NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Lautan Pasir dan Kota yang Terkubur Waktu

Setelah turun kembali dari Negeri di Atas Awan, perjalanan Cepot dan Dawala membawa mereka menuju wilayah yang semakin kering dan terbuka. Pepohonan yang rindang perlahan berubah menjadi semak berduri yang jarang, hingga akhirnya mereka tiba di hamparan luas yang hanya dipenuhi pasir kuning yang membentang sejauh mata memandang. Angin bertiup kencang, membawa butiran pasir yang berdesir seperti bisikan ribuan suara.

“Ini pasti daerah yang disebut sebagai Lautan Pasir,” kata Cepot sambil menyesuaikan ikat kepalanya agar tidak kemasukan debu. “Konon, di tengah hamparan ini pernah berdiri sebuah kota makmur yang bernama Kota Cahaya, namun lenyap tertimbun pasir ratusan tahun yang lalu karena melanggar perjanjian dengan alam.”

Dawala mengusap keringat di dahinya, matanya menyipit menahan cahaya matahari yang terik. “Apakah kota itu benar-benar ada, Kang? Atau hanya dongeng pengembara saja?”

“Bisa jadi keduanya,” jawab Cepot sambil mengeluarkan tali serat awan yang diberikan penghuni Negeri di Atas Awan. “Tali ini dikatakan bisa menunjuk ke arah tempat yang tersembunyi atau terputus dari jalur biasa. Mari kita lihat apakah ia akan menunjukkan sesuatu.”

Begitu tali itu dipegang, ujungnya perlahan bergerak menunjuk lurus ke arah timur laut, melintasi hamparan pasir yang tampak sama di setiap sisinya. Tanpa ragu, mereka pun melangkah mengikuti arah yang ditunjukkan, berjalan dengan hati-hati agar tidak tersesat di tengah lautan pasir yang luas ini.

Setelah berjalan seharian penuh, saat matahari mulai terbenam dan mewarnai langit menjadi jingga kemerahan, tiba-tiba pemandangan di depan mereka berubah. Di balik bukit pasir yang tinggi, terlihat puncak-puncak atap dan menara yang terbuat dari batu berwarna keemasan, sebagian masih tertimbun pasir namun sebagian lagi mulai terlihat jelas.

“Ini dia! Kota yang tersembunyi itu!” seru Dawala dengan gembira.

Begitu mendekat, mereka merasakan suasana yang aneh. Meskipun terlihat seperti kota yang sudah lama ditinggalkan, udara di sekitarnya terasa dingin dan tenang, seolah waktu berhenti berjalan di tempat ini. Di pintu gerbang utama yang setengah tertimbun pasir, berdiri sesosok penjaga berwujud manusia namun kulitnya keras seperti batu pasir, matanya terpejam seolah sedang tidur panjang.

Saat langkah kaki mereka menyentuh tanah di depan gerbang, mata penjaga itu perlahan terbuka, memancarkan cahaya oranye redup. Suaranya terdengar berat dan bergema, seperti suara yang keluar dari dalam gua.

“Siapa yang berani membangunkan tempat yang sudah lama terlelap? Kota ini telah dikutuk dan terpisah dari dunia luar karena kesombongan penduduknya di masa lampau. Pergilah sebelum kalian ikut terperangkap selamanya.”

Cepot membungkuk hormat, lalu menjawab dengan tenang. “Kami datang bukan untuk merusak atau menjarah harta, melainkan ingin mengetahui kebenaran di balik kutukan ini. Jika masih ada kesempatan untuk memperbaiki apa yang salah, kami bersedia membantu sebisa kemampuan kami.”

Penjaga itu menatap mereka lama, lalu menghela napas panjang yang membawa butiran pasir beterbangan. “Dahulu kala, Kota Cahaya adalah tempat yang paling makmur dan kaya raya. Penduduknya menguasai ilmu mengubah pasir menjadi emas dan memanggil air dari kedalaman bumi. Namun, kekayaan itu membuat mereka sombong. Mereka merasa lebih hebat daripada alam, berhenti bersyukur, dan mulai mengambil sumber daya secara berlebihan tanpa batas. Akibatnya, bumi menarik kembali semua yang telah diberikannya—air menghilang, tanah berubah menjadi pasir, dan kota ini tertimbun serta terkurung dalam waktu yang berhenti.”

