Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Bab 1: Naga yang Terlelap di Balik Apron Dapur

​"Prang!"

​Sebuah mangkuk porselen pecah berkeping-keping tepat di dekat kaki Arya. Pecahan tajamnya menggores pergelangan kakinya, menitikkan darah merah pekat ke lantai marmer yang baru saja ia pel.

​"Punya mata tidak?! Menyeduh teh untuk tamu penting saja kau tidak becus! Dasar menantu benalu, tidak berguna!"

​Suara melengking itu berasal dari Rina, ibu mertuanya. Wanita paruh baya dengan perhiasan emas mencolok itu menatap Arya dengan rasa jijik yang tidak ditutupi. Di sofa ruang tamu yang mewah, duduk seorang pria muda berjas rapi, Bima, pewaris Grup Mahendra. Bima tersenyum meremehkan sambil menyesap cerutu.

​"Sudahlah, Tante Rina. Jangan terlalu keras pada Arya. Lagipula, apa yang bisa diharapkan dari seorang gelandangan yang dipungut Kakek dari jalanan tiga tahun lalu?" Bima tertawa pelan, matanya menyapu Arya dari atas ke bawah. "Sayang sekali, wanita sesempurna Nadia harus terikat dengan sampah seperti ini."

​Arya menunduk, tangannya yang mengenakan apron kusam mengepal erat. Selama tiga tahun, ia telah melayani Keluarga Kusuma layaknya pelayan rendahan. Ia mencuci, memasak, dan menelan setiap hinaan demi membalas budi almarhum Kakek Kusuma yang menyelamatkan nyawanya.

​Namun, tepat saat ia hendak menunduk untuk memungut pecahan porselen itu, sebuah rasa sakit yang luar biasa menghantam kepalanya.

​Seolah-olah sebuah bendungan raksasa baru saja jebol di dalam tengkoraknya.

​Penghianatan.

Darah.

Pedang Pembelah Surga.

Tiga Ratus Tahun Kesengsaraan.

​Tubuh Arya bergetar hebat. Ingatan yang bukan miliknya—atau lebih tepatnya, ingatan yang telah lama tersegel—meledak di benaknya.

​Ia bukan sekadar anak jalanan yang amnesia. Dia adalah Arya Vajra, Kaisar Abadi dari Alam Bintang Sembilan yang mati dikhianati oleh murid dan tunangannya sendiri saat mencoba menembus batas keilahian. Jiwanya merobek ruang dan waktu, terdampar di tubuh pemuda lemah di Bumi ini tiga tahun lalu, dan butuh waktu selama itu untuk menyatukan jiwanya yang hancur.

​"Hei! Tuli kau? Cepat bersihkan lantai ini sebelum Nadia pulang!" bentak Rina lagi, mengangkat tangannya seolah ingin menampar Arya.

​Tiba-tiba, deru mesin mobil mewah terdengar dari halaman depan. Pintu utama terbuka, menampilkan sosok wanita tinggi semampai dengan setelan kerja yang elegan. Wajahnya cantik tanpa cela, namun memancarkan aura sedingin es kutub. Dia adalah Nadia Kusuma, istri Arya, sekaligus CEO muda yang memikul beban perusahaan keluarga.

​Melihat Nadia, mata Bima langsung berbinar. Ia bangkit dan merapikan jasnya. "Nadia, kau sudah pulang. Kebetulan sekali, aku membawa proposal investasi yang kau butuhkan untuk menyelamatkan proyek propertimu."

​Nadia memijat pelipisnya yang pusing. Ia melirik sekilas ke arah Arya yang masih berjongkok di dekat pecahan mangkuk, lalu menghela napas panjang berisi kekecewaan yang mendalam.

​"Bima, terima kasih sudah datang. Dan Arya..." Suara Nadia terdengar lelah. "Bisakah kau setidaknya tidak membuat kekacauan saat ada tamu? Kembalilah ke kamarmu. Aku sedang tidak ingin melihatmu."

​Rina mendengus bangga. "Dengar itu? Istrimu sendiri muak melihatmu! Singkirkan wajah miskinmu itu dari sini."

​Bima tersenyum penuh kemenangan. Ia melangkah maju, dengan sengaja menginjak jari Arya yang sedang memegang pecahan porselen. "Maaf, tidak sengaja," bisiknya dengan nada mengejek.

​Di masa lalu, Arya yang penakut akan menarik tangannya sambil menahan tangis dan meminta maaf.

