Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 35
Xiao Chen menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru. "Kakek... Kakek bisa muda lagi? Kakek bisa hidup lebih lama bersamaku?"
"Benar, Cucuku..." suara Kakek Lu bergetar hebat. Dengan tangan gemetaran, ia menerima pil tersebut dan langsung menelannya bulat-bulat.
Glek!
Seketika itu juga, arus hangat bagaikan lahar cair mengalir dari tenggorokan Kakek Lu, menyebar ke seluruh pembuluh darah dan meresap ke dalam sumsum tulang belakangnya. Wajah pucat keriput Kakek Lu perlahan merona keemasan.
"Duduklah bersila dan mulailah bermeditasi," instruksi Tianchen. "Buka meridianmu dan kumpulkan energi alam di sekitarmu ke dalam dantian."
Kakek Lu segera memposisikan kakinya bersila di atas lantai kayu, memejamkan mata, dan mulai menarik napas dalam-dalam.
Proses bermeditasi untuk mengumpulkan energi dalam ini tidaklah mudah, terlebih bagi seorang kultivator yang baru memulai di usia lanjut seratus tahun. Jalur darah yang mengeras dan meridian yang tersumbat membutuhkan pengikisan energi murni yang amat menyakitkan. Pada awal masa pembentukan fondasi kultivasi usia lanjut, pengumpulan energi murni secara paksa bahkan akan memakan jatah batas nyawa alami sebanyak 5 sampai 10 tahun demi membakar kotoran organ dalam!
Jika bukan karena khasiat Pil Panjang Umur dari Tianchen yang menambah 10 tahun usianya terlebih dahulu, proses pembakaran kotoran ini bisa saja langsung merenggut nyawa Kakek Lu di tempat. Pembentukan fondasi tingkat kultivasi awal ini tidak akan selesai dalam hitungan jam, bisa berlangsung lebih dari sehari, seminggu, atau bahkan berbulan-bulan tergantung ketahanan fisiknya.
Melihat aura keemasan dan uap hitam kotoran tubuh mulai keluar secara perlahan dari pori-pori kulit Kakek Lu, Tianchen tahu prosesnya telah berjalan. Tanpa mengganggu konsentrasi Kakek Lu, Tianchen berbalik melangkah keluar menuju bagian dapur gubuk.
Di dapur gubuk yang agak gelap dan bercahaya dari api tungku batu, Xiao Chen tampak sibuk memotong beberapa sayuran hijau dan menanak nasi di atas kuali besi. Anak perempuan berusia 12 tahun itu bergerak sangat cekatan, mengusap pelipisnya yang berkeringat dengan punggung tangan.
Tianchen menyandarkan tubuhnya di ambang pintu kayu dapur, hanya memperhatikan kegiatan Xiao Chen dalam keheningan.
Xiao Chen yang menyadari keberadaan Tianchen mendadak tersentak kaget, hampir menjatuhkan pisau kayunya. Wajahnya merona merah karena canggung.
"G-Guru!" seru Xiao Chen panik, memburu-buru merapikan celemek kainnya. "Maafkan saya, dapur ini sangat kotor dan berasap! Sayurannya sebentar lagi matang, saya sedang menyiapkan makan malam untuk Guru dan Kakek!"
"Tidak apa-apa," sahut Tianchen halus, senyum tipis terukir di wajahnya. "Lanjutkan saja."
Xiao Chen mengangguk pelan, kembali membalikkan badan dan mengaduk kuah sayur di kuali. "Guru... apakah Kakek akan baik-baik saja?" tanyanya lirih di antara suara gemeretak api tungku.
"Kakekmu memiliki Tubuh Sakti Tempur dan ketahanan jiwa yang kuat," jawab Tianchen tenang. "Dia akan melewati proses pembentukan fondasinya dengan baik. Kau tidak perlu cemas."
Mendengar penegasan itu, bahu kecil Xiao Chen tampak rileks. Rasa kagum dan rasa aman yang tak terhingga memenuhi hatinya terhadap sosok guru pemuda yang baru saja menyelamatkan hidup mereka ini.
Beberapa saat kemudian, hidangan makan malam sederhana berupa kuah sayur hijau, tahu goreng, dan dua mangkuk nasi hangat telah tersaji di atas meja kayu utama.
Tianchen dan Xiao Chen duduk berhadapan menyantap makanan tersebut dengan tenang, sementara Kakek Lu masih terikat teguh dalam meditasinya di sudut ruangan tanpa terganggu oleh aroma makanan.
Usai meletakkan mangkuk kosongnya, Tianchen menatap Xiao Chen.
"Xiao Chen, setelah dari desa ini, kita tidak akan langsung kembali ke Puncak Sekte Pedang Langit," tutur Tianchen mendatar.
Xiao Chen memiringkan kepalanya bingung. "Eh? Kenapa, Guru? Bukankah kita harus segera naik ke pegunungan?"
"Aku harus mencari beberapa murid lagi yang memiliki bakat atau tubuh istimewa untuk melengkapi kuota perwakilan sekte," jawab Tianchen. "Sekte kita membutuhkan setidaknya empat murid inti untuk mengikuti pendaftaran turnamen benua."
