Layaknya drama, memaksa seseorang Azzara biantika, menjalani perannya sebagai tokoh antagonis, yang menjelma menjadi orang ketiga dalam kehidupan pernikahan Anastasya dan Arkana surya atmadja, seorang CEO muda karena adanya sesuatu hal.
Mampukah Azzara bertahan, hingga menemukan kebahagiaan yang selama ini dirinya impikan. Ataukah kian terpuruk dalam hubungan tanpa kepastian, yang semakin erat membelenggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adzana Raisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abigail Surya Atmadja
Alarm jam yang tergeletak di atas nakas sebuah ruangan, berdendang riang menciptakan kebisingan di kamar dengan seseorang yang masih terbaring pulas di atas ranjang. Entah sudah berapa lama alarm yang sengaja dipasang itu meraung-raung dengan riangnya, namun sama sekali tak membuat si penghuni kamar merasa terusik.
Dua puluh menit berlalu, kepala seorang gadis muncul dari selimut tebal yang membungkus sekujur tubuhnya. Menggeliat kesana kemari, seakan engan beranjak dari kenyamanan yang sudah beberapa jam ia dapatkan. Diraihlah sebuah jam mungil berbentuk hati berwarna merah yang mungkin saja sudah terengah kelelahan meraungkan nadanya dan menekan satu tombol hingga suara bising itu menghilang seketika.
Huaam..
Anastasya menguap lebar, dengan segera ia membekap mulutnya sendiri, waspada jika sewaktu-waktu serangga masuk kedalam tenggorokannya.
Tersenyum hangat, gadis dengan surai tak beraturan itu lekas menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Selepas keluar dari kamar mandi pun senyum ceria masih terlukis di wajah cantiknya. Entah apa yang membuat dirinya sesenang itu.
Tubuhnya yang semampai, kini berbalutkan gaun motif garis warna warni semata kaki yang kian membuatnya terlihat seperti model. Surai yang sudah kering sempurna itu, ia ikat tinggi hingga menampakkan leher jenjangnya.
Setelah memastikan penampilannya benar-benar sempurna, Anastasya meraih tas berwarna putih dan menjinjingnya di bahu.
Gadis itu sengaja bangun lebih cepat dari biasanya, dan saat keluar kamar dia pun lebih dulu memastikan jika suaminya itu masih terlelap. Berjalan pelan menyusuri anak tangga, namun dirinya justru dikejutkan dengan kemunculan Surti yang tiba-tiba.
"Nona. Anda sudah terlihat rapi sepagi ini," tanya Surti dengan suara tegasnya.
Anastasya yang sedari tadi berusaha mengendap, seketika mengajungkan telunjuknya di bibir sebagai isyarat agar Surti terdiam.
Surti pun spontan membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Nona ingin kemana? Ini bahkan masih terlalu pagi untuk bekerja?" Surti yang enggan mendapatkan luapan emosi sang Tuan jika lalai menjaga Anastasya, selalu terlihat mengintimidasi jika Nonanya itu terlihat bepergian di luar jam yang sudah ditentukan.
"Aku tidak akan kemana-mana Bi. Aku hanya ingin mengunjungi satu tempat sebelum ketoko bunga."
Surti semakian cemas mendengar jawaban menggantung dari Nonanya.
"Nona ingin kesuatu tempat lebih dulu? Nona saya peringatkan untuk tak lagi mengunjungi tempat itu, Tuan pasti akan marah besar."
Anastasya justru tergelak melihat sepias apa wajah Surti saat ini.
"Tenang saja, kali ini bisa kupastikan jika tak akan membuat suamiku itu marah," jawab Anastasya ringan tanpa beban.
"Tapi Nona," iba Surti pada majikanya.
"Aku hanya akan kemakam, dan tak akan kemana-mana. Aku janji."
Surti yang berwajah mendung itu pun mulai terlihat cerah. "Tapi Nona tidak akan berbohongkan?" Surti tak semudah itu merasa yakin dengan Anastasya. Sebab sudah tak terhitung jumblahnya dan terbilang sering Anastasya dengan mudah mengelabuhi Surti dengan beribu alasan yang dimilikinya.
"Demi tuhan, aku berjanji. Jika masih tidak percaya, Bibi bisa pergi denganku untuk memastikannya." Ucapan itu terdengar penuh keyakinan hingga Surti tak mampu lagi untuk menahannya.
"Baiklah jika Nona ingin kemakam. Maka saya pun tidak bisa mencegahnya."