​Namun kali ini, tubuh Arya berhenti bergetar. Ia perlahan mengangkat kepalanya.

​Saat mata Arya menatap Bima, suhu di ruangan itu seolah anjlok sepuluh derajat. Mata yang biasanya sayu dan menyedihkan itu kini setajam pedang kuno yang baru ditarik dari sarungnya. Ada tekanan yang sangat pekat, kuno, dan mematikan di balik tatapan itu.

​Bima tanpa sadar mundur selangkah, jantungnya berdebar kencang seolah sedang ditatap oleh predator puncak. Ada apa dengan tatapan bajingan ini?! batin Bima, mendadak berkeringat dingin.

​Dengan tenang, Arya berdiri. Ia melepaskan apron kusamnya dan melemparkannya ke atas pecahan mangkuk. Ia tidak mempedulikan jarinya yang berdarah.

​"Kau menginjak tanganku," ucap Arya pelan, suaranya tenang namun bergema dengan otoritas mutlak yang membuat udara di sekitarnya terasa sesak.

​Nadia mengerutkan kening, terkejut melihat perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba berani menatap langsung ke mata Bima. Rina pun terdiam, entah kenapa mulutnya mendadak kelu.

​Arya mengalihkan pandangannya ke arah Nadia. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tidak ada tatapan memelas atau rasa bersalah di mata pria itu. Yang ada hanyalah ketenangan samudra yang dalam.

​"Aku akan kembali ke kamar. Dan Bima..." Arya berhenti sejenak, melirik pewaris kaya itu dari sudut matanya. "Jika kau berani menyentuh sehelai rambut istriku, aku pastikan Grup Mahendra rata dengan tanah sebelum matahari terbit."

​Tanpa menunggu jawaban dari orang-orang yang membeku di ruang tamu, Arya berbalik dan melangkah pergi, menyisakan keheningan absolut. Di dalam dadanya, sisa-sisa energi spiritual yang tipis mulai berputar, menggemakan kembalinya sang penguasa.

​Tubuh ini terlalu lemah, batin Arya sambil menaiki tangga. Tapi tidak masalah. Di kehidupan ini, mereka yang menghinaku akan berlutut, dan mereka yang mengkhianatiku akan musnah.

Terpopuler

Comments

G.Lo

G.Lo

Yach semoga tuntas lalu kenapa menulis cerita yang MC selalu lemah...banyak orang menginginkan MC tegas tanpa rasa gentar...kalau MC lembek berarti percuma aja bacanya...

