Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 12.
Jam baru menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Koridor masih sepi, menyisakan gema langkah kaki yang terdengar malas.
Lingga berjalan dengan kedua tangan terbenam di saku jaket hoodie hitamnya.
Seperti biasa, pandangannya lurus ke lantai, menghindari kontak mata dengan siapa pun yang kebetulan lewat. Cowok itu adalah definisi dari pajangan hidup di sekolah SMA Pancasila yang ada fisiknya tapi suaranya jarang terdengar. Orang-orang menganggapnya misterius, sebagian lagi mengira dia sombong. Lingga tidak peduli.
Langkah Lingga memelan begitu mendapati dirinya berdiri di depan loker nomor delapan piluh tujuh, loker milik Stella.
Dia menengok kanan-kiri.
Kosong.
Dengan gerakan yang sangat tenang namun terukur, Lingga mengeluarkan sebuah plester luka yang kini bergambar beruang kutub dari saku hoodie-nya. Itu plester untuk memastikan luka Stella beneran mengering.
Tanpa banyak drama, Lingga menyelipkan plester itu lewat celah ventilasi loker Stella.
Begitu benda kecil itu jatuh ke dalam, Lingga mengembuskan napas pendek. Sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tak kentara, sebelum dia kembali berbalik dan berjalan cepat menuju kelasnya di ujung koridor.
Sederhana, tanpa perlu diketahui. Bagi Lingga, melindungi Stella dari jarak jauh sudah lebih dari cukup.
Sekitar dua puluh menit kemudian, lorong sekolah sudah berubah menjadi lautan seragam putih-abu-abu yang bising.
Stella datang dengan napas sedikit memburu, rambut kuncir kudanya bergoyang seiring langkahnya yang terburu-buru. Di sampingnya ada Gibran yang sedang berjalan santai.
Mereka berhenti di depan loker Stella.
Saat Stella memasukkan kunci dan membuka pintu loker besi itu, selembar plester luka bergambar beruang kutub jatuh tepat di atas sepatu putihnya.
Stella tertegun. Dia merunduk, mengambil plester itu dengan jantung yang tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat.
Stella menatap plester itu, lalu mendongak menatap Gibran dengan mata berbinar-binar. "Gibran... ini dari lo?"
Gibran menghentikan langkah kaki nya. Cowok itu tampak agak bingung melihat plester di tangan Stella. Dia tidak tahu-menahu soal plester itu. Namun, melihat binar bahagia dan harapan yang begitu besar di mata Stella, ego Gibran sebagai cowok dingin itu mendadak terusik. Siapa juga yang menolak dianggap sebagai pahlawan perhatian oleh cewek secantik Stella?
Gibran berdeham, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum manis. "Ah... lo udah nemu ternyata. Iya, kemarin gue lihat kaki lo lecet. Dipakai ya, biar gak infeksi."
Stella langsung membekap mulutnya sendiri, kegirangan setengah mati. Dadanya membuncah oleh rasa emosional yang meledak-ledak. Baginya, ini adalah validasi terbesar bahwa perasaannya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Gibran, cowok yang dia taksir setengah mati, memperhatikannya sampai sedetail itu!
"Makasih banyak, Gibran! Lo... lo kok bisa manis banget sih?" seru Stella dengan suara yang agak melengking karena terlalu senang. Dia memeluk plester kecil itu di dadanya seolah itu adalah barang paling berharga di dunia.
Gibran terkekeh, menepuk pelan kepala Stella. "Sama-sama. Ya udah, gue ke lapangan dulu ya."
Di ujung koridor dekat mading, bersandar pada pilar beton yang dingin, Lingga berdiri membeku.
Dia menyaksikan semuanya. Dia mendengar bagaimana suara pekikan bahagia Stella yang begitu renyah. Dia melihat bagaimana wajah gadis itu merona merah—warna merona yang belum pernah Stella tunjukkan saat berbicara dengannya. Dan yang paling memukul dadanya, Lingga melihat bagaimana plester beruang kutub yang dia beli dengan menyisihkan uang jajannya, kini diklaim oleh orang lain.
Otak Lingga berputar cepat. Dia bisa saja berjalan ke sana, merebut plester itu, dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi untuk apa? Menghancurkan kebahagiaan Stella? Membuat Stella kecewa karena perhatian itu bukan datang dari Gibran?
Lingga menurunkan pandangannya. Kebenaran yang dipaksakan hanya akan membuat Stella membencinya, atau lebih buruk, merasa bersalah.
Lingga mengembuskan napas berat. Sepasang matanya kembali menatap Stella yang masih memandangi plester itu dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya. Perlahan, seulas senyum getir terukir di bibir Lingga. Sebuah senyuman yang sarat akan rasa maklum, luka, dan kepasrahan yang mendalam.
Asal lo bahagia, Stel. Walaupun harus lewat tangan orang lain.
Lingga berbalik, menarik tudung hoodie-nya untuk menutupi kepala, lalu berjalan tenggelam di antara kerumunan siswa yang mulai memenuhi koridor.
......................
...****************...
Tbc,