“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Sayang Papa. Yang kuat ya, Nak, jagoan Papa.” Khale mencium kening Khanza yang masih tertidur pulas.
“Maafkan Papa,” lanjut Khale.
Beberapa saat kemudian, Khanza membuka matanya.
“Om, kok bisa di sini?” tanyanya bingung.
Tersenyum, Khale mengusap lembut kening anak lelakinya itu. “Hari ini ‘kan hari Rabu, waktunya Om antar coklat untuk Khanza dan Khayra.”
Ia lalu mengeluarkan dua batang coklat dari saku celananya.
Sumringah seperti tak terjadi apa-apa, Khanza menengadahkan tangannya. Tanpa ragu dan dengan polos ia mengatakan bahwa ia sangat menunggu pemberian coklat dari Khale.
Senyum itu pun terlihat oleh Syafira yang mengintip adegan anak dan bapak ini dari pintu IGD yang sedikit terbuka, senyum yang sudah lama tak ia lihat dari wajah kedua anaknya.
Tak ingin menunggu lama, Syafira masuk ke dalam ruangan, sedangkan Khayra masih bersama Darma di luar.
“Khanza sudah tidak sakit? Kita pulang, ya,” ajaknya.
“Aku ingin membawanya ke rumah sakit besar, bukan di puskesmas kecil seperti ini. Aku takut ada sesuatu yang tidak terdeteksi dari alat puskesmas di sini,” ucap Khale mantap.
Merasa tak perlu, Syafira lebih tahu kekuatan anak lelakinya itu. “Anakku begitu kuat dan pintar, ia bahkan jarang menangis, dia bukan anak lemah yang baru dipukul sekali langsung harus dirawat di rumah sakit berhari-hari. Dari dalam kandungan saja dia sudah dipaksa kuat oleh keadaan. Buktinya dokter juga bilang dia tak kenapa-napa.”
Terdiam sejenak, Khale tak ingin berdebat dengan sang mantan istri di depan anaknya. Ia lalu mengajak Syafira keluar ruangan dan membiarkan Khanza tetap terbaring sembari beristirahat. “Khanza tetap di sini dulu, ya. Jangan banyak gerak. Khanza tidur siang saja sekalian.”
Keluar ruangan, tatapan Khale bertemu dengan tatapan Darma meski jarak mereka agak berjauhan.
“Siapa dia?” tanyanya ketus.
“Bukan urusanmu. Urusanmu sekarang adalah pergi dari sini. Terima kasih sudah menolong anakku,” jawab Syafira tanpa melihat lawan bicaranya.
Menghela nafas panjangnya, Khale seakan sedang menurunkan egonya. Dengan nada bicara pelan dan lembut, ia meminta maaf atas ucapannya tadi yang membuat Syafira sakit hati. Ia sadar tak seharusnya berkata demikian, karena bagaimanapun, semua ini terjadi karena kesalahannya.
“Sudah aku maafkan, silakan pergi,” balas Syafira dingin.
Memohon untuk tidak dipisahkan dengan anak-anaknya, Khale tak mengapa bila sampai saat ini kembar tak tahu siapa dirinya. “Asal kamu mengizinkan mereka kembali bersekolah di sekolah terbaik di Jakarta. Aku berhak bertanggung jawab penuh atas hidup mereka. Tolong, sekali ini saja buang ego kita masing-masing demi masa depan mereka.”
Memandang tajam, Syafira langsung teringat konsekuensi bila ia kembali ke Jakarta.
“Soal Putra, aku yang akan mengembalikan semua uang yang sudah ia keluarkan untuk kalian. Anggap saja ini memang kewajibanku yang tertunda. Aku janji keamananmu dan kembar akan aku jaga baik-baik. Dia dan orang-orangnya tak akan aku biarkan menemui kalian sedetik pun.” Khale seakan tahu isi hati dan pikiran wanita di sampingnya itu.
Tak ingin berhutang budi, Syafira menolaknya. Ia tak ingin balas budi ini membayar rasa sakit hatinya atas kehancuran hidupnya dan anak-anaknya. Baginya, sampai kapanpun ia sulit memaafkan Khale kembali.
Berlutut, Khale memohon dengan sangat agar Syafira tak menolak keinginannya. “Sekalipun kamu masih membenciku, bahkan mungkin sudah tak ada sedikitpun sisa rasa untukku. Khanza dan Khayra adalah anak kita berdua.”
Melihat adegan ini membuat Darma memalingkan wajahnya.
***
“Jadi benar dia mantan suamimu, Syaf?” Darma mengambilkan minuman untuk bunda kembar itu saat mereka berada di kantin puskesmas untuk beristirahat.
Sementara Khayra dibiarkan tertidur di ruangan tempat Khanza berada.
Mengangguk pelan, tatapan Syafira kosong.
Tersenyum kecut, Darma menyerahkan semua keputusan padanya, setelah Syafira bercerita tentang keinganan Khale yang ingin membawa kembar kembali ke Jakarta, termasuk rencananya yang akan membayar ganti rugi pada Putra.
“Ya sudah, Syaf, mungkin memang baiknya begitu,” ujar Darma pasrah penuh rasa kecewa.
Melihat Syafira masih berbincang dengan Darma, Khale menghampiri mereka dan mengajak Syafira berbicara berdua. Menolaknya, Syafira hanya mengatakan bahwa ia menyetujui permintaan Khale asalkan mantan suaminya itu berjanji tidak akan mengakui dirinya sebagai ayah kembar di depan anak-anaknya. Terdiam cukup lama, Khale akhirnya menyanggupinya.
Sementara itu di Jakarta, Karina tengah menunggu seseorang di sebuah kafe. Hingga tak lama, seorang yang ditunggu pun datang. Ia lalu berdiri dan tersenyum padanya.
Seorang pria yang ditemuinya tidak membalas senyumannya. "Seharusnya kamu kembali bergerak dan tidak diam saja, ini kesempatanmu saat Syafira tak lagi di sini."
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh