Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Berakhir Kalah
Suara ketukan palu hakim menggema di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Suaranya kering. Menusuk lurus ke ulu hati Maya.
Udara dari pendingin ruangan terasa membekukan tulang. Keringat dingin justru membasahi punggung kemeja putih murah yang ia kenakan.
Di seberang mejanya, tim kuasa hukum Mahendra Group duduk dengan postur luar biasa santai. Setelan jas mereka bernilai puluhan juta rupiah. Ujung bibir pengacara utama mereka, Riyadi, melengkung membentuk senyum meremehkan. Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya pada kursi kayu jati pengadilan dengan raut wajah bosan.
"Keberatan, Yang Mulia," Riyadi bersuara perlahan. Bariton suaranya menggema penuh percaya diri ke seluruh penjuru ruangan. "Dokumen yang diajukan pihak penggugat cacat hukum secara fundamental. Tanggal pengajuan gugatan ini melewati batas kedaluwarsa sesuai pasal perjanjian kerja sama."
Maya menahan napas panjang. Tangannya mencengkeram tepi meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih pasi.
"Itu tidak benar," bantah Maya cepat. Suaranya bergetar sesaat sebelum ia memaksa nada bicaranya stabil. "Klausul itu disisipkan secara sepihak oleh Mahendra Group dua hari sebelum penandatanganan."
Riyadi tertawa pelan. Tawa hambar yang sengaja dilepaskan untuk merendahkan mental lawan bicaranya.
"Nona Maya, ini ruang sidang pengadilan tingkat negeri. Bukan panggung debat kampus Anda." Riyadi berdiri lambat sambil merapikan kancing jas mahalnya. "Klien Anda, Saudara Karya, menandatangani dokumen tersebut secara sadar. Tanda tangannya sah di atas materai. Tidak ada unsur paksaan."
Maya melirik pria tua di sebelahnya. Pak Karya. Pemilik pabrik tahu skala rumahan yang digiling habis oleh monopoli distribusi bahan baku milik anak perusahaan Sebastian. Pakaian Pak Karya lusuh. Kemeja batiknya memudar di bagian kerah. Bahu pria itu melengkung turun menanggung beban utang ratusan juta yang tidak pernah ia minta.
"Mereka menahan pasokan kedelai murni di pelabuhan," desis Maya tajam. Ia menatap lurus ke arah majelis hakim di depan. "Lalu klien mereka memaksa UMKM kecil membeli bahan baku kualitas rendah dari anak perusahaan Mahendra dengan harga dua kali lipat. Ini praktik monopoli kotor."
"Asumsi kosong tanpa dasar," potong Riyadi cepat dan telak. "Anda hanya membawa catatan buku transaksi manual. Tulisan tangan acak. Tidak ada cap resmi perusahaan kami di sana."
"Beri saya waktu tambahan, Yang Mulia." Maya mencondongkan tubuh ke depan. Keputusasaan mulai menjalar di dadanya. "Saya akan mendatangkan saksi ahli keuangan dan log data distribusi pelabuhan."
"Faktur ini diterbitkan secara sepihak," Maya mengangkat selembar kertas ke arah majelis hakim. "Mahendra Group menghentikan suplai bahan baku secara mendadak kepada lima belas UMKM di kawasan Cikarang tanpa ada surat pemberitahuan resmi."
Riyadi menyela dengan tenang. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun. "Keberatan, Yang Mulia. Penggugat menggunakan data internal. Faktur itu dokumen catatan distributor lokal, bukan surat resmi anak perusahaan kami."
Hakim ketua mengangguk pelan. "Keberatan diterima. Fokus pada pokok gugatan awal, Nona Maya."
Maya menelan ludah kepahitan. Ia membuka lembar demi lembar berkasnya dengan tangan gemetar. Tinta stabilo kuning dan merah memenuhi setiap halamannya. Ia sudah menghabiskan waktu berminggu-minggu mengurung diri di kamar sempitnya. Menyusun argumen hukum malam demi malam dengan perut kosong.
"Pasal tiga belas ayat dua dalam kontrak awal menyatakan penyelesaian masalah pasokan dilakukan dengan mediasi terbuka..." Suara Maya mulai goyah saat Riyadi kembali mengangkat tangan.
"Kontrak awal sudah dianulir melalui adendum tertanggal empat belas Agustus." Riyadi menyodorkan sebuah map tebal ke meja panitera. "Klien Anda menandatangani adendum itu. Klausul penyelesaian sengketa mewajibkan mediasi internal satu pintu melalui tim legal Mahendra sebelum masuk jalur litigasi. Gugatan ini cacat prosedur."
