Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — Pengakuan di Rooftop
Keesokan harinya, Rangga sengaja mencari waktu untuk berbicara empat mata dengan Kirana, mengajaknya naik ke rooftop gedung kantor saat jam istirahat siang—tempat yang jarang dikunjungi karyawan lain, menawarkan pemandangan kota Jakarta yang luas di bawah langit cerah.
"Pak, ada apa sih tiba-tiba ngajak ke sini?" tanya Kirana, sedikit heran dengan undangan mendadak itu, meski hatinya berdebar tidak karuan sejak menerima pesan singkat Rangga pagi tadi.
"Saya mau tanya sesuatu," Rangga berkata, berdiri di dekat pagar pembatas rooftop, menatap Kirana dengan ekspresi serius yang jarang ia tunjukkan. "Kemarin sore, saya lihat kamu ngobrol sama seorang pria di depan gedung. Siapa dia?"
Kirana terkejut, tidak menyangka Rangga ternyata menyaksikan pertemuannya dengan Alex. "Itu... Alex. Mantan tunangan saya, Pak."
Rahang Rangga mengeras mendengar kata "tunangan", meski ia berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. "Tunangan?"
"Mantan, Pak," Kirana buru-buru menegaskan, menyadari nada suara Rangga yang berubah. "Dia ninggalin saya waktu keluarga saya bangkrut. Kemarin dia tiba-tiba muncul lagi, minta maaf, bahkan minta kita coba lagi."
"Terus, jawaban kamu apa?" tanya Rangga, suaranya terdengar berusaha netral meski matanya menunjukkan kecemasan yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
"Saya tolak, Pak," jawab Kirana jujur, menatap Rangga langsung. "Saya udah nggak punya perasaan apa-apa lagi buat dia. Terlalu banyak yang berubah sejak dia ninggalin saya waktu itu."
Rangga menghela napas panjang, tampak sedikit lega mendengar jawaban itu, meski masih ada sesuatu yang mengganjal di ekspresinya. "Kirana, saya mau tanya hal lain. Boleh?"
"Boleh, Pak," Kirana mengangguk, meski jantungnya berdebar semakin kencang merasakan keseriusan yang terpancar dari sikap Rangga hari itu.
"Kamu... denger nggak, percakapan saya sama ibu saya waktu itu, di ruang rapat?" tanya Rangga, langsung menatap mata Kirana tanpa ragu.
Kirana terdiam, wajahnya memucat menyadari bahwa Rangga ternyata tahu ia sempat menguping. "Saya... saya dengar sebagian, Pak. Maaf, saya nggak sengaja."
"Nggak apa-apa," Rangga menjawab lembut, mendekat selangkah ke arah Kirana. "Justru saya seneng kamu dengar, jadi saya nggak perlu susah-susah jelasin dari awal."
"Jelasin apa, Pak?" Kirana bertanya, suaranya nyaris berbisik, merasakan jarak di antara mereka yang semakin menipis.
Rangga menatap Kirana lama, seperti sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang selama ini ia tahan. "Kirana, saya tahu ini mungkin terlalu cepat, atau mungkin terlalu rumit mengingat posisi kita di kantor. Tapi saya nggak bisa terus-terusan pura-pura ini cuma sekadar perhatian atasan ke bawahan."
Jantung Kirana berdebar begitu kencang hingga terasa seperti akan meloncat keluar dari dadanya. "Pak..."
"Saya suka kamu, Kirana," Rangga akhirnya berkata, kalimat yang selama ini tertahan akhirnya terlontar jujur dan tegas, matanya tidak sedikit pun berkedip menatap gadis di hadapannya. "Sejak hari pertama kamu numpahin kopi ke laptop saya, entah kenapa saya nggak bisa berhenti mikirin kamu. Setiap hari saya selalu nyari-nyari alasan buat ketemu kamu, meskipun saya tahu itu nggak profesional. Saya suka cara kamu jujur, cara kamu berani ngelawan saya waktu saya salah, cara kamu tetap kuat meskipun udah kehilangan banyak hal dalam hidup kamu."
Kirana menahan napas, air mata yang tidak terduga mulai menggenang di sudut matanya mendengar pengakuan setulus itu. "Pak, saya..."
"Saya tahu ibu saya nggak akan gampang setuju," lanjut Rangga, suaranya semakin mantap meski ada sedikit keraguan yang tersembunyi. "Saya tahu mungkin akan banyak rintangan ke depannya. Tapi saya nggak mau lagi nyembunyiin perasaan saya, Kirana. Saya mau kamu tahu, apa pun yang terjadi nanti, perasaan saya ini nyata."
Angin sore berhembus pelan di rooftop itu, membawa suasana hening yang penuh dengan ketegangan manis di antara mereka berdua.
Kirana menatap Rangga, mencoba mencerna semua kata-kata yang baru saja ia dengar, hatinya dipenuhi kebahagiaan yang begitu besar namun juga ketakutan yang sama besarnya.
"Pak, saya juga..." Kirana mencoba bicara, suaranya bergetar menahan emosi. "Saya juga punya perasaan yang sama. Sejak lama, sebenarnya. Tapi saya takut, Pak. Saya takut posisi saya yang sekarang, latar belakang saya yang udah jatuh, bakal jadi masalah buat Bapak, buat perusahaan, buat semuanya."
"Saya nggak peduli sama semua itu," Rangga menjawab tegas, mendekat lebih dekat lagi hingga jarak di antara mereka hampir tidak tersisa. "Saya peduli sama kamu, Kirana. Bukan sama status atau kekayaan kamu."
Kirana menatap Rangga, air mata akhirnya mengalir bebas di pipinya, campuran antara bahagia dan takut yang begitu rumit untuk dijelaskan. "Saya takut, Pak. Saya takut kalau nanti semuanya jadi rumit, dan saya bakal kehilangan lagi sesuatu yang penting dalam hidup saya."
Rangga mengangkat tangannya, dengan lembut menghapus air mata di pipi Kirana, gestur yang begitu hati-hati dan penuh kasih sayang. "Saya janji, saya akan berjuang buat kita, Kirana. Saya nggak akan biarkan kamu ngerasa sendirian lagi menghadapi semua ini."
Kirana menatap Rangga lama, hatinya bergejolak dengan berbagai perasaan yang saling bertabrakan. Meski begitu banyak ketakutan yang masih menghantuinya, ada satu hal yang ia yakini dengan pasti saat itu—perasaannya pada pria di hadapannya ini nyata, sama nyatanya dengan perasaan yang baru saja diungkapkan Rangga padanya.
"Beri saya waktu, Pak," Kirana akhirnya berkata pelan, suaranya masih bergetar. "Saya juga butuh waktu buat mikirin semuanya dengan kepala dingin, bukan cuma perasaan."
Rangga mengangguk, meski ada kekecewaan kecil yang tidak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. "Saya ngerti. Saya akan tunggu, selama apa pun itu."
Mereka berdiri berdampingan di rooftop itu beberapa saat lebih lama, menatap pemandangan kota Jakarta yang luas terbentang di bawah mereka, hati keduanya dipenuhi harapan sekaligus kecemasan tentang apa yang akan menanti di depan—sebuah babak baru yang jauh lebih rumit namun juga jauh lebih indah dari apa pun yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.
ini novel saya pertama🥰🥰