"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sinar Pagi yang Berbeda
[POV: Vaya]
Aku terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya sejak terlempar ke masa depan ini, aku tidak mencari jam dinding dengan panik atau berharap bisa bangun di kamar masa remajaku yang berantakan.
Sinar matahari pagi menyusup dari sela gorden, menyinari wajah Narev yang masih terlelap di sampingku. Tangannya masih melingkar protektif di pinggangku, sebuah kebiasaan yang mulai kupahami sebagai bentuk ketakutannya kehilangan aku.
Aku memperhatikan garis wajahnya. Narev dewasa benar-benar definisi pria tampan yang matang. Rahangnya yang tegas, bulu mata yang lentik untuk ukuran pria setinggi dia, dan... bekas cakaran kecil di bahunya akibat perbuatanku semalam. Wajahku memanas mengingat betapa emosionalnya kami di ruang kerja tadi malam sebelum berakhir di sini.
"Melihatku lagi?" gumam Narev, suaranya serak dan berat karena baru bangun tidur.
Aku tersentak pelan. "Eh... kamu sudah bangun?"
Narev membuka matanya perlahan. Dia tidak langsung melepaskanku, malah menarikku semakin rapat hingga tidak ada celah di antara tubuh kami. Dia membenamkan wajahnya di ceruk leherku, menghirup aroma tubuhku dalam-dalam seolah itu adalah pasokan oksigennya.
"Aku takut ini cuma mimpi, Vaya," bisiknya parau. "Aku takut saat aku buka mata, kamu kembali menatapku dengan kebencian dan meminta cerai lagi."
Aku mengelus rambutnya yang berantakan dengan lembut. "Itu nggak akan terjadi, Narev. Aku di sini. Benar-benar di sini."
Narev mendongak, menatap mataku dengan intensitas yang membuatku berdebar. "Katakan sekali lagi. Katakan kalau kamu tidak akan menemui Rian, apa pun yang terjadi."
"Aku janji, Narev. Rian cuma masa lalu yang nggak aku ingat, dan aku nggak butuh tahu lebih banyak kalau itu cuma bikin keluarga kita hancur," balasku mantap.
Narev terdiam sejenak, lalu dia memberikan kecupan lembut di keningku. "Terima kasih, Cebol. Maaf kalau aku masih sering bersikap berlebihan."
...****************...
[POV: Narev]
Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggang, melihat Vaya sedang sibuk merapikan tempat tidur. Pemandangan ini... pemandangan yang dulu hanya bisa kubayangkan dalam mimpi terliarku. Selama bertahun-tahun, setiap kali aku bangun, aku hanya menemukan sisi tempat tidur yang dingin karena Vaya memilih tidur di sofa atau di kamar tamu untuk menghindariku.
Ponselku yang terletak di atas nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari asisten pribadiku.
“Tuan, Rian Dirgantara terlihat menghubungi beberapa kolega bisnis Anda pagi ini. Tampaknya dia sedang mencari celah untuk menyerang kredibilitas perusahaan Anda sebagai balasan atas kejadian di kafe kemarin.”
Rahangku mengeras. Serigala itu benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah. Dia pikir dia bisa melawanku hanya dengan intrik bisnis picik? Dia tidak tahu bahwa aku bisa melakukan hal yang jauh lebih kejam jika dia terus mencoba menyentuh milikku.
"Narev? Kenapa bengong?" suara Vaya membuyarkan lamunanku. Dia menghampiriku, tangannya yang mungil merapikan kerah kemeja yang baru saja kupakai.
"Bukan apa-apa, Sayang. Hanya masalah kantor biasa," aku berbohong. Aku tidak ingin merusak suasana damai ini dengan menyebut nama bajingan itu.
"Jangan terlalu lelah, ya? Mici bilang dia mau kita main bola di taman sore nanti," ucap Vaya sambil tersenyum manis.
Aku menarik pinggangnya, mencium bibirnya singkat namun penuh penekanan. "Apapun untukmu dan Mici. Aku akan pulang lebih awal hari ini."
...****************...
[POV: Vaya]
Setelah Narev berangkat kerja, aku memutuskan untuk benar-benar mendalami peranku. Aku pergi ke butik pribadiku—tempat di mana "Vaya Dewasa" menghabiskan waktunya. Aku ingin tahu lebih banyak tentang diriku sendiri.
Di butik, asisten pribadiku, Celine, menyambutku dengan wajah cemas.
"Nyonya, akhirnya Anda datang! Tadi ada seseorang yang menitipkan ini untuk Anda," Celine menyodorkan sebuah amplop cokelat kecil yang tidak ada nama pengirimnya.
"Dari siapa, Celine?"
"Katanya dari teman lama Anda, Nyonya. Dia bilang ini adalah kunci yang akan membuka mata Anda tentang siapa Narev Elvaro sebenarnya di masa SMA dulu."
Jantungku berdegup kencang. Aku menatap amplop itu dengan ragu. Haruskah aku membukanya? Ataukah aku harus membuangnya demi menjaga janji yang baru saja kubuat pada Narev tadi pagi?
Tiba-tiba, suara jernih Mici kembali bergema di kepalaku, padahal Mici sedang di rumah bersama Bi Inah.
“Mama... jangan buka... itu hantu... hantu jahat mau bawa Mama pergi...”
Aku tersentak. Suara hati Mici memberiku peringatan. Apakah ini benar-benar jebakan dari Rian lagi? Ataukah ada rahasia lain yang Narev sembunyikan bahkan sejak kami masih memakai seragam putih-abu-abu?
...****************...
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa