NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA YANG MENGODA DI LAYAR

Di tengah malam yang menyelimuti kamar dengan kain sutra gelap, nyala lampu meja yang redup menerpa wajah Murni yang tengah mengerjakan naskah di atas meja bundar kayu jati. Jari-jarinya yang lembut bergeser lembut di atas tombol keyboard laptop, meninggalkan jejak gerakan yang seperti aliran sungai kecil di hamparan pasir. Suara kuncup bunga kamboja yang bergoyang di angin malam sekadar menyapa melalui celah tirai, menyertai irama detak jantungnya yang pelan namun pasti.

Tiba-tiba, dering nada dering HP yang diletakkan di sisi kasur memecah kedamaian malam. Suaranya tidak seperti biasanya—lebih lembut, seperti bisikan angin yang membawa aroma bunga melati dari kebun belakang rumah neneknya dulu. Murni mengangkat wajahnya, matanya yang penuh dengan fokus perlahan beralih arah, menyaksikan layar kaca yang mulai bersinar dengan cahaya putih keemasan, seperti bulan yang tiba-tiba turun ke dalam kamarnya.

Nomor yang muncul tidak dikenal. Angka-angka itu berbaris rapi seperti barisan bunga bakung di ladang yang luas, namun menyimpan misteri yang dalam seperti kedalaman samudra yang tak pernah terjamah cahaya matahari. Dia diam sejenak, jari-jarinya yang baru saja bergeser di keyboard kini terhenti di udara, seolah merenung makna dari kedatangan nomor asing ini di tengah malam yang sunyi.

Lalu, layar menyala lebih terang, dan muncul pesan singkat yang membawa getaran hangat ke setiap serat tulangnya:

"Sayang... sudah lama tidak dengar suara mu. Malam ini udaranya begitu lembut, seolah mengingatkan aku pada saat-saat indah yang pernah kita bagi bersama..."

Kata "sayang" itu seperti embun pagi yang menetes di kelopak mawar merah, membasahi hati Murni dengan rasa akrab yang sudah lama hilang di lautan waktu. Lidahnya terasa kering seolah menyentuh pasir gurun, namun di dalam dada muncul gelombang emosi yang seperti ombak menghantam dermaga di saat badai akan datang. Dia meraih HP dengan hati-hati, seolah itu adalah benda paling berharga di dunia, jari telunjuknya meluncur lembut di atas layar sentuh, ingin mengetik balasan namun tak tahu harus mulai dari mana.

Angin malam semakin kuat, menggoyangkan tirai dengan gerakan yang seperti tarian seorang penyanyi malam. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela menyebar di atas lantai kayu, menciptakan pola-pola seperti peta jalan yang tak pernah ditempuh. Pesan itu tetap terpampang di layar, setiap hurufnya seolah bernapas dan berbisik, mengajaknya untuk kembali ke masa lalu yang penuh warna-warni, di mana senyum dan canda masih menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap hari.

Murni menutup mata sejenak, merenungkan setiap kata yang diterima. Mengapa nomor baru ini muncul tepat di malam ini? Mengapa dia menyebutnya dengan nama yang hanya pernah digunakan oleh satu orang di dunia ini? Pertanyaan-pertanyaan itu seperti ombak yang terus menerus menghantam pantai, menyisakan jejak kebingungan namun juga harapan yang samar-samar, seperti cahaya pelita di ujung terowongan yang gelap.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Jari Murni bergeser perlahan di atas ikon aplikasi Get Contact, seperti seorang pelaut yang hati-hati mengarahkan kapalnya melalui lautan kabut tebal. Jendela aplikasi terbuka dengan lembut, membawa cahaya baru yang menerangi misteri nomor tak dikenal itu—seolah tirai kegelapan yang menutupi wajah seorang teman lama tiba-tiba terbuka oleh angin kasih sayang.

"Aksa..."

Kata itu keluar dari bibirnya dengan nada yang lembut seperti bisikan daun di angin pagi, menyebar di udara kamar yang kini terasa semakin sepi. Nama itu seperti batu permata yang terpendam dalam dasar hati selama bertahun-tahun, kini tiba-tiba ditemukan kembali dengan kilauan yang tak pernah pudar. Layar HP memantulkan nama tersebut dengan huruf-huruf yang jelas, seperti bintang-bintang yang bersinar terang di langit malam yang tadinya gelap gulita.

