tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kontrak Darah dan Silvershade
Jeritan yang hendak meluncur dari kerongkongan Martha mati seketika, tertahan oleh horor yang membekukan darahnya. Matanya yang membelalak lebar terpaku pada tusuk konde perak yang kini menancap dalam di punggung tangan kanannya, menembus kulit dan otot, mengunci tangannya pada kasur berlapis selimut kasar. Darah segar berwarna merah pekat mulai merembes keluar dari luka robekan itu, menetes perlahan menodai kain linen yang kusam.
Namun, rasa sakit yang membakar dari luka tusuk itu seolah menguap saat ia memberanikan diri menatap wajah wanita yang memegang kendali atas senjata tersebut.
Lady Genevieve tidak berteriak. Ia tidak menangis, memohon, atau meratap seperti yang selama ini ia lakukan. Wanita berkulit pucat pasi itu duduk dengan punggung tegak bersandar pada bantal, memancarkan aura keagungan yang begitu dingin dan absolut hingga membuat udara di dalam kamar terasa semakin membeku. Di tangan kiri Genevieve, cangkir keramik berisi racun yang mematikan itu bertengger dengan sangat stabil, uapnya yang beraroma tanah basah mengepul pelan membelai wajahnya yang tanpa ekspresi.
Empat detik. Sistem telah memperingatkan bahwa ia hanya memiliki sisa tenaga untuk ledakan fisik selama empat detik. Dan Genevieve telah menggunakan waktu itu dengan presisi seorang pembunuh bayaran yang sangat terlatih.
Kini, tubuhnya mulai menuntut bayaran. Di balik gaun linen tipisnya, otot-otot lengannya mulai bergetar halus menahan kelelahan yang ekstrem. Jantungnya berdetak dengan ritme yang menyakitkan, memompa darah ke pelipisnya hingga pandangannya sedikit berkunang-kunang. Namun, dengan kendali mental yang ditempa dari kehidupan masa lalunya, Genevieve memaksakan wajahnya tetap datar, menelan ludah berdarah di mulutnya, dan memfokuskan tatapan esnya tepat ke kedalaman pupil Martha.
"Kau terkejut, Martha?" bisik Genevieve. Suaranya serak, pelan, namun setiap suku kata diucapkan dengan artikulasi tajam yang mengiris kesunyian kamar layaknya sebilah belati. "Apakah kau berpikir racun ini akan bekerja begitu cepat hingga merampas akal sehatku? Atau kau berpikir aku akan dengan patuh menenggaknya seperti anjing yang menelan racun tikus dari majikannya?"
"Nyo... Nyonya..." Suara Martha keluar seperti cicitan tikus yang terperangkap. Ia mencoba menarik tangannya secara instingtif, namun gerakan sekecil apa pun membuat ujung mawar hitam dari tusuk konde itu merobek dagingnya lebih lebar. Ia meringis kesakitan, lututnya bergetar hebat hingga nyaris menghantam lantai batu. "Saya... saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Ini... ini obat dari tabib—"
"Jangan menghina kecerdasanku, dan jangan membuang sisa waktumu yang berharga dengan kebohongan murahan," potong Genevieve dingin. Tangan kanannya yang terbebas perlahan meluncur mendekati tusuk konde yang menancap di tangan Martha. Alih-alih mencabutnya, jemari kurus Genevieve malah mencengkeram ukiran mawar hitam di ujung tusuk konde itu, lalu memutarnya beberapa milimeter dengan sengaja.
Martha memekik tertahan. Air mata rasa sakit seketika tumpah dari sudut matanya, membasahi bintik-bintik di pipinya yang kini seputih kertas. Napas pelayan itu memburu, dadanya naik turun dengan liar.
"Kau membawa konsentrat murni akar Silvershade pagi ini," lanjut Genevieve, nada suaranya tetap stabil dan mengalun pelan, kontras dengan kekejaman tindakannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap cangkir di tangan kirinya. "Sebuah dosis yang dilipatgandakan karena Tuan Gideon merasa terdesak. Karena utusan pos malam tadi membawa kabar buruk dari ibukota. Karena Nyonya Besar mulai kehilangan kesabarannya terhadap kalian yang tidak becus menyingkirkan satu wanita buangan."
