mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Langkah Pertama
musim kemarau mulai tiba.
Jakarta memasuki bulan Mei dengan suhu yang semakin panas. Tapi di rumah Menteng, kipas angin berputar kencang dan es teh manis selalu tersedia. Baby Asmara—kinik genap satu tahun—menjadi pusat perhatian dengan pencapaian barunya.
Pagi itu, Kalara duduk di ruang keluarga sambil mengawasi baby Asmara yang merangkak di atas matras. Raka baru saja berangkat ke kafe, meninggalkan pesan singkat seperti biasa: "Jaga anak kita, Sayang. Aku pulang sore."
Tiba-tiba, baby Asmara melakukan sesuatu yang membuat Kalara terkesiap. Bayi itu merangkak ke arah kursi kecil, lalu dengan susah payah berdiri dengan berpegangan. Kemudian, perlahan, ia melepaskan satu tangan, lalu tangan satunya. Dan... ia berdiri sendiri selama beberapa detik sebelum jatuh lagi.
"Asmara!" teriak Kalara. "Kak! Nad! Lihat!"
Arsya yang sedang membaca koran di beranda langsung masuk. Nadia yang baru selesai mandi juga keluar. Mereka melihat baby Asmara mencoba lagi—berdiri, goyah, lalu tersenyum bangga.
"Dia mau jalan!" seru Arsya.
"Dukung, dukung!" teriak Nadia.
Rara dan Melati yang mendengar keributan juga ikut nimbrung. Mereka duduk bersila di lantai, memberi semangat pada adik bungsu mereka.
"Ayo, Dek! Jalan!" sorak Rara.
"Jalan, Dek! Ke Melati!" teriak Melati.
Baby Asmara menatap mereka dengan mata bulatnya. Ia tersenyum, lalu dengan berani melangkah—satu langkah kecil, goyah, lalu jatuh. Tapi ia tidak menangis. Ia malah tertawa.
Dia mencoba lagi. Langkah kedua, ketiga... dan pada percobaan keempat, ia berhasil melangkah empat langkah sebelum jatuh ke pelukan Kalara.
Dunia berhenti sejenak. Lalu semua bertepuk tangan.
"Asmara bisa jalan! Asmara bisa jalan!" Rara dan Melati berjingkrak.
Kalara menangis. Raka tidak ada di sini, dan ia ingin suaminya tahu kabar ini. Ia segera mengambil ponsel, merekam video baby Asmara yang sedang berlatih jalan, lalu mengirimnya ke Raka.
Tak sampai semenit, Raka membalas dengan panggilan video.
"Beneran?! Dia jalan?!" suara Raka di layar, tampak tidak percaya.
"Iya, Ra. Lihat!"
Raka menyaksikan melalui layar bagaimana anaknya yang mungil melangkah goyah, tertawa, lalu jatuh. Air matanya jatuh.
"Asmara... Nak... Ayah bangga."
Baby Asmara menatap layar, mengenali wajah ayahnya. Ia meraih ponsel itu, mencoba meraih Raka di layar.
"Ayah pulang, ya, Nak? Nanti Ayah temani jalan."
Berita tentang langkah pertama baby Asmara menyebar cepat. Lastri yang sedang di dapur langsung berlari. Eyang Kusuma yang sedang duduk di kamar minta digendong ke ruang keluarga.
"Coba, Eyang lihat," pinta Eyang.
Baby Asmara dengan bangga mempertunjukkan kemampuannya. Ia melangkah tiga langkah ke arah Eyang, lalu jatuh. Tapi ia bangkit lagi, merangkak, lalu berdiri dan melangkah lagi.
"Pintar, Nak. Pintar sekali." Eyang menangis haru. "Asmara, cicitku, sudah bisa jalan."
Malam harinya, saat Raka pulang, baby Asmara menyambutnya dengan aksi jalan—tiga langkah ke arah ayahnya, lalu jatuh di kaki Raka.
Raka menggendongnya erat. "Anak Ayah hebat. Ayah sayang kamu."
Baby Asmara tertawa, memperlihatkan deretan gigi mungilnya yang lucu.
Seminggu kemudian, baby Asmara semakin percaya diri. Ia sudah bisa berjalan sampai sepuluh langkah tanpa jatuh. Tentu saja dengan gaya khas bayi—tangan terentang, tubuh goyah, tapi tekad baja.
Rara dan Melati menjadi "pelatih" dadakan. Mereka berjalan di depan, memanggil-manggil adiknya.
"Ayo, Dek! Ke sini! Ada permen!"
Baby Asmara berjalan ke arah mereka, mata berbinar. Begitu sampai, Rara memberinya hadiah—bukan permen, tapi pelukan.
"Kakak sayang adek."
Melati mencium pipi adiknya. "Melati juga sayang."
Di sudut ruangan, Arsya dan Nadia menyaksikan dengan senyum. Baby Asmara adalah anak pertama mereka bersama, dan melihatnya tumbuh adalah kebahagiaan tersendiri.
"Ars," panggil Nadia pelan.
"Hm?"
"Aku mau ngomong sesuatu."
Arsya menoleh. Wajah Nadia serius. "Ada apa?"
Nadia menarik napas. "Aku... aku hamil lagi."
Dunia Arsya berhenti sejenak. Lalu ia tersenyum lebar. "Serius?"
"Serius. Dua bulan."
Arsya memeluknya erat, tidak peduli dilihat orang. "Nad... ini luar biasa."
Nadia tertawa dalam pelukannya. "Iya, luar biasa. Dan agak menakutkan."
"Menakutkan kenapa?"
"Dua anak. Asmara masih bayi, nanti punya adik lagi. Kita sanggup?"
Arsya melepas pelukan, menatap matanya. "Kita sanggup. Kita punya keluarga besar yang siap bantu. Dan yang terpenting, kita punya satu sama lain."
Nadia tersenyum. "Makasih, Ars."
"Makasih kamu sudah memberiku keluarga."
Malam harinya, mereka mengumumkan kabar bahagia pada semua. Rara dan Melati berteriak senang. Kalara memeluk Nadia haru. Raka menjabat tangan Arsya. Eyang Kusuma menangis bahagia.
"Tuhan masih memberi berkah," bisik Eyang.
Lastri langsung sibuk menghitung. "Nanti baby lahir, Asmara umur berapa? Sekitar 1,5 tahun. Itu jarak ideal."
Semua tertawa. Lastri sudah seperti anggota keluarga inti.
Juni tiba. Kandungan Nadia memasuki bulan ketiga. Ia mulai sering mual di pagi hari, tapi tetap semangat bekerja dari rumah. Arsya sangat perhatian, selalu memastikan ia makan dan istirahat cukup.
Baby Asmara kini sudah lincah berjalan. Ia bahkan sudah bisa berlari kecil—tentu dengan risiko jatuh yang besar. Tapi itu tidak menghentikannya. Rumah Menteng jadi saksi petualangan kecilnya.
Suatu sore, saat Nadia sedang berbaring di kamar karena mual, baby Asmara masuk dengan merangkak (karena pintu tidak ditutup rapat). Ia berdiri di samping tempat tidur, menarik-narik selimut.
"Ma... ma..." panggilnya.
Nadia membuka mata, tersenyum. "Asmara, Sayang. Sini."
Bayi itu mengulurkan tangan, minta digendong. Nadia menggendongnya meskipun lemas. Ia menciumi pipi gembul anaknya.
"Ma... sakit?" tanya baby Asmara dengan bahasa bayinya.
"Mama tidak sakit, Sayang. Hanya sedikit mual. Adek di perut Mama."
Baby Asmara menatap perut Nadia dengan serius. Lalu ia menepuk-nepuknya pelan.
"Ad... ad..."
"Iya, adik. Kamu sebentar lagi punya adik."
Baby Asmara tersenyum, lalu mencium perut Nadia. Momen itu diabadikan Arsya yang masuk dengan kamera ponsel.
"Ini akan jadi kenangan," katanya.
Bulan berganti. Kandungan Nadia semakin besar. Baby Asmara semakin aktif. Rara dan Melati sibuk dengan sekolah dan kegiatan mereka. Rumah Menteng terus bernyanyi dengan suara riuh rendah.
Eyang Kusuma kini semakin sehat. Ia rutin kontrol ke dokter, makan teratur, dan sering jalan-jalan pagi di taman belakang dengan bantuan Lastri. Baby Asmara sering menemani, berjalan di samping kursi roda Eyang sambil memegang erat.
"Eyang... jalan," katanya, meniru orang dewasa.
"Iya, Nak. Eyang jalan."
Mereka berdua, yang termuda dan tertua, berjalan bersama di bawah pohon beringin. Pemandangan yang mengharukan siapa pun yang melihat.
Suatu sore, saat hujan turun deras, mereka berkumpul di ruang keluarga seperti biasa. Rara sedang mengerjakan PR, Melati mewarnai, baby Asmara bermain balok. Kalara dan Nadia ngobrol ringan, sementara Arsya dan Raka diskusi tentang bisnis.
Lastri masuk dari dapur, membawa nampan berisi pisang goreng hangat dan teh.
"Makan dulu, semuanya."
"Tante Lastri memang yang terbaik," puji Raka.
"Makasih, Nak. Tante senang bisa buat kalian bahagia."
Eyang Kusuma yang duduk di kursi malasnya memanggil Lastri. "Lastri, sini duduk."
Lastri duduk di samping Eyang.
"Lastri, aku mau bilang sesuatu."
"Apa, Tante?"
"Makasih. Makasih sudah menjaga aku, sudah menjadi keluarga. Tanpa kamu, aku tidak akan bertemu mereka."
Lastri menangis. "Tante, saya yang berterima kasih. Tante menerima saya, memberi saya tempat di keluarga ini."
"Kamu memang keluarga. Kamu adiknya Rarasati, itu sudah cukup."
Mereka berpelukan. Semua yang melihat tersentuh.
Agustus tiba. Kandungan Nadia delapan bulan. Perutnya besar, tapi ia tetap aktif. Dokter mengatakan kesehatannya baik, bayi juga sehat.
Baby Asmara kini satu tahun empat bulan. Ia sudah bisa bicara beberapa kata: "ma", "pa", "om", "kak", "eyang", dan yang paling sering, "nggak" (tidak). Ia juga sudah bisa makan sendiri meskipun berantakan.
Suatu malam, saat mereka makan malam bersama, baby Asmara melakukan sesuatu yang lucu. Ia mengambil sendok, mencoba menyuapi Eyang Kusuma.
"Eyang... makan."
Eyang tertawa, membuka mulut. Baby Asmara dengan hati-hati menyuapkan nasi ke mulut Eyang, meskipun setengahnya tumpah di meja.
"Enak?" tanyanya.
"Enak sekali, Nak."
Baby Asmara tersenyum bangga. Lalu ia mencoba menyuapi semua orang—Om Arsya, Tante Nad, Kak Rara, Kak Melati, Mama, Ayah, Tante Lastri. Semua bersedia meskipun harus membersihkan tumpahan nasi di mana-mana.
"Ini yang namanya cinta," kata Kalara. "Sederhana, tapi tulus."
September. Nadia melahirkan.
Bayi perempuan, lahir tanggal 9 September, pukul 9 pagi. Berat 3,1 kg, panjang 50 cm. Dokter bilang, "Lahir di tanggal dan jam yang cantik."
Nama diberikan: Kirana Cinta. Kirana berarti cahaya, Cinta—karena ia lahir dari cinta.
Rara dan Melati girang bukan main. Mereka punya adik lagi—sekarang total tiga: Rara, Melati, baby Asmara, dan baby Kirana. Rumah Menteng semakin ramai.
Baby Asmara datang menjenguk adiknya di rumah sakit. Ia menatap bayi merah mungil itu dengan rasa ingin tahu.
"Ad... ad..." tunjuknya.
"Iya, itu adik. Namanya Kirana."
Baby Asmara mengulang, "Kiki... Kiki..."
Dari situlah panggilan "Kiki" lahir. Kirana kecil akan dipanggil Kiki oleh keluarganya.
Eyang Kusuma menggendong Kiki dengan hati-hati. Matanya berkaca-kaca.
"Anak-anak, lihat. Ini cicitku yang keempat. Keluarga kita makin besar."
Mereka semua berkumpul di ruang rumah sakit—berjejalan, berisik, tapi bahagia. Perawat yang masuk tersenyum melihat pemandangan itu.
"Ibu pasien, keluarga Ibu besar sekali, ya."
Nadia tersenyum lelah. "Iya, Bu. Ini keluarga saya."
Dua minggu kemudian, Nadia dan Kiki pulang ke rumah Menteng. Baby Asmara sudah tidak sabar bermain dengan adiknya. Tapi ia masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa bayi baru lahir tidak bisa diajak main.
"Kiki, main!" ajaknya.
"Kiki masih kecil, Nak. Belum bisa main. Nanti kalau sudah besar."
Baby Asmara mengangguk, menerima penjelasan itu. Lalu ia duduk di samping ayunan Kiki, memegang tangannya yang mungil.
"Kiki, nanti main sama Asmara, ya."
Kiki hanya menggerakkan tangannya, tapi baby Asmara puas.
Malam harinya, setelah anak-anak tidur, semua berkumpul di ruang keluarga. Eyang di kursi malas, Lastri di sampingnya, Arsya dan Nadia dengan Kiki di ayunan, Kalara dan Raka, Rara dan Melati sudah tidur.
"Ini keluarga kita," kata Arsya. "Semakin besar, semakin ramai."
"Iya," sahut Kalara. "Dulu kita berdua. Sekarang... hitung: Eyang, Tante Lastri, aku, Raka, Nadia, Arsya, Rara, Melati, Asmara, Kiki. Sepuluh orang."
"Belum Mama dan Ayah," tambah Nadia.
"Belum Pak Willem," sahut Raka.
"Berarti belasan. Luar biasa."
Eyang tersenyum. "Dan masih akan terus bertambah. Nanti Rara besar, punya suami, punya anak. Melati juga. Asmara dan Kiki juga."
Semua tertawa. Membayangkan masa depan yang cerah.
Malam itu, mereka duduk bersama hingga larut. Bercerita, tertawa, kadang haru. Kiki terbangun untuk menyusu, lalu tidur lagi. Baby Asmara terbangun, merangkak keluar kamar mencari keramaian, lalu digendong Arsya hingga tertidur di pangkuan.
Rumah Menteng sunyi.
Tapi tidak sepi.
Karena rumah ini bernyanyi.
Bernyanyi dengan suara tangis bayi.
Bernyanyi dengan suara tawa anak-anak.
Bernyanyi dengan suara cinta yang tak pernah padam.
Selamanya.
Bersambung...