Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23: Barter Nyawa dan Berlian
System Glitch
Waktu: 20:15 PM
Hening yang mematikan menyelimuti ruang kerja Neo Hayes Blake.
Suara rintik hujan yang mulai turun dan membentur kaca jendela raksasa di belakang meja kerja pria itu seolah menjadi satu-satunya sumber suara yang tersisa.
Stella bisa merasakan darahnya berdesir dingin, mengalir cepat dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. cincin ibunya. Cincin berlian itu.
Bagaimana bisa pria ini tahu? Apakah Neo memerintahkan orang-orangnya untuk diam-diam menguntit setiap langkah yang ia ambil sejak keluar dari hotel kemarin pagi?
Stella mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik saku trench coat hitamnya, memaksa kuku-kukunya menancap ke telapak tangan untuk mempertahankan wajah tenang.
Ia tidak boleh terlihat goyah sedikit pun di depan predator seperti Neo. Jika ia menunjukkan satu saja celah ketakutan, pria ini akan langsung menerkam dan mencabik-cabiknya tanpa ampun.
"Cincin itu?" Stella memecah keheningan dengan tawa kecil.
Tawa yang terdengar sangat santai, mengalun jernih, dan anehnya terdengar sedikit meremehkan.
Ia tidak mundur. Sebaliknya, langkah kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi hitam justru membawanya maju satu tindak, kembali mendekati tepi meja mahoni Neo.
"Tuan Blake," Stella memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam mata pria itu.
"Aku sama sekali tidak tahu kalau CEO Blake Group yang luar biasa sibuk ini sekarang merangkap jabatan menjadi pengamat perhiasan wanita. Apa kau begitu terobsesi memperhatikanku sampai-sampai kau tahu persis aksesori apa yang ada dan tidak ada di jariku hari ini?"
Neo tidak bergeming. Wajahnya yang setegas pahatan marmer itu tidak menunjukkan perubahan emosi apa pun.
Ia hanya menyandarkan punggung lebarnya ke sandaran kursi kulit mahalnya, menatap Stella dengan pandangan yang luar biasa pekat dan sulit dibaca.
"Aku tidak butuh menjadi seorang pengamat perhiasan untuk menyadari hilangnya barang paling berharga milikmu, Rosewood," jawab Neo lambat-lambat.
Suara seraknya mengalun rendah, membelah jarak di antara mereka.
"Terutama saat barang itu tiba-tiba muncul di sebuah toko gadai kumuh dan ilegal di sudut gelap Soho, hanya beberapa jam setelah kau menghilang dari lantai atasku bak ditelan bumi."
Sialan. Stella membeku di dalam hati.
Ternyata dugaannya benar seratus persen. Neo Hayes Blake memang melacaknya sampai ke sana.
Tidak ada satu pun hal di kota London ini yang bisa luput dari mata elang pria itu.
"Oh, jadi kau benar-benar menguntit ku dengan sengaja?" Stella menaikkan sebelah alisnya.
Senyum tengilnya perlahan kembali menghiasi bibirnya, sebuah mekanisme pertahanan diri yang paling ia andalkan untuk menutupi rasa paniknya yang mulai meronta.
"Seharusnya aku merasa sangat terhormat. CEO Blake Group rela mengerahkan divisi intelijennya dan meluangkan waktu berharganya hanya untuk mencari tahu ke mana aku pergi berbelanja di pagi buta."
"Jangan mencoba memancing batas kesabaranku, Stella," suara Neo mendadak turun satu oktaf, terdengar jauh lebih serak dan sangat berbahaya.
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja.
"Aku sangat benci dibohongi, dan aku sangat benci teka-teki yang tidak ku mengerti. Kau menggadaikan cincin warisan ibumu demi tumpukan uang tunai. Kenapa? Apa keluarga Rosewood sudah begitu bangkrut sampai-sampai tidak bisa memberimu uang saku untuk membeli pakaian pelayan hotel itu?"
Tepat saat Stella membuka mulutnya untuk membalas dengan kalimat yang jauh lebih pedas, sebuah layar biru sistem meledak menyala tepat di depan matanya, memancarkan cahaya pendar yang hanya bisa dilihat olehnya.
[ Ding! ]
[ Misi Harian Diaktifkan! ]
[ Misi: Akui secara langsung bahwa kau butuh uang, tapi katakan dengan tegas bahwa kau jauh lebih suka berutang budi pada orang asing yang licik daripada pada Neo Blake. Berikan tatapan mata yang paling menantang! ]
[ Hadiah: 25 Poin Karma & Penambah Stamina Penuh (Mencegah kelelahan selama 24 jam). ]
[ Hukuman Gagal: Host akan mencium bau amis ikan mentah setiap kali berada dalam radius lima meter dari target selama 24 jam ke depan. ]
Bulu kuduk Stella langsung meremang membayangkan hukuman tersebut.
