NovelToon NovelToon
Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Drummer Cantik, Istri Rahasia Ketos Tampan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

"Kita butuh ground rules, Al," kata Akram
"Aturan apa?" Almeera bersedekap, memasang posisi bertahan.
Akram mengangkat satu jarinya. "Satu, nggak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu soal ini. Temen band lo, temen geng gue, siapapun."
"Gue juga nggak sudi ngasih tahu orang-orang," potong Almeera cepat.
Akram mengangguk tipis, "Dua. Di sekolah, kita tetep musuh. Nggak ada tegur sapa manis, nggak ada perhatian. Lo urus urusan lo, gue urus urusan gue."
"Bagus,"
"Dan yang ketiga..." Akram memajukan wajahnya sedikit, "...jangan sampai jatuh cinta. Karena gue nggak mau ribet kalau nanti setelah lulus kita harus pisah."
"Tenang aja, Kram. Selera gue bukan cowok tukang perintah dan manipulatif kayak lo. Cukup lo bayangin aja muka gue jadi setan, dan lo bakal aman dari jatuh cinta."
Akram terkekeh sinis. "Oke. Deal."
"Deal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Langkah kaki Akram di koridor itu begitu panjang dan menghentak, membuat Almeera harus setengah berlari untuk mengimbanginya. Genggaman tangan Akram di pergelangannya terasa sangat erat, menyalurkan sisa-sisa amarah yang belum sepenuhnya padam paska konfrontasi dengan Devan tadi.

Begitu mereka berbelok ke lorong sepi di dekat ruang arsip, Akram akhirnya berhenti. Ia melepaskan tangan Almeera, lalu memutar tubuhnya dan menyandarkan punggungnya ke dinding dengan embusan napas kasar.

Almeera memegangi pergelangan tangannya, menatap Akram dengan dada naik-turun.

"Lo gila ya?!" desis Almeera panik, celingukan memastikan tidak ada siswa lain di sekitar mereka. "Lo nyaris aja keceplosan bilang 'istri' di depan Devan! Kalau dia denger gimana?! Jantung gue rasanya mau pindah ke usus buntu tahu nggak!"

Akram menengadah, memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan emosinya, lalu kembali menatap Almeera. Sorot matanya tajam, namun ada kelelahan yang terselip di sana.

"Gue keceplosan karena itu faktanya, Al," jawab Akram, suaranya terdengar berat dan serak. "Otak gue secara otomatis nolak nyebut lo pacar pas ngadepin cowok yang terang-terangan mau ngerebut lo. Lo... tanggung jawab gue sepenuhnya."

Kata-kata itu meluncur begitu natural, menghantam pertahanan Almeera tanpa ampun. Telinganya memerah.

"Y-ya tapi kan lo tahu aturannya! Kita lagi mode fake dating di sekolah!" Almeera memalingkan wajahnya, salah tingkah akut. "Terus... ngapain lo pake nyium pelipis gue segala di depan dia?! Nanti dia mikir gue cewek gampangan yang mau aja di-PHP-in Ketos!"

Mendengar itu, Akram justru tersenyum miring. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah maju hingga jarak mereka kembali terkikis.

"Dia nggak bakal mikir lo gampangan. Dia bakal mikir kalau lo beneran cinta mati sama gue sampai lo pasrah gue apain aja," Akram mencondongkan wajahnya, berbisik tepat di depan bibir Almeera. "Dan lagian, ciuman di pelipis tadi itu bukan akting, Al. Itu warning buat dia, dan... bonus buat gue."

Almeera langsung memukul dada Akram dengan brutal untuk menyembunyikan wajahnya yang kini sudah semerah tomat rebus.

"Sialan lo, tiang listrik! Otak lo isinya modus doang sekarang!" rutuk Almeera, berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Akram yang tertawa puas di belakangnya.

Pukul 19.30 WIB, Kediaman Keluarga Kusuma.

Makan malam di rumah keluarga Kusuma selalu menjadi ajang pengadilan mental sejak kedatangan Oma Ningrum. Meja makan kayu jati yang panjang itu dipenuhi berbagai hidangan, namun fokus utama malam ini bukanlah makanannya, melainkan sepasang 'pengantin bucin' yang duduk berdampingan.

