NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemohan.

Sore itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Belum sempat Hana benar-benar mendorong pintu sampai terbuka lebar, suara tawa sudah lebih dulu menyambar keluar. Tawa yang terlalu keras untuk ukuran ruang tamu mereka yang tidak begitu besar. Tawa yang familiar. Tawa yang selalu diikuti komentar yang tidak pernah diminta.

Tantenya datang.

Hana langsung tahu, bahkan sebelum melihat siapa pun. Dari suara ibunya yang terdengar berbeda, lebih lembut, lebih hati-hati. Nada yang seperti berjalan di atas pecahan kaca, takut salah langkah, takut salah ucap.

Ia menutup pintu pelan. Melepas sepatu dengan gerakan yang sengaja diperlambat, seolah kalau ia masuk lebih lambat, waktu juga ikut melambat. Seolah ia bisa menunda momen ketika tatapan itu akan mengarah ke wajahnya.

Langkahnya masuk ke ruang tamu. Kakaknya sudah duduk di sofa, punggung tegak, rambut panjangnya tergerai rapi. Bahkan setelah seharian beraktivitas, wajahnya tetap bersih. Tidak ada kemerahan, tidak ada benjolan kecil yang marah di kulitnya.

“Hana pulang,” ujar ibunya dari dapur, mencoba terdengar biasa saja.

Tantenya menoleh.

Tatapannya berhenti. Sedikit terlalu lama.

“Eh, ini Hana ya? Sudah masuk SMK sekarang?” katanya dengan nada yang terdengar manis, tapi matanya sedang menilai. “Makin besar ya.”

“Iya, Tante,” jawab Hana pelan.

Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan berikutnya. Sudah hafal pola kalimatnya. Selalu sama.

“Tapi kok jerawatnya masih banyak begitu?” lanjut tante, alisnya sedikit terangkat. “Dari dulu nggak sembuh-sembuh, ya?"

Hana menelan ludah. Refleks tangannya ingin menyentuh pipinya, memastikan apakah memang separah itu. Tapi ia tahan.

“Namanya juga remaja, Kak,” ibu mencoba menenangkan dari dapur, suaranya terdengar tipis.

“Tapi kakaknya kok nggak begitu?” Tante terkekeh kecil. “Kulitnya bersih banget. Dari kecil memang beda sih. Yang satu putih mulus, yang satu… ya harus lebih usaha.” Sambungnya lagi

Kalimat itu melayang ringan di udara. Hampir terdengar seperti nasihat tulus. Hampir seperti motivasi. Padahal tetap saja perbandingan.

Hana berdiri di dekat pintu, tasnya masih tergantung di bahu. Ia merasa seperti barang yang baru saja diambil dari rak dan diperiksa kualitasnya.

“Kamu pakai apa sih buat muka?” tanya tante lagi, kini benar-benar fokus pada wajahnya. “Sudah coba perawatan? Atau jangan-jangan malas cuci muka?”

“Aku cuci muka,” jawab Hana, nyaris berbisik.

“Ya makanya harus lebih rajin. Perempuan itu asetnya wajah. Nanti kalau sudah besar susah cari jodoh kalau begini terus.” Tante menggeleng kecil. “Tante ngomong gini karena sayang, loh.”

Sayang.

Kata yang selalu dipakai untuk membungkus luka.

Seolah kalau ia tersinggung, berarti ia tidak tahu diri. Seolah kalau ia sakit hati, berarti ia terlalu sensitif.

“Aku cuma nggak mau kamu minder nanti,” lanjut tante. “Dunia luar itu kejam. Kalau keluarga nggak ngingetin, siapa lagi?”

Keluarga.

Hana ingin tertawa kecil, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan. Dunia luar mungkin kejam, tapi kadang dunia dalam rumah ini jauh lebih sunyi dan menekan.

Ibunya terdiam. Kakaknya menunduk, jemarinya saling bertaut di pangkuan. Tidak membela. Tidak juga menambahkan apa-apa. Hanya diam.

“Sudahlah, Kak,” ibu akhirnya berkata pelan. “Dia capek sekolah.”

Tante mengangkat bahu. “Saya cuma kasih saran.”

Saran.

Hana merasa kalau ia berdiri lebih lama di situ, ia akan benar-benar menangis di depan mereka. Tetapi ia tidak mau menunjukkan betapa rapuh dirinya, setidaknya di depan mereka.

“Permisi,” katanya singkat.

Ia berjalan cepat ke kamar. Setiap langkah terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahan di belakang. Begitu sampai, ia langsung menutup pintu dan menguncinya.

Klik.

Suara kecil itu terdengar lebih lega daripada yang seharusnya.

Ia bersandar di pintu, membiarkan tasnya jatuh ke lantai. Napasnya tidak teratur. Dari luar kamar, suara tawa masih terdengar samar.

“Sebenernya kasihan Hana itu,” suara tantenya kembali terdengar, kini lebih lirih tapi tetap jelas menembus. “Dari kecil memang kalah jauh sama kakaknya. Makanya harus dikejar. Jangan sampai nanti minder sendiri.”

Kalah.

Kata itu tidak hanya terdengar. Kata itu menancap. Seperti cap yang ditempelkan di dahinya sejak kecil. Hana mendorong tubuhnya menjauh dari pintu dan berjalan ke depan cermin.

Pantulan wajahnya menyambut. Lampu kamar yang putih membuat tekstur kulitnya terlihat lebih jelas. Jerawat yang masih merah. Bekas yang belum sepenuhnya hilang. Beberapa titik kecil di dahi. Satu di pipi kiri yang baru, muncul dua hari lalu.

Ia mendekat.

“Memang salahku punya wajah begini?” bisiknya.