“Kutukan ini hanya bisa dicabut jika ada yang mampu mengembalikan rasa syukur dan keseimbangan yang hilang,” lanjut penjaga itu. “Namun, banyak yang mencoba dan gagal, terjebak oleh godaan harta yang tersimpan di dalamnya hingga lupa tujuan semula.”

Mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala melangkah masuk melewati gerbang yang terbuka perlahan. Di dalam kota, bangunan-bangunan masih berdiri kokoh, jalanannya tertutup pasir tipis, dan di dalam rumah-rumah masih terlihat benda-benda berharga yang tersusun rapi, namun tidak ada tanda kehidupan sama sekali. Semuanya terasa beku, seolah membeku pada saat bencana itu terjadi.

Saat mereka berjalan menuju alun-alun pusat kota, tiba-tiba muncul cahaya keemasan yang berputar di udara, membentuk sosok lelaki tua yang berpakaian mewah namun tampak sedih. Ia adalah mantan penguasa kota itu, yang jiwanya terikat di tempat ini karena menanggung rasa bersalah yang mendalam.

“Siapa kalian yang berani masuk ke tempat yang terkutuk ini?” tanyanya dengan suara lemah. “Semua yang datang hanya menginginkan emas dan harta kami, lalu terjebak dan menjadi seperti kami—ada namun tidak hidup.”

“Kami tidak menginginkan harta sepeser pun,” jawab Cepot tegas. “Kami datang hanya ingin memulihkan apa yang telah rusak. Kesalahan yang dilakukan di masa lalu tidak harus menjadi kutukan abadi, selama ada kesadaran dan keinginan untuk berubah.”

Penguasa itu tertawa pahit. “Mudah dikatakan! Kami sudah terlanjur mengandalkan kekayaan dan merasa tidak membutuhkan apa pun lagi. Bagaimana mungkin kami bisa kembali ke jalan yang benar?”

“Kekayaan yang sesungguhnya bukanlah emas atau perak, melainkan air yang mengalir, tanah yang subur, dan kehidupan yang berjalan seimbang,” jawab Dawala dengan suara yang tulus. “Jika kalian mau mengakui kesalahan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, alam akan membuka pintu maafnya.”

Cepot lalu mengangkat Golek Pancasona. Cahaya putih keemasan memancar, menyebar ke seluruh penjuru kota, menembus setiap bangunan dan butiran pasir yang menutupinya.

“Wahai alam yang adil! Dengarlah permohonan ini! Biarlah kesalahan masa lalu menjadi pelajaran, bukan beban yang membelenggu selamanya! Kembalikanlah keseimbangan, dan buka ikatan waktu yang terhenti ini!”

Seketika itu juga, terjadilah perubahan yang menakjubkan. Pasir yang menutupi jalan perlahan terangkat dan tersebar, tanah kembali menghitam dan menjadi subur, serta dari celah-celah batu muncul aliran air jernih yang mengalir riang. Cahaya matahari yang tadinya terasa panas menyengat kini menjadi hangat dan menyejukkan.

Sosok penguasa kota itu terlihat semakin terang dan ringan, rasa bersalah yang membelenggunya perlahan hilang digantikan oleh rasa tenang dan syukur. Ia berlutut mengangkat tangan ke langit.

“Terima kasih… akhirnya kami bisa melepaskan diri dari belenggu kesombongan kami sendiri. Kami mengerti sekarang, bahwa segala kekayaan dan kekuatan hanyalah titipan yang harus dijaga dengan rasa syukur.”

Kutukan yang telah berlangsung ratusan tahun akhirnya tercabut. Kota Cahaya tidak kembali menjadi kota yang ramai seperti dulu, namun ia kembali menjadi tempat yang damai dan terbuka bagi alam untuk hidup kembali. Jiwa-jiwa yang terikat pun terbebas, mendapatkan kedamaian yang mereka cari selama ini.

Sebelum melanjutkan perjalanan, penjaga kota itu memberikan mereka sebuah batu pemberi petunjuk. “Batu ini akan memancarkan cahaya jika kalian mendekati tempat yang membutuhkan penjagaan selanjutnya. Semoga perjalanan kalian selalu diberkati.”

Meninggalkan Lautan Pasir yang kini tidak lagi terasa menakutkan, Cepot dan Dawala melangkah dengan hati yang semakin yakin. Mereka belajar bahwa kesombongan dan keinginan yang tidak terkontrol adalah sumber dari banyak kerusakan, sedangkan kerendahan hati dan rasa syukur adalah kunci untuk menjaga keseimbangan selamanya.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!