Papa Hendra dan Mama Ratna sesekali bertukar pandang dengan cemas. Mereka tahu, Oma Ningrum punya kebiasaan menguji orang-orang di sekitarnya dengan pertanyaan-pertanyaan mematikan.

"Jadi, Akram," Oma Ningrum memecah keheningan setelah menghabiskan sop buntutnya. Beliau menyesap teh hangat, lalu menatap Akram dari balik kacamata bacanya. "Kata Hendra, kalian ini pacaran diam-diam dari kelas sepuluh sebelum akhirnya nikah. Berarti kalian sudah saling kenal luar dalam, kan?"

Almeera yang baru saja menyuapkan nasi, mendadak berhenti mengunyah. Jantungnya berdebar kencang. Mati gue. Oma mulai kuis dadakannya.

"Tentu saja, Oma," jawab Akram dengan senyum diplomatiknya yang sempurna, sama sekali tidak terlihat gugup.

"Bagus," Oma Ningrum meletakkan cangkirnya. "Kalau begitu, coba buktikan. Almeera, apa kebiasaan Akram kalau lagi stres atau banyak pikiran?"

Almeera tersentak. Papa Hendra dan Mama Ratna menelan ludah serempak. Mereka tahu kedua anak ini dulunya musuh bebuyutan, mustahil Almeera tahu hal sekecil itu.

Namun, ingatan Almeera otomatis memutar momen-momen di apartemen 2507 selama sebulan terakhir. Otaknya bekerja lebih cepat dari yang ia duga.

"Ehm..." Almeera berdeham, menatap Akram sekilas, lalu menatap Oma. "Akram kalau lagi stres ngurusin proposal OSIS atau mikir keras, dia bakal minum kopi hitam tanpa gula, Oma. Terus, dia bakal mijat pangkal hidungnya pakai dua jari, dan... dia paling benci kalau barang di atas mejanya digeser walau cuma satu sentimeter."

Mama Ratna membelalakkan matanya. Papa Hendra nyaris tersedak air putih.

Akram sendiri tertegun selama satu detik penuh. Matanya menatap Almeera dari samping dengan kilat ketakjuban yang tidak bisa disembunyikan. Ia tidak menyangka cewek bar-bar ini memperhatikan detail sekecil itu tentang dirinya.

Oma Ningrum tersenyum tipis, mengangguk puas. "Detail sekali. Tanda istri yang perhatian. Sekarang giliran kamu, Akram. Apa kebiasaan buruk Almeera yang paling bikin kesal tapi kamu nggak bisa marah?"

Akram tidak butuh waktu untuk berpikir. Ia menoleh, menatap Almeera dengan sorot mata yang seketika melembut, mengabaikan eksistensi mertua dan neneknya di meja itu.

"Almeera itu gampang banget kedinginan, Oma," suara Akram mengalun pelan dan penuh kehangatan. "Kebiasaan buruknya, kalau tidur, dia suka nendang selimutnya sendiri di tengah malam, tapi habis itu dia bakal nyari kehangatan dan... nempel kayak koala ke orang di sebelahnya sampai pagi."

PRANG!

Garpu di tangan Almeera terjatuh ke atas piring. Wajahnya meledak merah seketika hingga ke batas telinga.

"Dan kalau lagi pusing disuruh belajar," lanjut Akram tanpa ampun, senyum miringnya terlihat sangat menyebalkan sekaligus memesona, "dia bakal gigit ujung bolpoinnya sampai plastiknya penyok, terus ngomel panjang lebar padahal sebenarnya dia udah tahu jawabannya. Gengsinya aja yang selangit."

Oma Ningrum tertawa renyah, tawa yang jarang sekali keluar dari wanita tegas itu. Beliau menepuk-nepuk tangannya.

"Aduh, Oma sampai iri lihat anak muda zaman sekarang. Bucinnya natural sekali," puji Oma Ningrum, membuat Papa Hendra dan Mama Ratna akhirnya bisa menghembuskan napas lega yang panjang. Misi terselamatkan.

Almeera hanya bisa menunduk, mengutuk detak jantungnya yang berkhianat. Kata-kata Akram barusan bukan sekadar akting. Itu adalah observasi nyata dari interaksi mereka sehari-hari.

