Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pesta Pedang Pora dan Janji Suci di Bawah Lembayung
Pagi itu, area Mako Batalyon tampak begitu megah dan anggun.
Cahaya matahari pagi menerobos celah-celah dedaunan pohon mahoni tua, memantulkan kilau emas di sepanjang lorong utama yang telah dihiasi deretan bunga melati putih dan mawar merah segar.
Hari ini adalah hari paling bersejarah di Mako hari pernikahan militer antara Komandan Batalyon, Mayor Aris, dengan Mayang.
Suara musik gamelan Jawa berpadu harmonis dengan tiupan korps musik militer, menciptakan suasana sakral yang menggetarkan dada siapa pun yang hadir disana.
Di dalam ruang rias khusus gedung komando, Mayang berdiri di depan cermin yang besar.
Ia mengenakan kebaya pengantin yang berwarna putih bersih berhiaskan payet-payet perak yang berkilau dengan lembut. Kebaya tersebut dipadukan secara sempurna dengan selendang hijau zaitun khas Persit yang terpasang anggun di bahunya.
Kacamata tebal yang dulu sering merosot kini telah berganti dengan kacamata berbingkai tipis yang sangat elegan, membingkai mata indahnya yang dipoles riasan halus.
Di dada kirinya, bros perak ukiran pita peninggalan keluarga Ibu Diah terpasang sempurna sebagai lambang kehormatan dan restu utama.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang rias terbuka pelan. Dokter Siska melangkah masuk dengan pelan, disusul oleh Ibu Diah. Kedua wanita itu seketika terperangah menatap Mayang.
"Masya Allah, Mayang..." bisik Dokter Siska dengan mata berkaca-kaca penuh kekaguman.
"Kamu cantik luar biasa hari ini Mayang. Kamu benar-benar memancarkan aura seorang Ibu Komandan yang anggun dan berwibawa."
Ibu Diah mendekati Mayang, memegang kedua bahu gadis itu dengan jemari tuanya yang bergetar lembut oleh rasa haru.
"Anakku Mayang... hari ini Ibu menyerahkan Aris sepenuhnya kepadamu. Terima kasih sudah menjadi penguat Aris selama penugasan berat satu tahun kemarin. Kamu adalah anugerah terbesar buat Aris dan Batalyon ini."
Mayang tak sanggup menahan rasa harunya. Ia menggenggam erat tangan Ibu Diah seraya tersenyum tulus.
"Terima kasih, Ibu... terima kasih atas seluruh kasih sayang dan bimbingan Ibu selama ini. Mayang janji akan mendampingi Mas Aris dalam kondisi apa pun."
Sementara itu, di halaman utama Mako, suasana prosesi tradisi militer Pedang Pora telah siap sepenuhnya.
Dua belas perwira remaja berbaris tegap saling berhadapan dalam dua jajar jajaran, mengenakan Pakaian Dinas Upacara P.D.U lengkap dengan pedang Pora yang terhunus mengkilap di tangan kanan mereka.
Mayor Aris berdiri tegap di ujung karpet merah. Pria itu tampak begitu gagah, tampan, dan berkharisma dalam balutan seragam P.D.U Pamen lengkap dengan tanda pangkat Mayor serta jajaran pita jasa di dadanya.
Wajah tegas yang biasanya kaku dan dingin itu hari ini dipenuhi pendar kebahagiaan dan kehangatan yang amat dalam.
Saat pintu utama gedung komando terbuka, Mayang melangkah keluar didampingi oleh wali pengantin. Pandangan Aris dan Mayang bertautan di udara.
Jantung Aris berdetak kencang, seolah kembali ke momen pertama kali ia jatuh cinta pada gadis berkacamata yang penuh keberanian itu.
Mayang berjalan pelan mendekati Aris. Aris mengulurkan tangan kakarnya, menyambut jemari lembut Mayang dalam genggaman hangat yang begitu protektif.
"Penghormatan Pedang Pora... Siap... GRAK!" seru Kapten Yoga selaku Komandan Peleton Pedang Pora dengan suara menggelegar.
Sring! Sring! Sring!
