NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Abimana menoleh, memberikan senyum tipis—jenis senyum tulus yang jarang ia perlihatkan. "Sarapan. Aku membuatkan nasi goreng untukmu. Maaf kalau tampilannya tidak seindah buatanmu, tapi aku mengerjakannya sendiri."

​Arunika berjalan mendekat, menatap piring di atas meja. Aroma bawang putih dan mentega itu memang menggoda seleranya yang sejak semalam terasa pahit. Namun, egonya masih berbisik agar tetap waspada.

​"Terima kasih. Tapi aku bisa membuatnya sendiri, Mas. Kamu seharusnya istirahat." sahut Arunika dingin, meski matanya tak bisa berbohong bahwa ia terkesan dengan usaha suaminya.

​"Aku butuh membuktikan ucapanku, Nika. Dan ini dimulai dari hal terkecil yang bisa kulakukan di rumah ini." jawab Abimana lembut. Ia menarikkan kursi untuk Arunika. "Silakan duduk. Setelah ini, aku juga ingin bicara soal jadwal bimbinganmu... dan keputusanku soal Claudia."

​Arunika menarik napas panjang, ia duduk dengan kaku. Di hadapannya, Abimana tidak lagi terlihat seperti dosen idola yang dingin, melainkan seperti pria yang sedang meniti jembatan rapuh untuk kembali ke hatinya.

​Arunika duduk perlahan, memperhatikan uap tipis yang membumbung dari piring nasi goreng di depannya. Kesunyian pagi itu terasa berbeda; biasanya penuh dengan ketegangan yang menyesakkan, namun kali ini ada semacam kehangatan asing yang mencoba menyusup di antara mereka.

​Abimana duduk di seberangnya, tidak langsung makan. Ia justru memperhatikan Arunika dengan saksama, memastikan istrinya mencicipi suapan pertama.

​"Bagaimana rasanya?" tanya Abimana hati-hati, ada nada kecemasan yang terselip di suaranya, seolah ia sedang menunggu hasil ujian yang paling menentukan.

​Arunika mengunyah pelan. Rasanya... jujur saja, sedikit terlalu asin, dan bawang putihnya ada yang agak gosong. Namun, tekstur nasi yang keras itu entah kenapa terasa lembut di tenggorokannya. Ia tahu betapa sulitnya seorang Abimana Permana—pria yang tangannya hanya terbiasa memegang pena dan mengetuk palu sidang—harus berkutat dengan uap minyak di dapur.

​"Lumayan. Meski agak asin." jawab Arunika singkat, tetap berusaha menjaga benteng pertahannya agar tidak runtuh begitu saja.

​Abimana tersenyum lega, tidak tersinggung sama sekali dengan kritikan itu. "Aku akan belajar lagi besok agar rasanya pas. Makanlah yang banyak, Nika. Kamu butuh tenaga untuk hari ini."

​Sepanjang sarapan, Abimana tidak berhenti menunjukkan perhatian-perhatian kecil. Ia menuangkan air putih untuk Arunika bahkan sebelum gelas istrinya kosong. Ia juga tidak lagi sibuk dengan ponselnya seperti biasanya. Fokusnya pagi ini hanya satu: Arunika.

​Selesai sarapan, Arunika hendak membereskan piring, namun tangan Abimana dengan cepat menahan pergerakannya.

​"Biar aku saja. Kamu bersiaplah, aku akan memanaskan mobil." ucap Abimana lembut.

​Arunika menatap tangan Abimana yang masih terasa hangat di pergelangan tangannya. "Mas, aku bisa naik taksi. Kamu masih pucat, sebaiknya jangan memaksakan diri menyetir."

​"Aku ingin menebus waktu di mana aku membiarkanmu pulang sendirian dan menungguku di kelas kemarin, Nika. Tolong, biarkan aku mengantarmu." pinta Abimana dengan sorot mata yang begitu memohon.

​Arunika terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Aku ambil tas dulu."

​Di dalam mobil menuju kampus, suasana tidak lagi sedingin kemarin. Meski Arunika masih banyak diam dan menatap ke luar jendela, Abimana sesekali memulai obrolan ringan tentang topik perkuliahan hari ini, berusaha membangun kembali komunikasi yang sempat terputus total.

​Namun, ketenangan itu terusik saat mereka hampir sampai di gerbang fakultas. Abimana melihat kerumunan mahasiswa di depan gedung utama, dan di tengah-tengah mereka, Claudia berdiri dengan wajah yang tidak bisa ditebak, memegang sebuah map besar.

