Untuk visualnya, silahkan kunjungi Instagram noer_azzura16
Kakak Bella ditemukan dalam keadaan mabukk dan menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa Lusi, adik Leo. Membuat ibu dan ayah Leo terpukul hebat.
Sementara Bella dan Leo baru saja kembali dari bulan madu. Kebahagiaan itu hancur seketika, melihat keluarga yang akhirnya menatap Bella sebagai seorang adik dari pembunuhh orang yang mereka cintai.
Setelahnya Bella bahkan tidak bisa menatap cinta itu lagi di mata suaminya. Meski kakaknya bahkan di penjara. Dia masih harus menanggung akibat dari apa yang dilakukan kakaknya itu.
Dua orang yang tadinya saling mencintai, dendam telah mengalahkan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20-CKOD 20
Bella baru akan berbalik, posisi tidur di sofa itu sebenarnya sangat tidak nyaman. Tapi, baginya yang sudah menjalani hal itu selama satu tahun lebih. Tentu saja sudah biasa, kalau pegal miring kanan, ya tinggal miring kiri.
Dan itu yang akan dia lakukan, dia sudah miring kanan cukup lama. Menghadap ke arah jendela. Dia baru akan berbalik untuk beralih miring ke kiri ketika dia melihat Leo berdiri di sampingnya. Tengah menatapnya dengan tatapan yang tak Bella pahami.
Ya, sebenarnya sejak beberapa hari belakangan ini. Bella memang sudah tidak ingin memahaminya lagi.
"Mas..."
Bella tidak melanjutkan ucapannya, tangan pria itu sudah meraih pergelangan tangannya dan menariknya dengan keras.
Bella tak lagi memekik kesakitan seperti terakhir kali. Dia harus bisa mengatasi ini. Ada Rara, ada Ted, ada kak Aditya. Mereka pasti sedang mencari cara untuk melepaskan kakaknya dari penjara. Dia tidak boleh merusak rencana mereka, dengan mengeluh kesakitan hanya karena cengkeraman Leo yang sudah dia kerap rasakan rasa sakitnya selama setahun lebih ini.
Bella sampai bangkit berdiri. Karena memang tarikan Leo itu sangat kuat padanya.
"Tidak melepaskan sepatuku? kenapa? mulai tidak perduli padaku?" tanya Leo dengan tatapan yang begitu tajam dan mendominasi.
'Sudah tahu, kenapa bertanya?' batin Bella.
Leo terdiam sejenak. Bella menatapnya cukup lama. Biasanya, istrinya itu tidak akan berani menatapnya selama itu. Biasanya istrinya itu akan langsung menutup saat kedua manik mata mereka bertemu. Tapi, Bella bahkan tidak berkedip atau memalingkan wajahnya.
Leo mencengkeram semakin kuat pergelangan Bella. Dan tidak ada raut wajah kesakitan di wajah itu.
Sebenarnya mustahil tidak sakit. Tapi Bella menahannya. Seperti yang dikatakan oleh perawat Airin. Semakin kita terlihat lemah, menunjukkan kesakitan di depan orang yang menyiksaa kita. Itu akan semakin membuat mereka puas, hingga akan melakukannya lagi dan lagi.
Namun sebaliknya, jika kita menunjukkan hal itu sama sekali tidak berpengaruh untuk kita. Justru itu akan membuat orang yang melakukan kekerasan, merasa tidak senang dan pada akhirnya bosan sendiri.
"Jawab aku!" pekik Leo.
"Mau dengar jawaban apa?" tanya Bella.
Leo terkejut, bahkan pria itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya. Itu adalah kali pertama Bella berani bicara seperti itu pada Leo.
"Rupanya pelajaran kemarin pada kakakmu belum cukup membuatmu, patuh?" bentak Leo.
Bella terdiam. Dia baru saja mau menunjukkan perlawanan. Tapi pada akhirnya, kelemahannya ditekan oleh Leo.
Bella menghela nafas berat.
"Kamu mau aku buka sepatumu?" tanya Bella pelan, "aku akan lakukan!"
Bella menunduk, dia akan membuka sepatu Leo. Tapi, lagi-lagi pria itu menarik tangan Bella sampai Bella berdiri dan menabrak dada Leo.
"Kamu benar-benar mulai berani? apa dia menemui mu di rumah sakit? apa dia datang dan bilang akan membelamu?" tanya Leo dengan marah.
Bella menatap mata Leo yang penuh amarah itu.
'Dia... dia siapa? apa Leo tahu kalau kak Aditya....'
"Jadi benar Frans datang menemui mu di rumah sakit?" pekik Leo lagi.