2026-03-19

0

Mamat Stone

Mamat Stone

semoga sampai tuntas /Casual/

2026-03-12

0

Mamat Stone

Mamat Stone

nyimak bos /Smile/

2026-03-12

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Naga yang Terlelap di Balik Apron Dapur
2 Bab 2: Napas Naga yang Terbangun
3 Bab 3: Pembalasan di Balik Bayangan
4 Bab 4: Bayangan Sang Penolong
5 Bab 5: Jamuan di Balik Tirai Besi
6 Bab 6: Harga Sebuah Kesombongan
7 Bab 7: Rahasia di Balik Debu
8 Bab 8: Tetesan Kehidupan Berbalut Dendam
9 Bab 9: Badai yang Menyingsing
10 Bab 10: Gelombang Pembuka
11 Bab 11: Nyanyian Mati Sang Gagak
12 Bab 12: Sang Naga Turun Tangan
13 Bab 13: Kehangatan Semangkuk Mi dan Ancaman dari Utara
14 Bab 14: Api Naga dan Kedatangan Tiga Serigala
15 Bab 15: Langit di Atas Langit
16 Bab 16: Guncangan di Utara dan Ratu Emerald
17 Bab 17: Badai dari Balik Awan
18 Bab 18: Kesombongan di Atas Awan
19 Bab 19: Katak di Dasar Sumur
20 Bab 20: Genderang Perang di Puncak Awan
21 Bab 21: Awan Hitam Menelan Matahari
22 Bab 22: Jatuhnya Para Dewa Palsu
23 Bab 23: Dewa di Antara Manusia
24 Bab 24: Napas Pertama Sang Dewi Es dan Tamu Negara
25 Bab 25: Arogansi Elang Hitam dan Belah Lautan
26 Bab 26: Penjaga Makam dan Teratai Kematian
27 Bab 27: Kondensasi Inti Emas dan Lahirnya Bulan Beku
28 Bab 28: Pedang Bulan Beku dan Tiga Bayangan Kiamat
29 Bab 29: Darah di Menara Emerald dan Tarian Bulan Beku
30 Bab 30: Kiamat bagi Sang Pembawa Kiamat
31 Bab 31: Melintasi Samudra dan Runtuhnya Gerbang Suci
32 Bab 32: Sayap yang Patah dan Keputusasaan Suci
33 Bab 33: Kehangatan di Meja Makan dan Retaknya Segel Dunia
34 Bab 34: Fajar Era Baru dan Istana Naga Langit
35 Bab 35: Sujudnya Sang Jenderal dan Bayangan dari Tanah Jawa
36 Bab 36: Tarian Sang Ratu Es dan Padamnya Api Neraka
37 Bab 37: Seribu Anak Tangga dan Hancurnya Kesombongan Fana
38 Bab 38: Penganugerahan Hukum Langit dan Ujian Darah Pertama
39 Bab 39: Tarian Pembantaian di Atas Awan
40 Bab 40: Tiga Bulan Kemudian dan Undangan Lelang Bayangan
41 Bab 41: Tuan Muda Harimau Emas dan Lelang Triliunan
42 Bab 42: Auman Kucing Kurap dan Kehancuran Harimau Emas
43 Bab 43: Jantung Bumi Berdetak dan Lahirnya Tanah Suci
44 Bab 44: Armada Hitam dan Ujian Darah Murid Naga
45 Bab 45: Awan Merah di Atas Zamrud dan Padamnya Sang Raja Api
46 Bab 46: Sujudnya Penguasa Fana dan Resonansi Palung Samudra
47 Bab 47: Armada Es di Samudra dan Terbelahnya Lautan
48 Bab 48: Tekanan Abisal dan Negosiasi Sang Naga Laut
49 Bab 49: Jiwa Naga Pedang Es dan Pusaran Samudra
50 Bab 50: Harta Karun Laut Dalam dan Ekspedisi Dunia Fana
51 Bab 51: Pagoda Zamrud dan Kemurkaan Teratai Hitam
52 Bab 52: Jarum Beracun dan Keajaiban Musim Semi
53 Bab 53: Ultimatum Tiga Hari dan Runtuhnya Teratai Hitam
54 Bab 54: Retakan Langit Pasifik dan Mata Iblis Dunia Luar
55 Bab 55: Kiamat Pasifik dan Sujudnya Dunia Fana
56 Bab 56: Hujan Es Darah Iblis dan Auman Harimau Bintang
57 Bab 57: Wujud Sejati Sang Kaisar dan Pemusnahan Skala Atom
58 Bab 58: Ziarah Para Penguasa Fana dan Lahirnya Perjanjian Naga
59 Bab 59: Akademi Naga Langit dan Retaknya Inti Emas
60 Bab 60: Langit Kesengsaraan Kutub dan Raksasa di Balik Es
61 Bab 61: Monolit Penjara Astral dan Kembalinya Sang Kaisar
62 Bab 62: Turnamen Puncak Dunia dan Kesombongan dari Atap Bumi
63 Bab 63: Runtuhnya Ilusi Himalaya dan Teror di Atap Dunia
64 Bab 64: Tiga Dewa Kuno dan Lonceng Penutup Langit
