NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

Gimana bisa gadis SMA bunuh diri di atap, tapi bukan mati krn jatuh?

Yah, kenapa pula ga bisa?
Ini kan ... Act Zero.

- - -

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.

- - -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT V—{Chapter 3}

   Turun dari lantai empat, kelimanya pun kemudian berbelok menuju koridor lantai tiga. Suara derap sepatu mereka terdengar cukup nyaring, menggema di segala sisi permukaan tembok yang sejauh mata memandang tak terlihat adanya keberadaan orang lain selain mereka. Setiap langkah yang diambil memecahkan gelombang keheningan, menciptakan ritme monoton yang terasa intens. Beberapa larik matahari masuk melalui pembiasan di jendela, membentuk goresan indah berwarna keemasan saat jatuh ke permukaan lantai. Cuaca yang cerah, dengan langit biru tanpa awan dan sedikit angin sejuk kiriman dari daerah perbukitan.

   “Oi, Erica.” Fally menolehkan kepala, memanggil nama gadis tersebut saat ia berhasil menyamakan langkahnya. “Aku masih tidak mengerti kenapa kau memilih hukuman ini. Padahal kurasa merapikan buku-buku di perpustakaan tidak seburuk itu, lho.”

   Kaki Erica mendadak berhenti, membuat ketiga temannya di belakang terkejut dan buru-buru berhenti juga sebelum terjadi tabrakan. Dia memutar sedikit tubuhnya ke arah Fally, menatapnya dengan datar. “Menurutmu begitu?”

   Hari ini Erica memang terlihat jelas berbeda dari biasanya. Mendengarnya membalas dengan kalimat sarkas seperti itu rasanya seperti melihat sosok Irene bersemayam di dalamnya. Ketus, sinis, dan menyebalkan, sangat tidak cocok untuk seorang Erica yang berhati lembut dan hangat seperti malaikat. Namun karena dibalas begitulah Fally dapat tersadar bahwa apa yang dikatakannya memang ada benarnya. Semua gadis kelas 11-2 tahu betul bagaimana Irene mendapatkan hukuman dari para guru. Erica yang sebenarnya bermaksud membela dan membuktikan bahwa sobatnya itu tidak bersalah pun justru ikut terseret menjalani hukuman. Cukup lama dia melewati masa-masa sulit itu, tak disangka semuanya akan berakhir hari ini. Karena besok ... kambing hitam Irene sudah tidak ada lagi.

   “Baiklah, kita mengerti. Mari bekerja keras.” Widya muncul dari belakang, lalu merangkul kedua bahu temannya sambil menunjukkan senyum. 

   Erica kemudian bertanya, “Kelihatannya kalian keberatan, ya?”

   Vira menyahut, “Ah, tidak juga. Sebenarnya kami hanya khawatir tentang gudang 2X. Gudang itu, kan sudah lama tidak terpakai sejak beberapa tahun lalu. Gempa bumi pernah membuat atapnya runtuh, maka akhirnya dibangun gudang baru di lantai satu.” 

   “Bukankah sudah diperbaiki, ya? Tiang besar di dalam gudang, kan dipasang untuk menyangga atap. Kupikir setelah itu gudang itu akan digunakan lagi,” merasa teman-teman di sebelahnya mendadak menghentikan langkah, Erica secara spontan pun juga ikut berhenti. Dia mendongakkan kepalanya. Tepat di hadapannya, berdiri sebuah ruangan dengan ukuran panjang sekitar enam meter. Di kusen pintunya, papan bertuliskan ‘2X’ tergantung. Inilah gudang berhantu yang sering dibicarakan dalam rumor. Mereka sudah tiba di tujuan. “..tapi ternyata tidak.” 

   Hanya dengan berdiri di depannya saja, energi tak biasa serasa berembus keluar melalui permukaan dinding. Memancarkan sensasi termal yang secara fisiologis dapat memicu respons tubuh terhadap ancaman atau ketidaknyamanan. Dingin, mencekam, dan penuh oleh misteri yang tak pernah diketahui mana yang benar dan yang tidak. 

