NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Pembantaian di Jembatan Perbatasan

Angin senja berembus kencang, menggoyahkan daun-daun kering di sekitar tebing kapur.

Di bawah jembatan, jerit ketakutan sang gadis desa berpadu dengan tawa riuh para prajurit Blambangan.

Ki Jalu Utomo, perwira berwajah bopeng itu, sudah mengangkat goloknya yang lebar.

Sinar matahari senja memantul di bilah logam, menciptakan kilatan jingga yang mengerikan di atas leher sang gadis yang bersimbah air mata.

"Satu..." Ki Jalu Utomo mulai menghitung dengan suara parau, menikmati setiap detik ketakutan korbannya. "Dua..."

Sret.

Sebuah hembusan angin yang sangat tipis—hampir tidak terasa—melewati leher sang perwira.

Hitungan ketiga tidak pernah terdengar. Senyum sadis di wajah bopeng Ki Jalu Utomo tiba-tiba membeku. Matanya melotot tajam, menatap lurus ke depan dengan kekosongan yang mendalam.

Golok besar di tangannya terlepas, jatuh berdentang di atas permukaan jembatan kayu.

Bruk.

Kepala Ki Jalu Utomo menggelinding dari pundaknya, jatuh ke dalam aliran sungai yang deras di bawah jembatan, disusul oleh tubuhnya yang ambruk bersimbah darah segar.

Di belakang tempat berdirinya sang perwira beberapa detik lalu, sesosok pemuda bercaping bambu dan berjubah hitam telah berdiri dengan tenang.

Dua jari tangan kanannya masih memancarkan sisa-sisa Prana biru keperakan yang tajam dari Ajian Pedang Pembelah Lautan.

"Gusti Senopati!" teriak salah seorang wakil prajurit, wajahnya memucat seketika saat melihat komandannya yang berada di Ranah Wira Tahap 7 tewas dipenggal dalam satu kedipan mata tanpa sempat memberikan perlawanan.

"Siapa kau?!" bentak prajurit lain, tangannya gemetar hebat saat mengacungkan tombak ke arah Satria Pamungkas.

Satria tidak repot-repot menjawab pertanyaan mereka.

Di bawah bayangan caping bambunya, mata hitamnya menatap belasan prajurit di depannya bagai seorang penjagal yang menghitung jumlah ternak di rumah jagal.

Sifat anti-heronya membuat ia tidak merasakan kepuasan moral karena telah menyelamatkan para penduduk desa; baginya, para prajurit ini hanyalah tumpukan poin sistem yang berjalan.

"Sistem, aktifkan fungsi intimidasi. Gunakan sisa poin untuk memperkuat tekanan aura," perintah Satria dingin di dalam benaknya.

[Bip! Memotong 500 Poin Sistem untuk memperkuat Tekanan Jiwa.]

[Aura Intimidasi Mutlak dilepaskan!]

Boom!

Sebuah gelombang energi yang tak kasat mata namun luar biasa berat meledak dari tubuh Satria. Udara di sekitar jembatan perbatasan mendadak terasa sekental lumpur.

Belasan prajurit Blambangan itu merasa dada mereka seperti dihantam oleh gada besi raksasa. Lutut mereka bergetar hebat, dan beberapa di antara mereka langsung jatuh berlutut, muntah darah karena pembuluh darah mereka tidak kuat menahan tekanan spiritual yang tiba-tiba melesat tinggi.

"Ba... bajingan ini... dia bukan manusia!" teriak seorang prajurit sambil melemparkan tombaknya dan mencoba melarikan diri ke arah pos penjagaan.

"Di hadapanku, tidak ada jalan untuk pulang," bisik Satria.

Berkat Ajian Langkah Sunyi, tubuh Satria kembali kabur. Ia melesat di antara barisan prajurit bagai hantu malam yang haus darah.

Setiap kali tangannya bergerak, seberkas cahaya Prana biru memotong udara, diikuti oleh suara robekan daging dan cipratan darah yang membasahi tiang-tiang jembatan.

Sret! Jleb! Sret!

Satria tidak menggunakan jurus yang bertele-tele. Setiap tebasannya mengincar titik fatal: leher, jantung, atau memutus urat nadi utama.

Dalam waktu kurang dari dua menit, jembatan yang tadinya dipenuhi kepongahan prajurit Blambangan kini berubah menjadi ladang pembantaian yang sunyi.

Belasan mayat tergeletak tumpang tindih dengan darah yang mengalir deras, merembes di sela-sela lantai kayu jembatan dan menetes ke dalam sungai di bawahnya.

[Bip! Anda telah membantai unit patroli perbatasan Blambangan (15 Prajurit, 1 Perwira Ranah Wira Tahap 7).]

[Memicu Intimidasi Mutlak pada target saksi hidup (Penduduk Desa).]

[Mendapatkan: 8.000 Poin Sistem.]

[Saldo Poin saat ini: 15.000 Poin.]

