Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bayang-Bayang Masa Lalu
Langit di atas kediaman Jenderal Li belum sempat memerah sempurna ketika suara ketukan terdengar pelan namun tegas di gerbang utama.
Ling Yue sedang berdiri di beranda, menatap ke arah halaman yang mulai disinari cahaya fajar yang samar. Pikirannya masih terbayang percakapan semalam—tentang rahasia asal usulnya, tentang ikatan yang entah bagaimana mengaitkan nasib keluarganya dengan keluarga Li sejak puluhan tahun silam. Ia menyandarkan tangan di tiang kayu jati yang dingin, napasnya terhembus pelan. Semakin dalam ia menggali masa lalu, semakin terasa seperti tersesat di hutan kabut yang tak berujung.
"Nyawa Nona..." Suara pelan terdengar dari belakang. Ling Yue menoleh dan melihat Bibi Mu mendekat dengan wajah pucat, tangan meremas ujung kain bajunya. "Ada utusan dari istana. Mereka datang pagi-pagi sekali."
Jantung Ling Yue berdebar kencang. "Siapa yang dikirim?"
"Panglima Pengawal Kekaisaran sendiri," jawab Bibi Mu dengan suara bergetar. "Dia membawa perintah langsung dari Kaisar. Jenderal Li sudah menemui mereka di aula utama."
Ling Yue menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya. "Baiklah. Aku ikut ke sana."
Saat ia melangkah masuk ke aula utama, suasana di ruangan itu terasa berat dan sunyi. Di tengah ruangan, Li An berdiri tegak dengan wajah tenang namun matanya tajam mengawasi pria berpakaian perak yang berdiri di hadapannya—Panglima Gao, orang kepercayaan Kaisar yang dikenal tegas dan tidak kenal ampun.
"...maka dari itu," suara Panglima Gao terdengar dingin dan berwibawa, memecah kesunyian, "Kaisar memerintahkan Jenderal Li An untuk segera melaporkan segala peristiwa yang terjadi di wilayah perbatasan utara setahun lalu. Termasuk keberadaan dokumen rahasia yang diduga masih tersimpan di kediaman ini."
Li An tidak tergoyahkan sedikit pun. "Yang Mulia sudah mengetahui jawabannya. Semua laporan telah diserahkan sesuai prosedur. Tidak ada dokumen yang disembunyikan."
"Benarkah?" Panglima Gao melangkah maju, matanya menyapu seluruh ruangan hingga berhenti tepat pada Ling Yue yang baru saja masuk. Tatapannya tajam, menyelidik, seakan ingin membaca setiap rahasia yang tersembunyi di balik wajah gadis itu. "Lalu bagaimana dengan gadis di sampingmu? Dia bukan keturunan bangsawan, bukan pula kerabat dekat. Namun tiba-tiba dia menjadi istri sah Jenderal. Apa sebenarnya identitasnya?"
Ling Yue merasakan tatapan itu seperti jarum yang menusuk kulit. Ia menelan ludah, bersiap untuk berbicara, namun Li An lebih dulu melangkah ke sampingnya, menutupi sebagian tubuhnya dengan badannya yang tegap.
"Istriku adalah putri dari keluarga terhormat yang telah lama bersahabat dengan keluargaku," ucap Li An dengan suara rendah namun penuh kekuatan. "Namanya Ling Yue. Dia tidak ada hubungannya dengan urusan istana ini."
"Keluarga terhormat..." Panglima Gao menyeringai tipis, tidak percaya. "Saya tidak pernah mendengar nama keluarga itu dalam catatan bangsawan kekaisaran. Jenderal, Anda tahu betul ada larangan menikah tanpa melaporkan asal usul secara lengkap. Apakah Anda sengaja menyembunyikan sesuatu?"
"Saya hanya melindungi kehormatan istri saya," jawab Li An tenang, namun tangannya yang menggenggam tangan Ling Yue di balik punggungnya sedikit mengerat. "Jika Yang Mulia ingin menanyai saya secara langsung, saya siap menghadapinya. Tetapi tolong hormati kediaman saya."
Panglima Gao terdiam sejenak, menimbang kata-kata itu. Akhirnya ia mengangguk pelan, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh kecurigaan.
"Baik. Saya akan menyampaikan pesanmu kepada Kaisar. Namun ingat—" Ia berhenti tepat di depan pintu, menoleh kembali ke arah mereka. "Masa lalu tidak bisa dikubur selamanya. Sesuatu yang kau sembunyikan akan muncul sendiri, dan saat itu tiba, tidak ada siapa pun yang bisa melindungimu."
