Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
034
“Pokoknya jangan bergerak!”
Mary memberi perintah pada Roseo untuk tidak bergerak selama pria itu berendam dalam bathtub.
Mary dengan sangat hati-hati menggerakan pisau cukur di atas foam khusus bercukur dengan aroma lemon segar.
“Sudah berapa lama kau tidak pernah mencukur semua bulu di wajahmu ini, Ros?” Tanya Mary.
“Entahlah, aku tidak ingat,” sahut Roseo dengan mata terpejam.
“Lagipula, kenapa aku harus bercukur? Bekerja di ladang tidak perlu berpenampilan klimis,” kata Roseo lagi.
“Hmm, aku sebenarnya ingin merasakan sensasi yang berbeda. Rasanya terlalu kasar saat bulu-bulumu ini menyentuhku, aku jadi tidak fokus,” sahut Mary.
Roseo langsung membuka matanya menatap Mary yang tersenyum sumringah.
“Lihat, kulit di area pribadiku, jadi kemerahan karena gesekan, dan membuatku jadi kurang nyaman,” kata Mary.
“Oh, begitu, maaf, aku akan lebih lembut lagi,” kata Roseo.
Mary kembali menarik senyumnya sambil membersihkan pisau cukur yang berlumuran foam.
“Roseo, maaf ya, ucapanku pasti sangat kasar padamu, tapi itulah yang sejujurnya,” kata Mary.
“Kau itu jelek, tapi kau bahkan sudah tiga kali menikah”, lanjut Mary.
“Empat kali,” potong Roseo.
“Sepertinya benar ya, orang jelek memang doyan kawin! Mantan kekasihku yang jelas-jelas tampan dan kaya raya saja, hingga kini belum resmi menikah!” Cerocos Mary.
“Oh, mantan kekasihmu itu pasti penyuka sesama jenis,” komentar Roseo.
Mary langsung mencubit cuping hidung Roseo.
“Kalau aku dan mantan kekasihku itu menikah, aku tidak mungkin menjadi istri ke-empatmu, Roseo,” sungut Mary.
“Lantas kenapa kau dan mantan kekasihmu yang tampan dan kaya raya itu tidak menikah?” Tanya Roseo.
“Kami berpisah karena mantan kekasihku dijodohkan dengan wanita lain,” jawab Mary.
“Kenapa kalian tidak kawin lari? Bukankah kalian saling mencintai?” Tanya Roseo.
“Roseo, mantan kekasihku adalah pria yang memiliki segalanya sehingga tidak etis rasanya jika ia harus kehilangan segalanya demi aku,” jawab Mary.
“Itu artinya pria itu tidak benar-benar mencintaimu. Jika pria itu mencintaimu, dia pasti siap kehilangan segalanya,” sahut Roseo.
“Tidak semudah itu, Ros. Dia punya nama baik keluarga yang harus dijaganya. Dia punya perusahaan dimana banyak orang bergantung padanya. Dan dia punya kehidupan yang tak bisa ditinggalkannya hanya untuk memulai kehidupan baru denganku,” kata Mary.
“Aku tidak mau dia membuat keputusan yang salah dan akhirnya menyalahkanku jika suatu hari nanti ia menyesal atas keputusannya”.
Roseo menatap mata Mary yang nampak berkaca-kaca.
“Huh, sepertinya pria itu sungguh bukanlah pria sejati. Pria sejati adalah pria yang berani menerima segala bentuk konsekuensi atas keputusannya dan pantang menyesal atas keputusan yang sudah dibuatnya!” Sindir Roseo.
“Oh, wah, kau memang sungguh pria yang sejati Roseo, sampai-sampai kau berkali-kali menikah dengan para wanita yang hanya menginginkan uangmu saja!” Mary balas menyindir Roseo.
“Selesai,” Mary beranjak dari pinggir bathtub.
Mary sudah selesai mencukur seluruh brewok di wajah Roseo. Pria itu nampak menjadi pria yang berbeda.
Roseo langsung menarik Mary ke dalam bathtub dan membuat Mary berendam bersamanya.
“Mawary, apa kau tahu, seandainya saja kau tidak pergi ke kota, mungkin aku tidak perlu berkali-kali menikah,” kata Roseo sambil memeluk Mary.
“Hah?! Bagaimana bisa?!” Tanya Mary.
“Semua pernikahan yang kulakukan sebelum aku menikahimu, diatur oleh nenekku,” jawab Roseo.
“Oh,” sahut Mary.
“Seandainya dulu kau tidak pergi ke kota, mungkin nenekku akan menjodohkanku denganmu,” Roseo berbisik di telinga Mary.
"Haha!" Mary tertawa.
“Bayangkan, jika kita sudah bersama selama dua puluh tahun, anak-anak kita pasti sudah beranjak dewasa,” bisik Roseo.