Di bawah meja, tangan besar Akram merambat, mencari tangan Almeera. Saat jari-jari mereka bertaut, Akram menggenggamnya erat, seolah menyalurkan pesan: Gue merhatiin lo lebih dari yang lo tahu, Al.

Pukul 22.00 WIB, Kamar Almeera.

Kamar Almeera yang dulunya menjadi benteng privasinya, kini terasa menyusut drastis sejak kehadiran sosok jangkung yang sedang duduk di kursi belajarnya.

Akram sedang fokus mengetik sesuatu di laptopnya—laporan bulanan OSIS. Cahaya dari layar laptop menerangi wajahnya yang serius. Ia mengenakan kacamata baca berbingkai tipisnya, menambah kadar ketampanannya hingga level tidak manusiawi.

Almeera sudah berbaring di atas ranjang Queen Size itu. Ia memeluk bantalnya, memiringkan tubuhnya menghadap meja belajar. Matanya tak bisa lepas dari sosok Akram.

Kenapa cowok nyebelin ini bisa kelihatan sekeren itu cuma gara-gara ngetik doang sih? batin Almeera merutuk.

"Udah puas mandanginnya, Ibu Negara?"

Pertanyaan datar itu memecah keheningan. Akram tidak menoleh, jari-jarinya masih mengetik dengan cepat di keyboard, tapi sudut bibirnya jelas tertarik membentuk senyum geli.

Almeera terkesiap, buru-buru menutup matanya pura-pura tidur. "S-siapa yang mandangin lo! Orang gue lagi lihatin... poster Arctic Monkeys di tembok belakang lo!"

Suara ketikan berhenti. Terdengar bunyi laptop ditutup.

Akram melepas kacamatanya, berdiri, dan berjalan mendekati ranjang. Ia mematikan lampu kamar, hanya menyisakan lampu tidur. Begitu Akram naik ke atas kasur dan menarik selimut, Almeera otomatis menggeser tubuhnya hingga merapat ke tepi. Kasur Queen Size ini benar-benar tidak manusiawi.

"Geser sini, Al. Lo mau jatuh ke ubin?" Akram menepuk kasur di dekatnya.

"Nggak! Gue udah nyaman di sini!" tolak Almeera keras kepala.

Akram mendesah pelan. Tanpa basa-basi, ia mengulurkan tangannya, merengkuh pinggang Almeera, dan menarik gadis itu dalam satu sentakan halus hingga punggung Almeera menabrak dada bidangnya.

"AKRAM!" pekik Almeera berbisik.

"Sst, Oma di kamar sebelah," ancam Akram dengan suara parau yang menyapu tengkuk Almeera. Lengan cowok itu mengunci pinggang Almeera, memeluknya dari belakang layaknya guling bernyawa.

Almeera membeku. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Akram meresap menembus piyama beruangnya. Detak jantung Akram berdetak seirama dengan detaknya sendiri.

"Kram... ini Oma udah tidur, lo nggak perlu akting lagi," cicit Almeera, suaranya bergetar karena gugup.

"Gue udah bilang kemarin, Al. Gue nggak lagi akting," jawab Akram pelan. Hembusan napasnya menggelitik leher Almeera. "Lo sadar nggak sih, sejak Oma datang, kita nggak pernah lagi berantem soal hal-hal kecil?"

Almeera terdiam. Ia baru menyadarinya. Sejak mereka dipaksa bermain peran menjadi 'pasangan bucin', tidak ada lagi adegan rebutan kamar mandi, tidak ada lagi saling ledek yang menyakitkan hati, dan tidak ada lagi 'Tembok Berlin' yang memisahkan mereka.

Batas itu... telah benar-benar lenyap.

"Lo tadi di meja makan..." Almeera menggigit bibir bawahnya, memberanikan diri bertanya, "...lo beneran merhatiin kebiasaan gue sedetail itu?"

Akram tidak langsung menjawab. Ia mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya di rambut Almeera, menghirup aroma stroberi yang kini menjadi candu barunya.

"Gimana gue nggak merhatiin," bisik Akram jujur, suaranya terdengar pasrah, "kalau setiap detik otak gue selalu kepikiran lo, Al. Bahkan pas gue ngerjain soal OSIS sekalipun, bayangan lo yang lagi marah-marah gara-gara Fisika selalu muncul."

