Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kadipaten Jagabaya
Keesokan harinya, setelah makan pagi, Bagus Wirama dan keluarganya bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka.
"Nak Jaka, sekali lagi terima kasih. Jika suatu saat kau melewati Kerajaan Kencana Buana, aku harap kau bisa mampir," ucap Bagus Wirama sambil menggenggam tangan Jaka.
"Sama-sama, Paman. Aku akan mampir jika lewat Kerajaan Kencana Buana. Semoga perjalanan Paman kali ini tak ada halangan lagi dan selamat sampai tujuan," sahut Jaka.
Dari arah belakang Bagus Wirama, Rarasati mendekat. Melihat itu, Bagus Wirama segera menjauh.
"Kang Jaka, sampai bertemu lagi. Ini untukmu," ucap Rarasati sambil menggenggamkan kantung kecil yang disulam indah.
"Terima kasih, Rara," ucap Jaka. Ia sedikit canggung menghadapi wanita karena selama ini belum pernah dekat dengan wanita manapun.
Jaka melambaikan tangan saat kereta kuda yang membawa Rarasati dan keluarganya mulai berjalan menjauh. Setelah kereta kuda itu tak terlihat, ia menatap kantung pemberian Rarasati dan tak sadar menciumnya.
"Harum sekali," gumamnya. Namun saat sadar mukanya memerah. Saat ia memperhatikan, ternyata sulaman itu sulaman seekor Elang Hitam. Jaka mengantungi kantung pemberian Rarasati. Ia memang suka pada Rarasati, namun sebelum ia berhasil membalaskan dendam kedua orang tuanya ia tak bisa berjanji.
Jaka menatap lagi arah kereta kuda menghilang, lalu melesat pergi ke arah berlawanan. Ia ingin menapaki bekas perjalanan Bagus Wirama yang katanya banyak Kadipaten yang bertindak semaunya dan menyengsarakan rakyat.
Jaka berjalan melewati sungai dan hutan, selama perjalanan tak ada gangguan yang berarti.
Namun saat memasuki Kadipaten Jagabaya, hatinya mencelos. Kadipaten yang tadinya terkenal makmur kini seperti kota tak terurus. Rumah-rumah banyak yang rusak tak terawat, dan penduduk berwajah murung. Ia mendatangi satu rumah yang terdengar tangis anak kecil.
"Tok!"
"Tok!"
"Permisi," ucap Jaka sambil mengetuk pintu rumah itu.
"Ya, sebentar," dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki yang diseret.
"Maaf, aden siapa?" pemilik rumah yang seorang ibu paruh baya heran melihat seorang pemuda yang tak dikenalnya ada di depan pintunya.
"Maaf, Bu, saya pengelana. Boleh saya numpang semalam di sini?" pinta Jaka.
Ibu pemilik rumah itu terdiam.
"Maaaak, Didit lapar, Mak!"
Dari dalam rumah terdengar suara tangis anak kecil yang kelaparan.
"Bukan saya ga mau menerima, tapi saya ga punya apa-apa, Den," ucap ibu itu lirih dengan muka sedih.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya butuh tempat bermalam, kalau makanan saya ada." Jaka mengeluarkan bekal miliknya dan memberikan pada ibu pemilik rumah, hanya makanan kering tetapi cukup untuk mengganjal perut.
"Tolong kasihkan ke anak Ibu, kasihan dia sudah kelaparan," ucap Jaka saat menyerahkan makanan kering itu.
"Terima kasih, Den," dengan cepat ibu itu masuk sambil membawa makanan kering itu. Jaka mengikuti dari belakang.
Di dalam rumah seorang anak lelaki menangis sambil memegangi perutnya yang lapar.
"Didit, ini nak makan dulu." Anak itu langsung menyambar makanan yang dibawa ibunya.
"Kakak yang ngasih makanan ini. Terima kasih, Kak," Didit yang sudah makan dan mendengar dari ibunya jika Jaka yang memberinya makanan dengan cepat berterima kasih.
"Sama-sama," Jaka tersenyum dan mengusap kepala Didit dengan lembut.
