Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.
Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .
Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.
Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desas-desus di pasar
Dari dalam kamar, samar-samar Sekar mendengar Danu bicara dengan seseorang di telepon. Suaranya memang tak begitu keras karena Danu ada di balkon, tapi Sekar bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku akui aku memang salah. Tidak papa kalau kamu memang kecewa padaku. Tapi sekarang jalan kita sudah berbeda Lid, aku mohon kamu mengerti"
Jantung Sekar berdetak dengan keras begitu mama itu di sebut. Danu meminta Lidya untuk mengerti, itu tandanya Lidya belum menerima keputusan Danu atas berakhirnya hubungan mereka.
Sekarang luka karena rasa bersalah Sekar semakin besar. Dia merasa dadanya terdapat lubang besar yang membuat dirinya terbebani dengan itu semua.
"Maaf Lid, aku tidak bisa"
Sekar masih terus mendengar pembicaraan Danu dan Lidya. Suara Danu terdengar lembut saat bicara dengan mantan kekasihnya itu.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Sekar langsung menutup matanya begitu melihat Danu masuk kembali ke kamar. Sekar menajamkan pendengarannya. Menerka apa yang dilakukan Danu saat ini karena Danu tak kunjung kembali lagi ke ranjang.
Tapi sesaat stelah itu, Sekar mendengar suara pintu terbuka, kemudian tak lama tertutup kembali. Seiring dengan itu, mata Sekar ikut terbuka.
Sekar tak tau apa yang akan dilakukan Danu saat ini. Kenapa Danu pergi keluar malam-malam begini setelah menerima telepon dari Lidya.
Dada Sekar semakin terasa sesak saat mendengar suara mobil milik Danu keluar dari garasi. Sekar semakin merasa kecil, dia semakin merasa tak ada apa-apanya di rumah itu.
Air mata Sekar sudah meleleh membasahi pipinya. Dia terisak dalam keheningan di dalam kamar.
Tapi tak berselang lama, pintu kamar kembali terbuka dan Danu muncul dari sana. Dalam keadaan Sekar yang masih menangis, dia belum sempat membersihkan air matanya, dia juga tidak sempat untuk berpura-pura tidur lagi.
Ternyata Sekar salah paham, bukan Danu yang pergi. Tapi entah siapa dan apa yang sebenarnya terjadi Sekar tidak tau.
"Kenapa menangis?" Danu terlihat bingung melihat keadaan Sekar saat ini.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" Danu mendekati Sekar dan duduk di sisi ranjang.
"Nggak papa Mas, aku cuma teringat Ibu" Sekar memilih berdusta.
"Mas dari mana?" Sekar mencoba mencari tau atas rasa penasarannya.
"Tadi..." Danu berhenti sebentar, dia tampak menatap Sekar dengan sungkan.
"Lidya menghubungiku"
Deg...
Meski Sekar sudah tau, dan dia sedikit mendengar pembicaraan mereka, tapi tetap saja hati Sekar sakit. Entah apa penyebabnya, padahal dia tidak mencintai Danu. Kenapa juga dia harus sakit hati.
"Dia ada sedikit masalah dan meminta bantuan, jadi aku meminta Pak Bejo untuk datang ke tempat Lidya dan melihat apa yang sedang terjadi"
Sekar menatap Danu, entah Danu bohong atau tidak, hati Sekar merasa senang karena Danu mau bercerita padanya.
"Ke-kenapa bukan Mas sendiri yang berangkat ke tempat Mbak Lidya?"
Danu terlihat membuang napasnya dengan berat. Namun tatapan matanya masih tertuju pada Sekar.
"Sekarang aku punya tanggung jawab lain. Aku membantu Lidya hanya sebatas kemanusiaan dan Lidya sekarang bukan lagi prioritasku. Aku sudah punya istri dan aku menghargai kamu sebagai istriku"
Setelah dadanya terasa sesak bahkan napasnya terasa mencekik, sekarang dadanya terasa dialiri dengan sesuatu yang dingin dan menyejukkan hanya karena kalimat yang dirangkai Danu untuk dirinya.
🏵️🏵️🏵️
Pagi harinya, Mbok Sum sedang tidak enak badan, dan Bu Subroto dengan nada memerintah meminta Sekar untuk pergi ke pasar sendiri.
"Jangan cuma numpang makan dan tidur. Ke pasar, beli kebutuhan dapur. Kamu kan sudah tahu seleranya Danu" Ketus ibu mertuanya sambil melemparkan dompet berisi uang ke atas meja makan.