Pengakuan itu menghantam Almeera telak. Akram Pradana, sang tiran yang tidak pernah tunduk pada siapa pun, baru saja mengakui kekalahannya pada seorang Almeera Azzahra.

Almeera perlahan memutar tubuhnya di dalam pelukan Akram, hingga kini mereka berhadapan di atas bantal yang sama. Dalam cahaya remang, mata mereka saling mengunci. Tidak ada jarak. Tidak ada gengsi.

"Kram..." bisik Almeera.

Akram menundukkan wajahnya, matanya menatap bibir Almeera. Kali ini, tidak ada nada dering ponsel. Tidak ada pintu yang tiba-tiba terbuka. Hanya ada mereka berdua dan keheningan malam.

"Boleh, Al?" bisik Akram meminta izin, sebuah sikap gentleman yang membuat hati Almeera benar-benar meleleh.

Almeera tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memejamkan matanya secara perlahan, memberikan persetujuan tanpa suara yang selama ini ditunggu-tunggu oleh sang Ketua OSIS.

Dan detik berikutnya, bibir hangat Akram menyapu bibirnya dengan sangat lembut. Ciuman pertama mereka tidak menuntut, tidak kasar, melainkan penuh kehati-hatian, seolah Akram sedang membuktikan bahwa di balik sikap tirannya, ia menyimpan lautan kasih sayang yang hanya diciptakan khusus untuk Almeera.

Malam itu, di bawah atap rumah keluarga Kusuma, kebohongan mereka tentang 'Cinta Setengah Mati' resmi berubah menjadi kenyataan.

1
Sri Musdalefi
dasar orang tua ngak punya otak...
Khusnul Khotimah
bukannya Shofia sudah tahu yah rahasia pernikahan waktu ngasih sufres ke apartemennya.
ini kok baru tahu apa kakak salah tulis atau lupa .maaf ya kak cuma mengingatkan kan saja
Aidil Kenzie Zie
sampai jumpa di cerita selanjutnya thor 🥰🥰💓💓💓
Aidil Kenzie Zie
bukannya Shopia udah tau y tor pas bab21 apa pura-pura aja🤔🤔🤔tapi kok histeris gitu
Khusnul Khotimah: iya di baba 21 kan udah tahu shopia
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Astaga ini orang tuanya kok ndk ngerti posisi anaknya masih sekolah sich 😡😡
Aidil Kenzie Zie
udah mau lulus ternyata 🤭🤭🤭 kirain masih kls 2🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
nggak usah mikir kariernya Al takutnya kalian di DO dari sekolah gara-gara nikah masih sekolah 😭😭😭tapi kalo pake kekuasaan papanya Akram mungkin masih lolos 🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Al terima aja perlakuan Akram disekolah toh wajarlah dia kan suami kamu 🤣🤣🥰🥰
Murni Dewita
👣
Aidil Kenzie Zie
bukannya begitu mereka masuk pintu dikunci?kok datang oma bilangnya nggak dikunci apa pake remote y tor🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
penasaran itu si Devan emang siswa murni pindahan atau ada campur tangan Heera🤔🤔
Emi Sudiarni
kren kak critanya
Aidil Kenzie Zie
jangan sampai Akram nekat unboxing kamu Al gara-gara cemburu 🥰🥰🥰🥰🥰
Aidil Kenzie Zie
Heera cari mati 😡😡😡
apa nggak bisa pakai kekuasaan papanya Akram untuk ditoleransi oleh Kepsek tentang hubungan mereka 🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
jujur Al
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Aidil Kenzie Zie
lha si Mak mak nggak paham apa kalo anak sekolah belum boleh nikah kecuali kuliah nggak mungkinkan ngaku kalo mereka suami istri 🤦🏻🤦🏻🤦🏻🤦🏻
Aidil Kenzie Zie
kok Shopia tau tentang Riwayat Bluetooth di Apartemennya mereka 🤔🤔kan dia bukan anak Osis🤔🤔🤔
Enz99
bagus
Aidil Kenzie Zie
kok bisa Shopia masuk ke apartemen mereka 🤔🤔
Moora: Jawabannya ada di bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!