Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : JANGAN SEMBUNYIKAN
Jingga membeku.
Kopi hitam di depannya masih mengepul.
"Yang disebut anaknya Ayah Angit itu aku." Kalimat itu mengulang di kepalanya.
"Lo... lo yang dipanggil Ayah sama anak tukang Bakmi itu?" Suara Jingga pelan, hampir tidak percaya.
“Bumi Namanya Bumi bukan tukang Bakmi.” Angkasa memperbaiki panggilan Jingga, lalu menatap kosong ke parkiran cafe.
“Jadi selama ini kamu ngilang demi apa ke Bumi itu?” tanya Jingga lagi.
"Iya, Jing. Udah hampir tiga minggu ini."
"Kenapa? Kenapa harus lo? Bumi kan punya keluarga? Kenapa lo yang harus jaga sibuk sama anaknya?" Jingga masih berusaha mencerna.
Angkasa menarik napas panjang. Akhirnya, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia cerita jujur ke Jingga, bukan sebagai mantan, tapi sebagai teman.
“Kamu masih ingat kak Surya kan? Suami Bumi itu Samudra, sahabat kak Surya. Karena dia sekarang di LN, jadi titip jaga Bumi dan Damar anaknya. Aku cuma mengemban Amanah.” Jelas Jingga.
"Gak harus gitu nolongnya. Lu kaya, lu bisa cari baby sitter untuk bantu dia jaga anaknya. Lu gak harus jadi ayah pengganti buat anak itu. Nolong itu ada batasnya, Kassa!" Jingga sungguh kesal dengan cara Angkasa nolong Bumi.
"Gua gak selingkuh ya. Gua cuma suka mian sama Damar." Tegas Angkasa membela diri.
“Pertanyaan gue, Bintang tau gak elu sering bantu Bumi?” Angkasa cuma mengangkat bahunya.
“Bintang gak tau dan jangan sampai dia yang cari tau sendiri. Perempuan akan overthinking dengan tingkah para suami yang tidak seperti biasanya.” Angkasa masih mencerna.
“Elu karena Amanah bantu Bumi, tapi gak jujur sama Bintang. Itu bohong Namanya. Itu jahat, Kassa.” Lanjut Jingga.
“Gua cuma bantu Bumi, gak selingkuh juga,” anak ibu Ratna ini masih membela dirinya.
“Iya… oke. Betul. Kamu gak selingkuh. Tapi, kamu bisa mengira kedalaman pikiran Bintang mengartikan kedekatan mu sama Bumi di belakangnya?” Jingga masih agak marah sama Angkasa.
“Jadi .. aku harus apa?”
“Lu jujur sama Bintang. Kalo meeting ya meeting. Kalo main ke warung ya bilang. Jangan sembunyikan apapun darinya.”
“Termasuk juga tentang kamu itu mantanku?” Balik Angkasa.
“Ya … kalo itu. Mungkin nanti, kita juga harus bilang ke dia.” Jingga melemah, menuntut Angkasa jujur. Sedangkan dia sendiri menyimpan rahasia dari seorang Bintang.
"Kassa, dengerin gue." Angkasa mengangkat kepala.
"Lo gak salah sayang sama Damar. Lo gak salah bantu Bumi. Yang salah itu cara lo nutupinnya dari Bintang."
"Gue takut dia salah paham, Jing."
"Salah paham gimana? Justru karena lo tutupin, dia jadi salah paham. Lo tau Bintang itu gimana? Dia bukan cewek yang marah karena suaminya bantu janda. Dia marah karena dibohongin. Dia itu sekretaris lo, dia tau jadwal lo lebih hafal dari lo sendiri. Tiga minggu lo bilang ke gudang, meeting, ketemuan sama klien. Tapi nyatanya dia pasti udah curiga dari minggu pertama."Angkasa menunduk.
"Gue kenal Bintang, Ka. Dia baik. Bahkan terlalu baik. Kalau lo dari awal bilang 'Tang, gue mau bantu Bumi jaga Damar, kasihan', dia pasti bakal ikut. Dia bahkan mungkin bakal bantu masak di warung itu." Angkasa memejamkan matanya.
"Terus gue harus gimana, Jing?"Jingga tersenyum, pahit tapi tulus.
"Jangan sembunyikan apapun lagi dari Bintang. Pulang, cerita yang bener, soal kenapa lo sayang sama Damar. Jangan ada yang lo skip. Bintang berhak tau semuanya. Dia istrimu." Bijak juga mantan yang berpotensi jadi pelakor ini.
"Kalau dia minta gue jangan kesana lagi?" Angkasa malah tanya ke Jingga.
"Ya turutin. Kalau dia minta lo kesana tapi ajak dia, ya turutin. Karena sekarang, Bintang bukan cuma istrimu, Ka. Dia kunci supaya lo gak salah langkah." Angkasa menggaruk rambut bagian depan, padahal gak gatal.
Lalu mengangguk. "Lo bener, Jing."
Jam di cafe menunjukkan jam 12.10. Mereka harus kembali ke kantor. Meeting 20 menit yang molor jadi 2 jam.
Di perjalanan pulang, Angkasa menyetir lebih tenang. Jingga membuka kaca, membiarkan angin masuk.
"Kassa."
"Ya?"
"Makasih ya udah jujur sama gue. Jangan jujur cuma sama gue, jujur juga sama Bintang." Angkasa mengangguk.
"Iya, Jing."
Di kantor, Bintang masih di mejanya. Melihat mereka masuk bersamaan. Ia tidak marah. Ia hanya berdiri, menyodorkan dua botol air putih.
"Capek ya meetingnya lama?" Jingga dan Angkasa saling pandang.
Kaget.
Bintang tersenyum.
Senyum yang penuh teka-teki.
Bersambung...
Hallo readers gimana lagi niih, Jingga baik kan?
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......