Setelah kepergiannya, suasana di aula tetap hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar jelas. Ling Yue merasakan genggaman tangan Li An sedikit melonggar, namun tidak melepaskannya.
"Li An..." panggilnya pelan. "Apakah kau menyembunyikan sesuatu? Tentang keluargaku, tentang ayahku..."
Li An menatapnya, matanya yang biasanya tegas kini terlihat bimbang, seakan sedang memutuskan sesuatu yang berat. Ia menghela napas panjang, lalu mengajaknya duduk di bangku kayu di sisi ruangan.
"Ada hal yang seharusnya kau ketahui," ucapnya pelan. "Tapi aku takut... takut jika kau mengetahuinya, kau akan membenci semua yang ada di depan matamu."
Ling Yue menggenggam tangannya lebih erat. "Aku sudah terlalu jauh terlibat. Dan aku tidak ingin hidup dalam kebohongan selamanya. Katakanlah, apa pun itu."
Li An menatapnya dalam-dalam, lalu mulai bercerita dengan suara rendah, seakan setiap kata terasa berat untuk diucapkan.
"Puluhan tahun lalu, ayahku dan ayahmu adalah sahabat karib. Mereka tumbuh bersama, belajar pedang bersama, bahkan berjanji untuk menjaga satu sama lain sampai akhir hayat. Ketika pemberontakan meletus di perbatasan, keduanya dikirim untuk menenangkan wilayah itu. Namun di tengah peperangan, terjadi sesuatu yang mengubah segalanya."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah.
"Ayahmu menemukan bukti bahwa ada pejabat tinggi di istana yang bekerja sama dengan musuh. Ia berniat melaporkan semuanya kepada Kaisar. Namun sebelum sempat melakukannya, ayahku... dipaksa untuk memilih antara kesetiaan kepada kaisar atau menyelamatkan nyawa keluarganya sendiri."
Ling Yue menahan napas. "Apa maksudnya?"
"Para pengkhianat mengancam akan membunuh seluruh kerabat ayahku jika ia tidak diam melihat ayahmu dituduh sebagai pengkhianat," suara Li An bergetar pelan. "Ayahku tidak berdaya. Ia berdiri diam saat ayahmu difitnah, saat namanya dihapus dari catatan kekaisaran, saat keluargamu diusir dan diburu. Ia menyelamatkan keluarganya sendiri, tetapi dengan harga yang sangat mahal—kehilangan sahabat terbaiknya dan membiarkan ketidakadilan terjadi."
Air mata menetes perlahan dari sudut mata Ling Yue. Segala sesuatu yang dulu membingungkannya—mengapa ayahnya selalu tampak sedih, mengapa mereka selalu berpindah tempat, mengapa ia tidak pernah memiliki rumah yang benar-benar miliknya—sekarang semuanya terhubung menjadi satu.
"Jadi... pernikahan kita..." suaranya pecah pelan. "Apakah ini juga bagian dari penebusan dosa masa lalu?"
Li An menggeleng dengan cepat, memegang kedua bahunya, menatapnya dengan pandangan yang tulus dan mendesak.
"Awalnya... ya. Ayahku memintaku menikahimu untuk melindungimu, untuk menebus kesalahannya. Tapi perasaanku padamu—" Ia berhenti, menelan ludah, suaranya melembut penuh ketulusan. "Itu bukan kewajiban. Bukan janji kepada orang tua. Sejak hari pertama melihatmu, sejak mendengarkan suaramu di tengah malam, sejak melihatmu berusaha bertahan meski tak tahu apa-apa... hatiku memilihmu dengan sendirinya. Ling Yue, aku mencintaimu. Bukan karena masa lalu kita, tapi karena siapa dirimu."
Air mata mengalir deras di pipi Ling Yue. Ia ingin marah, ingin membenci semuanya, namun melihat tatapan tulus di mata pria di hadapannya, ia justru merasakan kehangatan yang memeluk hatinya yang sedingin es. Selama ini ia merasa sendirian, merasa tidak punya tempat untuk pulang—namun di sini, di pelukan Li An, ia akhirnya merasa dihargai, dicintai, dan diterima apa adanya.
