NovelToon NovelToon
Crimson Vows

Crimson Vows

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Mafia / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yao na

Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — Perangkap yang Terbalik

Enzo, tanpa menyadari bahwa Gerald dan Yao kini bekerja sama menyelidikinya, mempercepat rencananya bersama keluarga Russo. Ia mengatur pertemuan rahasia dengan Katarina Volkov, pemimpin sementara keluarga Russo, di sebuah gudang tua di pinggiran Milan.

"Semuanya berjalan sesuai rencana," kata Enzo pada Katarina, tidak menyadari bahwa Marco telah berhasil menyusupkan alat penyadap ke dalam mobilnya beberapa hari sebelumnya. "Gerald sudah terganggu dengan urusan gadis Conti itu. Dia tidak akan fokus mempertahankan wilayah pelabuhan minggu depan. Saatnya kalian menyerang."

"Dan setelah kami mengambil alih wilayah itu?" tanya Katarina, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Apa yang kau dapatkan dari semua ini, Bastiani?"

"Kekacauan," jawab Enzo dengan senyum dingin. "Keluarga Moretti akan hancur berantakan tanpa kepemimpinan yang kuat. Dan aku akan berada di sana, siap untuk 'menyelamatkan' apa yang tersisa — dengan caraku sendiri."

Di ruangan kontrol tersembunyi, Gerald mendengarkan setiap kata dengan wajah membatu, kepalan tangannya mengeras di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih.

"Bajingan itu," geramnya. "Dia ingin merebut segalanya."

Yao meletakkan tangannya di bahu Gerald, mencoba menenangkan amarah yang membara di dalam dirinya. "Sekarang kita punya bukti yang cukup," katanya. "Kita bisa menghentikannya sebelum ia menghancurkan lebih banyak lagi."

Tapi rencana mereka untuk menangkap Enzo dengan bukti yang telah terkumpul harus tertunda ketika sebuah pesan darurat masuk ke ponsel Gerald: keluarga Russo telah mempercepat serangan mereka, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan Enzo sendiri.

"Mereka menyerang pelabuhan. Malam ini," kata Gerald, wajahnya berubah tegang saat membaca pesan dari salah satu kaptennya. "Kita harus bergerak. Sekarang."

Ia segera memanggil seluruh kapten yang tersisa, suaranya berubah menjadi komando militer yang tegas dan cepat. "Kumpulkan semua orang yang bisa membawa senjata. Kita berangkat dalam sepuluh menit."

Yao merasakan adrenalin mulai mengalir deras dalam tubuhnya, menyadari bahwa momen yang telah lama ia persiapkan — momen di mana ia harus membuktikan di sisi mana ia sebenarnya berdiri — akhirnya tiba lebih cepat dan lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.

"Aku ikut," katanya tegas, sudah bergegas mengambil jaket kulit yang ia sembunyikan pisau lipatnya di dalamnya.

Gerald menatapnya sejenak, konflik batin masih jelas terlihat di matanya, tapi akhirnya mengangguk. "Tetap di dekatku," katanya. "Apa pun yang terjadi malam ini."

Malam itu, Milan menyaksikan salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah perang antar-klan mafia dalam dekade terakhir. Anak buah keluarga Russo menyerbu wilayah pelabuhan Moretti dengan senjata berat, berusaha merebut kendali sebelum pasukan Gerald bisa mengorganisir pertahanan yang layak.

Kontainer-kontainer besar menjadi perisai sekaligus jebakan mematikan, peluru memantul di permukaan logamnya menciptakan suara berdenting yang mengerikan berpadu dengan teriakan orang-orang yang terluka. Bau mesiu bercampur dengan bau laut yang asin, dan lampu-lampu darurat pelabuhan yang berkedip menciptakan bayangan-bayangan mengerikan di antara kekacauan yang terjadi.

Gerald memimpin pasukannya sendiri ke garis depan, menolak untuk bersembunyi di balik keamanan mansion seperti yang disarankan para kaptennya. "Don yang tidak bertarung di samping anak buahnya tidak pantas memimpin mereka," katanya tegas, mengenakan rompi anti peluru sambil memeriksa pistolnya.

Yao bersikeras ikut, meski Gerald awalnya menolak keras. "Aku tumbuh di dunia ini juga, Gerald," katanya tegas. "Aku tahu cara menggunakan senjata. Biarkan aku membantu."

Malam itu dipenuhi suara tembakan, teriakan, dan ledakan yang menggema di sepanjang dermaga pelabuhan. Yao bertarung di sisi Gerald dengan keberanian yang mengejutkan bahkan dirinya sendiri, tahun-tahun pelatihan diam-diam dari Sofia akhirnya terbayar dalam momen paling kritis dalam hidupnya.

Di tengah kekacauan, Yao melihat sesosok bayangan familiar menyelinap di antara kontainer pelabuhan — Enzo, mengenakan pakaian gelap, jelas berusaha memanfaatkan kekacauan untuk melarikan diri dengan bukti-bukti yang bisa memberatkannya.

"Gerald!" teriaknya, menunjuk ke arah bayangan itu. "Enzo ada di sana!"

Gerald mengejar tanpa ragu, meninggalkan pertempuran utama untuk mengejar pengkhianat yang telah menghancurkan begitu banyak kehidupan. Yao mengikutinya, jantungnya berdegup kencang karena adrenalin dan ketakutan yang bercampur aduk.

Mereka menyudutkan Enzo di ujung dermaga, dikelilingi kegelapan malam dan suara pertempuran yang masih bergema di kejauhan.

"Ini sudah berakhir, Enzo," kata Gerald, pistolnya terarah tegas ke arah pria yang selama ini ia percaya sebagai keluarga. "Aku tahu semuanya. Russo, uangnya, kematian ayah Yao — semuanya."

Enzo tidak menjawab segera. Ia hanya berdiri dengan tangan terangkat setengah, seolah menyerah, namun senyum tipis yang terukir di wajahnya yang diterangi cahaya bulan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kekalahan. Ia menatap Gerald lama, lalu Yao, seolah sedang menimbang sesuatu — bukan apakah ia akan berbicara, tapi seberapa banyak yang akan ia berikan, dan seberapa banyak yang akan ia sisakan untuk menghancurkan mereka perlahan.

"Kau tahu semuanya," ulangnya pelan, nyaris menggumam, seolah kata-kata itu sendiri lucu baginya. "Anak muda selalu berpikir 'semuanya' adalah kata yang cukup besar untuk menampung kebenaran."

Kata-kata itu menggantung di udara malam, penuh ancaman tersembunyi yang membuat baik Gerald maupun Yao merasakan firasat buruk yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.

1
yao na
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!