Maya membeku di tempat. Matanya beralih menatap Pak Karya.
"Bapak tanda tangan surat lain bulan Agustus?" bisik Maya panik.
Pak Karya menatapnya bingung dengan mata sayu. "Waktu itu utusan pabrik datang malam-malam, Neng. Katanya cuma surat perpanjangan jatah kedelai bulanan. Kalau tidak ditandatangani malam itu juga, pabrik Bapak tidak dikasih bahan besok paginya."
Dada Maya terasa sesak. Itu bukan surat perpanjangan jatah. Itu surat jebakan. Mereka mengunci Pak Karya agar tidak bisa menuntut secara hukum perdata di pengadilan.
"Anda memanipulasi ketidaktahuan klien saya!" Suara Maya meninggi lepas kendali. Ia menunjuk wajah Riyadi dari seberang meja. "Anda sengaja memakai istilah teknis hukum berbahasa Belanda di adendum itu. Anda menekan mereka dalam kondisi terdesak!"
"Jaga etika Anda di ruang sidang, Pengacara," tegur Hakim Ketua tajam.
Riyadi hanya tersenyum tipis merespons kemarahan Maya. "Klien Anda adalah pengusaha. Tanda tangan memiliki kekuatan hukum tetap. Tidak ada istilah ketidaktahuan dalam hukum perjanjian. Anda mahasiswa hukum, Anda pasti paham dasar sederhana itu."
Kalimat itu menampar wajah Maya telak.
Ia teringat mendiang ayahnya. Ayahnya juga menandatangani dokumen pajak yang tidak ia pahami. Dokumen tebal bermaterai yang akhirnya membawa pria jujur itu ke balik jeruji besi sebagai kambing hitam perusahaan.
"Hukum bukan tentang siapa yang paling menderita, Nona." Riyadi berbisik cukup keras untuk didengar Maya, tanpa memakai mikrofon. "Hukum tentang siapa yang bisa membayar penafsir kalimat terbaik."
Hakim ketua mengetuk palu perlahan di atas meja kayunya. Tanda ketidaksabaran mulai memuncak.
"Sidang tidak bisa dilanjutkan hanya dengan asumsi emosional, Nona Maya. Majelis sudah mempelajari eksepsi dari tergugat dengan saksama."
Maya menutup matanya. Kegelapan langsung menyergap pandangannya.
"Gugatan tidak dapat diterima. Eksepsi tergugat dikabulkan karena cacat formil. Sidang ditutup."
Tiga kalimat itu meluncur tanpa beban dari mulut sang hakim. Palu diketuk keras. Satu kali pukulan yang menghancurkan harapan Maya berkeping-keping. Membawa vonis mati bagi pabrik tahu kecil milik Pak Karya.
Ruang sidang berangsur kosong. Tim pengacara Mahendra Group berjalan keluar sambil berbincang santai. Sesekali terdengar tawa renyah membicarakan menu makan siang di restoran daging panggang terdekat.
Maya masih terpaku di kursinya. Tumpukan berkas pembelaan di depannya kini tidak lebih dari sekadar sampah kertas tidak berguna.
Riyadi berjalan melewati mejanya dan berhenti sejenak.
"Niat baik dan semangat membara tidak cukup untuk menang melawan modal besar, Nona." Riyadi merapikan kerah kemejanya. "Cari kasus perceraian biasa atau sengketa tanah warisan. Mahendra Group bukan lawan untuk anak kecil yang baru belajar mengeja pasal."
Maya tidak menjawab. Tangannya sibuk meraup kertas-kertasnya secara acak. Beberapa dokumen jatuh berserakan ke lantai.
Riyadi melangkah pergi. Wangi parfum pria itu tertinggal di udara. Wangi arogansi dan kekuasaan.
Pak Karya ikut berjongkok perlahan. Pria tua itu membantu memungut sisa kertas Maya di lantai marmer. Tangan keriput dan penuh kapalan itu menyusun kertas dengan rapi, lalu meletakkannya di atas meja.
"Pak, saya minta maaf," suara Maya akhirnya pecah. Ia menunduk dalam. Rahangnya mengeras menahan tangis. "Saya gagal. Pabrik Bapak..."
Pak Karya tersenyum tipis. Tidak ada kemarahan di mata sayunya. Hanya ada kepasrahan yang terlalu panjang dan melelahkan.
