Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbicara dari hati ke hati
Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan berakhirnya ujian hari pertama. Namun bagi Dita, ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di saat siswa lain berhamburan keluar dengan wajah lega, Dita justru celingukan di koridor, matanya liar mencari sosok tinggi dengan tas ransel hitam yang sangat ia kenali.
"Ren, lihat Angga nggak?" tanya Dita panik pada Rena yang baru keluar kelas.
Rena menggeleng lemah. "Tadi kulihat dia keluar duluan lewat pintu belakang, Dit. Dia sepertinya benar-benar nggak mau ketemu kamu."
Dita tak menyerah. Ia berlari menuju parkiran, lalu ke kantin, hingga ke belakang gudang olahraga, tempat mereka memutuskan hubungan tempo hari. Nihil. Angga seolah menguap ditelan bumi. Dita menyandarkan tubuhnya di tembok koridor yang sepi, napasnya memburu.
"Angga... pliss, kasih aku waktu buat jelasin," gumamnya lirih. Air mata nyaris jatuh, namun ia menahannya. Ia merasa seperti mengejar bayangan yang sengaja lari menjauh setiap kali ia mendekat. Rasa bersalah itu kini terasa berkali-kali lipat lebih berat daripada soal ujian yang baru saja ia kerjakan.
Di Sebuah Gudang Tua, Pinggiran Jakarta
Suasana sunyi mendadak pecah oleh suara rem mobil yang berdecit dan dentuman pintu yang didobrak paksa.
"POLISI! JANGAN BERGERAK!" teriakan bariton Arjuna menggema, diikuti derap langkah sepatu lars tim buser yang mengepung area tersebut.
Senjata laras panjang diarahkan ke segala sudut. Beberapa anggota geng Cobra yang sedang berpesta miras langsung tiarap ketakutan. Namun, Arjuna menyapu pandangannya ke seluruh ruangan dengan tatapan tajam. Ada sesuatu yang salah. Kursi di ujung ruangan masih hangat, dan sebuah pintu rahasia di balik tumpukan kayu tampak sedikit terbuka.
"Sial! Kamar itu kosong!" seru salah satu anggota tim.
Arjuna berlari menuju pintu belakang, namun yang terdengar hanyalah deru mesin motor trail yang menjauh di tengah semak belukar. Gareng, sang ketua komplotan yang paling licin, telah lolos.
"Brengsek!" Arjuna memukul tembok gudang dengan tangan terkepal. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah. "Bagaimana bisa dia tahu kita akan datang tepat waktu?"
"Sepertinya ada kebocoran informasi dari dalam, Komandan," lapor salah satu anak buahnya dengan wajah tertunduk.
Arjuna menghela napas panjang, mencoba meredam emosi yang meluap. Gareng bukan sekadar penjahat biasa baginya; pria itu adalah kunci untuk membuktikan kebenaran pada Dita soal malam kematian ayahnya.
"Sebarkan foto dan identitasnya ke seluruh jajaran. Masukkan dia ke dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) malam ini juga!" perintah Arjuna dingin. "Jangan biarkan dia keluar dari kota ini. Aku sendiri yang akan menyeretnya ke balik jeruji besi."
Di bawah temaram lampu gudang, Arjuna menatap lencana di dadanya. Tugasnya kini bukan lagi sekadar menangkap penjahat, tapi juga memburu kebenaran yang terancam hilang.
*
*
Hari terakhir Ujian Nasional pun tiba. Suasana sekolah yang biasanya bising dengan tawa kini terasa sunyi dan melankolis. Bagi sebagian orang, ini adalah hari perpisahan, namun bagi Dita, ini adalah hari di mana ia merasa benar-benar kehilangan dunianya.
Di sudut koridor lantai dua, Angga berdiri mematung di balik pilar beton. Matanya yang sayu terus mengikuti pergerakan Dita yang sedang berjalan gontai menuju ruang ujian. Ada rasa sakit yang menghujam tiap kali ia melihat gadis itu, namun pedulinya belum juga mati. Ia ingin sekali berlari, memeluknya, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, bayangan wajah Arjuna, kakak laki-laki yang sangat ia hormati, seolah menjadi tembok raksasa yang mustahil ditembus.