Sekar hanya mengangguk patuh. Ia mengenakan dress katun berwarna krem kesayangannya meski sudah agak pudar, tapi kainnya masih nyaman di kulit. Ia mengikat rambutnya dengan jepit sederhana, memperlihatkan wajahnya yang tirus dan kulit lehernya yang bersih. Dengan tas belanjaan kain di tangan, ia melangkah keluar dari gerbang toko Sumber Rejeki.
Pasar kota kecil ini hanya berjarak beberapa ratus meter dari toko. Begitu Sekar menginjakkan kaki di area pasar yang becek, ia sudah bisa merasakan tatapan-tatapan aneh tertuju padanya.
Orang-orang di sini mengenalnya, dulu ia sering terlihat memanggul cucian berat atau membantu menimbang paku di toko Danu dengan pakaian kumal. Kini, melihatnya berjalan sebagai anggota baru keluarga Subroto, lidah orang-orang pasar seolah gatal untuk berkomentar.
Sekar mencoba fokus pada catatan belanjanya. Ia berhenti di depan lapak sayur milik Bu Warsi, tempat ia dulu sering membeli sisa-sisa sayuran murah di sore hari.
"Eh, Sekar? Jam segini sudah belanja?" Tanya Bu Warsi dengan nada yang dibuat-buat ramah, tapi matanya sibuk memindai penampilan Sekar dari atas ke bawah.
"Iya, Bu. Mau beli bayam sama tempe" Jawab Sekar pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh bisingnya pasar.
"Oalah, sekarang mah seleranya sudah beda ya? Istri bos toko bangunan, sih. Enak ya nasibmu. Bisa langsung naik pangkat dari tukang cuci jadi nyonya rumah" Seloroh Bu Warsi sambil terkekeh.
Sekar hanya menunduk, ia tidak menyahut. Jemarinya gemetar saat memilih ikat bayam. Saat itulah, ia mendengar bisikan dari dua orang ibu di lapak sebelah, yang sengaja dikeraskan agar ia mendengarnya.
"Iya, itu kan si Sekar. Hebat ya, pancingannya langsung kena. Dengar-dengar dia kecelakaan dulu baru dinikahi Danu. Kasihan Mas Danunya, terpaksa tanggung jawab gara-gara khilaf semalam"
"Duh, padahal Mas Danu itu kan dambaan orang sini. Pintar, ganteng, mapan lagi. Harusnya dapat yang selevel, kayak Mbak pacarnya yang cantik itu. Eh, malah dapatnya yang cuma modal perut. Bu Subroto pasti makan hati itu punya menantu begitu"
Deg...
Hati Sekar seolah diremas. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin sekali lari dari sana, tapi kakinya terasa terpaku di tanah yang lembap. Ia tidak berani mendongak, tidak berani membela diri. Ia hanya diam, membiarkan kata-kata menyakitkan itu masuk dan melukai batinnya.
"Nih, bayamnya. Sepuluh ribu saja. Buat Nyonya mah murah, kan?" Bu Warsi menyodorkan kantong plastik dengan senyum yang tampak mengejek.
Sekar menyerahkan uangnya dengan tangan yang masih gemetar. Saat ia berbalik untuk pulang, ia hampir saja menabrak beberapa pemuda kuli panggul yang sedang beristirahat di pinggir jalan.
"Waduh, Nyonya Danu! Makin cantik saja sejak jadi orang kaya. Rahasianya apa? Biar bisa memikat bos?" Goda salah satu pemuda itu sambil bersiul.
Sekar mempercepat langkahnya. Ia tidak menoleh sedikit pun. Isakannya mulai terdengar tertahan. Ia merasa sangat terhina. Ternyata di mata orang-orang, dia tidak lebih dari wanita licik yang menjebak Danu. Kecantikannya, kulitnya yang bersih, dan sikap penurutnya tidak ada harganya di hadapan status sosialnya yang dulu hanya seorang buruh cuci.
Begitu sampai di depan gerbang toko, ia melihat mobil pickup Danu baru saja masuk. Danu turun dari mobil, wajahnya tampak lelah setelah mengecek proyek di kecamatan sebelah. Ia melihat Sekar yang berjalan terburu-buru dengan mata yang merah dan bahu yang berguncang.
"Sekar?" Panggil Danu.
Sekar tersentak. Ia segera menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu menunduk dalam di depan suaminya.