Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Farhan
👩👦👦Selamat membaca👩👦👦
Jadilah kau orang yang kuat, dalam arti orang kuat adalah orang yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi cobaan.
Saat ini Sofi sudah dipindahkan ke ruang perawatan kelas 1 dirumah sakit itu. Farhan, ibu dan Nisa masih setia mendampinginya. Sedang dari keluarga Faiz belum ada yang muncul tapi mama Sarah sempat telfon dan meminta maaf belum bisa menjenguk, karena masih banyak pelayat yang datang setelah dari pemakaman.
Sofi bisa memaklumi itu, dia sendiri sebagai istri yang telah ditinggalkan tidak ada kesempatan menangis dan meratapi kepergiaan suaminya. Ada dua bayi yang membutuhkan kehangatan dekapannya.
Ibu:" Cucu ibu cantik dan ganteng ya ." memandang dan tersenyum haru, ibu melihat di box bayi itu kedua bayi sedang tidur pulas. Mereka bayi yang sehat karena lahir berusia 7 bulan, hari yang sama saat kepergian papa dari bayi malang itu.
Sofi berusaha tersenyum tapi matanya berkaca kaca, sekuat kuatnya dia menahan tetap saja air mata itu mengalir, mengingat ayah dari kedua bayi telah tiada. Hingga membuat mata Sofi bengkak, menghitam disekitar mata seperti mata panda.
Ibu yang setia menemani merasa terenyuh, ikut larut dalam kesedihan Sofi. Ia lalu mendekati anaknya yang masih saja meneteskan air mata.
Ibu :" Nak, istirahatlah, ini sudah malam, kau harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisimu." Setetes air keluar dari mata Sofi.
"Kau harus kuat untuk bayi bayi ini, jangan sampai kau jatuh sakit ya." kata ibu sambil membelai wajah Sofi. Dia tahu anaknya masih sangat berduka atas kepergian ayah dari bayinya.
Farhan dan Nisa yang juga ada di ruang itu hanya bisa diam. Nisa membuang muka, lalu menengadahkan wajah, berusaha agar tak ikut menitikkan air mata. Bahkan ia sampai menggigit bibirnya agar tidak terisak. Sedang Farhan yang sudah tak tahan dengan keadaan itu segera berdiri dan keluar ruangan. Ia tak mau air matanya ikut tumpah di sana.
Satu jam telah berlalu, Farhan yang keluar mencari udara segar telah kembali. Menenteng sebuah tas kresek.
"Ibu, Nisa. ini saya bawakan camilan dan juga minuman. Kalian pasti haus kan?" Nisa menerima tas kresek pemberian Farhan.
"Makasih, bang!" Lalu membuka isinya. Mengambil dua botol kecil air mineral, menyerahkan satu untuk ibunya.
Farhan lalu mendekati box bayi, mengamati mereka. Bayi yang lucu dan imut, dengan gelang nama di pergelangan tangan. Ia tersenyum sendiri melihat bayi itu menggerak gerakkan mulut mungilnya. Mata keduanya terpejam.
"Maaf, Pak! kedua bayi sudah waktunya menyusu." Farhan mengangguk lalu menyingkir dari tempatnya berdiri.
Lalu ia beralih mendekati Sofi dan duduk di ranjang sebelah kaki Sofi. Terlihat sekali wajah itu lelah.
"Kami mau makan apa, Sof! Biar aku ambilkan?" Sofi menggeleng tanda tak mau.
"Tapi, kamu harus makan. Jangan sampai kau sakit, kasihan ibu sama Nisa, kalau sampai kau sakit. Mereka juga harus mengurus kedua baby."
"Aku ambilkan Roti ya, Atau nasinya?" tawar Farhan lagi. Ia begitu perhatian pada Sofi.
Akhirnya Sofi nyerah, Farhan terus saja menceramahinya, hingga ia merasa bosan dan minta diambilkan nasi jatah dari rumah sakit.
"Makasih!" ucap Sofi saat menerima makanan di piring.
Sofi, " Mas Farhan, terima kasih ya atas pertolonganmu hari ini. Dan juga, aku minta maaf, aku banyak merepotkanmu." Air mata Sofi sudah hampir jatuh lagi.
"Jangan kau luruhkan air matamu lagi di hadapanku Sof, aku tak akan tahan melihatnya."