Mencium bau amis ikan mentah yang menyengat setiap kali ia harus berdekatan dengan pria yang selalu wangi Dark Musk dan Leather ini? Itu sama saja dengan hukuman mati yang akan menyiksa indra penciumannya perlahan-lahan.
Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk ragu, Stella langsung mengunci pandangannya pada layar dan bersiap mengeksekusi misi itu.
Ia menelan ludah, menetralkan detak jantungnya, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada mata obsidian Neo.
"Ya. Aku butuh uang tunai cepat untuk kepentinganku sendiri, dan aku sama sekali tidak sudi memintanya pada keluarga ular yang baru saja mencoba meracuniku," ucap Stella dengan suara yang sangat mantap, dingin, dan tidak sedikit pun bergetar.
Ia melangkah maju lagi hingga perutnya nyaris menyentuh pinggiran meja mahoni yang kokoh tersebut.
Wanita itu mencondongkan separuh tubuhnya ke depan, menantang ruang pribadi Neo tanpa rasa takut sedikit pun.
"Dan untuk menjawab pertanyaanmu, Tuan Blake..." Stella merendahkan suaranya, membalas tatapan membunuh pria itu dengan ketajaman yang setara.
"...aku jauh lebih suka menggadaikan harta peninggalan ibuku sendiri dan berutang pada pemilik toko gadai ilegal yang licik di Soho, daripada aku harus berutang budi atau merengek meminta tolong pada pria dingin dan arogan sepertimu. Setidaknya, bunga mencekik di toko gadai masih bisa kubayar lunas dengan uang, bukan dengan harga diriku."
Keheningan yang menyusul kata-kata itu terasa sangat berat, seolah gravitasi di dalam ruangan itu baru saja dilipat gandakan.
Vix, yang sedari tadi melayang diam di atas bahu Stella, bersiul pelan namun terdengar melengking di telinga Stella.
"Wow, itu langkah bunuh diri yang sangat indah, Host. Lihat urat di lehernya."
Stella tidak berkedip. Ia menahan napasnya saat melihat reaksi Neo.
Pria itu menatap Stella dengan intensitas gelap yang seolah mampu melubangi dinding beton di belakangnya.
Ada kilatan amarah yang jelas di kedalaman mata obsidian itu amarah karena ditolak, amarah karena ada wanita yang berani menyejajarkannya dengan pemilik toko gadai rendahan.
Namun, jauh di bawah kemarahan yang membara itu, ada rasa takjub yang semakin mengakar kuat.
Wanita ini luar biasa nekat.
Dia lebih memilih mempertaruhkan nyawanya, tidur di jalanan yang dingin, dan kehilangan barang paling berharga di hidupnya daripada harus menundukkan kepala dan meminta perlindungan di bawah sayap Neo Hayes Blake.
Sebuah penolakan yang justru membuat insting dominasi Neo semakin bergejolak liar.
Tanpa aba-aba, Neo berdiri dari kursinya. Gerakannya sangat halus namun sangat cepat.
Langkah kaki panjang pria itu membawanya memutari meja mahoni dalam hitungan detik.
Sebelum Stella sempat mencerna apa yang terjadi dan melangkah mundur untuk menjaga jarak, Neo sudah berdiri tepat di hadapannya.
Pria itu mengurung Stella di antara postur tubuhnya yang menjulang tinggi dan pinggiran meja kayu di belakang tubuh wanita itu.
Aroma Dark Musk dan Leather seketika menyergap Stella dari segala arah. Kali ini wanginya terasa jauh lebih pekat, panas, dan luar biasa posesif, seolah berusaha menelan wangi White Tea & Peony milik Stella bulat-bulat.
"Kau pikir aku peduli dengan harga dirimu yang tidak ada gunanya itu?" Neo berbisik pelan.
Suaranya mengalun sangat rendah, serak, dan bergetar tepat di depan wajah Stella.
Pria itu mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya yang panjang, kokoh, dan sedikit kapalan menyentuh bagian bawah dagu Stella dengan tekanan yang tidak bisa dibantah, memaksa wanita itu untuk terus mendongak dan menatap ke dalam mata gelapnya.
Sentuhan kulit itu terasa membakar, mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuat napas Stella tertahan di tenggorokan.
"Kau sekarang adalah rekan bisnisku," lanjut Neo, matanya menelusuri setiap inci wajah Stella, dari mata monolidnya hingga ke bibirnya yang dibiarkan berwarna natural tanpa lipstik menor.
"Dan aku sangat tidak suka jika apa yang menjadi milikku maksudku, aset bisnis yang berada di bawah pengawasanku berkeliaran di jalanan kumuh tanpa pelindung yang layak."
Stella mencoba melepaskan diri dari tatapan membius itu, tapi tubuhnya seolah terpaku ke lantai marmer.
Neo menarik tangannya perlahan dari dagu Stella, sebuah sentuhan yang berakhir terlalu cepat namun meninggalkan jejak panas yang membekas.