Murni menatap layar dengan mata yang semakin membesar, setiap serat kulit wajahnya seolah merasakan getaran nama yang telah lama hilang dari dunia kehidupannya. Aksa—pria yang pernah membawa warna-warni ke dalam hari-harinya yang dulunya penuh dengan warna abu-abu, seperti pelukis yang dengan tangkas menyemprotkan cat ke kanvas kosong. Kini dia muncul kembali dengan nomor baru, seperti burung yang pergi jauh ke negeri lain kemudian kembali ke sarangnya yang lama, membawa kabar yang tak diketahui isi dan maknanya.

Dia menggulir layar dengan hati-hati, membaca informasi yang muncul sedikit demi sedikit. Foto profilnya yang tampak di aplikasi adalah bayangan wajah yang masih akrab namun juga sedikit berbeda—wajahnya yang dulu penuh dengan candaan kini tampak lebih matang, seperti pohon yang setelah melalui musim hujan dan panas akhirnya tumbuh kuat dengan percabangan yang lebih luas. Garis-garis halus di sekeliling matanya seperti peta perjalanan yang telah dia lalui, menceritakan cerita tentang waktu yang telah berlalu dan pengalaman yang telah membentuk dirinya menjadi sosok yang kini ada di hadapan mata Murni.

Pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya seperti ombak menghantam pantai kini berubah menjadi gelombang emosi yang lebih dalam, seperti arus bawah laut yang membawa muatan kenangan dari masa lalu. Mengapa dia menggunakan nomor baru? Mengapa memilih malam ini untuk menghubunginya? Apakah ada makna tersembunyi di balik panggilan hangat yang dia berikan dengan sebutan "sayang"? Setiap pertanyaan adalah sebuah ombak yang membawa pasir kenangan dari dasar ingatan, menyusun kembali benteng kenangan yang telah lama Murni bangun untuk melindungi hati.

Angin malam kini berbisik lebih dekat, membawa aroma daun kemangi dari kebun belakang rumah tetangga, seolah mengingatkannya pada hari-hari ketika mereka bersama-sama berlari di antara kebun sayuran milik keluarga Aksa. Suara tertawanya yang dulu seperti musik gamelan yang merdu kini seolah terdengar kembali di telinganya, menyatu dengan getaran nyala lilin yang kini mulai menyala redup di sudut kamar. Cahaya lilin itu bergoyang-goyang seperti hati Murni yang kini sedang bergelombang, mencerminkan bayangan wajah Aksa yang semakin jelas di dalam pikirannya.

Murni mengambil HP dengan kedua tangan, memegangnya seperti sebuah karya seni yang berharga. Jari telunjuknya meluncur di atas layar, menggeser dari nama Aksa ke kolom pesan yang masih kosong—seolah seorang penulis yang sedang merenungkan kata-kata pertama untuk sebuah puisi yang telah lama tertunda. Layar sentuhnya menangkap panas dari kulit tangannya, seperti jendela yang menghubungkan dua dunia yang telah lama terpisahkan oleh lautan waktu dan jarak.

Di luar jendela, bulan mulai muncul dari balik awan-awan gelap, menyinari hamparan kota dengan cahaya keemasan yang lembut. Cahaya itu menerpa dinding kamar Murni, menciptakan pola-pola bayangan seperti ranting pohon yang bergoyang-goyang—seolah ingin menceritakan bahwa setiap pertemuan yang tak terduga adalah bagian dari takdir yang telah dirancang dengan indah, seperti alunan musik yang meskipun pernah terhenti, akan kembali bersinar dengan irama yang lebih dalam dan makna yang lebih kaya.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Murni menundukkan wajahnya, pandangannya tertuju pada layar yang masih memantulkan nama Aksa—seolah itu adalah cermin yang mencerminkan dua sisi hati yang sedang saling berseteru. Di satu sisi, rasa lelah yang seperti lautan pasang telah menggenangi dirinya selama ini, rasa malas untuk kembali menyentuh luka-luka masa lalu yang telah mulai mengering dan tertutup kulit baru. Tapi di sisi lain, rasa iba yang hangat seperti sinar matahari pagi menyentuh setiap serat hatinya—Aksa, yang dulu pernah menjadi bagian penting dalam cerita hidupnya, kini muncul kembali seperti kapal yang tersesat di lautan luas, mencari pelampiasan atau sekadar sebuah pelukan yang hangat.