​Abimana mengeratkan pegangannya pada kemudi. Ia melirik Arunika yang juga menyadari keberadaan wanita itu.

​"Nika." panggil Abimana mantap. "Apapun yang dia katakan atau lakukan nanti, jangan lepaskan tanganku. Hari ini, aku akan menunjukkan pada semua orang siapa yang sebenarnya berhak berdiri di sampingku."

​Mobil berhenti tepat di depan gedung utama. Ketegangan di dalam kabin terasa memuncak saat Abimana mematikan mesin. Di luar sana, Claudia melangkah maju, membelah kerumunan mahasiswa yang mulai berbisik-bisik menyaksikan kedatangan mobil sang dosen idola.

​Abimana turun lebih dulu, lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Arunika. Sebelum Arunika sempat melangkah keluar, Abimana mengulurkan tangannya—sebuah ajakan terbuka di depan mata publik. Arunika sempat ragu, namun sorot mata Abimana yang teguh membuatnya akhirnya menyambut tangan itu.

​Begitu mereka berdiri bersisian, Claudia menghambur maju dengan wajah yang kacau antara amarah dan kehancuran.

​"Abi! Apa-apaan ini, hah?!" teriak Claudia, suaranya melengking menarik perhatian lebih banyak orang. Ia mengayunkan map besar di tangannya. "Aku baru saja dari ruangan Dekan dan mereka bilang kamu mengundurkan diri sebagai pembimbingku secara sepihak! Kamu gila?!"

​Abimana tidak melepaskan genggaman tangannya pada Arunika. Ia justru menarik Arunika sedikit lebih dekat ke sisinya.

​"Saya tidak gila, Claudia. Saya hanya sedang menegakkan batasan yang seharusnya sudah saya lakukan sejak lama." jawab Abimana dengan suara berat dan tenang—suara khas seorang dosen yang sedang memberikan putusan mutlak.

​"Batasan? Kita sudah berhubungan selama dua tahun, Abi! Kamu membuangku hanya demi... demi gadis yang dipaksakan untukmu?!" Claudia menunjuk Arunika dengan telunjuk yang gemetar karena emosi.

​"Cukup, Claudia!" potong Abimana tajam. Tatapannya mendingin. "Dia adalah istri saya. Arunika adalah nyonya di rumah saya, dan mulai hari ini, dia adalah satu-satunya prioritas saya. Jika kamu keberatan dengan keputusan akademik saya, silakan bicarakan dengan Kaprodi. Secara profesional, saya sudah menyiapkan pengganti yang lebih kompeten untukmu."

​"Tapi Abi, kamu tahu aku mencintaimu!" tangis Claudia pecah, ia mencoba meraih lengan Abimana, mengabaikan fakta bahwa mereka sedang menjadi tontonan satu fakultas.

​Abimana melangkah mundur satu tindak, menjaga jarak. "Cinta tidak memberi Anda hak untuk menghina istri saya atau mengganggu ketenangan rumah tangga saya. Tolong jaga martabat Anda sebagai mahasiswa."

​Arunika, yang sejak tadi hanya diam, merasakan genggaman tangan Abimana mengerat—seolah pria itu sedang menyalurkan seluruh kekuatannya untuk melindunginya. Ia menatap wajah samping Abimana yang kini tampak begitu berani. Untuk pertama kalinya, Arunika melihat suaminya benar-benar bertarung untuknya, bukan untuk menjaga nama baik keluarga, tapi murni untuk harga dirinya sebagai seorang istri.

​"Ayo, Nika. Kita masuk." ajak Abimana lembut, mengabaikan Claudia yang kini terduduk lemas di aspal sambil terisak.

​Mereka berjalan membelah kerumunan mahasiswa yang terpaku. Bisik-bisik yang tadinya bernada miring kini berubah menjadi decak kagum. Langkah Abimana begitu mantap, menuntun Arunika menuju koridor kelas dengan tangan yang masih tertaut erat.

​Setelah sampai di depan pintu kelas Arunika yang masih sepi, Abimana berhenti. Ia melepaskan genggamannya, lalu beralih merapikan anak rambut Arunika yang sedikit berantakan.

​"Aku sudah membuktikannya di depan mereka, Nika." bisik Abimana parau. "Apakah itu cukup untuk memulai 'waktu' yang kamu minta tadi malam?"

​Arunika menatap mata Abimana. Ia melihat ketulusan yang telanjang di sana, namun ia juga melihat sisa-sisa kelelahan akibat demam yang belum sepenuhnya hilang.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!