Ia memeluknya erat, menyembunyikan wajah di dadanya, menangis sejadi-jadinya—menangis untuk masa lalu yang menyakitkan, untuk ayahnya yang tiada, dan untuk masa depan yang kini tampak begitu sulit namun tetap berharga.
"Aku tidak membencimu," ucapnya pelan di sela isak tangis. "Aku hanya... butuh waktu untuk menerima semuanya."
"Kita akan melaluinya bersama," bisik Li An, mengusap rambutnya dengan lembut. "Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian lagi."
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Belum sempat air mata Ling Yue kering, seorang prajurit berlari masuk ke ruangan dengan wajah pucat pasi.
"Jenderal! Ada kabar buruk!" napasnya terengah-engah. "Pasukan penjaga perbatasan melaporkan bahwa pasukan musuh bergerak mendekat. Mereka tidak datang untuk berperang secara terbuka... mereka membawa bendera keluarga ayah Nona Ling Yue. Dan mereka menuntut agar Nona diserahkan kepada mereka."
Ling Yue menegang, tubuhnya terasa kaku. Li An meremas tangannya, matanya menyala dengan amarah dan tekad.
"Siapa yang memimpin mereka?" tanyanya tegas.
"Panglima Wei Yan—orang yang dulunya merupakan letnan di bawah ayah Nona Ling Yue. Ia mengaku ingin mengembalikan hak waris yang dirampas puluhan tahun lalu. Dan ia mengatakan... jika Nona tidak diserahkan dalam tiga hari, ia akan memerintahkan pasukannya menyerang ibu kota."
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan. Ancaman itu bukan sekadar perang—itu adalah ujian terberat bagi cinta dan kesetiaan mereka. Jika Ling Yue tetap tinggal, ibu kota bisa terbakar api perang. Jika ia pergi, ia akan jatuh ke tangan orang yang mungkin saja memanfaatkannya demi kekuasaan.
Ling Yue menatap Li An, dan di mata itu ia melihat ketakutan yang belum pernah ia lihat sebelumnya—bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk keselamatan orang yang dicintainya.
"Jangan menyerahkanku," ucapnya pelan namun tegas. "Tapi kita juga tidak bisa membiarkan orang-orang tak berdosa menderita."
Li An mengangguk pelan, mencium keningnya dengan lembut namun matanya penuh keteguhan.
"Kita tidak akan menyerahkan siapa pun. Dan kita tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti rakyat ini. Kali ini, kita akan menulis akhir cerita kita sendiri—bukan ditentukan oleh masa lalu, bukan ditentukan oleh kekuasaan, melainkan oleh kebenaran dan keberanian kita."
Ia berdiri, menarik Ling Yue berdiri bersamanya, lalu berteriak lantang kepada prajurit di luar.
"Siapkan pasukan! Kirim pesan ke istana—beri tahu Kaisar bahwa ada pemberontak yang memanfaatkan nama keluarga terhormat untuk menyerang kekaisaran. Dan katakan padanya: Li An akan melindungi perbatasan, melindungi rakyat, dan melindungi istrinya dengan nyawanya sendiri!"
Saat para prajurit bersiap melaksanakan perintah, Li An kembali menatap Ling Yue. Ia merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang terbungkus kain sutra tua—sebuah liontin giok yang bentuknya setengah lingkaran, sama persis dengan yang selalu disimpan Ling Yue di lehernya.
"Ayahku menyimpan ini seumur hidupnya," ucapnya pelan. "Ini adalah tanda persahabatan ayahmu dan ayahku. Dulu mereka berjanji jika sesuatu terjadi pada salah satu dari mereka, keturunan mereka akan menyatukan kedua bagian ini untuk melindungi kebenaran."
Ia menyatukan kedua liontin itu. Bentuknya menyatu sempurna, membentuk lingkaran utuh yang berkilau di bawah cahaya pagi.
"Masa lalu memisahkan orang tua kita," bisik Li An sambil meletakkan liontin itu di telapak tangan Ling Yue. "Tapi kita... kita tidak akan membiarkannya memisahkan kita."
Ling Yue menggenggam liontin itu erat-erat, merasakan kehangatan yang menjalar dari benda itu ke seluruh tubuhnya. Di luar sana, bahaya menanti. Musuh mendekat. Istana penuh kecurigaan. Namun di detik ini, ia tahu satu hal dengan pasti—ia tidak lagi berjalan sendirian.
Di kejauhan, suara gendang perang mulai terdengar perlahan, menandakan bahwa perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.