hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Kehidupan Baru
Apartemen penthouse di kawasan F itu memancarkan kemewahan yang tenang, jauh berbeda dari rumah besar keluarga Maheswara yang penuh dengan ketegangan dan kepalsuan. Safira berdiri di balkon lantai 45, menatap gemerlap lampu Jakarta yang tampak seperti hamparan permata. Di tangannya, sebuah cangkir teh hangat mengeluarkan uap tipis.
Vian baru saja selesai membereskan barang-barangnya di kamar barunya. Ia keluar dengan langkah yang jauh lebih ringan, mengenakan kaos santai. Ia menghampiri Safira di balkon.
"Gue nggak pernah nyangka, Kak, tidur tanpa denger suara teriakan Mama atau tangisan drama Maya itu rasanya sedamai ini," ucap Vian sambil menyandarkan sikunya di pagar balkon.
Safira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kali ini terlihat tulus di matanya. "Kebebasan memang punya rasa yang berbeda, Vian. Tapi ingat, di sini kita harus mandiri. Tidak ada pelayan yang akan menyiapkan keperluanmu setiap detik."
"Gue tahu. Bang Abian juga udah bilang, gue harus belajar disiplin kalau mau tetep ikut lo," jawab Vian. Ia menatap kakaknya dengan penuh rasa ingin tahu. "Ngomong-ngomong, Kak... Bang Abian sebenernya siapa buat lo? Dia kayak udah nyiapin semuanya bahkan sebelum kejadian di sekolah tadi."
Safira terdiam sejenak. "Dia hanya seseorang yang melihat dunia dengan cara yang sama denganku, Vian. Dia bukan penyelamat, tapi dia adalah sekutu yang tepat."
Namun, di dalam hatinya, Safira tahu bahwa peran Abian lebih dari sekadar sekutu. Abian adalah orang pertama yang mempercayainya tanpa syarat, orang pertama yang menghargai kekuatannya, bukan sekadar melihat kecantikannya atau nama belakangnya.
Sementara itu, di kediaman Maheswara, suasana tidak ubahnya seperti rumah hantu yang suram. Sejak Safira dan Vian pergi, Raga mengurung diri di ruang kerja. Ia baru saja menerima laporan bahwa video rekaman fitnah Maya di sekolah telah tersebar luas ke publik. Nama baik keluarga Maheswara hancur dalam semalam.
Beberapa kolega bisnis penting mulai membatalkan kontrak mereka secara sepihak. Mereka tidak ingin diasosiasikan dengan pria yang hampir menampar putrinya sendiri karena fitnah murahan dari putri tirinya.
Ratih duduk di ruang tengah, menatap kosong ke depan. Maya terus menangis di kamarnya, namun kali ini tangisannya tidak lagi membuahkan simpati. Raka dan Bima sudah tidak mau lagi bicara padanya.
"Puas kamu, Maya?" suara Raka terdengar dingin saat ia melewati kamar Maya yang pintunya terbuka sedikit. "Karena keegoisanmu, Papa kehilangan kepercayaan publik, dan kita kehilangan dua adik kita sekaligus."
"Aku nggak bermaksud begitu, Kak! Aku cuma..."
"Cuma mau jadi pusat perhatian?" potong Raka tajam. "Sekarang kamu punya semua perhatian dunia, tapi sebagai pelaku fitnah. Selamat."
Raka berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Ia masuk tanpa mengetuk. Di sana, ia melihat Raga yang tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam beberapa jam.
"Papa harus mencari mereka, Pa. Kita harus minta maaf," ucap Raka tegas.
Raga mendongak, matanya merah. "Safira sudah melepaskan nama Maheswara, Raka. Dia mengatakannya di depan umum. Dia tidak akan mau kembali."
"Vian juga pergi bersama dia. Apa Papa mau kehilangan putra Papa juga?" desak Raka.
Tiba-tiba, telepon kantor Raga berdering. Itu dari sekretarisnya di kantor pusat.
"Halo? Tuan Maheswara... ada masalah besar. Byakta Group baru saja membatalkan rencana investasi mereka di proyek pembangunan hotel kita. Dan bukan hanya itu, beberapa bank mulai menagih pinjaman jangka pendek kita karena rating kepercayaan perusahaan kita menurun drastis."
Raga menjatuhkan ponselnya ke atas meja. Ini adalah hukuman instan. Ia baru menyadari bahwa selama ini, kehadiran Safira—meski ia kucilkan—adalah apa yang membuat keluarga Byakta melirik perusahaannya. Dengan kepergian Safira, dukungan Byakta pun lenyap.
Di sisi lain, Abian baru saja sampai di apartemen Safira. Ia tidak datang dengan pengawal atau setelan jas lengkap. Ia mengenakan kemeja santai dengan kancing atas terbuka. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu kecil.
"Untukmu," ucap Abian menyodorkan kotak itu pada Safira saat mereka duduk di taman atap apartemen.
Safira membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan mekanik klasik yang sangat indah, namun terlihat sangat kokoh.
