Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.
Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.
Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!
IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com
Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Rahasia yang Terbongkar
Kira-kira, berapa lama sebuah ketenangan bisa bertahan dalam hidup Emily Valencia?
Jawabannya adalah tidak pernah lebih dari dua puluh empat jam.
Kamis pagi di Kampus Sunway terasa begitu sejuk. Sisa-sisa air hujan semalam masih menempel di dedaunan palem sepanjang canopy walk. Emily berjalan santai berdampingan dengan Mei Ling, memegang cangkir iced matcha latte empat ringgit di tangan kirinya. Ia mengenakan sweater rajut warna abu-abu yang agak kebesaran, celana jins gelap, dan kacamata berbingkai tipisnya.
Di dalam tas kain kusamnya, tidak ada lagi dokumen perang saham atau ancaman dari Gabriel Setiawan. Emily merasa jiwanya akhirnya bisa bernapas. Masalah Ayah Sean telah selesai, Valerie dan keluarganya harus menghadapi proses hukum di Jakarta, dan Victoria Blackwood sudah ditangani oleh Otoritas Pasar Modal Malaysia.
"Mil, ntar sore usai kelas Ekonometrika, kita makan steamboat murah di SS15 yuk?" tawar Mei Ling riang seraya menyeduh kopi kalengnya. "Aku yang bayar deh, kan kemarin kamu udah ngajarin aku rumus sampai paham!"
Emily menyunggingkan senyum hangat. "Boleh, Mei. Tapi jangan yang terlalu pedas ya, perutku agak sensitif dari kemarin."
Namun, saat mereka berdua melangkah mendekati lobi utama Gedung F, Emily merasakan sesuatu yang aneh.
Suasana lobi kampus yang biasanya diisi oleh mahasiswa yang duduk santai atau sibuk menyusun laporan mendadak riuh luar biasa. Puluhan mahasiswa berkerumun di depan layar TV gantung di dekat pusat informasi. Beberapa dari mereka menunjuk-nunjuk layar dengan ekspresi terkejut, sementara yang lain sibuk membandingkan gambar di layar ponsel mereka dengan mahasiswa yang sedang berjalan di lorong.
Saat Emily dan Mei Ling makin mendekat, tatapan puluhan mahasiswa di lobi seketika tertuju pada Emily.
Keheningan yang mencekam merayap cepat. Mahasiswa yang tadinya mengobrol langsung mengatupkan bibir mereka rapat-rapat. Pandangan mereka dipenuhi oleh perpaduan antara rasa tidak percaya, kagum, dan ketakutan yang amat sangat.
"Mil..." bisik Mei Ling bingung, mengamati sekeliling. "Kok semua orang pada ngeliatin kamu sih? Ada yang aneh sama baju kamu?"
Emily mengerutkan dahinya. Sebelum ia sempat menjawab, ponsel Mei Ling di dalam sakunya bergetar tanpa henti. Puluhan notifikasi grup WhatsApp mahasiswa Sunway masuk secara bertubi-tubi.
Mei Ling merogoh ponselnya, mengklik salah satu tautan berita nasional yang sedang viral di seluruh media sosial Malaysia dan Indonesia.
Mata Mei Ling membelalak sempurna. Cangkir kopi kaleng di tangannya hampir saja terlepas dan jatuh ke lantai.
"E... Emily..." suara Mei Ling bergetar hebat. Ia menatap layar ponselnya, lalu menatap wajah Emily bergantian dengan napas memburu. "Ini... ini beneran kamu?!"
Mei Ling menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Emily.
Di sana, terpampang foto Emily saat menaiki tangga panggung Hotel Mulia Jakarta dengan gaun blazer putih gadingnya dua hari lalu, disandingkan dengan foto profil mahasiswi baru Sunway University atas nama Emily Valencia.
Judul berita utama dari portal berita finansial internasional Bloomberg Asia dan majalah The Star Malaysia dibaca dalam huruf cetak tebal yang mencolok:
[SKANDAL RAKSASA FINANSIAL: MAHASISWI TINGKAT SATU SUNWAY UNIVERSITY BERUSIA 18 TAHUN DIBONGKAR SEBAGAI PEMILIK SAHAM MAYORITAS 51% KONSORSIUM ANDERSON GROUP JAKARTA!]
BOOM!
Darah Emily seolah membeku di dalam pembuluh darahnya.
Berita itu meledak secara global. Seseorang dari jajaran dewan komisaris lama di Jakarta yang panik telah membocorkan identitas asli pemilik baru saham mayoritas Anderson Group kepada media massa demi memicu spekulasi publik!
"Gila... ini gila..." gumam Mei Ling, tangannya gemetar. "Emily... kamu... kamu pimpinan tertinggi Anderson Group yang kemarin dibahas satu kampus?!"