   Gudang ini terletak di lorong terujung, berseberangan dengan ruangan arsip lama—yang sekarang juga terlantar karena pembongkarannya terus ditunda. Dahulu, gudang ini pernah menjadi satu-satunya gudang yang paling sering digunakan. Setiap bulannya selalu ada berbagai macam barang yang masuk dan keluar, menjadi saksi bisu atas hiruk-pikuknya aktivitas sekolah. Namun kini, jangankan dikunjungi, mendengar namanya saja sudah cukup untuk membuat orang enggan datang berkunjung. Bayangan yang terlintas di kepala mereka hanyalah sebuah ruang kosong yang terlantar, terpencil, sunyi, dan dianggap berhantu. Begitulah sampai akhirnya menjadi cerita horor yang populer di kalangan para gadis.

   “Oi, pintunya tidak bisa dibuka!” Erica berusaha keras menggerakkan gagang pintu, tapi bagaimanapun dia mencoba mendorong atau menariknya, hasilnya tetap nihil. Gagang itu sudah berkarat dan hanya menimbulkan bunyi berderit yang membuat sakit telinga, tapi tidak dapat bergerak walau satu inci sekalipun. 

   “Apakah terkunci?”

   Erica menggeleng, masih terus berusaha.

   “Coba dorong lebih kuat.”

   “Apakah ada yang mengganjal di celahnya?”

   “Hati-hati, ya. Kalau gagangnya sampai rusak, kita bisa repot.”

   “Tidak bisa! Sial, pintu ini kenapa, sih?!” Wajah Erica memerah padam. Bukan kesal karena dikomentari macam-macam dan tidak dibantu, melainkan karena ia melihat Irene di sebelahnya sedang memasang senyum tipis. Itu, kan sama saja dengan meledek. 

   “Menyingkirlah, biar aku coba mendobraknya.” Irene mengibaskan telapak tangannya sebagai isyarat, segera Erica pun mundur ke belakang sambil mengerutkan bibir. Dia mulai menyiapkan ancang-ancang dengan mengambil napas dalam, lalu melipat tangannya ke atas sejajar dengan bahunya. Pada ambilan napas kedua, dia mulai mendobrak. Satu kali, gagal. Kedua kalinya berhasil, tetapi hanya terbentuk celah kecil seukuran 30 cm—masih tidak cukup untuk dilewati tubuh manusia. Dengan napas terengah-engah, dia berkata kepada anggota piketnya, “Aku tidak bisa melanjutkannya. Sepertinya debu yang menempel di celah sudah terlalu banyak, lebih lagi engselnya berkarat. Tidak mungkin tidak roboh jika tetap kubuka paksa, kan?”

   “Ya, ya, benar.” 

   “Seingatku, para gadis yang melihat hantu wanita merangkak terbalik, kondisi pintunya juga seperti ini.”

   “Kita sudah berusaha keras.”

   Akhirnya, diputuskanlah mereka berhenti di sana. Setidaknya bila mereka dapat menahan napas guna mengecilkan perut dan melangkah dengan hati-hati, mereka bisa masuk secara bergantian. Fally, Widya, Vira, kemudian Erica, lalu Irene yang terakhir. 

   Begitu kelimanya berhasil memasuki gudang, hal yang pertama kali mereka lakukan adalah terpaku sejenak oleh kondisi gudang yang...

   “Berantakan sekali.”

   “Seperti sudah tidak terawat. Apakah tidak pernah dibersihkan?”

   “Benar-benar terlantarkan.”

   Erica menekan saklar lampu, namun tidak menyala walau berapa kali pun ia mencobanya. Satu-satunya sumber penerangan yang bisa didapat adalah dari cahaya matahari langsung. Maka ia pun pergi untuk membuka jendela. Beruntunglah udara bisa masuk melalui celah sekecil itu, setidaknya untuk mengurangi kelembaban gudang.

