NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman singkat untuk Luciano

Alana menatap Luciano lekat-lekat.

Matanya masih sembab, bulu matanya basah oleh sisa air mata, tapi kini tidak ada lagi ketakutan di sana. Tidak ada gemetar. Tidak ada dorongan untuk menjauh. Bahkan amarah yang sempat mengendap di dadanya… lenyap begitu saja, seolah tak pernah ada.

Yang tersisa hanya satu hal,ingin tahu.

“Luciano…” suaranya pelan. “Kenapa kamu bisa seperti ini?”

Luciano menghela napas panjang. Ia menurunkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Alana, tatapan yang tidak lagi menekan, melainkan terbuka.

“Karena aku hampir kehilanganmu,” jawabnya tanpa ragu. “Dan karena aku sadar… ada orang yang ingin menghancurkan aku.”

Alana mengernyit. “Obat itu,” katanya pelan tapi tajam. “Siapa yang memberikannya padamu? Siapa yang menjebakmu dengan cara serendah itu?”

Luciano mengusap wajahnya, lelah. Bukan secara fisik melainkan emosional.

“Valeria,” ucapnya akhirnya. “Dia bukan datang sendiri. Ada yang menyuruhnya.”

Alana terdiam, jantungnya berdetak lebih cepat.

“Jenny,” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan.

Luciano mengangguk.

“Dan bibimu,” lanjutnya dingin. “Maria.”

Alana menutup mata. Dadanya terasa nyeri, bukan karena terkejut, melainkan karena kecewa.

“Mereka masih belum puas,” gumamnya. “Padahal kau sudah—”

“Mereka tidak peduli padamu,” potong Luciano tegas. “Yang mereka inginkan adalah menjatuhkan ku dan menguasai kekayaan mendiang orang tua mu. Kau hanya alat.”

Nada suaranya tidak marah, tapi berbahaya.

“Mereka membayar Valeria untuk mendekatiku,” lanjutnya. “Menggodaku. Membuatku terlihat seolah mengkhianatimu. Dan jika aku jatuh, foto, video, apa pun semuanya akan mereka gunakan.”

Alana menggenggam ujung gaunnya. “Tapi kamu nggak jatuh.”

“Karena aku tahu apa yang mereka coba lakukan,” jawab Luciano. “Dan karena bahkan dalam kondisi itu pikiranku hanya satu.”

Ia menatap Alana dalam-dalam.

“Kau.”

Alana terdiam lama. Perasaan di dadanya bercampur—takut, marah, sedih tapi juga hangat.

“Kenapa kau tidak bilang dari awal?” tanyanya pelan.

Luciano tersenyum tipis, pahit.

“Karena aku tidak ingin kau hidup dalam ketakutan. Dan karena aku terbiasa menanggung semuanya sendiri.”

Alana melangkah sedikit lebih dekat. Kali ini tanpa ragu.

“Itu tidak adil,” katanya. “Aku ingin berdiri di sampingmu. Bukan di belakangmu.”

Luciano menatapnya, seolah baru kali ini benar-benar mendengar kalimat itu.

“Kau yakin?”

Alana mengangguk. “Jika kau berani melindungiku dari dirimu sendiri… aku berani menghadapi dunia bersamamu.”

Luciano menutup mata sesaat. Saat membukanya kembali, ada sesuatu yang berubah, obsesi itu masih ada, posesif itu masih nyata, tapi kini dibungkus kepercayaan.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi,” katanya pelan namun mutlak. “Siapa pun yang mencoba… akan berhadapan denganku.”

Alana tidak gentar.

“Dan kali ini,” tambah Luciano, “aku tidak akan menyembunyikan apa pun darimu.”

Alana terdiam cukup lama, seolah ingin menghafal setiap garis di wajah Luciano.

Tatapannya tidak berkedip, begitu tenang, penuh keyakinan. Tidak ada lagi sisa takut, tidak ada ragu. Yang ada hanya perasaan yang selama ini ia pendam, kini menemukan keberaniannya sendiri.

