Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 2
"Hahaha ... Sudah kubilang jangan lari, Manusia lemah! Sekarang lihatlah tubuhmu itu, kau sekarang seperti kerbau yang bermain lumpur di kubangan," ejek Teja dengan tawanya yang menghina.
"Apa salahku, Teja? Kau dan teman-temanmu selalu berusaha untuk menghajarku setiap kali kita bertemu."
"Sudah aku bilang kemarin, kau dan ayahmu yang cacat itu adalah aib bagi perguruan Elang Emas milik ayahku! Aku tidak akan berhenti menghajarmu sampai kau keluar dari perguruan milik ayahku!" balas Teja menghardik.
Arya mengepalkan tangan kanannya yang terendam lumpur. Andai dia tidak teringat dengan pesan kedua orang tuanya untuk tidak menunjukkan kemampuan ilmu kanuragannya, dia pasti sudah menghajar mereka sejak dulu.
Sebuah tendangan tiba-tiba mendarat di perut Arya dan membuatnya meringkuk memegangi perutnya. Raut wajah pemuda itu sedikit meringis merasakan perih di perutnya.
Teja dan kedua temannya tertawa lantang menyaksikan kondisi Arya yang mengenaskan. Mereka lalu pergi meninggalkan pemuda itu dengan rasa puas.
Sepeninggal Teja dan kedua temannya, Arya berdiri dan memandangi tubuhnya yang penuh dengan lumpur. Lamat-lama suara gemericik air yang berada cukup jauh tertangkap telinganya. Pemuda itu berlari sambil memasang pendengarannya untuk mencari sumber mata air yang berguna untuk membersihkan tubuhnya.
Ayunan langkah Arya begitu kuat menyibak daun kering dan rerumputan yang tumbuh subur di dalam hutan tersebut. Tak lama, dia akhirnya menemukan sebuah sungai kecil yang berair jernih.
Arya tersenyum lebar. Setelah melepaskan pakaian yang membungkus tubuhnya, dalam keadaan bugil dia pun meloncat ke dalam sungai kecil tersebut.
Belum juga dia mencuci pakaiannya yang kotor, telinganya mendengar suara seorang wanita yang berteriak meminta tolong berulang kali.
"Toloooong ... toloooong!"
Arya dengan sigap bereaksi terhadap suara yang meminta tolong itu. Dia memakai pakaian kotornya kembali sambil tetap memasang pendengarannya. Matanya bahkan sampai terpejam untuk mencari sumber suara yang memasuki gendang telinganya.
Pemuda berambut kemerahan itu melompat ke atas, dan berlari sekuat tenaga setelah menemukan dari arah mana sumber teriakan tersebut.
Sekitar 50 meter dari tempatnya membersihkan tubuh, Arya melihat seorang gadis berpakaian mewah dan membawa sebuah pedang pendek, sedang dikelilingi 4 orang lelaki berwajah garang. Raut wajah mereka menunjukkan kegarangan dan seolah ingin memakan gadis tersebut hidup-hidup.
Air liur menetes deras dari sudut bibir mereka semua. Lidah keempat lelaki itu bergerak menjilat bibir masing-masing. Nafsu binatang sepertinya sudah mengendalikan pikiran mereka berempat.
Arya menatap dua sosok lelaki tergeletak tewas bersimbah darah tidak jauh dari tempat itu. 3 kuda juga terlihat sedang asyik memakan rumput yang tumbuh subur menghijau dan membangkitkan selera makan.
"Hahaha ...! Aku suka sekali gadis liar sepertimu. Tampaknya aku akan sangat menikmati, ketika kesucianmu ternodai oleh burung gagakku yang perkasa," ucap salah satu dari mereka yang menggunakan ikat kepala berwarna hijau.
"Kau benar, Kang! Dari sekian banyak gadis yang menjadi korban kita, baru kali ini ada yang melakukan perlawanan seulet dia. Lihatlah, meskipun sudah tahu tidak ada gunanya melawan, tapi dia tetap nekat!" sahut temannya. Tatapan matanya tidak bisa terlepas dari bagian dada gadis itu yang pakaiannya terkoyak lumayan lebar.
Arya mengalihkan pandangannya ketika tanpa sengaja matanya menangkap dua daging segar yang menyembul keluar di bagian dada gadis itu. Sebagai lelaki normal, bukannya dia tidak suka melihat pemandangan seperti itu. Tapi demi menjaga marwah kehormatan seorang wanita seperti pesan ayahnya, Arya sebisa mungkin harus bisa menutupi bagian vital gadis itu, agar tidak dijadikan santapan mata-mata liar keempat lelaki tersebut.