   “Bola-bola itu berserakan di mana-mana.” Widya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, menemukan bola kasti tersebar di beberapa tempat. Satu di antaranya ada di dekat kakinya, lantas dia menendangnya hingga bola tersebut terpental dan menabrak bola lainnya.

   “Ayo, kita bergerak sekarang! Jangan ada yang tidak bekerja, ya!” Fally membuat perhatian dengan bertepuk tangan dua kali, lalu beranjak pergi ke salah satu tempat untuk mengumpulkan bola.

   “Oi, tunggu sebentar! Apa di antara kalian ada yang membawa kantong seperti plastik atau semacamnya?”

   Terlontar pertanyaan itu dari mulut Vira, keempat anggota yang baru saja balik badan untuk mulai bekerja, membisu seketika. Baru mereka sadari bahwa mereka pergi ke sana dengan tangan kosong.

   “Akh, ini benar-benar masalah besar. Bagaimana bisa kita membawa bola sebanyak ini tanpa kantong?”

   “Kita tidak mungkin turun ke lantai satu untuk meminta plastik pada Bibi kantin. Itu akan menghabiskan waktu cukup lama.”

   “Baiklah, begini saja. Sambil kita bekerja, kita cari benda berguna di sini. Aku yakin pasti ada yang bisa kita ditemukan.” Selesai kalimat terakhir Fally terucap, keempat anggota piketnya pun mengangguk, kemudian berbaur di tempat-tempat berbeda. 

   Irene pergi ke area tumpukan meja. Meja-meja yang disusun menjadi dua tingkat itu adalah meja tidak terpakai yang mengalami macam-macam kerusakan. Awalnya diletakkan di sana dengan tujuan hendak diperbaiki, namun nyatanya sampai sekarang malah terlantar bersama gudang yang menyimpannya. Di sebelahnya, berjajar tumpukan kardus coklat yang menjulang cukup tinggi. Irene menatapnya sekilas, pandangannya kemudian tertuju pada sebuah kardus yang letaknya ada di paling atas. Kardus itu tampak tidak tersegel, posisinya juga kelihatan tidak rapi, seolah nyaris jatuh tetapi tidak bisa karena tertahan oleh tumpukan kardus di sebelahnya. Setelah berpikir sejenak, Irene langsung tahu bahwa bola-bola kasti yang berserakan di lantai sebenarnya berasal dari kardus tersebut. Entah bagaimana segelnya terlepas dan angin mengguncangnya hingga bola-bola itu jatuh.

   Tunggu.. Rasanya tak masuk akal bila angin yang menyebabkan kekacauan ini. Pasalnya, tumpukan kardus memiliki ketinggian hampir setara dengan tinggi orang dewasa (±180 cm). Benar saja, setelah Irene berpindah posisi untuk mencari tahu jawabannya, dia menemukan di antara susunan kardus itu ada satu kardus yang mengalami cacat. Sisi bagian sampingnya rusak, bahkan nyaris berlubang saking besarnya pukulan yang diterima. 

   Pukulan.. 

   Irene menggaruk tengkuk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Segera ditepisnya perasaan ingin tahu itu dan dia pun berbalik badan guna melanjutkan kembali pekerjaannya. Dia berjongkok di dekat kaki meja, berusaha keras mengambil bola-bola kasti yang setiap kali diraihnya selalu menggelinding lebih jauh. Dua-tiga bola akhirnya berhasil diambil, lantas ia gelindingkan ke belakang (daerah dekat dengan pintu) supaya lebih mudah saat nanti dikumpulkan. 

   Kepala Irene benar-benar kosong sejak tragedi pagi tadi, maka itu dia tidak mengomel atau memaki macam-macam pada bola kasti yang sulit diatur. Entah kenapa kali ini dia merasa senang menjalani hukuman. Ada perasaan lain yang tumbuh di dalam hatinya; perasaan yang menyingkirkan sebagian kegelisahannya. 