"Kenapa harus Mas Juna, Dit?" bisik Angga pada angin, suaranya tercekat di tenggorokan.
*
*
Di sebuah gubuk kayu yang tersembunyi di tengah rimbunnya kebun tua, Gareng menyeringai lebar. Di depannya tergeletak beberapa lembar foto hasil jepretan anak buahnya. Matanya yang merah menatap tajam foto Arjuna yang sedang merangkul Dita di depan rumah tempo hari.
"Ha.. ha.. ha.. Dewi Fortuna benar-benar sedang berpihak padaku!" tawa Gareng pecah, memperlihatkan deretan giginya yang kuning. "Polisi sombong itu... jadi dia sudah bermain dengan mangsaku?"
Ia menggebrak meja kayu yang lapuk. "Bukankah si tua bangka Indra itu pernah menjadikan putrinya sebagai jaminan hutang pinjamannya dulu? Kenapa aku baru ingat sekarang! Dan sekarang bocah itu jadi kesayangan AKBP Arjuna? Akh... kebetulan yang sangat indah!"
Gareng mengusap belati di pinggangnya. "Satu peluru untuk dua burung. Aku dapatkan kembali 'jaminanku', dan aku hancurkan hidup polisi sialan itu lewat wanita ini."
*
*
Bel akhir ujian berbunyi nyaring. Dita tidak memedulikan sorak-sorai teman-temannya yang merayakan kelulusan. Begitu melihat sosok Angga menyelinap keluar lewat gerbang belakang sekolah, Dita langsung berlari mengejar. Ia tidak peduli lagi dengan harga diri, ia hanya ingin kejujuran.
Dita berhasil menyalip dan menghadang langkah kaki Angga di sebuah jalan setapak yang sepi di balik sekolah. Angga tersentak, ia membuang muka ke arah lain.
"Minggir... Jangan halangi jalanku!" ucap Angga dengan nada dingin yang dipaksakan.
"Angga, dengar! Aku bisa jelaskan semuanya!" pinta Dita memohon, matanya sudah berkaca-kaca.
"Sudah cukup... Kakak Ipar!"
Deg!
Dita merintih dalam hati. Panggilan itu terasa lebih tajam daripada sayatan pisau. "Angga, kumohon... berikan aku satu kesempatan untuk menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi antara aku dan Kakakmu! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan!"
Angga tidak menghiraukannya. Ia mencoba melangkah pergi, namun suara Dita yang bergetar menghentikan denyut jantungnya.
"Angga, aku masih mencintaimu... Kumohon jangan seperti ini!" teriak Dita putus asa.
Langkah Angga membeku. Pertahanannya runtuh seketika. Kata-kata itu adalah racun sekaligus obat bagi hatinya yang hancur. Ia berbalik, menatap wajah Dita yang sudah basah oleh air mata. Tanpa berpikir panjang, Angga maju dan menarik Dita ke dalam pelukannya yang sangat erat, pelukan kerinduan yang bercampur dengan rasa sakit yang mendalam.
" kenapa harus seperti ini Dit, aku pun masih sangat mencintaimu, hatiku benar-benar hancur menerima kenyataan pahit ini, kenapa harus dengan Mas Juna, Dit? dia adalah kakakku yang sangat aku sayangi dan aku hormati!" ucapnya yang semakin erat memeluk Dita.
Dita sendiri akhirnya mulai menjelaskan apa sebenarnya yang telah terjadi antara dirinya dengan Arjuna, serta peristiwa dimana akhirnya ia terpaksa menikah dengan Arjuna karena permintaan terakhir mendiang ayahnya.
Dita terisak di dada Angga, setelah ia selesai menjelaskan semua kejadiannya kepada Angga, dan tidak menyadari bahwa di balik semak-semak yang rimbun, sebuah lensa kamera ponsel telah mengabadikan momen tersebut. Seorang pria berpakaian hitam dengan tato kecil di lehernya tersenyum licik.
‘Dapat juga. Pak Juna pasti akan sangat senang melihat foto "mesra" istrinya dengan adiknya sendiri,’ batin orang suruhan Maudy yang rupanya sedang bekerja sama dengan kaki tangannya Gareng.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna