Istri pilihan menceritakan tentang.
Dina Nabila, Nabila kecil selalu bahagia, selalu ada senyum, dan canda tawa yang menghiasi hari - harinya dengan dikelilingi oleh orang - orang yang menyayanginya.
Tapi, semua itu berubah semenjak sang Ayah pergi untuk selama - lamanya.
Bukan sesuatu hal yang mudah baginya untuk menerima kenyataan setelah di tinggal pergi untuk selama - lamanya oleh orang yang sangat sangat di cintainya yaitu Ayahnya.
"Dasar anak pembawa sial, menyesal aku pernah melahirkan mu kedunia ini."
Dia pun harus berjuang sendiri melawan dan melewati seluruh rintangan yang di depannya sudah menghadangnya. Hingga suatu ketika entah nasib baik atau buruk, dia terpilih menjadi istri seorang pemuda yang terkenal kayak raya dan cukup populer namanya di dunia bisnis.
Akankah Nabila menemukan kebahagiaan setelah menikah ?
Atau malah sebalinya, penyiksaan, caci maki dan air mata menjadi teman setianya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan harus kah berpisah adalah jalan terakhir yang harus mereka tempuh?
Simak ceritanya dalam "Istri pilihan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safarina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
Setelah beberapa saat bergulat dengan rumput dan lain sebagainya. Saatnya aku melaporkan tugas ku sama Nyonya Luciana.
Dengan berjalan sambil menyeka keringat dengan punggung tangan ku, aku pun berjalan mendekat ke arah mereka semua.
Sambil tersenyum aku pun berucap, "Nyonya semua nya sudah selesai Nabila kerjakan."
Dengan ekspresi datar Nyonya Luciana pun berdiri dan mengedarkan pandangannya dari jauh untuk membuktikan ucapan ku.
Nyonya Luciana pun menatapku dari atas hingga kaki, dengan tatapan melirik kesamping, "Irene urus anak ini," ucap nya kemudian berlalu pergi.
Bunda Irene pun berjalan kearah ku, sementara Ayah Bima dan Ghea menyusul Nyonya Luciana masuk kedalam rumah.
Sambil mengusap - usap pundakku, "Kamu pasti lelah seharian ini mengerjakan pekerjaan rumah? Dan coba lihat penampilanmu sungguh sangat kotor dan bau, kucel + kumal. Maaf kan ibuku ya Nak."
Aku pun memandangi pakaianku, "He ... he ... he ...." seraya menggaruk kepala yang tak gatal, "Maaf."
"Sudah ... sudah ... ayo kita masuk
kedalam dan ganti pakaianmu dengan baju yang bersih."
Kami pun berjalan masuk beriringan. Kini aku sudah di lantai 3 di dalam kamar Bunda Irene. Mataku pun terbelalak tak percaya ketika masuk dan melihat isi kamar Bunda Irene. Kamar besar dan luas kalau di banding dengan kamarku mungkin di gabung jadi tiga kamar ibu, dan kakak baru bisa menandingi luasnya.
Kamar tidur bergaya klasik dengan furnitur yang penuh dengan ukiran detail, warna putih, silver dan emas.
Menyadari kehadiran ku yang tidak ada di samping nya saat ini Bunda Irene pun menoleh kebelakang, "Nabila ngapain kamu di sana berdiri? Ayo sini!"
Aku pun tersadar, "Iya Nyonya," seraya berjalan kearahnya.
"Kamar mandi ada di sana," seraya menunjuk, "Di dalam sudah ada handuk bersih. Kamu mandi terlebih dahulu, Saya mau menyiapkan baju yang mau kamu pake setelah mandi."
Kini aku sudah berada di dalam kamar mandi, kembali aku tercengang dengan barang - barang yg ada di dalam kamar mandi ini. Mulai dari lantai, pinggiran bathtub, dinding sampai westafel dan tiang - tiangnya berlapiskan marmer marbel keemasan.
Tak hanya sampai disitu beberapa dinding kamar mandi ini juga terdapat corak hiasan emas, dengan frame kacanya yang juga berwarna emas mengkilap.
"Wah horang kaya mah bebas ya, pemirsa."
Lama aku termangu di dalam kamar mandi yang menurutku sungguh sangat luar biasa. Dan sungguh sangat disayangkan jika kamar mandi secantik dan sebagus ini di gunakan mandi 😂😂😂
"Nabila ... Nabila ... apa kamu baik - baik saja?" ketukan pintu dari luar.
"Iya bentar lagi Nabila selesai mandi," ucap ku berbohong. Aku pun segera memulai ritual mandiku.
Sesaat kemudian kini aku sudah mandi dan sudah berada di luar kamar mandi.
Aku pun berjalan memdekat ke arah Nyonya Irene. "Nyonya, saya sudah mandi," ucapku sambil memegang baju mandiku.
Bunda Irene pun menoleh, "Eh ... kamu sudah mandi, ayo duduk sini!" ucap Bunda Irene sambil menepuk - nepuk kasur yang ada di sampingnya.
Aku pun berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Bunda Irene pun menatapku, "Kamu biar tidak berdandan pun tetap cantik Nabila," puji Bunda Irene. Aku pun menatap Bunda Irene, "Terima kasih Nyonya atas pujiannya."
Sambil menyodorkan baju, "Nih segeralah berganti sebelum kamu masuk angin efek kelamaan memakai baju mandi," ucap Bunda Irene. "Bunda tunggu kamu di bawah," ucap Bunda Irene kemudian berdiri dan berlalu pergi dari hadapanku.
Selepas Bunda Irene pergi, aku masih duduk diam membisu di atas pembaringan dan menatap sekeliling kamar, aku kagum atas kemewahan kamar ini. Dan untuk berandai - andai tinggal di rumah mewah dan sebagus ini pun aku tak sanggup membayangkannya.
Sesaat kemudian kini aku sudah memakai pakaianku dan sudah memoles wajahku dengan dandanan natural. Lalu ku perhatikan penampilan ku yang terpantul di cermin, "sungguh sangat cantik," pujiku pada diri sendiri. Lalu aku pun segera melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar.
Dan segera menuju lift untuk membawaku segera tiba di lantai bawah.
Kini aku sudah tiba di bawah dan segera melangkah untuk bergabung dengan mereka semuanya.
...❤❤❤...
...Terima kasih untuk yang sudah mampir memberikan like dan komentar dan terima kasih juga yang sudah memberikan like mode senyap. Maaf komentar - komentar kalian tidak bisa aku balas satu persatu....
...Untuk yang ingin promo silahkan promo tapi sebelum itu like karya author dulu, lalu silahkan meninggalkan pesan di kolom komentar nanti aku berkunjung balik ke karya keren anda - anda semua. Terima kasih, semangat dan mari saling mendukung....
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...
I love you pulll😘😘💋💋
ini sekedar masukan doang thor