   Dia menoleh sebentar pada Erica, tampak tubuhnya sedang tengkurap di lantai guna meraih bola kasti di bawah kursi. Tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, tiba-tiba dia teringat dengan kejadian setahun lalu. Saat di mana si sobatnya itu melindunginya dari Giselle, dan menjadi orang pertama yang melihatnya menangis di bahunya. Sungguh kenangan yang memalukan; dia bersumpah itu akan menjadi yang terakhir kalinya.

   Irene bangkit, berniat pindah tempat. Sesaat tubuhnya sudah dalam keadaan berdiri, dia melihat sekilas tampaknya gudang ini menyimpan suasana agak seram. Cat dindingnya banyak terkelupas dan retak akibat gempa, sarang laba-laba memenuhi sudut langit-langit, juga kondisinya yang berantakan seolah pihak sekolah tidak meletakkan barang-barang dengan teratur. Atau, justru ada sesuatu yang lain, misalnya seperti...

   “Akh!” Irene menjerit, merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Pandangannya mendadak kabur, tanpa sadar tubuhnya berangsur-angsur menyentuh lantai yang dingin.

   “Irene, kau kenapa?!” Erica lari tergopoh-gopoh menghampirinya, bola-bola kasti di tangannya langsung dibuang  begitu saja. “Hei, ada apa? Irene? Irene?” Erica mengangkat rahang wajah si pemilik nama. Manik matanya bergetar, dia jelas tahu itu pasti karena kecemasannya. Tanpa bertanya lagi, dia pun menarik tubuh Irene, mendekapnya.

   “Ada apa? Ada apa?” Ketiga anggota tim piketnya datang dengan wajah panik. 

   “Irene? Apa yang terjadi padamu?”

   “Kau oke?”

   Ketiganya yang tidak mendapat jawaban dari Irene, beralih bertanya pada Erica melalui isyarat mata. Namun Erica hanya menggeleng dan mengangkat bahu.

   “Um, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, apakah tidak sebaiknya kita membawanya ke UKS?” Vira berjongkok,  kemudian memeriksa suhu tubuh Irene melalui pergelangan tangannya. 

   Erica menepuk pelan punggung si pemilik nama, bertanya di dekat telinganya yang masih terhalang oleh tangannya di rambutnya. “Irene, bagaimana? Kau mau istirahat di UKS?”

   Irene menggeleng. “Menjauhlah, Erica.” Dia melepaskan lengan Erica di tubuhnya, beranjak bangkit seolah tidak terjadi apa-apa. 

   “Irene, kau oke?” Erica bertanya lagi. Ketiga anggota tim piketnya pun juga memperhatikan dengan cermat, mengkhawatirkan dirinya. 

   “Aku tidak apa-apa.” Irene balik badan, melenggang pergi sembari merapikan rambutnya yang berantakan. 

   “Kau tidak perlu memaksakan diri. Akan lebih baik jika kau mengutamakan—”

   “Kubilang aku tidak apa-apa! Kau tidak dengar?!” 

   Erica tersentak, juga ketiga anggota di sebelahnya. Ini kali pertama ia mendengar Irene berbicara dengan intonasi kasar, juga kali pertamanya ia melihat mata yang ditujukan kepadanya seperti sebilah pisau yang mampu menembus hatinya. Erica menundukkan kepala, mengambil napas sembari mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah suatu hal besar. Bukan pula salah Irene untuk memiliki kecemasan berlebihan. Dia hanya tidak cukup tahu tentangnya, hanya bisa menilainya dari luar. Maka kini ia sadari, ternyata seperti inilah rasanya hidup dalam kapal. Kadang-kadang gelombang ombak menerjang kuat, kadang-kadang pula muncul dengan tenang. Tidak stabil. Selalu mendatangkan takut, padahal kaki menjejak kuat. Selalu diliputi perasaan bersalah, padahal yang diketahuinya hanyalah menghukum diri demi rasa aman. 

