"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Rasa Sesal
Rian menundukkan kepalanya dalam-dalam. Napasnya memburu. Setiap kata yang diucapkan oleh Jaksa terasa seperti cambuk berduri yang merobek-robek harga dirinya.
"Terdakwa I mencairkan dana taktis perusahaan sebesar ratusan juta rupiah yang kemudian digunakan untuk kepentingan pribadi, di antaranya membeli satu set perhiasan gelang berlian senilai Rp 48.500.000 untuk diberikan kepada Terdakwa II Eriska Wijaya. Terdakwa II secara sadar mengetahui asal-usul uang tersebut dan ikut menikmati hasil kejahatan."
Eriska makin menangis meraung pelan mendengarkan namanya disebut sebagai penadah barang korupsi.
"Lebih lanjut, dari hasil audit investigasi independen, ditemukan bukti bahwa Terdakwa I secara sistematis mentransfer dana perusahaan sebesar total Rp 2.300.000.000 (dua miliar tiga ratus juta rupiah) ke lima perusahaan fiktif yang dikendalikan olehnya, yang mana hal ini memenuhi unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU)."
Dua miliar tiga ratus juta rupiah.
Angka itu berdengung di telinga Rian. Ia tahu, dengan bukti setebal itu, tak ada satupun celah baginya untuk lolos dari jeruji besi. Ia akan membusuk di penjara selama bertahun-tahun, kehilangan segalanya.
Di tengah rasa putus asa yang mencekik dadanya, Rian perlahan memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya, memutar sedikit lehernya ke arah bangku pengunjung di barisan belakangnya.
Dan saat itulah, pandangan mata Rian langsung terkunci pada sosok Annisa.
Annisa duduk tepat di barisan terdepan, hanya berjarak lima meter dari kursi pesakitan Rian. Wanita itu tampak luar biasa bersinar, berwibawa, dan memancarkan kekuasaan absolut. Tatapan mata Annisa begitu dingin, sedingin es di kutub utara. Tidak ada air mata, tidak ada rasa sedih, dan yang paling menyakitkan bagi ego Rian ... tidak ada lagi setitik pun rasa cinta di mata wanita yang selama tiga tahun melayaninya di rumah itu.
Di sebelah Annisa, Fandi Prasetyo duduk dengan postur elegan seorang miliarder. Fandi tidak menatap Rian sama sekali, seolah Rian tak lebih dari sekadar debu kotor di lantai ruang sidang. Pria berkuasa itu sesekali berbisik profesional pada Annisa mengenai catatan jalannya sidang, dan Annisa meresponsnya dengan tenang.
Mereka berdua tampak seperti dua penguasa bisnis yang tak tersentuh oleh badai apa pun.
Dada Rian serasa diremas kuat-kuat hingga hancur berkeping-keping. Pemandangan di depannya adalah tamparan paling brutal dalam hidupnya.
Dulu, Rian selalu membentak Annisa sebagai 'wanita bodoh yang tak paham urusan Manager'. Rian selalu menuntut dihormati, disanjung, dan dilayani bagai raja. Rian merasa dirinya terlalu tinggi untuk Annisa, sehingga ia mencari validasi murahan dari Eriska.
Tapi lihatlah sekarang.
Rian duduk di kursi pesakitan sebagai narapidana miskin berompi oranye dengan tangan terborgol. Sementara wanita yang ia buang dan ia hina itu duduk di kursi kehormatan sebagai pewaris tahta Vantara Group, didampingi oleh pimpinan Prasetyo Group yang wibawanya ratusan kali lipat berada di atas Rian.
Air mata penyesalan menetes deras membasahi pipi Rian yang kotor. Bibirnya bergetar hebat. Rasa sakit yang ia rasakan saat ini jauh melebihi rasa sakit dari borgol yang mengikat pergelangan tangannya.
Rian baru menyadari satu hal yang teramat terlambat. Ia tidak hanya kehilangan seorang istri yang sabar. Ia telah membuang berlian paling berharga di tangannya demi memungut sebongkah kerikil palsu bernama ego dan perselingkuhan.
Hakim Ketua mengetuk palu, memutuskan untuk menunda sidang hingga pekan depan untuk mendengarkan eksepsi dari pihak kuasa hukum terdakwa.
"Sidang ditunda," tutup Hakim.
