NovelToon NovelToon
PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pembuktian di Lapangan Latihan

Pagi hari sesi latihan bersama, seluruh murid Sekte Awan Langit berkumpul di lapangan terbuka di belakang kompleks—jumlah yang meski tidak sebanyak sekte-sekte besar, tetap menciptakan suasana ramai yang jauh berbeda dari kesunyian yang biasa menyelimuti tempat itu.

Chu Feng berdiri di antara beberapa murid baru lainnya—total tujuh orang yang bergabung dalam beberapa bulan terakhir, masing-masing dengan latar belakang berbeda, mulai dari anak petani biasa hingga keturunan keluarga kultivator kecil yang tidak mampu bersaing masuk ke sekte-sekte besar.

Tetua Wang berdiri di depan, didampingi dua tetua lainnya yang belum pernah Chu Feng temui sebelumnya—seorang pria tua kurus dengan janggut panjang yang diperkenalkan sebagai Tetua Feng, ahli dalam teknik pedang, dan seorang wanita paruh baya bernama Tetua Mei, yang dikenal sebagai ahli formasi dan alkimia sekte.

"Latihan bersama hari ini," umum Tetua Wang, suaranya menggema ke seluruh lapangan, "akan menilai kemampuan dasar setiap murid baru—kekuatan qi, penguasaan teknik dasar, dan potensi pengembangan ke depannya. Hasil penilaian ini akan menentukan kelompok latihan dan bimbingan yang akan kalian terima selanjutnya."

Murid-murid baru itu, termasuk Chu Feng, mengangguk paham, sementara di sekeliling lapangan, murid-murid senior—termasuk Zhao Lin dan Liu Bo—berkumpul untuk menyaksikan, sebagian karena tugas, sebagian lagi karena rasa ingin tahu terhadap murid baru yang datang dengan surat pengantar kerajaan.

Penilaian dimulai dengan tes dasar yang serupa dengan yang pernah Chu Feng jalani di Festival Penentuan—mengalirkan qi ke sebuah batu ujian untuk mengukur tingkat kultivasi. Satu per satu, murid baru lainnya menunjukkan hasil yang bervariasi, sebagian besar masih di tingkat Penguatan Tubuh atau baru memasuki Pembukaan Meridian awal, wajar mengingat usia mereka yang masih muda dan latar belakang yang beragam.

Ketika giliran Chu Feng tiba, ia melangkah maju dengan tenang, menempelkan tangannya ke batu ujian, dan mengalirkan qi-nya dengan kontrol yang sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa minggu lalu di Festival Penentuan—hasil dari latihan konsisten selama perjalanan menuju sekte ini.

Batu itu bercahaya terang, jauh melampaui hasil murid-murid baru lainnya.

"Kondensasi Qi lapis ketiga," ucap Tetua Feng, alisnya terangkat sedikit terkejut. "Cukup mengesankan untuk seseorang seusiamu, apalagi baru bergabung."

Gumaman kagum terdengar dari beberapa murid senior yang menyaksikan, termasuk Liu Bo yang berdiri di antara mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara terkejut dan sedikit terganggu bahwa ejekannya kemarin mungkin kurang beralasan.

"Selanjutnya," lanjut Tetua Wang, "tes penguasaan teknik dasar. Setiap murid akan diminta menunjukkan rangkaian gerakan dasar menggunakan senjata pilihan masing-masing."

Chu Feng memilih tombak sederhana yang disediakan sekte, mengingat teknik tombak yang sudah ia pelajari selama berminggu-minggu berlatih diam-diam di istana, ditambah pengalaman nyata dari pertandingannya melawan Chu Yan.

Ketika gilirannya tiba, ia melangkah ke tengah lapangan, mengambil posisi awal, dan mulai memperagakan rangkaian gerakan dasar yang telah ia kuasai—tusukan lurus yang presisi, putaran gagang yang mengalihkan serangan bayangan, dan kombinasi gerakan yang meski masih jauh dari sempurna, menunjukkan fondasi yang jauh lebih matang dibandingkan murid-murid baru seusianya.