65 Bab 65: Bel Akademi Kiamat dan Gema dari Bintang Mati
66 Bab 66: Bayangan Armada Bintang dan Formasi Pertahanan Bumi
67 Bab 67: Benturan Hukum Dao dan Domain Bintang Mati
68 Bab 68: Serangan Balik Hukum Dao dan Harga Sebuah Otoritas
69 Bab 69: Takhta Musim Dingin dan Lahirnya Inti Emas Ratu
70 Bab 70: Batas Alam Fana dan Rencana Formasi Kosmik
71 Bab 71: Geometri Bintang Jatuh dan Penjaga Mekanik Giza
72 Bab 72: Palung Kematian dan Bangkai Kapal Atlantis
73 Bab 73: Rekayasa Tata Surya dan Hujan Spiritual Skala Planet
74 Bab 74: Fajar Era Baru dan Gelombang Monster Tingkat Rendah
75 Bab 75: Tatanan Era Baru dan Hukum Kerapuhan Dimensi
76 Bab 76: Pusaran Samudra dan Hukum Rimba di Mulut Gerbang
77 Bab 77: Taktik Formasi dan Logika Rantai Makanan
78 Bab 78: Darah di Depan Paviliun dan Celah Formasi Pembunuh
79 Bab 79: Logika Tungku Purba dan Penggantian Inti Formasi
80 Tarian Racun Abisal dan Runtuhnya Dimensi Saku
81 Evaluasi Rasional dan Pil Penempa Tulang Tirani
82 Peleburan Tulang Krakatau dan Jaring Tektonik Kaisar
83 Alkimia Stratosfer dan Lahirnya Fisik Penekan Surga
84 Bab 84
85 Bab 85
86 Bab 86: Gema Kemenangan dan Badai yang Mendekat
87 Bab 87: Harga Kemenangan dan Pelajaran tentang Pengendalian
88 Bab 88: Membongkar Mesin Perang Musuh
89 Bab 89: Bisikan di Antara Bintang dan Langkah Pertama
90 Bab 90: Perburuan di Nebula Bayangan
91 Bab 91: Buah dari Keheningan
92 Bab 92: Papan Catur Tata Surya
93 Bab 93: Malam Sebelum Fajar
94 Bab 94: Kedatangan Sang Ahli Bedah
95 Bab 95: Serangan terhadap Pikiran
96 Bab 96: Jantung Kapal
97 Bab 97: Probabilitas Nol
98 Bab 98: Gema Kemenangan dan Gema Perang
99 Bab 99: Api Melawan Api
100 Bab 100: Tanda Tangan di Bintang
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Bab 1: Naga yang Terlelap di Balik Apron Dapur
2
Bab 2: Napas Naga yang Terbangun
3
Bab 3: Pembalasan di Balik Bayangan
4
Bab 4: Bayangan Sang Penolong
5
Bab 5: Jamuan di Balik Tirai Besi
6
Bab 6: Harga Sebuah Kesombongan
7
Bab 7: Rahasia di Balik Debu
8
Bab 8: Tetesan Kehidupan Berbalut Dendam
9
Bab 9: Badai yang Menyingsing
10
Bab 10: Gelombang Pembuka
11
Bab 11: Nyanyian Mati Sang Gagak
12
Bab 12: Sang Naga Turun Tangan
13
Bab 13: Kehangatan Semangkuk Mi dan Ancaman dari Utara
14
Bab 14: Api Naga dan Kedatangan Tiga Serigala
15
Bab 15: Langit di Atas Langit
16
Bab 16: Guncangan di Utara dan Ratu Emerald
17
Bab 17: Badai dari Balik Awan
18
Bab 18: Kesombongan di Atas Awan
19
Bab 19: Katak di Dasar Sumur
20
Bab 20: Genderang Perang di Puncak Awan
21
Bab 21: Awan Hitam Menelan Matahari
22
Bab 22: Jatuhnya Para Dewa Palsu
23
Bab 23: Dewa di Antara Manusia
24
Bab 24: Napas Pertama Sang Dewi Es dan Tamu Negara
25
Bab 25: Arogansi Elang Hitam dan Belah Lautan
26
Bab 26: Penjaga Makam dan Teratai Kematian
27
Bab 27: Kondensasi Inti Emas dan Lahirnya Bulan Beku
28
Bab 28: Pedang Bulan Beku dan Tiga Bayangan Kiamat
29
Bab 29: Darah di Menara Emerald dan Tarian Bulan Beku
30
Bab 30: Kiamat bagi Sang Pembawa Kiamat
31
Bab 31: Melintasi Samudra dan Runtuhnya Gerbang Suci
32
Bab 32: Sayap yang Patah dan Keputusasaan Suci
33
Bab 33: Kehangatan di Meja Makan dan Retaknya Segel Dunia
34
Bab 34: Fajar Era Baru dan Istana Naga Langit
35
Bab 35: Sujudnya Sang Jenderal dan Bayangan dari Tanah Jawa
36
Bab 36: Tarian Sang Ratu Es dan Padamnya Api Neraka
37