"Apa kalian tidak malu memperlakukan wanita seperti itu? Atau jangan-jangan kalian berempat tidak terlahir dari seorang wanita, melainkan dari rahim binatang?" ucap Arya menyela pembicaraan mereka.
Matanya berkeliling mencari sesuatu di sekitar. Setelah menemukan apa yang dicarinya, dia berjalan beberapa langkah dan mengambil sebuah ranting berukuran sebesar jempol kaki yang tergeletak tak bertuan.
Keempat lelaki berwajah garang itu secara bersamaan menolehkan arah pandangannya tertuju kepada Arya. Mereka melihat seorang pemuda berambut kemerahan yang sedang menimang sebatang ranting di tangannya.
Rasa geram karena ada yang menganggu kesenangan mereka, seketika menyembul hingga ke ubun-ubun. Apalagi yang melakukannya hanya seorang pemuda ingusan, dan sekujur pakaiannya dipenuhi kotaran tanah yang mulai mengering.
Gadis berpakaian mewah itupun tak luput ikut melihat Arya.
"Pergi kau, Bocah kucluk! Kau sudah mengganggu kesenangan kami!" bentak seorang dari mereka berempat.
"Cepat pergi atau kami bunuh seperti dua orang itu!" sahut salah satu temannya.
Arya terkekeh pelan. Dia menodongkan ujung ranting yang dipegangnya ke arah mereka berempat. "Kalau aku tidak mau pergi kalian mau apa, Manusia binatang?"
"Bangsat! Kau sudah bosan hidup rupanya!" bentak lelaki berikat kepala hijau. Tanpa diduga dia menebaskan pedangnya ke arah pedang gadis itu hingga terlepas dari tangan dan langsung meringkusnya dari belakang.
"Kalian bertiga, bunuh dia!" lanjutnya memberi perintah.
Gadis itu meronta-ronta berusaha membebaskan diri, akan tetapi semua usahanya sia-sia belaka. Bahkan dia harus pingsan, setelah lelaki itu memukul bagian belakang kepalanya.
Ketiga lelaki lainnya bergegas mendekati Arya dengan pedang terhunus ke depan.
"Majulah kalian bertiga!" Arya memutarkan ranting yang dipegangnya di depan tubuhnya.
"Bocah tolol! Kau menggunakan ranting untuk melawan pedang kami? Tampaknya ada yang tidak beres dengan otakmu."
"Benarkah? Bukankah otak kalian yang sudah diganti dengan otak binatang, sehingga kelakuan kalian pun sama seperti binatang," ejek Arya.
"Bangsat ... mati kau!"
Salah satu lelaki menebaskan pedangnya ke arah perut Arya, tapi hanya dengan sedikit gerakan mundur, Arya berhasil menghindari serangan tersebut. Bahkan dia melepaskan serangan balik cepat dan langsung membuat pedang di tangan lelaki itu terbanting ke tanah dengan keras.
Lelaki itu memekik keras. Dia merasa tangan kanannya kesemutan dan kebas mati rasa. Tangannya bergetar hebat Matanya membelalak lebar tidak percaya, begitu juga dengan tiga lelaki lainnya. Mereka bahkan tidak melihat serangan cepat yang dilakukan pemuda tersebut.
"Bajingan!" Lelaki berikat kepala hijau mengumpat keras. Setelah melatakkan tubuh gadis itu di tanah, dia berlari menerjang Arya.
Tebasan pedang besarnya hanya menerpa ruang kosong, setelah Arya bergerak menyamping menghindari serangannya. Tapi pemuda itu tidak bisa melakukan serangan balik cepat seperti tadi, karena dua lelaki lainnya memberikan serangan susulan.
Arya kembali berkelit cepat menghindari satu serangan, sambil ranting di tangannya menangkis serangan lain. Setelah itu dia melepaskan tendangan putar mengarah leher lelaki berikat kepala hijau. Namun Arya seketika menarik pulang serangannya, sebab serangan yang mengincar rusuknya sedang dilepaskan lelaki yang pedangnya tadi terlepas.
Arya terpaksa melemparkan tubuhnya cepat ke tanah untuk menghindari serangan tersebut. Dia sadar, sedikit saja terlambat menghindar, maka rusuk kanannya akan terkoyak oleh ujung pedang yang tajam. Arya kemudian melakukan lompatan harimau untuk bergerak sedikit menjauh sekaligus menata kembali aliran nafasnya.