"Ibu benar, kamu harus kuat untuk mereka."
"Dan lagi aku tak merasa kau repotkan, aku malah senang bisa menemanimu di saat yang berat seperti ini. Aku senang aku bisa mengadzani mereka juga, bagiku ini pengalaman yang tak akan aku lupakan." Farhan tersenyum tulus.
"Jika nanti aku menikah dan istriku mau melahirkan, setidaknya aku tidak akan terlalu gugup karena aku sudah punya pengalaman." katanya sambil tersenyum. Lagi.
Suster telah pergi, kedua bayi sudah kenyang menyusu dari ASI Sofi yang di kop. Farhan menoleh pada ibu dan Nisa.
" Ibumu benar, kau harus kuat untuk anak anak kalian. Jika kau memerlukan sesuatu jangan sungkan untuk memberitahuku. sebisaku aku akan memenuhinya jika menyangkut anak anakmu." Sofi hanya diam. Rasa bersalahnya begitu besar.
"Mereka sangat lucu Sof, aku suka berada dekat mereka. Aku yakin dengan adanya mereka kesedihanmu akan berkurang." Sofi mengangguk.
Mereka terdiam cukup lama, dan keadaan cukup canggung.
Sofi: "Ehm Mas farhan, ini sudah malam, mas pulanglah dulu, besok mesti Farhan mesti kerja bukan?" sebuah pengusiran halus.
"Mas Farhan pulang dan istirahat saja di rumah. Disini ada ibu sama Nisa, gak usah khawatirkan kami. Besok pagi mungkin mertuaku juga pasti datang." kata Sofi memecah keheningan ruangan.
Farhan "Kau mengusirku?" terdengar nada kecewa dari suaranya.
Sofi menggeleng, membuka mulut mau bicara tapi ibu lebih dulu.
Ibu :" Iya, nak Farhan. Sebaiknya kau pulang. Sudah malam."
" Terimakasih banyak, ya. Karena sudah membantu kami, hanya Alloh yang bisa membalas kebaikan Nak Farhan. "
"Bukan maksud mengusir, hanya tak baik saja kau ada disini semalam ini, sedang Sofi suaminya baru meninggal."
" Takut keluarga Faiz berpikir yang tidak tidak tentang kalian."
Farhan menghela nafas. "Baiklah kalau begitu, saya pamit pulang. Jangan lupa kalau kau butuh sesuatu jangan sungkan mengatakannya padaku. Dan untuk biaya administrasi sudah saya lunasi di depan, jadi tak perlu khawatir. Assalamualaikum."
Sofi dan ibunya berpandangan.
Sofi :" Waalaikum salam, eh Tapi mas!" Sofi meraih hapenya. Aku minta nomer rekening mas Farhan, biar saya ganti transfer!"
Farhan menggeleng.
"Aku mau kembalikan uang mas Farhan." ucap Sofi saat Farhan sudah beranjak dari tempatnya.
" Tak perlu Sof, aku ikhlas dan aku mohon jangan menolaknya." Kata Farhan setelah itu berlalu pergi, mereka bertiga berpandangan.
Sofi :" Saya akan mengembalikannya nanti bu!"
Setelah Farhan pergi ruangan sepi kembali, Nisa merebahkan tubuhnya di sofa. Begitu juga Sofi masih terjaga tapi pikirannya melayang entah kemana. Sedang ibu duduk di samping box bayi dan memperhatikannya intens kedua cucunya tersebut. Hari ini begitu melelahkan.
Sementara itu Farhan yang baru keluar dari area rumah sakit, melajukan mobilnya sedang kearah rumah tempat tinggalnya selama ini. Hari ini begitu banyak kejutan baginya.
Setelah Sofi memutuskan menikah dengan Faiz beberapa bulan yang lalu, hatinya begitu hancur. Rencana yang sudah ia susun matang untuk menikahi Sofi, pupus sudah. Cincin nikah sudah ia persiapkan, Tapi Tuhan berkehendak lain.
Bahkan dia nekat berniat menabrakkan dirinya ke sebuah mobil pada suatu malam di sebuah jembatan. Dia sudah benar benar gelap mata.
Flashback on
Malam itu saat ada mobil melintas, dengan cepat Farhan berjalan, pura pura menyeberang.
