Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyamar
"Itu ... Siapa?" bisik AKP Dean Thomas ke Kompol Jarot. "Apakah dokter Westin?"
"Kita memang sudah pernah bertemu dengan dokter Westin? Sepertinya belum ...." Kompol Jarot terdiam. "Mas Dean! Itu Dokter Kojak!"
AKP Dean Thomas mempertajam penglihatannya dan mencocokan dengan foto dokter Arlo Gunawan. "Eh benar! Itu dokter Kojak!"
"Mau apa dia!"
Kedua polisi itu mengamati dan dashcam di mobil AKP Dean Thomas tetap merekam segala sesuatunya. Mereka melihat dokter Arlo seperti sedang mengamati sekeliling panti jompo. Tak lama dia mengeluarkan kamera dan memotret seputar panti jompo.
"Itu sangat ... mengerikan! Bagaimana bisa dia begitu tenang memotret sekelilingnya?" bisik Kompol Jarot.
"Hanya pembunuh berdarah dingin yang bisa melakukan itu. Ingat, dia dokter forensik yang biasa ketemu sama mayat. Baginya sudah biasa soal beginian," ucap AKP Dean Thomas. "Ini kenapa kita malah bisik-bisik sih?"
"Eh, iya ya. Kan kita dalam mobil ya?" gumam Kompol Jarot. "Sepertinya kita jadi Lola gegara kebanyakan kafei dicampur micin deh!"
AKP Dean Thomas mengacuhkan joke garing Kompol Jarot karena dia sangat fokus dengan tindak tanduk dokter Arlo Gunawan. Dia sungguh penasaran dengan perilaku dokter forensik Medical Examiner RS Bhayangkara.
"Apa terlibat penjualan organ ya?" tanya AKP Dean Thomas sambil berbicara dengan dirinya sendiri.
"Mas, aku sudah mendapatkan persetujuan dari suami istri Akbar, orang tua dari Siti. Kita boleh membongkar jenazahnya. Apalagi kan baru enam bulan meninggal."
AKP Dean Thomas menoleh. "Tapi aku tidak mau dokter forensiknya dia!" ucap AKP Dean Thomas sambil menunjuk ke dokter Arlo.
"Berarti harus mencari dokter forensik yang independen dan bukan dari ME Bhayangkara," gumam Kompol Jarot. "Tapi ... Siapa?"
"Kita pikir nanti!"
Keduanya melihat dokter Arlo kembali ke mobilnya dan tak lama pergi dari sana. AKP Dean Thomas melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 01.30.
"Aku rasa, mereka tidak akan kemari besok," ujar AKP Dean Thomas sambil menstater mobilnya.
"Jika memang mereka terlibat dengan penjualan organ manusia ... Bisa kena audit dong RS Bhayangkara seperti rumah sakit di Jawa Barat." Kompol Jarot menatap AKP Dean Thomas.
"Mau gimana? Harus dilakukan, mau tidak mau." AKP Dean Thomas melajukan mobilnya menuju rumah Kompol Jarot lalu kembali ke rumahnya.
***
Ruang Kerja Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya Jakarta keesokan harinya
"Kita harus masuk ke RS Bhayangkara!" putus AKP Dean Thomas yang datang agak kesiangan karena semalam kurang tidur.
"Menyamar jadi pasien?" tanya Iptu Rayyan.
"Bukan ide yang buruk. Bang Jarot?" senyum AKP Dean Thomas.
"Eh? No, aku parno sama rumah sakit! Cukup aku opname kena tembak dulu diopname!" tolak Kompol Jarot.
"Tunggu, bagaimana jika pak Dean dan pak Jarot yang pergi?" usul Iptu Atikah.
"Apa maksudmu, Tikah?" tanya Kompol Jarot.
"Kalian ala-ala masuk kesana tapi malam. Biasanya Bhayangkara sepi dan kalian bisa cek daftar pasiennya dia," usul Iptu Atikah.
"Benar juga. Kita tidak bisa hack dari sini kan? Lagipula, tidak mungkin minta tolong ke mas Ai atau mas Kaivan."
"Bagaimana dengan Mas L?" tanya Kompol Jarot.
"Lha kemarin katanya mau ke Palermo."
"Mas L ke Palermo sore ini. Biasa, panen anggur," sahut Iptu Rayyan.
"Lagipula, kita jangan tergantung dengan keluarga Pratomo terus. Nanti malah dikira memang tidak bisa kerja!" ujar AKP Dean Thomas. "Sudah, kita coba cara Tikah."
"Jangan lupa hubungi dokter Rahmat. Jaga-jaga," usul Kompol Jarot.
"Benar. Aku hubungi dia dulu." AKP Dean Thomas mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Rahmat. "Siang Dok ...."