Perlahan, Alana mendekat. Luciano menyadarinya. Tubuhnya menegang refleks, bukan karena menolak, melainkan karena terkejut. Ia tidak bergerak, tidak mundur hanya menatap Alana, mencoba membaca niat di balik mata yang masih sembab itu.

“Alana…?” suaranya rendah, waspada.

Namun Alana tidak menjawab.

Ia mendekatkan wajahnya perlahan, memberi waktu, memberi pilihan. Hingga akhirnya, bibirnya menyentuh bibir Luciano pelan. Hanya sebentar. Lembut. Nyaris seperti angin yang singgah.

Luciano membeku.

Dunia di sekelilingnya seakan berhenti. Otaknya kosong sepersekian detik, bukan karena obat, melainkan karena kejutan murni. Ia tidak menyangka Alana yang biasanya menjaga jarak kini justru melangkah lebih dulu.

Saat Alana menarik diri, Luciano masih terpaku. Napasnya tertahan, matanya melebar sedikit.

“Kenapa…?” tanyanya lirih, nyaris tidak percaya.

Alana menatapnya dengan senyum kecil yang rapuh namun tulus.

“Karena kali ini aku ingin,” jawabnya pelan. “Bukan karena dituntut. Bukan karena takut. Tapi karena aku percaya padamu.”

Luciano menelan ludah. Dadanya berdenyut keras. Hasrat itu yang tadi ia lawan kembali berdesir, namun kini bercampur sesuatu yang jauh lebih dalam.

Rasa dihargai.

Ia mengangkat kedua tangan, menyentuh bahu Alana dengan hati-hati, seolah bertanya tanpa kata. Ketika Alana tidak mundur, ia mendekat sedikit, cukup untuk menempelkan kening mereka.

“Aku kaget,” akunya jujur. “Dan aku ingin sekali membalasnya.”

Ia berhenti sejenak, menatap mata Alana.

“Tapi aku tidak akan melangkah lebih jauh malam ini. Tidak setelah apa yang terjadi.”

Alana mengangguk. “Aku tahu.”

Luciano menghela napas lega. Ia mengecup dahi Alana singkat, bukan sebagai tuntutan, melainkan janji.

“Terima kasih,” ucapnya pelan. “Karena memilihku dengan caramu sendiri.”

Dan untuk pertama kalinya, keberanian Alana tidak membuat Luciano kehilangan kendali, justru membuatnya ingin menjaga lebih kuat dari sebelumnya.

Luciano meraih ponselnya dengan satu tangan—tangan lainnya tetap melingkar di punggung Alana, seolah melepasnya walau satu detik pun bukan pilihan.

Ia menekan satu nama.

“Altair,” ucapnya rendah saat panggilan tersambung. “Bawakan baju ganti ke kamar hotelku. Sekarang.”

Nada suaranya singkat, tak membuka ruang tanya.

“Baik,” jawab Altair tanpa basa-basi. Ia tahu, jika Luciano meminta seperti itu, artinya situasinya tidak sederhana.

Panggilan terputus.

Luciano menurunkan ponsel, lalu tanpa sadar kembali merapatkan pelukannya. Alana bersandar di dadanya, mendengar detak jantung itu masih kuat, masih protektif, masih seolah menandai kepemilikan yang tak perlu diucapkan.

“Kau harus istirahat,” ujar Luciano pelan di atas kepala Alana. “Hari ini terlalu panjang.”

Alana tidak langsung menjawab. Ia masih berada dalam pelukan itu, hangat, aman. Namun pikirannya bekerja.

“Kenapa kamu nggak balik aja ke pesta amal itu?” tanyanya akhirnya, suaranya lembut tapi penuh rasa ingin tahu. “Itu penting untukmu, kan?”

Luciano terdiam sejenak.

Tangannya mengusap punggung Alana perlahan dengan gerakan kecil, refleks, penuh kepemilikan yang tak disembunyikan.

“Aku sudah selesai dengan urusan di sana,” jawabnya akhirnya. “Apa pun yang perlu kulakukan bisa menunggu.”