Tapi nasib baik masih berpihak padanya, sopir mobil sepertinya sudah ada firasat dan memperkirakan kalau pria dipinggir jembatan itu akan nekat, sehingga ia memperlambat laju mobil dan mengerem disaat yang tepat. Walaupun yang menjadi korban adalah tubuh istrinya yang membentur dashboard mobil, tapi itu lebih baik. Farhan hanya lecet ditangan karena jatuh membentur mobil dan sedikit terpental.
Pemilik mobil segera membawa Farhan ke rumah sakit untuk diobati. Pria paruh baya dan istrinya yang terlihat sangat sabar itu meminta Farhan bercerita apa sebabnya hingga dia nekat. Maka meluncurlah cerita dari Farhan tentang yang terjadi padanya tanpa ada yang ditutupi. Hingga pria paruh baya tersebut memberinya alamat dan memintanya untuk datang ke rumah di hari minggu, saat mereka sekeluarga sedang di rumah.
Hingga waktu pun tiba. Pada minggu itu Farhan benar benar datang ke alamat tersebut, rumah yang asri dengan halaman yang cukup luas. Bukan rumah modern tapi sangat bersih dan tertata rapi.
Farhan mengetuk pintu depan dan mengucap salam.
"Assalamualaikum," Farhan berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikumussalam. " terdengar sahutan seorang wanita dari dalam rumah. Tak berapa lama pintu terbuka dan muncullah wanita paruh baya, istri dari pria yang kemarin menyuruhnya ke rumah. Sebut saja Umi Aisyah.
Bu Ais, " Eh, Nak Farhan. Mari silakan masuk! Bapak sudah nunggu lho dari tadi dan kami senang Nak Farhan mau datang ke sini." ucapnya ramah.
Farhan, " Benarkah Bu? kalau begitu maaf kalau saya terlambat,"
Bu Aisyah :" Gak apa, ayo silakan masuk! Bapak ada di ruang belakang."
Farhan mengikuti langkah Umi Aisyah ke belakang, sampailah mereka di taman belakang rumah. Dia melihat Pak Ali, nama bapak itu, berdiri membelakanginya. Di depannya terdapat kursi roda yang diduduki oleh seseorang.
Bu Ais :" Abi! Ini lho anak yang ditunggu udah dateng," kata umi Aisyah pada suaminya.
Farhan :" Assalamualaikum pak,"
Pak Ali :" Waalaikum salam. Alhamdulillah, ternyata datang juga kamu Nak Farhan. Tadi abi pikir kamu gak akan mau kemari." Abi Ali menghampiri Farhan.
" Bagaimana dengan lukamu, sudah membaik kan?"
Farhan :" Alhamdulillah, sudah pak!" sambil memperlihatkan luka di tangan dan siku yang terkena aspal yang hampir kering.
Pak Ali :" Syukurlah. Oh iya, Kenalkan Ini anak saya satu satunya namanya Fitri, umurnya 13 tahun. Ayo Fitri, kenalan sama kakak Farhan." Gadis itu tersenyum.
Fitri :" Hai kak, namaku Fitri,"
Farhan "Hai juga, panggil aja kak Farhan ya!" Mereka saling menyapa dan tersenyum. Farhan memperhatikan gadis kecil itu, cukup cantik sebenarnya tapi sangat kurus. Sepertinya ia menderita suatu penyakit.
Bu Ais : "Kalau begitu, Yuk kita ngobrol di sana sambil minum, Nak" ajak bu Ais menunjuk ke gazebo yang di pinggir taman, ada kolam air mancur juga menambah segar suasana taman di sore itu.
Mereka ngobrol kesana kemari berempat beberapa saat.
Hingga akhirnya pak Ali bicara serius.
"Ayo Fit, kita masuk dulu," ajak Bu Aisyah pada anak perempuannya. Fitri pun mengangguk. Setelah bu Ais dan Fitri sudah tak terlihat, pak Ali bicara serius dengan Farhan.
Pak Ali :" Nak Farhan, kau boleh memanggil kami Abi dan Umi seperti Fitri manggil kami. Kami berumah tangga hampir 13 tahun, baru Umi hamil. Selama 13 tahun itu yang kami lakukan berdoa dan berusaha terus menerus, tanpa kenal putus asa. Hingga akhirnya Umi hamil dan melahirkan Fitri. Dia kami namakan Fitri karena lahirnya bertepatan dengan Hari Raya.