Bella sendiri kaget mendengar nama itu.
"Frans?" ulangnya bertanya pada Leo.
Karena dia memang tidak bertemu Frans. Dia terkejut, Leo punya pikiran seperti itu. Dan berkata seperti itu.
Leo menundukkan wajah seperti seseorang yang tebakannya benar.
"Jadi benar! dia mau jadi pahlawan. Setelah tahu hubungan kita berantakan dia mau datang jadi pahlawan! menjijikkan, cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu masih dia kejar rupanya"
Bella tak mengerti, tapi dia paham maksud Leo.
'Cinta bertepuk sebelah tangan? jadi mas Frans...'
Mata Bella melebar. Dia masih memikirkan ucapan Leo tadi. Tapi pria itu sudah menciumnya dengan sangat kasar. Tak memberikan celah bagi Bella untuk bernafas. Bahkan satu tangannya mencekikk leher Bella.
'Bagus! bunuhh saja aku! maka jika kakakku bebas, dia juga akan menghabisimu tanpa ampun!' batin Bella.
Tapi ketika Bella nyaris lemas, Leo melepaskannya. Bella membuka matanya perlahan,
"Kenapa tidak kamu habisi saja aku? katamu aku membuatmu jijik kan? membuatmu marah, hanya ada kebencian di mata dan hatimu untukku. Kenapa tidak habisii aku saja?" tanya Bella dengan nada sindiran yang sangat tajam.
Tapi melihat Bella mulai melawan. Leo terkekeh.
"Jadi keberanian mu ini memang datang dari pria itu! maka aku akan membuatmu kehilangan keberanianmu itu! percaya atau tidak, aku bisa membuat perusahaan Frans bangkrut dalam sekejap!" gertak Leo.
Bella menatap pria yang tengah mengancamnya itu. Bahkan semua yang dia katakan itu adalah tuduhan yang tidak ada buktinya, tidak berdasar sama sekali. Bella bahkan tidak pernah lagi bertemu dengan Frans sejak pesta pernikahan mereka satu tahun lebih yang lalu.
Dan sekarang pria itu bicara, seolah Bella bertemu diam-diam dengan Frans. Dan Frans memberikan Bella keberanian untuk melawan Leo. Bella sungguh merasa dia benar-benar butaa dulu.
"Bagaimana aku bisa mencintai pria egois sepertimu?" gumam Bella yang matanya sudah berkaca-kaca.
Leo masih menatap Bella dengan tatapan bencinya.
"Orang yang selalu menuduh tanpa bukti! tanya pada semua orang di rumah sakit. Aku bertemu Frans atau tidak?" tanya Bella dengan nada yang masih sama.
"Pria itu akan menghilangkan barang bukti!" bantah Leo.
Bella rasanya benar-benar ingin memaki dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa mencintai pria picik seperti Leo, dulu.
"Kalau begitu jangan tanya lagi. Apa yang kamu pikirkan itu yang kamu yakini. Semua yang aku katakan, hanya akan salah di matamu. Terserah kamu mau pikir apa" Bella menyerah.
Tapi dia tetap menatap Leo.
"Jangan harap bisa melihat kakakmu..."
"Bunuhh saja kami!" sela Bella.
Leo semakin merasa dadanya terbakar mendengar itu. Dia melepaskan Bella, dan mendorongnya dengan kencang ke arah sofa.
Brukk
Bella jatuh, cukup keras di sofa. Punggungnya juga membentur keras sandaran sofa. Tapi dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi lain. Masih sama, tetap datar tanpa ekspresi kesakitan atau marah.
"Hutang kalian padaku dan keluargaku. Tak akan cukup hanya dengan kematian kalian!" pekik Leo yang segera keluar dari kamar itu dengan membanting pintu sangat keras.
Brakk
Bella terkekeh getir.
"Hutang? kami tidak berhutang apapun. Sebagai kakak, apa kamu tidak tahu sifat adikmu. Lucy lah yang sejak dulu merayu kakakku. Siapa yang tahu, apa yang dia coba lakukan malam itu?" gumam Bella sangat menyayangkan prinsip Leo.
Dia saja tahu betul siapa kakaknya. Kakaknya bukan orang yang suka minum, bukan seseorang yang akan mabukk jika tidak disabotase. Sayangnya, karena sangat menyayangi adiknya, Leo bahkan menutup matanya. Tidak ingin mengetahui kebenarannya. Memilih menutup semua celah, yang bisa saja mengungkapkan kalau yang salah itu Lucy, bukan Bagas.
***
Bersambung...
mudah mudahan ada penolong 🤲
mimpi aja kamu Leo 🤭
Nicklas
niklas🙈