Dua belas bilah pedang baja terangkat serentak, membentuk silang gaung gapura pedang yang megah di atas kepala Aris dan Mayang.
Di bawah naungan kilatan pedang-pedang baja yang melambangkan perlindungan, kehormatan, dan keteguhan jiwa prajurit, Aris dan Mayang melangkah perlahan menuju panggung pelaminan.
Setiap langkah yang mereka tapaki di atas karpet merah seolah memutar kembali rekaman perjalanan kisah cinta mereka mulai dari perkenalan konyol dengan toa kuning di lapangan latihan, perselisihan manis di Mako, kepanikan saat badai perbatasan, hingga perpisahan pahit satu tahun penuh yang akhirnya terbayar tuntas oleh kemenangan cinta.
Saat berada di bawah lingkaran gapura pedang terakhir, Kapten Yoga memberikan instruksi khusus,
"Lapor Mayor! Tradisi Pedang Pora selesai! Selamat menempuh hidup baru bersama Ibu Komandan!" seru Kapten Yoga seraya menyunggingkan senyum bangga.
Aris memutar tubuhnya menghadap Mayang. Di hadapan seluruh jajaran perwira, prajurit, serta ibu-ibu Persit yang bertepuk tangan riuh, Aris menangkup lembut pipi Mayang.
"Mayang..." bisik Aris dengan suara bass-nya yang hangat dan bergetar halus.
"Terima kasih telah memilih saya sebagai tempatmu bersandar. Terima kasih telah menjaga kehormatan Batalyon dan menunggu saya dengan penuh keberanian di tengah badai satu tahun kemarin."
"Mas Aris adalah rumah Mayang," jawab Mayang lembut di balik senyuman bahagianya. "Sebanyak apa pun tugas negara memanggil Mas Aris pergi, Mayang akan selalu menjadi benteng tempat Mas Aris pulang."
Aris mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat dan penuh ketulusan di dahi Mayang tepat di bawah naungan pedang pora yang terangkat gagah.
Tangis bahagia dan sorak-sorai selamat bergemuruh memenuhi langit Mako Batalyon!
Sore harinya, saat pesta resepsi mulai berangsur sepi dan lembayung senja berwarna jingga keemasan membentang indah di ufuk barat, Aris dan Mayang berjalan bergandengan tangan menuju area teras atas Mako yang menghadap langsung ke arah lapangan parade.
Angin sore berembus sepoi-sepoi, mempermainkan ujung selendang hijau Mayang.
Aris merangkul pinggang Mayang dari samping, menarik tubuh mungil sang istri ke dalam dekapannya.
Mayang menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Aris, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan.
"Mas Aris..." panggil Mayang pelan.
"Iya, Istriku?" sahut Aris seraya mengecup puncak kepala Mayang.
Mayang terkekeh pelan mendengar sebutan baru itu.
"Aneh ya kalau diingat-ingat lagi... dulu Mayang paling takut kalau kena omel Mas Mayor yang galak di lapangan ini."
Aris tertawa rendah suara tawa renyah yang dulu sangat langka terdengar di Batalyon.
"Saya tidak galak, Mayang. Saya cuma bingung bagaimana caranya menghadapi gadis konyol berkacamata tebal yang selalu berhasil mengacak-acak konsentrasi Batalyon saya."
"Tapi gadis konyol itu sekarang sudah jadi Ibu Komandan kan?" goda Mayang seraya mendongak, menatap mata pekat suaminya dari balik kacamata.
Aris menatap Mayang dengan binar cinta yang membuncah. Ia membetulkan letak kacamata
Mayang dengan ibu jarinya, lalu meremas lembut jemari tangan Mayang yang kini telah dilingkari cincin pernikahan emas.
"Bukan cuma Ibu Komandan..." bisik Aris tepat di depan bibir Mayang.
"Kamu adalah pemilik seluruh jiwa dan napas saya, Mayang. Selamanya."
Di bawah pendar sinar lembayung senja yang hangat, Aris menyatukan bibir mereka dalam ciuman manis yang penuh kehangatan, menyegel janji suci pernikahan mereka dalam keabadian