Mendengar hal itu, Xiao Chen mendadak teringat sesuatu! Matanya berbinar terang.
"Guru! Kalau mencari murid berbakat, hamba tahu tempat yang sangat tepat!" seru Xiao Chen antusias. "Kakek pernah memberitahu hamba bahwa di Pusat Kota Ghujo, ada Festival Seleksi Bakat Agung yang diadakan tiap beberapa tahun sekali!"
Pada saat yang sama, Kakek Lu yang berada di sudut ruangan mendadak menghembuskan napas panjang. Meskipun meditasinya belum selesai sepenuhnya, ia bisa membuka suaranya sebentar tanpa memutus aliran energi.
"Ugh... Benar apa yang dikatakan Xiao Chen, Guru..." sahut Kakek Lu dengan suara yang lebih bertenaga dibanding sebelumnya. "Kota Ghujo adalah kota metropolitan terbesar di wilayah barat ini. Festival itu diikuti oleh puluhan sekte besar dan menengah untuk merekrut bakat-bakat muda dari berbagai pelosok. Kebetulan... festival tersebut akan dibuka dua hari lagi!"
Xiao Chen mengangguk-angguk cepat. "Benar, Guru! Jika kita berangkat esok pagi-pagi sekali, kemungkinan besar kita akan tiba tepat pada hari pertama pembukaan festival tersebut! Sekte Pedang Langit bisa meminta area pendaftaran dan mendirikan stan seleksi di sana, hanya dengan membayar sewa beberapa batu roh pada pengelola kota!"
Tianchen mengelus dagunya pelan. "Mendirikan stan di festival kota besar... Itu ide yang cukup efisien dibanding menyusuri benua satu per satu. Soal batu roh untuk menyewa tempat, itu bukan masalah sama sekali bagiku."
Kakek Lu yang masih bersila merogoh kantong kain lusuh di balik pinggangnya, lalu melemparkannya pelan ke atas meja di hadapan Tianchen. Kantong itu berdenting pelan, memancarkan pendar tipis uap spiritual.
"Guru... Ini adalah kantong batu roh simpanan milik hamba dan Xiao Chen selama bertahun-tahun," tutur Kakek Lu tulus. "Meskipun hanya berisi belasan Batu Roh Tingkat Rendah, mohon Guru sudi menerimanya... Anggaplah ini sebagai mahar pendaftaran dan tanda terima kasih kami karena telah diterima menjadi murid Sekte Pedang Langit."
Tianchen menatap kantong kain lusuh di atas meja. Bagi seorang yang memiliki ribuan Batu Roh Tingkat Surgawi di dalam cincin penyimpanannya, belasan batu roh tingkat rendah ini hampir tidak bernilai. Namun, ia bisa merasakan niat tulus dan ketulusan hati dari Kakek Lu dan Xiao Chen.
Tanpa menolak atau mengejek, Tianchen mengulurkan tangannya dan mengambil kantong kecil tersebut, menyimpannya ke dalam jubahnya.
"Baiklah, aku terima mahar dari kalian," ucap Tianchen hangat. "Istirahatlah malam ini. Esok pagi kita berangkat menuju Kota Ghujo."
Sementara itu, di Puncak Pegunungan Sekte Pedang Langit...
Begitu Tianchen melesat turun gunung pada pagi hari, Su Ziyan tidak membuang waktu sedikit pun. Dengan membawa arahan dari gurunya, Ziyan berjalan terburu-buru menuju bagian bawah Paviliun Kultivasi, melangkah masuk ke dalam ruangan raksasa tempat Kolam Air Spiritual berada.
Uap hangat biru keemasan membumbung tinggi, mengisi seluruh sudut ruangan. Ziyan melepas jubah luar latihannya, lalu secara perlahan melangkah turun menyeberangi tepian batu menuju ke dalam air kolam.
BYUUUURRR...
"AAAGHHHHH!"
Seketika itu juga, jeritan tertahan keluar dari tenggorokan Ziyan! Begitu kulit mulusnya menyentuh air biru keemasan tersebut, sensasi dingin dan panas yang teramat sangat menyengat seluruh tubuhnya! Kepadatan energi murni di dalam kolam itu begitu pekat hingga rasanya bagaikan ada ribuan jarum besi membara yang menusuk-nusuk pori-pori kulit dan menembus ke dalam jaringan sarafnya!
Ziyan menggertakkan giginya rapat-rapat hingga berdarah, matanya terpejam erat. "Tahan... Aku harus menahannya! Guru bilang ini untuk mendinginkan jalur darahku!"
Ia menekan kedua telapak tangannya di atas paha, membiarkan uap air spiritual bekerja. Setelah beberapa menit rasa sakit yang mengerikan itu berlangsung, Ziyan mendadak merasakan perubahan ajaib!
Rasa tersumbat dan ketegangan hebat di dada kirinya perlahan-lahan mengendur! Jalur meridiannya yang sebelumnya membeku dan kaku akibat bentrokan Elemen Es kini mulai melar, terbuka lebar bagaikan sungai yang membendung air bah!
"Bisa... Meridianku mulai terbuka!" batin Ziyan berbinar antusias.