“Haha, Roseo, apa kau memang sungguh begitu gatal sejak dini?” Tanya Mary seraya tertawa.
“Gatal sejak dini?” Roseo balik bertanya.
“Apa dalam kepalamu ini hanya ada kegiatan bercocok tanam dan menebar benih saja?”
“Apa kau tidak punya mimpi besar selain punya anak yang sudah besar-besar?”
Mary memutar tubuhnya dan kini beradu pandang dengan Roseo.
“Roseo, seandainya dua puluh tahun yang lalu nenekmu mengatur perjodohan kita, aku pasti akan menolak!”
“Aku punya mimpi besar, dan itu bukan membesarkan anak!” Ucap Mary dengan tegas.
Roseo menatap Mary yang nampak berapi-api.
“Demi impianku, aku rela tidak berkencan dengan pria manapun sampai aku bisa mendapatkan karir yang kuimpikan. Aku bahkan menolak untuk berhubungan seks dengan kekasihku karena aku tidak mau sampai hamil dan punya anak!”
“Hmm, begitu ya, pantas saja kau masih perawan,” kata Roseo.
“Tentu saja! Aku sangat menjaga diriku demi impianku!” Kata Mary.
Roseo menyeringai ke arah Mary.
“Tapi, sekarang kau harus punya anak dariku," kata Roseo.
“Roseo, aku hanya membantu mewujudkan impianmu agar kau bisa punya anak,” jawab Mary dengan tegas.
“Haha,” Roseo tertawa sambil memeluk Mary.
“Roseo, kenapa kau sangat ingin punya anak dari sebuah pernikahan resmi?” Tanya Mary.
“Tentu saja aku harus punya pewaris yang melanjutkan seluruh usahaku. Aku tidak mau nantinya ladang yang sudah kugarap seumur hidupku itu hanya akan berakhir menjadi kuburanku!”
“Aku ingin punya anak yang menjadi motivasiku untuk bekerja lebih keras demi menghidupi mereka semua,” lanjut Roseo.
“Apa? Mereka semua? Mereka semua ini merujuk kemana Ros?” Tanya Mary terperangah.
“Tentu saja anak-anakku,” jawab Roseo.
“Ehem, anak-anak? Roseo, bukankah kesepakatan kita hanya seorang anak?” Tanya Mary.
“Mawary, bukankah kau sendiri yang bilang aku bisa mendapatkan selusin anak darimu?” Roseo balik bertanya.
“A-apa?! Selusin?” Mary tercengang.
“Ya, aku masih ingat, kau bilang aku bisa mendapatkan selusin anak, makanya aku setuju untuk menikahimu,” sahut Roseo.
Mary rasanya hendak limbung membayangkan ia harus hamil dan melahirkan dua belas anak dari Roseo.
“Ehem, Roseo, dua belas anak itu rasanya terlalu berlebihan. Lagipula aku ini manusia, bukan induk kucing yang bisa melahirkan lima anak dalam sekali kelahiran,” Mary menyeringai kecut.
“Mawary, kita sudah sepakat,” kata Roseo.
Mary memasang ekspresi memelas berharap Roseo bisa memberinya keringanan.
“Jadi, bisakah kita segera memulai untuk mendapatkan anak pertama kita?” Tanya Roseo sambil menyeringai.
Mary mendorong tangannya ke mulut Roseo.
“Roseo, tunggu dulu, jika kau sudah menikah sebanyak tiga kali sebelum menikah denganku, harusnya jika diasumsikan setiap mantan istrimu punya tiga sampai empat anak, bukankah itu artinya, aku sebagai istri ke empatmu ini, cukup punya satu anak saja?” Tanya Mary.
Mary menatap mata tajam Roseo, pria itu terlihat masih tetap bersabar meski saat ini, kesabarannya sedang diuji.
“Mawary, seandainya aku sudah punya anak dari para mantan istriku, aku rasa meski kau mengancamku untuk bunuh diri, aku tidak akan bersedia menikahi wanita sepertimu yang bisanya hanya membuatku bergairah,” sungut Roseo.
Mary mengulas senyumnya lalu membawa Roseo ke dalam pelukannya, membiarkan pria itu melampiaskan hasratnya.
***
“Mas Ros”.
Leo langsung menyambut kedatangan Roseo di depan pintu gerbang.
“Ada apa Leo?” Tanya Roseo.
“Saya sudah berkali-kali menghubungi anda dari semalam,” kata Leo.
“Maaf ya Leo, aku yang mengatur mode senyap di ponsel baru Roseo,” Mary menyeringai.
Ekspresi Leo nampak menegang, melihat Mary yang merangkul lengan Roseo begitu erat, terlihat jelas pasutri itu sudah melewatkan hari-hari penuh keromantisan di luar kota.
“Mantan istri anda datang bersama anak anda,” kata Leo.
“Hah?! Apa?!”