Tetua Feng, sang ahli pedang, mengamati dengan saksama, matanya menyipit penuh minat profesional.

"Siapa yang mengajarimu teknik dasar ini?" tanyanya ketika Chu Feng menyelesaikan rangkaian gerakannya.

"Aku belajar sendiri dari kitab-kitab lama, Tetua," jawab Chu Feng jujur. "Dengan sedikit penyesuaian berdasarkan pengalaman pertarungan nyata."

"Belajar sendiri," Tetua Feng mengulang, nada suaranya menunjukkan ketidakpercayaan yang bercampur kekaguman. "Fondasimu masih perlu banyak perbaikan, tapi instingmu dalam pertarungan cukup tajam untuk seseorang yang tidak pernah menerima bimbingan formal. Menarik sekali."

Ujian terakhir adalah pertarungan singkat melawan murid baru lainnya, untuk menilai kemampuan aplikasi praktis dari teknik dasar yang telah ditunjukkan sebelumnya. Chu Feng dipasangkan dengan seorang pemuda bernama Wei Chao, murid baru lain yang menunjukkan hasil cukup baik di dua tes sebelumnya—meski masih jauh di bawah level Chu Feng.

Pertarungan itu berlangsung singkat, tidak sampai satu menit, dengan Chu Feng berhasil membaca dan mengantisipasi setiap gerakan lawannya, mengakhiri pertandingan dengan ujung tombaknya yang berhenti tepat di leher Wei Chao tanpa benar-benar melukainya—demonstrasi kontrol yang mengesankan, bukan sekadar kekuatan mentah.

"Cukup," seru Tetua Wang, menghentikan pertandingan dengan senyum puas yang jarang sekali ia tunjukkan. "Hasil yang sangat baik, Chu Feng."

Ketika seluruh penilaian selesai dan murid-murid baru dikumpulkan kembali untuk mendengar hasil akhir, ketiga tetua berkumpul sejenak untuk berdiskusi sebelum akhirnya Tetua Wang mengumumkan hasilnya.

"Berdasarkan penilaian hari ini," katanya, suaranya menggema ke seluruh lapangan, "sebagian besar murid baru akan bergabung dengan kelompok latihan dasar seperti biasa. Namun—" ia melirik ke arah Chu Feng, "—mengingat hasil luar biasa yang ditunjukkan salah satu dari kalian, aku memutuskan untuk memberikan pengecualian."

Ia menatap Chu Feng langsung. "Mulai besok, kau akan berlatih langsung di bawah bimbinganku, bersama beberapa murid senior terpilih lainnya. Aku ingin melihat seberapa jauh potensimu bisa berkembang dengan bimbingan yang tepat."

Keterkejutan jelas terlihat di wajah beberapa murid senior yang menyaksikan, termasuk Zhao Lin yang tersenyum bangga seolah turut merasa memiliki andil dalam pencapaian murid baru yang baru saja ia bimbing sehari sebelumnya.

Liu Bo, di sisi lain, menatap Chu Feng dengan ekspresi yang jauh lebih rumit—bukan lagi ejekan seperti kemarin, melainkan sesuatu yang menyerupai rasa hormat yang enggan, bercampur dengan tekad baru untuk tidak tertinggal terlalu jauh.

"Selamat," katanya singkat setelah sesi latihan bersama berakhir, mendekati Chu Feng dengan sikap yang jauh lebih rendah hati dibandingkan kemarin. "Sepertinya aku salah menilaimu."

"Tidak masalah," Chu Feng tersenyum tipis. "Kau hanya menilai berdasarkan apa yang kau lihat sejauh itu. Wajar."

Liu Bo mengangguk, sebuah rasa hormat baru mulai terbentuk di antara mereka—bukan lagi rivalitas yang dilandasi ejekan, melainkan persaingan sehat yang justru akan mendorong keduanya untuk terus berkembang di hari-hari mendatang.