Mbak Susi dan Tole yang dari tadi menyimak percakapan tim kasus dingin, saling berpandangan. "Apa perlu kita temani?" tanya Mbak Susi.
"Kirain nggak mau," cengir Tole.
***
RS Bhayangkara Jakarta Malam Harinya
Malam itu, suasana di RS Bhayangkara terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu putih menyinari lorong panjang yang sepi, hanya sesekali terdengar suara roda ranjang pasien yang berderit.
Dua pria masuk dengan langkah tenang.
AKP Dean Thomas mengenakan jas dokter yang sedikit kebesaran, lengkap dengan stetoskop yang terlihat … terlalu baru. Sementara itu, Kompol Jarot tampil lebih santai sebagai petugas administrasi, membawa map tebal yang bahkan belum sempat ia baca.
AKP Dean Thomas hampir tersenyum, tapi langsung menahan diri saat seorang perawat lewat.
Fokus mereka malam ini hanya satu yaitu Dokter Westin.
Dokter yang dicurigai memiliki keterlibatan dalam serangkaian kematian misterius, semua terjadi di ruang operasi, semua tampak seperti komplikasi biasa.
Terlalu bersih. Terlalu sempurna.
Mereka berhenti di ujung lorong ICU.
Dari balik kaca, terlihat sosok Dokter Westin. Tenang. Terlalu tenang. Ia sedang memeriksa catatan pasien, sesekali menatap monitor dengan ekspresi datar.
“Dia tidak terlihat seperti pembunuh,” gumam Kompol Jarot.
AKP Dean Thomas menjawab pelan, “Justru itu yang bahaya.”
Tiba-tiba, Westin menoleh ke arah kaca. Keduanya refleks membalik badan.
Kompol Jarot langsung pura-pura menjatuhkan map. “ADUH! BERKAS SAYA!” katanya sedikit terlalu keras.
AKP Dean Thomas menutup wajah dengan tangan.
“Kamu ini… aktor sinetron juga kalah dramatisnya.”
Beberapa menit kemudian, mereka berhasil masuk ke ruang arsip medis. AKP Dean Thomas membuka komputer, mencoba mengakses data pasien yang ditangani dokter Westin.
“Kamu jaga pintu!” katanya ke pria yang berada dekat pintu masuk.
Kompol Jarot mengangguk, tapi malah sibuk melihat-lihat.
“Ini rumah sakit polisi, tapi kopinya gratis ya?” bisiknya sambil mengangkat gelas plastik.
AKP Dean Thomas mendesah. “Fokus, bang Jarot.”
Beberapa detik berlalu. Ayah Alfie itu masih konsentrasi.
“Gotcha! ” bisik AKP Dean Thomas sembari menunjukkan layar.
Daftar pasien. Tanggal operasi. Dan satu pola yang mencurigakan, semua pasien yang meninggal pernah ditangani langsung oleh Westin, dengan asisten yang bergantian. Seolah memberikan kesempatan pada semua residen
“Dia sengaja kerja dengan juniornya …” kata Kompol Jarot pelan. "Yang tidak mungkin berani dengannya!"
AKP Dean Thomas mengangguk. “Dan tidak ada saksi yang meyakinkan. Plus, semuanya dioperasi yang sangat kecil kemungkinannya bisa meninggal."
Tiba-tiba ...
KLIK.
Pintu terbuka. Suaranya seperti karat yang bergesekan saat bergeser.
Keduanya membeku. Total freeze.
Di ambang pintu, berdiri Dokter Westin. Tatapannya dingin. Tajam. Seolah sudah tahu sejak awal.
“Sepertinya … saya belum pernah melihat kalian sebelumnya,” ucapnya tenang.
Kompol Jarot langsung maju dengan senyum kaku.
“Oh, saya bagian … eh … kopi. Maksud saya, administrasi kopi, eh, maksudnya logistik!”
AKP Dean Thomas menutup mata sebentar.
Dokter Westin menatap mereka berdua, lalu melangkah masuk perlahan. “Menarik,” katanya pelan.
Suasana mendadak mencekam. AKP Dean Thomas akhirnya berdiri tegak, menatap balik tanpa ragu.
“Dokter Westin … kita perlu bicara.”
Dokter Westin tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kompol Jarot tidak lagi bercanda.
Karena mereka sadar. Mereka mungkin sudah terlalu dekat … dengan sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi.
***
yuhuuuu up malam yaaaaa gaaeeessss
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
tararengkyu
pntsn mbilnya smp ringsek,yg nmpel ada 10.....tp bgus sih,biar tu pnjht nrima akibtnya....abs ni siap2 bbo d sel pula.....