Saat itu kami sangat bahagia, anak yang dinanti akhirnya hadir juga ke tengah tengah kami. . Semua kasih dan sayang kami curahkan kepadanya. Dia anak yang ceria dan aktif, dia juga berprestasi di sekolahnya. Hingga pada saat naik kelas 5 SD Fitri di vonis kena leukimia ,karena sering mengalami mimisan dan merasa badannya lemas. Hingga saat ini kami berusaha untuk memberikan pengobatan untuknya sampai saat ini. Kami hanya bisa pasrah, saat dokter memvonis usia Fitri sudah tak lama lagi karena penyakitnya." Wajah Pak Ali yang semula ceria kini berubah menjadi muram.
Farhan terhenyak, tak menyangka kehidupan mereka seperti ini. Namun ia tak bisa berkata spa apa.
Pak Ali :" Maaf nak Farhan, kau kami undang hanya untuk dengar keluh kesah kami, kami hanya ingin nak Farhan membuka mata dan hati. Bahwa apa yang nak Farhan alami itu, masih banyak orang yang lebih susah dari kita. Dan jangan lah suka berpikir pendek, seperti yang pernah nak Farhan lakukan malam itu. Nak Farhan sendiri yang akan rugi. "
Farhan menunduk, ia merasa malu, ia bisa merasakan kesusahan yang dialami pak Ali, Ia tahu seperti apa leukimia. Adalah penyakit yang belum ada obatnya. Mereka telah berkeluarga lama tak mempunyai keturunan, giliran diberi keturunan, masih juga diuji dengan penyakit mematikan.
Farhan :" Saya berterima kasih pada Abi juga Umi , yang berusaha menyadarkan saya, saya benar benar khilaf waktu itu. Ke depannya saya janji saya akan lebih baik lagi, sekali lagi terima kasih."
Pak Ali menepuk bahu Farhan, dan merasa lega, usahanya telah berhasil menyadarkan Farhan.
Pak Ali :" Kalau boleh tahu apa pekerjaan nak Farhan?"
Farhan:" Awalnya saya seorang sopir pribadi, tapi karena saya sedang frustasi dan sering bolos kerja, saya dipecat majikan saya Abi, sekarang saya lagi mencari pekerjaan."
Pak Ali :" Saya lagi membutuhkan jasa sopir untuk mengantar Umi atau Fitri jika ada keperluan keluar dan jika berobat , apa nak Farhan bersedia jadi sopir saya?"
Begitulah akhirnya Farhan jadi sopir Pak Ali, waktu luangnya digunakan untuk menemani Fitri menggambar, karena Farhan suka menggambar , terutama gambar rumah. Fitri sangat antusias belajarnya, hingga Pak Ali melihat hasil gambar Farhan merasa bangga. Suatu hari salah seorang kenalan Pak Ali membutuhkan jasa Arsitek , lalu ia merekomendasikan Farhan pada temannya, dan teman pak Ali merasa sangat puas dengan hasil kerja Farhan, dari situlah Farhan akhirnya dikenal sebagai seorang arsitek .
Tapi sangat disayangkan nyawa Fitri tak tertolong karena leukimia yang menggerogoti tubuhnya, sehingga sering keluar masuk rumah sakit, dan pernah sekali saat ke rumah sakit Farhan tak sengaja bertemu Sofi. Farhan juga menjadi anak angkat mereka, karena merasa iba Farhan tetap mau tinggal bersama mereka.
Sebenarnya Farhan mempunyai seorang adik laki laki yang sedang kuliah, Farhan juga yang membiayainya. Ibunya seorang janda yang ditinggal pergi ayahnya entah kemana. Terakhir Farhan melihat ayahnya pada usia 10 tahun, setelah itu ayahnya pergi entah kemana sampai sekarang pun tak pernah kembali, hilang tanpa jejak.
Dua bulan yang lalu ibunya menghembuskan nafas terakhir karena ibunya memang sakit sakitan sejak ditinggal ayahnya, dan sejak ibunya meninggal adik Farhan yang bernama Marwan juga tinggal bersama dirumahnya pak Ali atas desakan Pak Ali dan istrinya .