   Setelah Irene membalikkan badan dan pergi, anggota yang lain juga ikut membubarkan diri. Mereka berpencar di tempat-tempat berbeda, kembali melanjutkan pekerjaan.

   “Vira!” seru Fally. Dia datang menghampiri, membawa setumpuk bola kasti yang berhasil dikumpulkannya di dalam jas seragam. “Kau menemukan barang berguna, tidak?” 

   “Ya, aku menemukannya! Ini dia!” Vira melambaikan tangannya, memamerkan sebuah karung berwarna pucat di genggamannya. 

   Lantas para anggota pun datang berbondong-bondong, menyerahkan setoran bola kasti secara bergilir. Karung yang semula terasa ringan lama-kelamaan bertambah berat. Vira berpikir sepertinya ia harus menyeretnya untuk bisa menuruni tangga dan membawanya sampai ke tempat pembakaran sampah di belakang sekolah.

   “Dari mana kau mendapatkannya?” Erica mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sorot matanya tampak tidak biasa. Dia bahkan tidak menatap wajah gadis berambut kepang dua itu, hanya fokus menelisik karung tersebut.

   “Di sana.” Vira mengulurkan tangannya ke suatu tempat, menunjuk sebuah lemari tua yang letaknya persis di belakang tumpukan meja dan kursi. Kalau tidak diperhatikan baik-baik memang tidak terlihat karena jajaran benda di depannya menghalangi. 

   “Aneh.” 

   “Kenapa? Merepotkan karena terlalu besar, ya?”

   “Tidak, bukan begitu. Aku hanya penasaran ... bagaimana bisa karung itu ada di sini? Siapa yang membawanya?” Pikir Erica, kalau memang pihak sekolah yang menggunakannya, seharusnya ada lebih banyak karung serupa di gudang ini. Itu pun biasanya dilipat dan ditata dengan rapi, juga kadang-kadang sampai diikat. Tapi karung ini? Karung ini ditemukan Vira tergeletak sembarang di dekat lemari tua, lebih lagi jumlahnya hanya satu. Dilihat dari keadaannya yang sudah kumal dan kotor pun siapa pun bisa menyimpulkan itu adalah bukti kuat bahwa karung itu dibuang ke sana dengan sembarang, dengan sengaja. 

   Pertanyaannya, 

   Siapa orang itu? Siapa yang membawanya? Dan untuk apa?

   “Akh!” Irene menjerit, meringis sakit bukan karena tangannya tergores kayu saat hendak mengambil bola, tetapi karena sakit yang berasal dari dalam kepalanya. Dia memejamkan matanya kuat-kuat, berkali-kali memukul lantai dengan harapan sakitnya dapat mereda. 

   Sebuah bayangan hitam datang mendekat. Irene mendongakkan kepalanya, mendapati Erica tengah berdiri sejauh satu meter darinya. Hanya diam, tak mengatakan apa-apa seolah tahu bahwa dirinya akan membentaknya lagi seperti sebelumnya.

   “Kau yang paling tahu Erica banyak mengkhawatirkanmu, oi, beruang laser.” Fally tiba-tiba muncul dari belakang, menyahut. “Bersikap baiklah, jangan berbuat kasar padanya.” 

  Irene beranjak bangkit dengan perlahan, menggunakan dinding sebagai tumpuan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Saat ia hendak pergi, pergerakan kakinya dihentikan oleh Erica.

   “Irene,” panggilnya.

   Si pemilik nama tidak membalikkan badan, hanya menolehkan kepala sedikit. “Aku tidak apa-apa. ...Sungguh.” 

   Setelah balasan itu, Irene benar-benar pergi. Fally, Vira, dan Widya sempat hendak menyusul, namun Erica merentangkan tangannya dan berkata bahwa Irene memerlukan sedikit waktu untuk sendiri. Ia yakin gadis itu akan kembali—walau tanpa menjelaskan—setelah dirasa kondisinya telah membaik. Akhirnya mereka pun manut saja sambil menghela napas dan menatap punggung gadis itu dari kejauhan. 