Bab 37: Seribu Anak Tangga dan Hancurnya Kesombongan Fana
38
Bab 38: Penganugerahan Hukum Langit dan Ujian Darah Pertama
39
Bab 39: Tarian Pembantaian di Atas Awan
40
Bab 40: Tiga Bulan Kemudian dan Undangan Lelang Bayangan
41
Bab 41: Tuan Muda Harimau Emas dan Lelang Triliunan
42
Bab 42: Auman Kucing Kurap dan Kehancuran Harimau Emas
43
Bab 43: Jantung Bumi Berdetak dan Lahirnya Tanah Suci
44
Bab 44: Armada Hitam dan Ujian Darah Murid Naga
45
Bab 45: Awan Merah di Atas Zamrud dan Padamnya Sang Raja Api
46
Bab 46: Sujudnya Penguasa Fana dan Resonansi Palung Samudra
47
Bab 47: Armada Es di Samudra dan Terbelahnya Lautan
48
Bab 48: Tekanan Abisal dan Negosiasi Sang Naga Laut
49
Bab 49: Jiwa Naga Pedang Es dan Pusaran Samudra
50
Bab 50: Harta Karun Laut Dalam dan Ekspedisi Dunia Fana
51
Bab 51: Pagoda Zamrud dan Kemurkaan Teratai Hitam
52
Bab 52: Jarum Beracun dan Keajaiban Musim Semi
53
Bab 53: Ultimatum Tiga Hari dan Runtuhnya Teratai Hitam
54
Bab 54: Retakan Langit Pasifik dan Mata Iblis Dunia Luar
55
Bab 55: Kiamat Pasifik dan Sujudnya Dunia Fana
56
Bab 56: Hujan Es Darah Iblis dan Auman Harimau Bintang
57
Bab 57: Wujud Sejati Sang Kaisar dan Pemusnahan Skala Atom
58
Bab 58: Ziarah Para Penguasa Fana dan Lahirnya Perjanjian Naga
59
Bab 59: Akademi Naga Langit dan Retaknya Inti Emas
60
Bab 60: Langit Kesengsaraan Kutub dan Raksasa di Balik Es
61
Bab 61: Monolit Penjara Astral dan Kembalinya Sang Kaisar
62
Bab 62: Turnamen Puncak Dunia dan Kesombongan dari Atap Bumi
63
Bab 63: Runtuhnya Ilusi Himalaya dan Teror di Atap Dunia
64
Bab 64: Tiga Dewa Kuno dan Lonceng Penutup Langit
65
Bab 65: Bel Akademi Kiamat dan Gema dari Bintang Mati
66
Bab 66: Bayangan Armada Bintang dan Formasi Pertahanan Bumi
67
Bab 67: Benturan Hukum Dao dan Domain Bintang Mati
68
Bab 68: Serangan Balik Hukum Dao dan Harga Sebuah Otoritas
69
Bab 69: Takhta Musim Dingin dan Lahirnya Inti Emas Ratu
70
Bab 70: Batas Alam Fana dan Rencana Formasi Kosmik
71
Bab 71: Geometri Bintang Jatuh dan Penjaga Mekanik Giza
72
Bab 72: Palung Kematian dan Bangkai Kapal Atlantis
73
Bab 73: Rekayasa Tata Surya dan Hujan Spiritual Skala Planet
74
Bab 74: Fajar Era Baru dan Gelombang Monster Tingkat Rendah
75
Bab 75: Tatanan Era Baru dan Hukum Kerapuhan Dimensi
76
Bab 76: Pusaran Samudra dan Hukum Rimba di Mulut Gerbang
77
Bab 77: Taktik Formasi dan Logika Rantai Makanan
78
Bab 78: Darah di Depan Paviliun dan Celah Formasi Pembunuh
79
Bab 79: Logika Tungku Purba dan Penggantian Inti Formasi
80
Tarian Racun Abisal dan Runtuhnya Dimensi Saku
81
Evaluasi Rasional dan Pil Penempa Tulang Tirani
82
Peleburan Tulang Krakatau dan Jaring Tektonik Kaisar
83
Alkimia Stratosfer dan Lahirnya Fisik Penekan Surga
84
Bab 84
85
Bab 85
86
Bab 86: Gema Kemenangan dan Badai yang Mendekat
87
Bab 87: Harga Kemenangan dan Pelajaran tentang Pengendalian
88
Bab 88: Membongkar Mesin Perang Musuh
89
Bab 89: Bisikan di Antara Bintang dan Langkah Pertama
90
Bab 90: Perburuan di Nebula Bayangan
91
Bab 91: Buah dari Keheningan
92
Bab 92: Papan Catur Tata Surya
93
Bab 93: Malam Sebelum Fajar
94
Bab 94: Kedatangan Sang Ahli Bedah
95
Bab 95: Serangan terhadap Pikiran
96
Bab 96: Jantung Kapal
97
Bab 97: Probabilitas Nol
98
Bab 98: Gema Kemenangan dan Gema Perang
99
Bab 99: Api Melawan Api
100
Bab 100: Tanda Tangan di Bintang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!