"Aku tahu kau tidak suka perhiasan yang mencolok," kata Abian pelan. "Jam ini memiliki pemancar sinyal darurat. Jika kau dalam bahaya, cukup tekan tombol kecil di sampingnya, dan aku akan berada di sana dalam hitungan menit."
Safira menatap jam itu, lalu menatap Abian "Kau terlalu banyak berinvestasi padaku, Abian Aku takut kau akan kecewa karena aku bukan orang yang mudah untuk diatur."
Abian terkekeh, suara tawanya terdengar sangat maskulin dan menenangkan. "Aku tidak pernah berniat mengatormu, Safira. Aku ingin melihatmu bersinar dengan cahayamu sendiri. Kau tahu, ayahku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu lagi. Dia merasa pilihannya untuk menjodohkanku denganku adalah keputusan terbaik dalam hidupnya."
"Perjodohan itu..." Safira menggantung kalimatnya. "Aku masih belum memberikan jawaban."
"Aku tidak butuh jawaban formal sekarang," Abian meraih tangan Safira, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Cukup biarkan aku berada di dekatmu. Biarkan aku membuktikan bahwa tidak semua pria dalam hidupmu akan mengecewakanmu."
Safira merasakan degupan jantung yang aneh. Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah merasakan kasih sayang yang seperti ini. Ia selalu menjadi orang yang memberi, orang yang berkorban, dan berakhir dikhianati. Tapi di depan Abian ia merasa boleh untuk menjadi kuat sekaligus merasa dilindungi.
"Vian akan mulai sekolah besok di SMA internasional yang kau rekomendasikan," ucap Safira mengalihkan pembicaraan, mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Bagus. Aku sudah memastikan tidak akan ada yang berani mengganggunya di sana," jawab Abian "Dan untukmu... aku dengar kau tertarik dengan pasar modal?"
Safira menaikkan alisnya. "Kau benar-benar memata-matai setiap gerak-gerikku?"
"Hanya memastikan bahwa calon mitra hidupku adalah seorang jenius yang tersembunyi," Abian mengedipkan sebelah matanya.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan berbicara tentang banyak hal—mimpi, ambisi, dan dunia yang ingin mereka taklukkan. Safira menyadari bahwa dunianya yang baru jauh lebih luas daripada dinding-dinding rumah Maheswara yang sempit.
Keesokan paginya, Safira memulai hari pertamanya sebagai "Safira" saja. Tanpa embel-embel nama keluarga yang memberatkannya. Ia mengantar Vian ke sekolah barunya, dan ia sendiri memutuskan untuk fokus pada pendidikan dan aset-aset rahasia yang selama ini ia kelola melalui Andi.
Namun, ia tahu bahwa keluarga Maheswara tidak akan menyerah begitu saja. Terutama Raka dan Nathan yang terus mencoba menghubunginya lewat pesan singkat dan telepon yang selalu ia abaikan.
Saat Safira sedang duduk di sebuah kafe setelah mengantar Vian, sebuah bayangan menutupi mejanya. Ia mendongak dan menemukan Nathan berdiri di sana dengan wajah yang sangat menyedihkan.
"Fira... aku mohon, bicara sebentar denganku," pinta Nathan.
Safira menutup laptopnya perlahan. "Aku sudah tidak punya urusan denganmu, Nathan."
"Aku baru tahu soal fitnah Maya kemarin. Aku bersumpah aku tidak tahu! Aku merasa sangat bodoh karena sempat percaya pada mereka," Nathan mencoba meraih tangan Safira, namun Safira menariknya dengan cepat.
"Kebodohanmu bukan urusanku, Nathan. Masalahnya bukan pada kau tahu atau tidak tahu. Masalahnya adalah kau selalu memilih untuk tidak mempercayaiku selama tiga tahun berturut-turut. Kepercayaan bukan sesuatu yang bisa kau pasang dan lepas sesukamu," ucap Safira dengan nada yang sangat tajam.
"Aku akan memperbaikinya! Aku akan bantu kamu balas dendam pada Maya!" seru Nathan frustrasi.
Safira berdiri, menatap Nathan dengan tatapan yang sangat dingin. "Aku tidak butuh bantuanmu untuk balas dendam. Melihatmu memohon-mohon seperti ini saja sudah merupakan pemandangan yang cukup menghibur bagiku. Sekarang, pergi. Sebelum aku memanggil keamanan."
Nathan terpaku, melihat Safira berjalan keluar dengan kepala tegak. Di luar kafe, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Abian keluar dari mobil, menyambut Safira dengan pelukan hangat di bahu yang terlihat sangat protektif.
Nathan menyadari, ia bukan lagi pemain dalam hidup Safira. Ia bahkan bukan lagi seorang figuran. Ia hanyalah debu yang tertinggal di masa lalu Safira yang sudah ia bakar habis.
Safira masuk ke dalam mobil, menatap ke depan dengan keyakinan penuh. Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Baginya, Maheswara hanyalah sebuah bab lama yang sudah selesai ia baca. Sekarang, saatnya ia menulis bukunya sendiri.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas