Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Bayangan di Hutan Merah
Aku memacu kuda pinjamanku menembus jalanan setapak yang gelap, mengabaikan ranting-ranting pohon yang mencambuk lenganku. Hutan Merah di belakang Akademi Solaria dikenal karena dedaunannya yang berwarna merah darah sepanjang tahun dan kabut tebal yang selalu menyelimutinya saat malam tiba.
Di dalam novel, ini adalah arena berburu bagi murid tingkat lanjut. Tapi malam ini, tempat ini berubah menjadi arena eksekusi.
Angin malam berhembus membawa bau khas ozon yang terbakar. Aku menarik tali kekang, menghentikan kudaku secara mendadak. Mataku memicing menembus kegelapan. Sekitar seratus meter di depanku, kilatan cahaya oranye meledak di udara, disusul oleh suara dentuman keras yang menggetarkan tanah.
Itu sihir api. Dan melihat betapa terangnya kilatan itu, hanya ada satu orang di akademi ini yang memiliki mana api semurni itu: Leon.
Aku melompat turun dari kuda, mengikatnya sembarangan di batang pohon, lalu berlari membelah semak-semak. Aku sengaja menarik tudung jubah hitamku lebih dalam, menyembunyikan wajah dan seragam akademiku. Jika ada yang melihatku di sini, semuanya akan hancur berantakan.
Suara benturan logam berdenting nyaring memecah keheningan hutan. Saat aku menyibak semak belukar terakhir, mataku langsung menangkap pemandangan yang kacau.
Di tengah pembukaan hutan, Leon—sang protagonis dengan rambut merah menyalanya—sedang berlutut sambil terengah-engah. Seragam akademinya robek di beberapa bagian, dan darah segar menetes dari bahu kirinya. Pedang kayunya yang dilapisi sihir api tampak meredup.
Berdiri tak jauh darinya, seorang pria ramping berpakaian serba hitam sedang memutar-mutar sepasang belati bengkok di tangannya. Bilah belati itu memancarkan aura hijau pendar yang menjijikkan. Viper. Pembunuh bayaran dari Guild Obsidian.
"Bertahanlah sedikit lagi, Pahlawan Kecil," kekeh Viper, suaranya terdengar mendesis seperti ular. "Racun Nightshade di belatiku sedang bekerja melumpuhkan sistem sarafmu. Dalam dua menit, paru-parumu akan berhenti berfungsi, dan kau bahkan tidak akan bisa menjerit saat aku memotong lehermu."
Leon mengertakkan gigi, berusaha memaksakan tubuhnya untuk berdiri, namun kakinya gemetar hebat. Racun itu bekerja terlalu cepat. Di dalam novel, Leon selamat karena Profesor sihir pertahanan kebetulan sedang patroli malam dan datang tepat waktu.
Tapi karena efek perubahanku, patroli itu tidak akan tiba dalam lima belas menit ke depan. Leon akan mati di sini, dan kepalaku akan menggelinding di alun-alun kota besok pagi.
"Tidak ada yang akan menyelamatkanmu di sini," Viper melangkah maju, mengangkat belatinya untuk serangan terakhir.
Aku tidak punya pilihan lain.
Mengandalkan kekuatan fisik baruku yang telah ditingkatkan oleh Elixir, aku melesat keluar dari tempat persembunyianku tanpa suara. Tanganku menyambar sebatang dahan pohon ek yang patah di tanah, lalu melemparkannya dengan kekuatan penuh ke arah Viper.
Wush!
Dahan itu melesat seperti anak panah, memaksa Viper menghentikan serangannya dan melompat mundur. Dahan kayu itu menancap dalam di tanah, tepat di tempat Viper berdiri sedetik yang lalu.
Viper menoleh ke arahku dengan mata menyipit tajam. "Siapa di sana? Jangan ikut campur urusan Obsidian kalau kau masih sayang nyawa!"
Aku berjalan perlahan keluar dari bayang-bayang pepohonan. Tudung jubahku menutupi seluruh wajahku, menyisakan kegelapan yang membuat penampilanku tampak seperti malaikat maut. Leon, yang pandangannya mulai kabur karena racun, hanya bisa menatapku dengan lemah.