"Aden duduk dan minum dulu. Maaf hanya air teh tawar yang bisa saya sajikan," ucap ibu pemilik rumah.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya maklum. Tapi, saya heran dengan keadaan Kadipaten ini, katanya Kadipaten ini makmur kok keadaannya ga sesuai?" tanya Jaka.
"Dulu kami makmur, Den, hanya saja sejak lima tahun yang lalu Adipati diganti kehidupan kami berubah total. Pajak dinaikkan, dan parahnya lagi Adipati ini mata keranjang, tak memandang itu istri orang atau masih sendiri jika ia mau ia melakukan segala macam cara untuk mendapatkan," tutur ibu itu menceritakan keadaan Kadipaten Jagabaya.
"Apa tak ada yang melapor ke kerajaan?" tanya Jaka.
"Sudah beberapa kali kami melapor tetapi mereka yang hendak melapor tak kembali lagi," jawab ibu itu.
"Ya sudah, Bu, sudah hampir petang saya istirahat dulu. Ini masih ada makanan, dimakan saja," ucap Jaka, sambil mengeluarkan beberapa bungkus makanan kering.
"Terima kasih, Den," ibu itu berbinar melihat makanan itu, karena ia juga lapar dan makanan ringan yang pertama dikasih Jaka habis oleh Didit seorang.
Jaka diberi satu kamar untuk beristirahat.
Di dalam kamar Jaka mulai berpikir bagaimana caranya membantu warga, pastinya bukan hanya Didit saja yang kelaparan di Kadipaten ini.
Saat tengah malam tiba, satu sosok dengan penutup kepala seperti ninja melesat dari rumah Didit. Gerakannya ringan, sosok itu melesat dari satu pohon ke pohon yang lain yang ada di pinggiran jalan desa. Arah sosok itu ternyata salah satu rumah yang paling besar di sana. Sosok itu berhenti saat sampai di rumah besar itu.
"Di depan ada penjaga, walau aku bisa melumpuhkan tetapi tak lama akan dikepung," gumam sosok itu. Ia memutuskan melompati pagar di sebelah kanan.
Wush!
Tap!
Dengan lompatan ringan sosok itu sudah di halaman rumah itu.
Ia mencari tempat gelap untuk mengawasi gerak-gerik yang ada di dalam rumah.
Saat itu kebetulan seorang prajurit Kadipaten lewat.
Dengan cepat sosok itu memukul prajurit itu hingga pingsan, lalu mengganti baju yang ia pakai. Saat topengnya dibuka, sosok itu ternyata Jaka.
Setelah berganti pakaian prajurit ia pura-pura berjalan biasa, tetapi matanya melirik waspada ke sekitar. Ia mencari jalan masuk ke dalam rumah itu, pastinya banyak bahan makanan yang bisa ia ambil untuk membantu warga.
Ia masuk melalui jendela yang ia bongkar. Keadaan di dalam rumah Adipati bertolak belakang dengan keadaan rakyatnya, rumah itu dipenuhi dengan perabotan mewah.
Jaka terus mengendap-endap hingga ia sampai ke gudang penyimpanan. Benar saja dugaan Jaka bahan makanan di sana bertumpuk hampir memenuhi ruangan itu. Jaka mengambil satu karung beras dan membawanya keluar lewat jalan belakang yang lebih sepi. Dengan ilmu meringankan tubuh bayangan dirinya tak terlihat oleh para prajurit jaga.
Namun ia tak langsung pergi, ia menaruh karung beras itu di tempat yang tersembunyi, dan kembali mengambil beberapa karung lagi. Ia berencana membagikan beras itu pada penduduk besok pagi.
Setelah terkumpul empat karung ia membawa ke rumah Didit, ia beristirahat sambil menunggu pagi.
Saat pagi hari tiba, Jaka bangun dan membisikan sesuatu pada Didit. Didit mengangguk dan keluar rumah.
Tak lama ia kembali dengan tiga orang tua.
"Lasmi, apa benar kau punya beras, tolong pinjami aku satu kilo, keluargaku sudah beberapa hari kelaparan," seorang dari mereka langsung memohon begitu bertemu dengan ibunya Didit.