, Kakak nggak akan kasihan."
Manipulasi termurah dari seorang peraih penghargaan akting terbaik, dan tetap berhasil.
Aku mengenakan cardigan, keluar diam-diam, lalu turun ke halaman.
Bara melepas maskernya ketika aku mendekat. Tatapan kami bertemu tepat saat hitung mundur mulai terdengar dari televisi rumah-rumah sekitar.
Kali ini aku tidak punya tempat untuk bersembunyi.