Satria menurunkan tangannya, membiarkan sisa Prana biru di jarinya memudar. Ia menoleh ke arah sudut jembatan, di mana lelaki tua dan gadis muda tadi masih berlutut dengan tubuh yang gemetar hebat.

Wajah mereka pucat pasi, menatap Satria bukan dengan rasa terima kasih, melainkan dengan ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat mereka menghadapi Ki Jalu Utomo.

Di mata mereka, pemuda berjubah hitam ini adalah jelmaan iblis Alas Purwo yang keluar untuk memanen nyawa.

Satria melangkah mendekati mereka. Setiap ketukan langkah kakinya di atas kayu jembatan yang basah oleh darah terdengar seperti lonceng kematian di telinga kedua orang tersebut.

"Am... ampun, Gusti... ampun..." ratap si lelaki tua, membenturkan dahinya ke lantai jembatan hingga berdarah.

Satria berhenti tepat di depan mereka, menatap mereka dari atas dengan tatapan yang sangat datar. "Pergilah sejauh mungkin dari wilayah Blambangan jika kalian masih ingin melihat matahari terbit besok. Jika prajurit kadipaten menemukan tempat ini, desa kalian akan diratakan dengan tanah."

Tanpa menunggu jawaban atau ucapan terima kasih dari penduduk desa yang ketakutan itu, Satria membalikkan tubuhnya dan memberi isyarat ke arah atas tebing.

Dari balik kegelapan semak-semak, Dyah Sekar Ayu melompat turun dengan sangat anggun, mendarat di samping Satria tanpa menimbulkan suara berisik.

Meskipun wajah sang putri telah disamarkan menjadi gadis desa biasa berkat Mantra Pengalih Rupa, matanya yang sedingin es tetap memancarkan keterkejutan saat melihat efisiensi pembantaian yang baru saja dilakukan oleh Satria.

"Kau benar-benar tidak memiliki setitik pun belas kasihan di dalam hatimu, Satria," ucap Dyah Sekar Ayu, suaranya pelan namun tajam saat menatap tumpukan mayat di sekitar mereka. "Kau membunuh mereka seolah-olah mereka hanya semut yang mengganggu jalanmu."

Satria berjalan melewati jembatan, mengabaikan mayat-mayat yang menghalangi langkahnya. "Belas kasihan adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang hidup nyaman di dalam benteng tinggi keratonmu, Gusti Ayu. Di duniaku, jika aku tidak menghabisi mereka sampai ke akar-akarnya, besok atau lusa mereka akan kembali membawa pasukan yang lebih besar untuk memenggal kepalaku."

Dyah Sekar Ayu terdiam. Sisi taktis di dalam otaknya terpaksa membenarkan ucapan dingin Satria.

Dalam hukum perang yang keras, membiarkan musuh hidup—bahkan musuh yang lemah sekalipun—adalah sebuah kebodohan yang fatal. Kejam, namun sangat logis.

Hubungan mental yang terikat lewat Asmaragama Siphoning kembali bergetar, membuat rasa kagum sang putri terhadap ketegasan Satria merayap naik satu tingkat lagi.

Mereka terus berjalan menembus perbatasan, memasuki wilayah pinggiran Kadipaten Blambangan yang mulai dipenuhi oleh rumah-rumah penduduk dan penerangan obor yang temaram.

Satria membawa Sekar Ayu menuju ke sebuah rumah kayu kecil yang terisolasi di tepi tebing, dekat dengan air terjun tersembunyi.

Tempat itu adalah pondok rahasia yang pernah dibangun Satria sebelum ia dikhianati oleh pihak istana.

"Kita akan beristirahat di sini sampai tengah malam," ujar Satria sambil membuka pintu pondok yang berdebu.

Pondok itu sangat sederhana, hanya berisi sebuah balai-balai bambu untuk tidur, sebuah meja kayu kecil, dan beberapa kendi air yang sudah kering. Satria berjalan menuju ke sudut ruangan, lalu duduk bersila di atas lantai tanah.

"Gusti Ayu, kemari," panggil Satria tegas.

Dyah Sekar Ayu melangkah mendekat dengan ragu. "Ada apa?"

"Duduk di depanku," perintah Satria, matanya menatap tajam ke arah sang putri. "Energi murni dari cairan pemurni darah yang kau minum tadi siang masih menyiksa di dalam dantianmu. Jika kita tidak menyelaraskannya sekarang melalui latihan bersama, energi itu akan terbuang sia-sia dan mengacaukan jalur kultivasimu."

Meskipun kata-kata Satria terdengar seperti sebuah instruksi medis, aura dominan yang dipancarkannya membuat Dyah Sekar Ayu merasa tidak memiliki pilihan lain untuk menolak.

Sang putri mengembuskan napas pelan, lalu duduk bersila tepat di hadapan Satria, membuat jarak di antara wajah mereka hanya tersisa dua jengkal.

Dalam jarak sedekat ini, aroma wangi kenanga yang alami dari tubuh sang putri berpadu dengan aroma Prana tajam milik Satria, menciptakan ketegangan yang intim di dalam pondok yang sunyi tersebut.

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!