Tangannya terangkat, menyentuh pipinya perlahan. Ia teringat pagi tadi. Berdiri di depan cermin yang sama, mencoba menutupi kemerahan dengan bedak tipis. Berharap tidak terlalu terlihat. Berharap cukup.

Tapi cukup untuk siapa?

Untuk teman-teman sekolah yang bahkan belum tentu memperhatikannya?

Atau untuk orang-orang di rumah yang selalu punya standar berbeda?

Air matanya jatuh tanpa izin.

Ia meraih bantal dan melemparkannya ke kasur.

“Kenapa harus dibandingin terus?” suaranya pecah.

“Kenapa selalu aku yang harus usaha lebih?”

Di kepalanya, suara tante bercampur dengan suaranya sendiri.

Mungkin memang aku kalah.

Mungkin memang aku yang kurang.

Mungkin kalau mukaku bersih, orang nggak akan ngomong begitu.

Mungkin kalau aku secantik kak Ghea. Semuanya bakal beda.

Ia benci karena pikiran itu terdengar masuk akal. Itulah yang paling menyakitkan. Bukan cuma kata-katanya.

Tapi bagaimana kata-kata itu perlahan berubah jadi suara di dalam kepalanya sendiri.

Ia duduk di tepi kasur. Pandangannya kosong ke arah dinding, tapi pikirannya penuh.

Ia teringat masa SMP.

Eliza yang dulu duduk di sampingnya setiap hari. Eliza yang tahu ia menyukai Gio. Eliza yang tersenyum dan berkata, “Tenang aja, aku dukung kok."

Lalu beberapa bulan kemudian, Eliza yang sama menggandeng tangan Gio di depan gerbang sekolah.

Hana masih ingat rasanya. Bukan cuma patah hati. Tapi rasa kalah. Rasa seperti selalu berada di posisi kedua. Tidak dipilih. Tidak diutamakan.

Dan hari ini, di ruang tamu itu, kata “kalah” muncul lagi. Seolah hidupnya memang ditakdirkan untuk selalu berada di bayangan seseorang.

Kakaknya.

Eliza.

Siapa lagi nanti?

Pintu diketuk pelan.

“Hana?” suara ibunya terdengar ragu. “Boleh Ibu masuk?”

Hana tidak menjawab.

Ia takut kalau membuka mulut, yang keluar bukan kata-kata, tapi tangisan yang tidak bisa ia kontrol.

Beberapa detik berlalu. Sunyi.

Lalu, di sela napasnya yang masih berantakan, ia seperti mendengar suara lain.

“Han.”

Ia membeku.

Suara itu tidak datang dari luar kamar. Tidak juga dari balik pintu. Suara itu datang dari ingatannya. Lebih berat, dan tegas. Seperti ayahnya dulu. Seperti saat ia pulang menangis karena diejek temannya saat SD yang bilang wajahnya seperti “peta berjerawat”.

“Han, orang baik itu bukan yang paling mulus wajahnya.”

Air matanya mengalir lagi, tapi kali ini berbeda.

Ia duduk bersila di lantai, memeluk dirinya sendiri.

“Ayah…” bisiknya pelan.

Ia tidak punya ayah lagi untuk membelanya di depan orang lain. Tidak ada yang akan menatap tantenya dan berkata cukup. Tidak ada yang akan berdiri di depannya dan membuatnya merasa aman tanpa harus jadi cantik dulu.

Tapi kenangan itu masih ada, dan mungkin itu satu-satunya hal yang membuatnya tidak benar-benar runtuh.

Di luar, suara tante masih berceloteh tentang hal lain. Tentang harga sembako. Tentang anak tetangga yang baru masuk kuliah negeri. Seolah ucapannya tadi kepada Hana hanyalah angin lalu.

Di dalam kamar, Hana menarik napas panjang. Hari ini di sekolah sebenarnya tidak sepenuhnya buruk.

Ia sempat mengangkat tangan saat diskusi kelompok. Suaranya memang sempat gemetar, tapi ada satu anak laki-laki di kelompoknya yang bilang, “Ide kamu bagus juga.”

Kalimat sederhana. Tapi cukup membuatnya merasa dilihat bukan karena wajahnya. Ia bahkan sempat tertawa kecil bersama teman sebangkunya saat jam kosong.

Beberapa jam tadi, ia hampir lupa soal perbandingan. Tapi satu kalimat di ruang tamu cukup untuk mengguncang semuanya.

Begitu rapuhkah kepercayaan dirinya?

Atau memang selama ini ia hanya pura-pura tidak peduli?

Ia bangkit dan kembali menatap cermin.

“Kalau aku berubah… apa semuanya bakal berhenti?” gumamnya.

Kalau saja jerawat ini hilang. Mungkin kulitnya lebih bersih. Mungkin ia terlihat lebih menarik.

Apa tante akan berhenti membandingkan?

Apa orang-orang akan lebih menghargainya?

Apa ia akan berhenti merasa kalah?

Ia mengusap air matanya dengan kasar. Besok ia tetap harus kembali ke sekolah. Ke tempat di mana, setidaknya untuk beberapa jam, ia tidak dipanggil “yang kalah”. Tidak dibandingkan secara terang-terangan dengan kakaknya.

Di luar kamar, terdengar suara pintu depan dibuka. Tawa tante menjauh. Suara langkah kaki. Lalu sunyi. Rumah kembali seperti biasa, seolah luka yang ia dapatkan bukan apa-apa.

Hana duduk di tepi kasur, menatap langit-langit. Sore ini menyakitkan. Tapi ia masih di sini. Masih bernapas. Masih punya kesempatan untuk memilih, besok ia mau jadi versi dirinya yang bagaimana, dan untuk sekarang, itu cukup. Cukup untuk membuatnya bertahan selama ini.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!