Dunia Martha seakan runtuh seketika. Mata pelayan itu membelalak semakin lebar, nyaris melompat keluar dari rongganya. Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa suara. Fakta bahwa majikannya yang selama ini dianggap bodoh, lemah, dan depresi, bisa mengetahui percakapan rahasianya di pantri tengah malam tadi adalah sebuah ketidakmungkinan yang mengerikan. Ia merasa seolah sedang berhadapan dengan iblis yang bisa membaca pikirannya.
"Ba... bagaimana..." Martha tersedak ludahnya sendiri, tubuhnya merosot hingga ia berlutut di lantai dingin, namun tangannya tetap terpaku di atas ranjang. "Bagaimana Anda tahu...?"
Genevieve tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak perlu menjelaskan keberadaan Sistem atau penjelajahannya di malam hari. Ketidaktahuan adalah senjata psikologis yang paling ampuh. Semakin Martha tidak mengerti, semakin besar teror yang akan menguasai pelayan itu.
"Yang perlu kau ketahui, Martha, adalah fakta bahwa nyawamu saat ini berada di ujung tanduk, dan bukan aku yang menempatkannya di sana," ucap Genevieve pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke wajah Martha yang bersimbah air mata kepanikan. "Nyonya Besar akan memenggal kepalamu jika aku tidak mati. Tapi jika aku meminum racun ini dan mati hari ini, apakah kau benar-benar berpikir wanita sekejam Nyonya Besar akan membiarkan seorang pelayan rendahan sepertimu hidup untuk menceritakan rahasianya?"
Kalimat itu menghantam rasionalitas Martha layaknya godam besi. Pelayan itu terdiam kaku. Di balik teror yang menguasai benaknya, sebuah kesadaran yang dingin mulai merayap naik. Genevieve benar. Rahasia pembunuhan seorang Duchess adalah dosa yang terlalu besar. Begitu tugas ini selesai, Gideon mungkin akan diselamatkan karena posisinya, namun Martha? Ia hanyalah pion yang bisa dikorbankan kapan saja untuk menghilangkan jejak.
Genevieve melihat perubahan di mata Martha. Keraguan. Ketakutan pada majikan aslinya di ibukota. Itulah celah yang ia tunggu.
Dengan gerakan yang sangat anggun dan terukur, Genevieve menekan bagian tepi cangkir keramik itu ke atas tusuk konde perak yang masih menancap di tangan Martha.
"Tidak... kumohon, Nyonya, jangan..." Martha mulai terisak parah, matanya menatap liar pada cairan pekat di dalam cangkir yang kini berada tepat di atas luka terbukanya.
"Gideon memerintahkanmu untuk memastikan aku tidak bisa bernapas sebelum matahari terbenam hari ini, bukan?" Genevieve memiringkan cangkir itu dengan sangat hati-hati. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang membekukan jiwa. "Mari kita lihat seberapa cepat racun ini bekerja jika ia masuk langsung ke dalam pembuluh darahmu."
Satu tetes cairan pekat berwarna kecokelatan itu meluncur dari bibir cangkir.
Tetesan itu jatuh dengan lambat di udara, menabrak pangkal tusuk konde perak, lalu mengalir turun mengikuti lekuk logam tersebut, dan akhirnya bercampur dengan darah merah yang menggenang di luka tusuk tangan Martha.
"TIDAK!" Martha menjerit tertahan, tubuhnya mengejang ke belakang karena panik luar biasa, namun rasa sakit dari tusuk konde itu memaksanya kembali berlutut. Ia menatap tangannya dengan horor absolut saat cairan itu menyerap masuk ke dalam dagingnya.
**[Peringatan Sistem: Objek Asing (Akar Silvershade) terdeteksi memasuki aliran darah target eksternal. Dosis sangat rendah. Perkiraan waktu menuju kerusakan organ permanen: 7 Hari.]**
Tulisan biru yang melayang di sudut pandangan Genevieve mengonfirmasi taktiknya. Ia tidak berniat membunuh Martha di tempat; mayat pelayan di kamarnya hanya akan mempercepat eksekusi dari pasukan ibukota. Ia membutuhkan bidak catur yang hidup.