   Irene menjatuhkan tubuhnya ke lantai, bersandar pada sebuah lemari tua. “Gudang ini..” Kakinya ditekuk, dipeluk dengan kedua lengannya, lalu ia benamkan wajahnya di sana. Dalam posisi itu, berulang kali ia mencoba mengatur napasnya. Tarik dan embuskan, dua kali sampai lima kali. Tiga puluh detik, tak terasa lima menit telah berlalu. “Aku kembali ... ke sini.”

  Irene mengangkat kepalanya, mengedarkan pandangannya pada segala objek di dalam gudang. Debu tipis melayang di bawah larik matahari, jatuh menerpa beberapa keramik yang pecah dengan bercak darah mengering. Itu pasti ulah anak-anak nakal yang tetap nekat masuk dan berbuat onar, tidak mengindahkan peringatan akan bahayanya gudang ini. Beberapa tahun lalu, gempa bumi meruntuhkan sebagian atap dan meninggalkan lubang besar yang kini hanya ditutup seadanya. Meski telah diperbaiki dengan menata ulang isi gudang serta menambahkan tiang penyangga atap, itu tidak cukup untuk menutup kemungkinan akan tidak terjadinya bahaya. Patahan kayu dan kabel yang menjuntai di langit-langit juga seharusnya sudah menjadi peringatan jelas bahwa reruntuhan berikutnya bisa terjadi kapan saja tanpa diduga.

   “Bagaimana bisa aku melupakannya..” Irene membenamkan wajahnya pada tangan kiri, sementara tangan kanannya memukul pelan dadanya yang terasa sesak. Dalam penyesalannya, manik matanya melirik ke sebelah, tempat di mana Vira menunjuk sebuah karung besar ditemukan. Bukan hanya gudang, kini akhirnya ia telah ingat semuanya—termasuk karung yang dapat memuat satu ekor kambing itu. Ini bukanlah kali pertamanya menjejakkan kaki di gudang 2X. Tiga tahun lalu ... dia pernah datang kemari.

   “Auw..” Erica menjerit, meringis sakit.

   Suaranya terdengar sampai ke telinga Irene, sukses memecahkan keheningannya. Segera ia pun bangkit dari sana dan pergi menghampirinya. 

   “Kau kenapa, Erica?” Widya yang paling terakhir tiba, bertanya penuh kekhawatiran. 

   “Tidak apa-apa. Aku hanya... Akh!” Erica menjerit lagi. Bukan karena luka gores di telapak tangannya terasa perih, tetapi karena Irene sengaja menekan lukanya saat ia menempelkan plester. 

   Ketiga anggotanya yang menyaksikan hal itu hanya bereaksi datar, tidak berkomentar. Mereka jelas tahu bahwa kedua gadis itu sangat peduli dan saling menjaga satu sama lain, setidaknya pada mereka tidak boleh ada kebohongan tentang diri sendiri. Jika sakit, maka bilang sakit. Jika tidak, maka buktikan. Tidak perlu ditutup-tutupi. 

   “Oi, Irene. Bagaimana dengan keadaanmu sendiri? Kau sudah oke?” Fally bertanya, bermaksud membalikkan situasi.

   Irene tidak mengangguk, tidak pula menggeleng, hanya menatap datar lalu memalingkan wajahnya. Dia memastikan sekali lagi plester yang ia tempelkan di tangan Erica. Setelah dirasa tidak ada yang salah dan lukanya dapat terlindungi dari kontak luar, ia pun beranjak pergi, kembali ke tempatnya semula. Melihat punggung seseorang yang sedang diajak bicara tiba-tiba berbalik dengan seenaknya, Fally kesal. Namun kemudian Erica mengatakan bahwa itu artinya kondisi Irene telah membaik. Karena jika jawabannya tidak, gadis itu tidak akan datang menghampirinya. Beruntungnya sejauh ini mereka menjalin hubungan sebagai teman, belum pernah hal itu terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!