"Apa salahnya berbaikan lagi..."

Kata-kata itu terdengar lembut di dalam dadanya, seperti ombak yang menyentuh kaki pantai dengan kasih sayang. Dia menghela napas perlahan, nafasnya seperti awan tipis yang menghilang di udara malam. Pikiran tentang Khem—pacarnya yang selalu menganggapinya sebagai segalanya, seperti bintang yang menerangi langit kehidupannya—datang dengan lembut, namun Murni dengan tenang menyembunyikannya di sudut hati yang paling dalam. Sebuah rahasia kecil yang dia jaga seperti permata yang tersimpan di dalam kotak kayu tua, aman dari sentuhan siapa pun.

Dia mulai mengetik, jari-jarinya yang dulu sering menulis surat cinta untuk Aksa kini bergerak dengan kelembutan yang berbeda—seolah sedang menyusun kata-kata dengan hati-hati di atas lembaran daun lontar yang rapuh. Setiap huruf yang muncul di layar adalah sebuah janji yang tak terucapkan, sebuah kesempatan untuk menyulam kembali hubungan yang pernah putus benangnya, tanpa harus membuka luka yang sudah sembuh atau menggoyangkan fondasi cinta yang kini dia bangun bersama Khem.

"Hai Aksa... sudah lama tidak bertemu. Aku tidak menyangka akan menerima pesan dari mu. Malam ini memang terasa berbeda, seperti bintang yang tiba-tiba bersinar lebih terang di langit yang aku lihat setiap hari. Jika kamu ingin berbicara, aku siap mendengarkan. Kita bisa berbaikan, seperti dua orang lama yang menemukan jalan kembali ke persahabatan yang dulu pernah kita miliki..."

Setelah mengirim pesan, Murni menaruh HP di atas meja, melihatnya seperti sebuah kapal yang telah mengirimkan surat cinta ke laut luas. Cahaya bulan yang menerpa dinding kini semakin jelas, pola bayangan ranting pohonnya seperti tangan yang sedang mengucapkan selamat tinggal atau sekadar menyapa dengan lembut. Setiap gerakan bayangan itu seolah menceritakan bahwa dunia ini penuh dengan pilihan—pilihan untuk memaafkan, untuk berdamai, dan untuk menyimpan sesuatu yang kecil namun berharga sebagai milik sendiri.

Dia berdiri perlahan, menghampiri jendela dan membuka tirai sedikit demi sedikit. Udara malam yang segar menyapa wajahnya, membawa aroma bunga melati yang kini semakin kuat. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi, masing-masing menyimpan cerita dan rahasia sendiri. Murni tersenyum lembut, menyadari bahwa terkadang sebuah rahasia bukanlah tentang menyembunyikan kebenaran, melainkan tentang melindungi apa yang berharga—baik itu cinta yang kini dia miliki, maupun persahabatan yang ingin dia jaga.

Rahasia itu seperti benang sutra yang halus, menyambungkan dua bagian cerita hidupnya tanpa membuat salah satu dari mereka terputus. Malam yang dulu hanya membawa kebingungan kini mulai menunjukkan wajah yang lebih lembut, seperti permukaan air yang setelah bergelombang akhirnya kembali tenang, mencerminkan keindahan bulan dan bintang di atasnya. Murni mengambil sapu tangan yang terletak di sisi jendela, menyeka sedikit embun yang menetes di kaca, seolah membersihkan jalan untuk melihat masa depan yang lebih jelas—dimana dia bisa menjadi dirinya sendiri, baik sebagai kekasih Khem maupun sebagai teman yang pernah berbagi cerita dengan Aksa.

Lalu dia menutup tirai kembali, meninggalkan sedikit celah untuk biarkan cahaya bulan masuk. Dia kembali ke kasur, menarik selimut hangat ke atas tubuhnya, dan menutup mata. Dalam kedalaman tidur yang mulai menghampirinya, Murni merasakan ketenangan yang seperti lautan yang damai setelah badai berlalu—yakin bahwa dia telah membuat pilihan yang tepat, sebuah pilihan yang penuh dengan kasih sayang dan kebijaksanaan, seperti bunga yang memilih untuk mekar di tempat yang tepat, meskipun ia harus tumbuh di antara rerumputan yang tak pernah dia pilih.

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!