Belum sempat Emily menjawab, kebisingan luar biasa mendadak pecah di luar gerbang lobi gedung kampus.
Belasan mobil siaran luar atau OB Van milik stasiun televisi ternama dari Malaysia, Indonesia, dan Singapura mendadak merangsek masuk ke area parkir kampus. Puluhan wartawan, fotografer, dan kameramen dengan kamera berlensa panjang berlarian menaiki tangga lobi Sunway, memburu figur gadis kacamata yang ada di dalam berita.
"Itu dia! Emily Valencia ada di lobi!" teriak salah seorang wartawan Indonesia.
"Miss Valencia! Bisakah Anda memberikan konfirmasi terkait kepemilikan 51% saham Anderson Group?!"
"Apakah benar Anda mengambil alih perusahaan raksasa itu di usia 18 tahun?!"
"Bagaimana hubungan Anda dengan Sean Anderson?!"
Lampu kilat kamera menyala bertubi-tubi bagaikan badai petir di dalam lobi. Kerumunan wartawan yang histeris mencoba menerobos barikade satpam kampus yang kewalahan menahan desakan media.
Di barisan belakang kerumunan mahasiswa, Steven dan geng kayanya berdiri mematung bagaikan patung batu. Wajah Steven pucat pasi bagaikan mayat. Seluruh tubuhnya gemetar hebat saat menyadari bahwa gadis kacamata sederhana yang dulu pernah ia bentak dan ia remehkan di ruang kelas adalah penguasa bisnis bernilai puluhan triliun rupiah yang sanggup menghancurkan bisnis keluarganya hanya dalam satu detik.
"Gila... gua pernah bentak pemegang saham mayoritas Anderson Group..." bisik Steven dengan suara yang hampir tak terdengar, lututnya lemas.
Emily berdiri kaku di tengah kepungan lampu kilat kamera. Penyamaran indahnya sebagai mahasiswi biasa yang tenang telah hancur berkeping-keping dalam satu pagi.
Tiba-tiba, dari arah pintu samping lobi, delapan orang pengawal bertubuh tegap berjas hitam dari tim keamanan internal Sunway menerobos kerumunan. Di tengah barisan pengawal itu, Sean melangkah cepat.
Sean tidak mengenakan kaus hitam santainya. Hari ini, ia mengenakan setelan jas kustom tanpa dasi, memancarkan aura dominasi seorang pemimpin yang amat protektif. Wajahnya dingin dan tajam saat melihat Emily dikepung oleh wartawan.
"Emily!" panggil Sean seraya merengkuh pinggang Emily dengan gerakan yang sangat erat dan posesif, menyembunyikan wajah gadis itu di dada bidangnya dari jepretan kamera.
"Sean..." bisik Emily pelan di balik dada Sean.
"Jangan takut, Mil. Aku di sini," ujar Sean rendah. Ia menoleh pada kepala keamanan kampus. "Buka jalur ke tangga darurat sekarang!"
Namun, saat tim keamanan berusaha menuntun Emily dan Sean keluar dari lobi, Emily mendadak menghentikan langkah kakinya.
Emily melepaskan pelukan Sean secara perlahan. Ia merapikan kardigan abu-abunya, membetulkan posisi kacamata tipisnya, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah ratusan pasang mata wartawan dan mahasiswa yang menonton.
Sean menatap Emily terkejut. "Mil? Kamu mau apa?"
Emily menatap Sean dengan binar mata yang tidak lagi memancarkan kepanikan. Sebaliknya, mata cokelat pekat di balik kacamata tipis itu memancarkan keberanian, ketenangan, dan kepemimpinan yang amat memukau.
Emily sadar, ia tidak bisa berlari lagi. Jika ia terus bersembunyi di balik nama "mahasiswi biasa", media dan musuh-musuh bisnis di Jakarta akan terus mengusik kehidupannya dan kehidupan orang-orang yang ia sayangi di Sunway.
Emily melangkah satu titik ke depan, berdiri tegak di atas anak tangga lobi, membiarkan puluhan kamera merekam sosoknya yang sederhana namun berwibawa.
"Selamat pagi semuanya," suara Emily mengalun tenang, jernih, dan tajam menyengat melalui Mikrofon wartawan yang disodorkan dari bawah tangga. Seketika itu juga, keriuhan di lobi kampus surut total.
"Saya mengonfirmasi bahwa pemberitaan mengenai kepemilikan 51% saham Anderson Group atas nama saya adalah benar secara hukum," tegas Emily dalam bahasa Inggris dan Melayu yang amat fasih.
Ratusan mahasiswa di lobi menahan napas.