"Tidak apa-apa, Neng Maya." Pak Karya menepuk pelan punggung tangan Maya. "Neng sudah bantu bapak mati-matian tanpa minta bayaran sepeser pun. Orang kecil seperti bapak memang sudah takdirnya kalah kalau melawan raksasa."
Maya menggeleng keras. "Itu tidak adil, Pak. Mereka merampas paksa hak Bapak."
"Keadilan itu harganya mahal, Neng." Pak Karya berdiri susah payah sambil memegangi lututnya. Ia merogoh saku celana bahan hitamnya yang pudar.
Ia meletakkan dua buah permen jahe berbungkus plastik bening di atas tumpukan dokumen Maya.
"Bapak cuma bisa kasih ini. Dimakan ya, biar tenggorokannya lega. Neng tadi teriak-teriak terus di depan hakim." Pak Karya tersenyum getir. "Bapak pamit dulu. Istri bapak pasti sudah nunggu di rumah."
Maya menatap dua permen jahe murah itu. Tenggorokannya terasa tercekik. Benda sekecil itu justru mengoyak seluruh pertahanan emosinya. Orang-orang kecil selalu dipaksa menelan kekalahan besar sambil tetap tersenyum ramah.
Punggung melengkung pria tua itu perlahan menghilang di balik pintu ruang sidang.
Maya berjalan menyusuri lorong pengadilan yang mulai sepi. Sepatunya bergesekan dengan lantai marmer. Menggemakan kekalahan di setiap langkahnya.
Pikirannya kembali terlempar ke masa lalu. Ke hari di mana ayahnya berdiri di ruang sidang yang sama. Ayahnya juga menatap Maya dengan senyum pasrah yang persis dengan senyum Pak Karya hari ini.
Kenapa orang baik selalu berakhir kalah?
Kenapa bajingan seperti Sebastian Mahendra bisa terus duduk nyaman di kursi empuknya, sementara orang-orang yang ia hancurkan harus hidup menderita setiap hari?
Maya mendorong pintu kaca besar gedung pengadilan.
Udara mendung menyambutnya. Langit Jakarta siang ini segelap perasaannya. Awan tebal menggulung di atas gedung-gedung pencakar langit. Angin dingin meniup ujung rambut Maya.
Tetesan air mulai turun dari langit. Mula-mula lambat. Satu atau dua tetes mengenai pipinya. Lalu berubah menjadi hujan lebat dalam hitungan detik.
Orang-orang di sekitar halaman pengadilan berlarian mencari tempat berteduh. Mereka mengangkat tas, membuka payung, berlari terburu-buru ke arah halte bus terdekat.
Maya tidak bergerak.
Ia berdiri diam di anak tangga teratas pengadilan. Membiarkan hujan lebat menghantam wajah dan tubuhnya tanpa ampun.
Air hujan yang dingin meresap cepat ke dalam kemeja putihnya. Membasahi tas kain murah yang berisi kertas-kertas kekalahannya. Kertas berisi kebenaran yang dibuang ke tong sampah oleh prosedur hukum.
Ia tidak peduli. Ia membiarkan badai air ini menyembunyikan air matanya yang akhirnya tumpah ruah.
Maya menangis. Ia menangis tersedu-sedu di bawah guyuran hujan lebat. Tubuhnya bergetar hebat.
Bukan hanya untuk Pak Karya. Ia menangis untuk ibunya yang kehilangan kewarasan di kamar sempit mereka. Ia menangis untuk ayahnya yang membusuk di sel tahanan. Ia menangis untuk dirinya sendiri yang terasa sangat kecil, bodoh, dan tidak berguna.
Tiga tahun ia belajar hukum dengan gila. Membaca ratusan buku tebal hingga pagi. Mengorbankan jam tidurnya. Memendam amarah setiap hari. Semua itu ternyata tidak ada artinya di depan kekuatan uang dan koneksi.
Dunia ini terlalu kejam untuk orang miskin. Pisau hukum selalu tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Tiba-tiba, sebuah bayangan gelap mendadak menutupi tubuhnya dari guyuran hujan lebat.
Maya berhenti terisak. Ia membuka matanya perlahan.
Air hujan tidak lagi mengenai wajahnya. Namun suara badai itu masih terdengar jelas menghantam sesuatu di atas kepalanya.
Sepasang sepatu hak tinggi berwarna hitam pekat berdiri elegan tepat satu anak tangga di bawahnya.
Maya mendongak.
Shaquena berdiri di sana membawa payung hitam. Melindunginya dari hujan.