Malam itu, ketika Chu Feng kembali ke kamarnya, Hei menyambutnya dengan gonggongan kecil penuh semangat, seolah turut merasakan kebahagiaan tuannya atas pencapaian hari itu.

"Awal yang baik," komentar suara di dalam dirinya, nada puas terdengar jelas. "Bimbingan langsung dari tetua sekte akan mempercepat perkembanganmu jauh lebih signifikan dibandingkan berlatih sendirian seperti sebelumnya."

Aku tahu, Chu Feng membalas dalam hati, duduk di tepi ranjangnya sambil mengelus kepala Hei yang bergelung nyaman di sampingnya. Tapi aku juga harus berhati-hati. Perkembangan yang terlalu cepat bisa menarik perhatian yang tidak diinginkan—baik dari dalam sekte, maupun dari luar.

"Kekhawatiran yang beralasan," setuju suara itu. "Tapi untuk sekarang, nikmatilah kemajuan ini, Pangeran Ketujuh. Kau sudah membuktikan diri sekali lagi, di tempat yang sama sekali baru, tanpa mengandalkan gelar atau koneksi kerajaan yang selama ini melekat padamu."

Chu Feng tersenyum, menatap keluar jendela kamarnya ke arah bulan yang tergantung tinggi di langit malam, cahayanya menyinari kompleks Sekte Awan Langit yang sederhana namun kini mulai terasa seperti rumah baru baginya.

Ini baru permulaan, pikirnya, tekadnya semakin mantap. Aku akan terus berkembang di sini, membangun kekuatan yang sesungguhnya—bukan lagi sekadar bersembunyi di balik topeng, melainkan tumbuh menjadi seseorang yang benar-benar mampu melindungi orang-orang yang kupedulikan, dan menemukan kebenaran yang masih menanti di luar sana.

1
Nanik S
Lanjut terus💪💪💪
Irhab Hauzan: gas👍👍
total 1 replies
Nanik S
Menjadi Murid sekte
Nanik S
Chu Feng ada teman dalam perjalanan
Nanik S
Akhirnya Chu Feng pergi menuju Sekte Langit
Irhab Hauzan: lanjut kak🙏
total 1 replies
Nanik S
Siapa nanti yang akan berkhianat pada Chu Feng apakah itu Su Yue
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya 🙏👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng harus berlindung disekte dan terus berlatih agar menjadi Kuat
Irhab Hauzan: terimakasi🙏😄
total 1 replies
Nanik S
Keturunan siapakah sebenarnya Ibu Chu Feng
Nanik S
Lanjutkan💪💪💪
Irhab Hauzan: terimakasih 🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Yan... kenapa tidak malu melawan adiknya yang paling Lemah
Irhab Hauzan: suka mbuly soalnya😄👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng.... mulai menunjukan kemampuannya dan pasti akan berbahaya bagi Kakak²nya😇😇😇
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng memang harus berhati hati karena kelicikan wanita
Irhab Hauzan: 😄😄😄 wanita memang tipudaya
total 1 replies
Nanik S
Semoga pangeran Ketuju tidak terlalu tertarik dengan asmara agar cerita ini tidak membosankan
Irhab Hauzan: terimakasih atas masukanya🙏
total 1 replies
Nanik S
Ada yang mengawasi ... dan kenapa sang Dewa tidak menyadarunya
Irhab Hauzan
terimakasih masukanya🙏
Nanik S
Lanjutkan Tor... jangan sampai ada perjodohan atau pernikahan muda pasti Ceritanya sudah TDK akan menarik
Nanik S
Lanjutkan Tor💪💪💪
Nanik S
Dewa... yang dianggap Intensitas tertinggi
Nanik S
Semoga cerita ini sampai selesai
Irhab Hauzan: terimakasih supportnya🙏
total 1 replies
Nanik S
Hadir.... cukup menarik di awal
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai k salam kenal . masuk grup aku mau gak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!