"Namun," lanjut Emily, matanya menyapu pandangan ke arah kamera-kamera berita yang menyala, "saya berada di Sunway University murni sebagai seorang mahasiswi baru yang ingin menuntut ilmu. Seluruh operasional Anderson Group dijalankan secara independen oleh jajaran direksi profesional di bawah pimpinan Sean Anderson."
Emily menundukkan kepalanya sedikit pada para wartawan dengan keanggunan seorang Ratu Finansial sejati.
"Saya meminta media untuk menghormati privasi area kampus ini dan tidak mengganggu kenyamanan rekan-rekan mahasiswa saya. Terima kasih."
Pernyataan yang begitu singkat, tegas, namun sangat berkuasa itu membuat puluhan jurnalis terhenyak diam. Tidak ada lagi yang berani merangsek maju. Keteguhan dan wibawa yang dipancarkan gadis berusia 18 tahun itu memuaskan dahaga informasi media sekaligus membentangkan garis batas yang tak boleh dilanggar.
Sean melangkah ke samping Emily, meraih telapak tangan gadis itu, lalu menautkan jemarinya di antara jemari Emily di hadapan seluruh kamera berita.
Di tengah keheningan yang terpukau, Sean membimbing Emily melangkah keluar dari lobi dengan kepala tegak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, pukul 16.00.
Area kampus Sunway perlahan kembali tenang setelah tim keamanan kampus mensterilkan area luar dari awak media.
Di ruang perpustakaan lantai empat yang sepi, Emily duduk di meja kayu dekat jendela. Di sampingnya, Mei Ling masih menatap Emily dengan mata membelalak heran, seolah-olah sahabatnya itu baru saja berubah menjadi sosok pahlawan dari komik.
"Mil..." bisik Mei Ling pelan, suaranya masih sarat akan rasa tidak percaya. "Beneran kamu pimpinan perusahaan triliunan rupiah itu?"
Emily menoleh dari laptopnya, menyunggingkan senyum tipis yang amat tulus. Ia memegang tangan Mei Ling. "Iya, Mei. Tapi di depan kamu... aku tetep Emily yang suka makan nasi lemak empat ringgit dan sering pusing ngitung rumus Ekonometrika."
Mei Ling menatap mata Emily, melihat tidak ada sedikit pun kesombongan di sana. Senyum Mei Ling perlahan merekah, ia memeluk erat lengan Emily. "Gila ya... aku punya temen terbaik se-Asia ternyata! Tapi janji ya, ntar sore tetep traktir aku steamboat murah di SS15!"
Emily tertawa renyah, tawa paling lepas yang membuat suasana hati yang kaku seketika mencair. "Iya, janji."
Namun, saat Emily hendak menyalakan kembali laptopnya untuk menyelesaikan tugas kuliah, ponsel terenkripsi khusus miliknya yang tersimpan di dalam tas kain bergetar keras.
Sebuah panggilan video masuk dari nomor khusus berpola enkripsi militer Jakarta.
Emily meragu sejenak sebelum menggeser layar dan memasang earphone di telinganya.
Layar ponsel menampilkan wajah seorang pria paruh baya berambut papak dengan pakaian dinas jenderal purnawirawan. Pria itu adalah Jenderal Hendra—Pimpinan Dewan Pengawas Tertinggi yang membawahi seluruh direksi raksasa bisnis di Indonesia.
Wajah pria tua di layar itu terlihat amat dingin dan tidak bersahabat.
"Selamat sore, Nona Emily Valencia," suara Jenderal Hendra terdengar berat dan sarat akan nada meremehkan dari seberang saluran. "Selamat atas hebohnya berita publikasi kamu di Malaysia pagi ini."
Emily menatap layar itu dengan tenang. "Selamat sore, Jenderal Hendra. Ada urusan apa Dewan Pengawas menghubungi saya?"
Pria tua itu tersenyum dingin—sebuah senyuman penuh ancaman kekuasaan politik yang amat kotor.
"Kami di Jakarta tidak akan pernah membiarkan seorang gadis cilik berusia 18 tahun yang bersembunyi di kampus Malaysia memegang kendali atas 51% saham industri strategis Indonesia," ujar Jenderal Hendra tajam. "Dewan Pengawas telah mengeluarkan Mosi Tidak Percaya. Jika kamu tidak hadir di Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta hari Senin depan... kami akan menggunakan kewenangan negara untuk membatalkan seluruh hak suara saham kamu secara paksa."
Napas Emily tertahan.
Pertempuran baru yang ribuan kali lebih besar telah membentang. Bukan lagi melawan mantan pacar atau keluarga yang serakah, melainkan melawan konspirasi oligarki politik tingkat tinggi yang ingin merebut takhta Anderson Group dari tangannya.
Bersambung......