Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di langit salsabila
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Pelataran Pesantren Salsabila disulap menjadi lorong panjang yang dihiasi untaian melati segar dan kain-kain batik koleksi terbaik dari butik Aira. Udara pagi itu terasa sejuk, membawa aroma harum yang menenangkan, seolah alam semesta pun merestui penyatuan dua jiwa yang telah melewati banyak badai tersebut.
Azka berdiri di depan meja akad, mengenakan jas berwarna putih gading dengan peci hitam yang membuatnya tampak sepuluh kali lebih berwibawa dari biasanya. Namun, tangannya yang tersembunyi di bawah meja gemetar hebat, sebuah pemandangan yang hanya bisa dilihat oleh Ghibran yang duduk tepat di sampingnya sebagai saksi.
"Bernapaslah, Ka. Jangan sampai kau pingsan sebelum mengucapkan kabul," bisik Ghibran pelan, suaranya mengandung nada jahil yang sangat jarang ia tunjukkan di acara formal.
"Diamlah, Ghib. Jantungku rasanya mau melompat ke arah penghulu," balas Azka dengan suara tercekat.
Saat Zivanna muncul, suasana seketika hening. Ia mengenakan gaun rancangan Aira—sebuah mahakarya sutra dengan bordir mawar gurun yang berkilau lembut setiap kali terkena cahaya matahari. Wajahnya yang ditutupi cadar tipis memancarkan keanggunan yang murni. Aira berjalan di belakangnya, memegang ekor gaun Zivanna dengan perut yang kini mulai terlihat membuncit, tampak sangat cantik dalam balutan gamis berwarna biru safir.
Janji Suci
Prosesi akad nikah berjalan dengan sangat khidmat. Saat Azka mengucapkan ijab kabul dengan satu napas yang mantap dan lantang, seluruh hadirin serentak mengucapkan, "Sah!"
Air mata haru pecah di sudut mata Zivanna. Azka mengembuskan napas lega yang sangat panjang, ia menoleh ke arah Ghibran dan memberikan kedipan mata kemenangan. Ghibran hanya tersenyum tipis, matanya beralih pada Aira yang sedang menghapus air mata bahagianya di kursi barisan depan. Di momen itu, Ghibran merasa bahwa tugasnya untuk menjaga keturunan Al-Husayn—termasuk Zivanna sebagai adik angkat—telah tertunaikan dengan baik.
Kejutan di Atas Podium
Setelah acara inti selesai, Ghibran naik ke atas podium kecil untuk memberikan sambutan. Semua orang mengira ia akan memberikan pidato formal tentang yayasan, namun Ghibran justru mengeluarkan sebuah map berwarna emas.
"Azka adalah sahabat, saudara, dan orang yang paling sering membuatku sakit kepala," mulai Ghibran, memancing tawa dari para tamu. "Tapi tanpa dia, pesantren ini mungkin tidak akan sekuat sekarang. Sebagai hadiah pernikahan, atas nama Yayasan Salsabila dan persetujuan istriku, Aira, kami menyerahkan kepemilikan lahan di sisi timur pesantren—tempat di mana paviliun kalian berdiri—sepenuhnya menjadi milik Azka dan Zivanna."
Azka tertegun, mulutnya menganga. Itu adalah lahan yang sangat luas dan strategis.
"Dan untuk istriku, Aira..." Ghibran menatap Aira dengan pandangan yang membuat semua wanita di ruangan itu merasa iri. "Terima kasih telah menungguku menjadi pria yang layak bagimu. Hadiahmu bukan tanah atau bangunan, tapi janji bahwa mulai besok, aku akan mengambil cuti satu bulan penuh untuk menjagamu dan calon bayi kita tanpa gangguan berkas apa pun."
Aira menutup mulutnya karena terkejut, air matanya kembali mengalir. Ia tidak menyangka suaminya yang sangat gila kerja itu akan merelakan waktunya sepenuhnya demi dirinya.
Malam yang Syahdu
Resepsi malam harinya berlangsung lebih santai. Azka sudah kembali ke sifat aslinya, berkeliling menyalami tamu sambil sesekali menggoda santri-santri senior. Sementara itu, Ghibran dan Aira memilih duduk di area yang agak jauh dari kebisingan, di bawah lampu-lampu gantung kecil yang menyerupai kunang-kunang.
"Kakak benar-benar akan cuti satu bulan?" tanya Aira sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ghibran.
"Iya. Aku sudah melatih staf senior untuk menghandle semuanya. Bahkan aku sudah menyita ponsel kerjaku sendiri dan memberikannya pada Azka tadi sore," sahut Ghibran.
"Tapi Mas Azka kan sedang bulan madu?"
"Makanya, itu hukuman untuknya karena selalu menjahili kita. Dia harus tetap memantau email saat sedang liburan," goda Ghibran, membuat Aira tertawa renyah.
Ghibran meraih tangan Aira, mengusap telapak tangannya dengan lembut. "Aku ingin kita menikmati masa kehamilan ini tanpa beban, Aira. Aku ingin melihatmu bangun pagi tanpa harus terburu-buru ke butik, dan aku ingin menemanimu setiap kali kamu merasa mual."
Di kejauhan, mereka melihat Azka sedang mencoba menyuapi Zivanna sepotong kue dengan gaya yang sangat dramatis, membuat Zivanna tertawa malu. Salsabila kini benar-benar telah berubah. Dari tempat penuh rahasia dan air mata, menjadi tempat di mana tawa dan cinta tumbuh subur di setiap sudutnya.
"Aku mencintaimu, Kak Ghibran," bisik Aira.
"Aku jauh lebih mencintaimu, Mawar Salsabila-ku," jawab Ghibran. Ia mengecup kening Aira dengan lama, sementara di atas sana, bintang-bintang seolah bersinar lebih terang, merayakan kebahagiaan yang akhirnya menetap abadi di pesantren mereka.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