Pria itu kemudian merogoh saku bagian dalam jas charcoal-nya yang dijahit sempurna. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua kotak yang sama yang tadi ia simpan.
Dengan gerakan pelan yang disengaja, Neo meletakkan kotak itu ke atas meja, tepat di samping pinggul Stella.
"Buka," perintah Neo mutlak, nada suaranya tidak menerima penolakan.
Stella menatap kotak beludru itu dengan ragu. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Perlahan, tangannya yang sedikit gemetar karena adrenalin terulur menyentuh penutup kotak tersebut.
Begitu ia membuka engsel kecilnya, napas Stella seolah direnggut paksa dari paru-parunya.
Cincin berlian peninggalan ibu kandungnya.
Cincin dengan berlian murni berpotongan emerald itu duduk manis di atas bantalan satin putih.
Kilaunya memukau di bawah cahaya lampu temaram ruangan, memantulkan spektrum warna kelabu.
Cincin itu masih sama persis, bersih tanpa goresan, dan memancarkan aura elegan yang selama ini selalu menjadi sumber kekuatan bagi jiwa Stella yang asli.
"Kau... kau membelinya?" Stella mendongak, menatap Neo dengan suara yang sedikit bergetar, pertahanan tengilnya runtuh sejenak oleh fakta yang tidak terduga ini.
"Toko gadai ilegal sarang penyamun itu bukanlah tempat yang aman untuk barang berharga seperti ini," Neo menjawab dengan nada datar.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi sedikit pun, tetapi matanya tidak pernah sedetik pun lepas dari mengamati reaksi di wajah Stella.
"Anggap saja ini sebagai sebuah 'jaminan'. Jaminan bahwa kau tidak akan bertingkah konyol dan lari dari proyek kita saat masalah datang."
Stella mengerjapkan matanya, perlahan menyadari maksud dari ucapan pria itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Jaminan? Neo, itu adalah barang milik pribadiku! Kau tidak punya hak untuk menyanderanya!"
"Aku punya hak,"
Neo mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, menyeringai miring –sebuah seringai tipis yang luar biasa tampan, mematikan, sekaligus sangat menyebalkan.
"Karena aku yang membayar dua kali lipat harga pasarnya malam itu hanya untuk mengambilnya sebelum bajingan tua di toko itu menjualnya ke pasar gelap Eropa Timur."
Stella membuka mulutnya, tapi tidak ada kata yang keluar. Logikanya membenarkan ucapan Neo.
Jika Neo tidak mengambilnya, cincin ibunya mungkin sudah hilang selamanya, berpindah tangan ke entah siapa. Tapi harga dirinya tidak sudi mengaku kalah.
"Cincin ini akan tetap berada di dalam brankas ku," ucap Neo final, menutup kotak beludru itu dengan bunyi klik yang tegas, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku jasnya.
"Sampai proyek penyiaran kita selesai dengan sukses, dan sampai aku benar-benar yakin kau tidak sedang merencanakan tipuan gila lainnya."
[ Ding! ]
[ Misi Selesai dengan Sempurna! ]
[ Hadiah Stamina Penuh ditambahkan ke dalam tubuh Host. Tensi di ruangan ini sangat luar biasa, Host. Pertahankan! ]
Seketika itu juga, Stella merasakan aliran hangat menyapu seluruh otot-otot tubuhnya. Rasa penat di bahu dan punggungnya lenyap tanpa sisa.
Namun, meski tubuhnya kembali bugar seratus persen, hatinya dipenuhi oleh rasa kesal yang luar biasa.
Ia menyambar tas kerjanya dari atas meja, memeluk map birunya, dan menatap Neo dengan tatapan yang sangat tajam, seolah berniat mencabik-cabik kemeja hitam mahal yang membalut dada bidang pria itu.
"Terima kasih atas 'simpati dan kepedulianmu', Tuan Blake," ucap Stella dengan nada yang sangat ketus dan sarkas.
"Aku pasti akan mengambil kembali cincin itu dari tanganmu. Dan aku akan memastikan, suatu hari nanti kau akan menyesal karena pernah menggunakan barang berhargaku sebagai bahan sandraan."
Stella membalikkan badannya dengan satu hentakan anggun. Ia melangkah pergi menuju pintu raksasa tanpa menoleh lagi, bunyi hak sepatunya menggema membelah kesunyian malam di ruangan itu.
Vix yang melayang terbang mengikutinya tak henti-hentinya menertawakan kejadian tadi.
"Afeksinya naik lagi, Nona Tengil! Sekarang indikatornya sudah menembus angka 30%! Kau benar-benar berbakat membuat pria kaku itu terobsesi setengah mati."
"Diam kau, Rubah Jelek!" Stella mengomel di dalam hatinya sambil menekan tombol lift dengan kasar.
"Aku mau pulang sekarang, mengunci diri di kamar, dan memikirkan cara bagaimana merampok brankas di gedung ini tanpa ketahuan polisi!"
To be Continued