Alana mendongak, menatap wajahnya. “Tapi itu acara besar. Banyak orang penting.”

Luciano menatap balik, tanpa ragu sedikit pun.

“Dan kau lebih penting dari semuanya.”

Nada suaranya tenang, mutlak. Bukan gombal. Bukan janji kosong. Keputusan.

“Aku tidak tertarik kembali ke ruangan penuh senyum palsu,” lanjutnya. “Aku lebih memilih menghabiskan malam ini bersamamu. Di sini. Dengan tenang.”

Alana tercekat kecil. “Luciano…”

Ia mendekatkan wajahnya sedikit, menyentuhkan kening mereka.

“Dunia bisa menunggu,” bisiknya. “Aku tidak.”

Pelukan itu kembali menguat, bukan mengekang, tapi menjaga. Seolah Luciano benar-benar tidak berniat melepaskan Alana, bahkan ketika malam perlahan bergerak menuju pagi.

Pintu kamar terbuka begitu saja. Tanpa ketukan. Tanpa aba-aba.

Altair melangkah masuk dengan satu set baju tergantung di lengannya, seperti kebiasaannya sejak dulu. Ia dan Luciano tidak pernah bermain formalitas. Hubungan mereka terlalu lama, terlalu dalam, untuk sekadar etika pintu.

Namun langkah Altair langsung terhenti.

Di sana, Luciano berdiri memeluk Alana. Dekat. Hangat. Terlalu nyata untuk disalahartikan.

Altair membeku sepersekian detik. Matanya melebar tipis, lalu refleks menunduk.

“Sial—maaf,” ucapnya cepat, berbalik setengah badan. “Aku tidak tahu.”

“Tidak apa,” suara Luciano terdengar tenang. “Masuk saja.”

Altair menoleh lagi, kali ini lebih hati-hati. Ia menyerahkan baju itu ke tangan Luciano, lalu mengangguk kecil, sebuah gestur hormat yang jarang ia tunjukkan.

“Maaf kalau mengganggu,” tambahnya.

Luciano menggeleng pelan. “Kau tidak salah apa-apa.”

Alana yang sejak tadi berada dalam pelukan Luciano langsung terasa canggung. Bahunya menegang, wajahnya memanas. Ia tidak terbiasa terlihat sedekat ini dengan Luciano—apalagi di depan orang lain.

Luciano menyadarinya.

Ia menurunkan dagunya sedikit, berbisik di dekat telinga Alana, “Tenang. Altair bukan orang lain.”

Tangannya tidak melepas—justru sedikit merapat, seolah memberi perlindungan diam-diam. Sebuah sinyal jelas, kau aman, bahkan sekarang.

Altair menangkap isyarat itu. Ia tidak tersenyum menggoda, tidak juga berkomentar. Hanya menatap Alana dengan ekspresi yang berbeda. Lebih lembut. Lebih menghargai.

“Aku tunggu di luar,” ujar Altair akhirnya. “Kalau butuh apa pun, panggil saja.”

Luciano mengangguk. “Terima kasih.”

Sebelum keluar, Altair sempat berkata pelan, cukup untuk didengar Luciano, tapi tidak Alana sepenuhnya.

“Aku senang,” katanya singkat.

Luciano paham maksudnya.

Pintu tertutup kembali.

Keheningan menyelimuti kamar.

Alana menghela napas kecil. “Itu memalukan.”

Luciano tersenyum tipis, senyum yang jarang muncul, dan hanya untuknya.

“Kau tidak perlu merasa seperti itu. Tidak ada yang salah dengan dipeluk.”

Ia mengusap punggung Alana perlahan.

“Dan jika kau merasa tidak nyaman, katakan. Aku akan melepaskan.”

Alana menatapnya, lalu menggeleng pelan.

“Bukan, aku cuma kaget.”

Luciano mendekatkan kening mereka lagi.

“Baik,” katanya lembut. “Aku di sini. Tidak ke mana-mana.”

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!