Para petugas kejaksaan langsung menarik bahu Rian dan Eriska, memaksa mereka berdiri untuk digiring kembali ke ruang tahanan sementara di bagian belakang gedung.
Saat Rian digiring melewati deretan kursi pengunjung, langkah kakinya melambat. Matanya tak lepas menatap Annisa yang kini berdiri dari kursinya.
Annisa tidak menatap balik. Wanita itu hanya merapikan kerah blazer-nya dengan anggun, lalu membalikkan badan, melangkah keluar ruang sidang bersama Fandi dan tim pengacaranya, memunggungi Rian untuk selama-lamanya.
Tidak ada kata maaf. Tidak ada salam perpisahan.
Hanya punggung tegap sang Komisaris Utama Vantara Land yang berjalan menjauh, meninggalkan Rian Hidayat tenggelam dalam lautan penyesalan yang akan menyiksanya di balik jeruji besi hingga sisa usianya.
***
Suara rintik hujan yang tersisa dari pagi masih menetes di luar gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Di dalam Ruang Sidang Utama, bau kayu tua bercampur pendingin udara yang terlalu dingin menambah pekat ketegangan yang belum surut.
Matahari mulai bergerak naik, namun bagi dua orang yang duduk di kursi pesakitan di tengah ruangan, hari rasanya sudah gulita sepenuhnya.
Majelis hakim yang dipimpin oleh Hakim Ketua baru saja mengumumkan bahwa agenda sidang dilanjutkan dengan pembacaan eksepsi serta penyampaian keterangan awal dari para terdakwa. Pembelaan yang seharusnya menjadi benteng terakhir untuk memperingan hukuman Rian Hidayat dan Eriska Wijaya, dalam hitungan menit, justru berubah menjadi panggung pertunjukan yang memperlihatkan kehancuran mental mereka secara telanjang.
Pak Hendra, pengacara Rian, berdiri lebih dulu untuk membacakan nota pembelaan awal.
"Majelis Hakim yang mulia," suara Pak Hendra bergema di dalam ruang sidang yang lengang. "Klien kami, Rian Hidayat, mengakui adanya kekhilafan dalam pengelolaan dana taktis divisi pemasaran. Namun, kami memohon agar Majelis melihat bahwa tindakan tersebut dilakukan bukan murni atas kehendak tunggal Terdakwa I. Klien kami berada di bawah tekanan manipulasi emosional serta tuntutan gaya hidup berlebihan dari Terdakwa II, Eriska Wijaya, yang secara intensif meminta barang-barang mewah ...."
Mendengar namanya disebut sebagai biang keladi, Eriska yang duduk di sebelah Rian seketika menegakkan kepalanya. Wajahnya yang pucat dan tanpa riasan mendadak merah padam oleh amarah yang membakar rasa takutnya.
"Bohong! Itu bohong, Pak Hakim!" jerit Eriska histeris, memotong pembacaan pengacara Rian tanpa memedulikan etika persidangan.
Tuk! Tuk!
Hakim Ketua mengetukkan palunya dengan ketukan tajam. "Terdakwa II, harap tenang dan jaga ketertiban sidang! Saudari akan diberikan kesempatan bicara pada gilirannya!"
"Tapi saya difitnah, Pak Hakim!" tangis Eriska pecah, suaranya melengking memenuhi ruangan. Jemarinya yang gemetaran dan terikat borgol menunjuk lurus ke arah muka Rian yang menunduk dalam. "Dia yang bohong! Dia yang datang mendekati saya di kantor! Dia yang pamer kalau dia Manager kaya dengan bonus miliaran! Saya gak pernah minta dia mencuri uang kantor!"
Rian perlahan menoleh ke arah Eriska. Wajah pria itu yang semula hampa dan pasrah, kini dihiasi urat-urat leher yang menonjol akibat rasa sakit hati yang mencapai puncaknya.
"Kamu gak pernah minta, Riska?!" desis Rian dengan suara parau yang gemetaran namun sarat kebencian. "Kamu lupa siapa yang setiap hari cemberut di ruangan kerja saya kalau gak dibeliin tas mahal?! Kamu lupa siapa yang ngancam mau cari pria lain kalau gak saya beliin gelang berlian itu?! Kamu yang minta, Riska! Kamu yang bikin saya gelap mata!"
bersambung...