Anastasya terlihat senang dan bergegas menuju garasi, di mana mobil berwarna merah muda miliknya terparkir rapi.
*****
Anastasya melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Jalanan cukup lengang dan kendaraan yang berlintas pun tak cukup ramai mengingat hari terbilang pagi. Anastasya yang tengah mengatur kemudi, sesekali melirik kearah kursi penumpang melalui kaca. Bibir gadis itu mengulas senyum tatkala mendapati sesuatu yang ia cari di kursi penumpang. Sebuket bunga lily yang sempat ia rangkai semalam, sesekali bergoyang seirama laju kendaraan yang Anastasya kemudikan.
Hingga mobil itu pun menepi di pinggiran trotoar. Tak lupa Anastasya meraih sebuket bunga Lily dan membawanya dalam dekapan. Pagar yang menjulang tinggi dan rerumputan yang terawat menunjukan identitas tempat pemakanan khusus keluarga Atmadja beserta kerabat.
Perasaan yang berkecamuk kerap kali datang kala kakinya mulai menginjak tanah kemerahan dengan puluhan makam berada disana. Sedih, senang, serti kerinduan yang mendalam. Anastasya mendekati sebuah makam dan duduk bersimpuh dihadapannya. Pusara mungil bertuliskan Abigail Surya Atmadja, menjadi tempat pelabuhan perempuan bernama Anastasya untuk menumpahkan semua perasaannya.
Perlahan ia mengusap pusara dengan sebotol air bersih lalu menciumnya lembut. Buliran kristal mengucur deras tatkala memandang lekat sebuah nama almarhum anak laki-laki yang sudah lebih dulu menghadap sang pencipta.
"Assalamualaikum sayang," ucap Anastasya lirih dan menempatkan sebuket bunga yang ia bawa di sisi pusara. "Maaf, ibu terlambat datang. Ibu sangat merindukan Abi, tapi Ibu tau, Abi pun pasti juga sangat merindukan Ibu."
Anastasya mengusap lagi pusara dengan lembut. "Apa Abi tau? Ayah sudah menikah dengan gadis baik pilihan Ibu, memenuhi sebuah janji yang pernah Ibu ucapkan pada Abi dulu." Anastasya berusaha tegar dan mengusap air mata, menghilangkan jejak kesedihan. "Mungkin Ibu salah, meminta paksa ibu barumu untuk masuk kekehidupan kami. Tapi Ibu pun benar-benar menginginkan kebahagian Ayah Arka, dengan menikahi gadis yang benar-benar ia cintai."
Mencium lembut pusara itu lagi, tetap mencurahkan segala keluh kesahnya tanpa menghiraukan sekitar.
"Ibu janji akan membawa Ibu barumu kemari dan mempertemukannya dengan Abi. Abi sayang pasti senang." Anastasya mengigit bibir bawahnya kelu, menahan buliran bening di pelupuk netranya.
"Abi sayang, Ibu harus segera pulang. Maaf, tidak bisa menemani Abi berlama-lama. Tapi sekali lagi Ibu janji, beberapa hari kedepan ibu pasti akan kembali lagi."
"Assalamualaikum."
Anastasya menatap pusara putranya itu cukup lama. Rasa rindu, sesungguhnya masih meluap-luap, namun ia sadar, seperti rasa ikhlas melepaskan putranya satu tahun lalu begitu pulalah yang harus aia rasakan sampai kini. Berusaha ikhlas menerima semua yang sudah ditakdirkan ilahi. Agar hidupnya pun merasa lebih tenang.
Usapan dan kecupan ia berikan sebagai salam perpisahan. Bangkit dan mulai berjalan meninggalkan area pemakaman. Berjalan dengan gontai menuju pinggir trotoar dimana mobilnya terparkir.
Anastasya mengedarkan pandangannya kearah sekitar. Bibirnya tersenyum simpul, menatap jalanan yang sepi tanpa kendaraan berlalu lalang. Disini dan di tempat inilah ia segaja di pertemukan dengan malaikat seperti Zara sebagai jawaban atas doa-doanya.
Mungkin Tuhan memang menjawab semua doa-doa Ibu, lewat Ibu Zara, Abi.
Anastasya masih enggan memasuki mobilnya. Diam terpaku menatap jalanan yang menjadi saksi bisu, di mana seorang gadis bernama Azzara, bersedia mengorbankan nyawa, demi dirinya.