AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 14
Keributan itu berakhir tanpa jawaban dari Dean.
"Lul...lo sama James pasti tau kan kenapa sikap Dean berubah sama gue ??" Tanya Audrey sambil menyetir Range Rover nya.
Lula ikut di mobil Audrey, sementara James dan Dean pergi sendiri dengan kendaraan pribadi mereka masing-masing.
"Lo itu terlalu polos apa terlalu oon sih ?!"
Audrey mengerutkan dahi nya, menatap Lula dengan bingung.
"Lo kok ngatain gue sih ?"
"Astaga, Drey. Gue bukannya ngatain, tapi Orang awam juga pasti langsung tau kali kenapa sikap Dean berubah sama lo."
Audrey semakin bingung sekaligus penasaran dengan ucapan Lula yang penuh teka teki.
"Jangan muter-muter deh, Lul. Cepetan kasih tau gue, ada apa sebenernya sama Dean ?"
Lula menghembuskan nafas panjang, "Gue rasa Lo itu cuma pinter dibidang akademik aja, sementara urusan hati lo itu NOL BESAR!"
Plak!
Awwss...
Audrey memukul paha Lula saking kesalnya dengan ucapan sang sahabat.
"Cepet kasih tau!" Kesal Audrey karena Lula terus berbelit-belit.
"Dean itu suka sama Lo!"
Deg.
Audrey terdiam dengan jantung yang nyaris berhenti mendadak.
Terdengar Audrey tertawa. Tawa yang terdengar sumbang bahkan di telinga Lula sekalipun.
"Su-suka ? Sama gue ?" tunjuk Audrey ke wajah nya sendiri. "Lo nggak usah bercanda gitu deh, Lul. Nggak lucu sumpah."
"Ck! Tuh kan kalau dibilangin suka nggak percaya. Beneran Audrey, Dean itu udah lama suka sama lo. Dia itu patah hati karena ternyata lo dijodohin dan nikah secepat itu."
Kedua tangan Audrey yang tengah memegang setir terasa gemetar. Tubuhnya jadi kaku entah kenapa.
Audrey berusaha tenang kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Lul...gantian nyetir, gue lemes."
Audrey dan Lula pun saling bertukar posisi. Mobil kembali melaju lagi dengan Lula yang memegang kemudi.
"Lo tau dari mana kalau Dean suka sama gue ?"
"Gue sama James sering banget ngeliat Dean curi-curi pandang ke lo. Sekarang lo inget-inget deh, pernah nggak Dean kalau ngobrol sama lo manggilnya 'gue elo' ?"
Audrey memutar bola matanya, mengingat-ingat tentang itu.
"Nggak kan ?? Satu lagi, Dean selalu ngutamain elo, drey. Kalau kita nongkrong di cafe atau dimanapun, dia pasti jaga lo banget."
"Terus gue harus gimana dong, Lul ?" Tanya Audrey dengan suara parau. Wajahnya terlihat bingung dan tertekan.
"Ya nggak tau, lagian emang lo punya perasaan yang sama sama Dean ?"
"Nggak sih." Jawab Audrey cepat. Dia memang tidak memiliki perasaan apapun pada sahabatnya itu. Bagi Audrey hubungan mereka murni persahabatan tidak lebih.
"Tapi gue jadi nggak nyaman kalau Dean terus-terusan nyuekin gue kaya gini." Audrey menyandarkan punggung dan melihat jauh ke jalanan di depan.
Gadis berparas manis di samping Audrey itu menghela nafas panjang.
"Udah lo tenang aja, nanti gue sama James coba bantu. Sekarang kita fokus dulu aja nyelesain KKN. Sebulan ini kita tinggal bareng, semoga Dean bisa di ajak diskusi meski lagi patah hati."
Audrey memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
Setelah menempuh perjalanan panjang, mobil Audrey berhenti di rumah yang akan mereka tempati.
"Lul, nanti lo balik sama James aja ya, gue mau langsung nginep disini." Kata Audrey sambil membereskan baju-baju nya. Audrey, Lula dan satu teman perempuan mereka tidur di satu kamar yang sama. Sementara James dan Dean di kamar utama bersama dua mahasiswa lain. Dan kamar terakhir diisi tiga orang mahasiswi.
"Loh, kok tiba-tiba ?"
"Nggak tiba-tiba kok, gue emang udah rencana dari kemaren. Gue males ketemu si kanebo kering itu. Muka nya ganteng sih tapi nyebelinnya itu loh, nggak kuat gue." Audrey bergidik ngeri membayangkan tatapan tajam Wira
"Gue pengen nemenin lo disini, tapi gue belum izin. Gimana dong ?"
"Nggak usah, Lul. Gue pengen sendiri dulu. Anggap aja healing selama dua hari sebelum kita ketemu lagi lusa nanti."
Sore hari nya...
"Drey, gapapa kita tinggal sendiri disini ?" tanya Lula yang di dengar hampir semua teman-temannya termasuk Dean yang terlihat kaget.
"Drey, lo nggak ikut balik sama kita ?" tanya James memperjelas kebingungan di wajah Dean.
Audrey tersenyum, "Nggak. Gue mau disini. Healing." Jawab Audrey santai
Lula dan James melirik ke arah Dean, menunggu sahabat nya itu untuk ikut bicara.
"Udah gih sana. Nanti keburu malem. Jalanan disini serem kan kalau malem." Ucap Audrey mengingatkan.
Ke enam mahasiswa lain sudah pamit. Mereka tidak terlalu dekat jadi tidak seperhatian Lula, James dan Dean.
"Udah sana...Gue mau mandi nih, udah bau keringet abis keliling kampung tadi."
Meski berat hati tapi Lula dan James akhirnya pamit juga.
"Dean, ayo... Lo jalan di depan mobil gue ya ?!" Kata James, tapi Dean malah membuka helmnya membuat Audrey, Lula dan James saling bertukar pandang.
"Kalian duluan aja. Gue disini nemenin Audrey."
Audrey terlonjak kaget, begitu pun dengan Lula dan James.
"Heh, jangan sembarangan lo Dean. Audrey itu cewe. Kalau lo sama dia berduaan disini apa kata warga desa nanti ?" Lula langsung melayangkan protesnya.
"Bener, Ian. Gue gapapa kok sendirian. Lo balik aja sama Lula dan James. Nanti gue minta temenin Eni, anak gadisnya Pak RT."
Sebelum Lula, James dan Dean angkat kaki, terdengar deru mesin yang sangat halus memasuki pekarangan rumah. Mobil sport berwarna hitam mengkilat tiba-tiba berhenti disana.
Semua orang nampak kaget dan penasaran, siapa yang datang ke desa ini dengan mengendarai mobil semewah itu.
Sesaat setelah mesin mobil mati, pintu pengemudi pun terbuka.
Lula dan James ternganga melihat siapa yang datang. Sementara Audrey sendiri nyaris pingsan.
"K-kak Wira," Suara Audrey nyaris hilang.
Wira membuka kaca mata hitamnya kemudian berjalan ke arah Audrey.
"Sudah jam segini, kenapa masih sibuk berdebat ?"