"Kau terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang pembunuh bayaran," balasku dengan suara yang sengaja kuberatkan dan kuserakkan, memanipulasi pita suaraku dengan sedikit mana.
Viper mendecis kesal. "Tikus pengganggu. Akan kubereskan kau dalam sepuluh detik!"
Pria itu menghilang dari pandangan, melesat ke arahku dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Namun, di mataku yang kini ditopang oleh Mana Core tingkat tinggi, gerakannya terlihat seperti siaran lambat.
Viper muncul tepat di titik buta kiriku, mengayunkan belati beracunnya lurus ke arah leherku.
Aku tidak menghindar. Aku bahkan tidak repot-repot mengeluarkan senjata.
Saat belati itu berjarak satu inci dari kulitku, aku melepaskan segel Mana Core di jantungku. Semburan energi hitam pekat meledak keluar dari pori-poriku, membentuk sebuah perisai bayangan yang meliuk-liuk di udara.
Trang!
Belati Viper menghantam perisai bayangan itu dan langsung tertahan, seolah menusuk lumpur yang sangat padat. Mata Viper membelalak ngeri. Bukan karena serangannya ditangkis, melainkan karena apa yang terjadi selanjutnya.
Aura racun hijau yang menyelimuti belatinya... sedang dihisap.
Sihir kegelapanku melahap mana racun miliknya layaknya predator kelaparan yang menemukan mangsa. Dalam hitungan detik, belati beracun yang ditakuti itu kehilangan sihirnya dan berubah menjadi logam rongsokan biasa.
"S-Sihir apa ini?!" pekik Viper panik, berusaha menarik senjatanya kembali, namun kegelapan itu seolah menggigit pedangnya erat-erat.
"Ini? Ini adalah pembatalan kontrakmu," bisikku dari balik tudung.
Tangan kananku melesat menembus perisai bayanganku sendiri, langsung mencekik leher Viper dan mengangkat kakinya dari tanah. Pria itu meronta-ronta, memukul lenganku, namun cengkeramanku sekuat baja.
Aku tidak bisa membiarkan dia hidup. Jika dia melapor kembali ke Guild Obsidian, identitasku akan terbongkar dan aku akan diburu oleh ribuan pembunuh. Di dunia ini, belas kasihan kepada musuh adalah bentuk kebodohan tertinggi.
Aku mengalirkan mana hitam pekat dari telapak tanganku langsung ke dalam sistem nadinya.
Mata Viper berputar ke belakang. Urat-urat di leher dan wajahnya berubah menjadi hitam legam saat sihirku secara brutal menyedot dan menghancurkan Mana Core di dalam tubuhnya. Pria itu bahkan tidak sempat menjerit sebelum tubuhnya lemas tak bernyawa.
Aku melepaskan cengkeramanku, membiarkan tubuh kaku itu jatuh ke tanah dengan bunyi debuk yang pelan.
Hutan kembali hening. Hanya terdengar suara napas Leon yang tersengal-sengal di belakangku.
Aku membalikkan badan, menatap sang pahlawan cerita yang kini tergeletak tak berdaya. Leon menatapku dengan mata setengah terbuka, bibirnya bergetar mencoba mengatakan sesuatu.
"S-Siapa... kau...?" bisiknya lirih, sebelum akhirnya matanya tertutup dan ia jatuh pingsan, sepenuhnya dikalahkan oleh sisa racun di tubuhnya.
Tepat pada saat itu, telingaku menangkap suara derap langkah kaki dan pendaran cahaya terang dari arah akademi. Itu pasti Profesor patroli yang kucari-cari. Sempurna. Waktunya sangat pas.
Tanpa membuang waktu, aku berbalik, mengumpulkan kembali sihir bayanganku, dan melesat pergi ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan tubuh Leon agar ditemukan oleh sang guru, sekaligus meninggalkan Viper sebagai pesan bisu bagi siapapun yang berani mengusik tidur nyenyakku.
Malam ini, sejarah telah berubah. Sang Tuan Muda Sampah baru saja menyelamatkan orang yang paling membencinya.