Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 PGS
Bunda Nia menyambut kedatangan Ariel dengan sangat bahagia. "Apa kabar Ariel, sudah lama tidak bertemu kamu semakin tampan saja," puji Bunda Fuja.
"Ah Tante bisa saja. Ariel baik-baik saja kok Tante, bagaimana kabar Tante?" Ariel balik bertanya.
"Tante juga baik-baik saja, hanya waktu Ayahnya Fuja meninggal Tante merasa down dan kehilangan banget," sahut Bunda Nia.
"Iya, Ariel turut berduka cita atas meninggalnya Om Pepen," sahut Ariel.
"Aku sangat terpukul tahu saat Ayah meninggal, pria satu-satunya yang mencintai aku sudah tidak ada lagi di dunia ini aku sudah tidak punya pelindung lagi," ucap Fuja dengan deraian air matanya.
Ariel yang merasa kasihan, langsung memeluk Fuja. "Jangan bicara seperti itu, masih ada aku jadi jika kamu dan Tante Nia butuh apa pun, kalian bilang saja sama Ariel," sahut Ariel.
Fuja semakin erat memeluk Ariel, dia sangat bahagia dan dia berencana akan menjawab permintaan Ariel waktu itu. Berbeda dengan Ariel, dia merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Bukanya dia bahagia dipeluk oleh Fuja, justru dia merasa tidak punya perasaan apa-apa lagi dalam hatinya.
"Kenapa bisa begini?" batin Ariel.
Malam pun tiba, Ariel makan malam bersama Fuja dan juga Bundanya. "Bagaimana Ariel? enak gak?" tanya Bunda Nia.
"Enak banget Tante," sahut Ariel.
"Makan yang banyak ya, Tante sengaja masak buat kamu," ucap Bunda Nia.
"Siap, Tante," sahut Ariel dengan senyumannya.
Setelah makan malam, Fuja pun mengajak Ariel mengobrol di teras rumahnya. "Riel, aku sudah pulang dua hari yang lalu, apa kamu tidak mau menagih jawaban dari aku?" tanya Fuja basa-basi.
"Menagih jawaban apa?" sahut Ariel pura-pura tidak tahu.
Fuja mulai cemberut. "Ih, kamu sudah lupa ternyata. Dulu sebelum aku berangkat kamu sempat mengatakan cinta untukku tapi karena aku pergi secara mendadak membuat aku belum sempat menjawabnya. Apa sekarang kamu gak mau dengar jawaban dari aku?" tanya Fuja.
"Kamu masih ingat?" seru Ariel tertawa kecil.
Fuja menggenggam tangan Ariel membuat Ariel kaget. "Aku akan menjawabnya sekarang," ucap Fuja.
Ariel menatap Fuja, jujur dalam hatinya dia tidak mau mendengar ucapan dari Fuja. "Aku mau menjadi pacar kamu, Riel. Bahkan jika kamu mau menikahiku, aku siap," ucap Fuja.
Reflek Ariel melepaskan genggaman tangan Fuja membuat Fuja mengerutkan keningnya. "Kenapa? kamu sudah tidak mau lagi sama aku?" ucap Fuja dengan nada yang lumayan tinggi.
"Ah, maksud aku bukan begitu, Fuja," sahut Ariel gugup.
Mata Fuja sudah berkaca-kaca dan itu membuat Ariel merasa bersalah. Ariel dengan cepat menggenggam tangan Fuja untuk menenangkan Fuja. "Aku tadi kaget saja kamu berkata seperti itu, justru itu adalah jawaban yang aku tunggu dari dulu," ucap Ariel ragu-ragu.
Seketika Fuja langsung tersenyum dan memeluk Ariel. "Aku sangat mencintaimu, Ariel," seru Fuja.
Ariel tidak bisa berkata apa-apa, dia kembali menoleh ke arah rumah Sherina. Dia berharap Sherina keluar karena untuk saat ini Ariel ingin tahu bagaimana kondisi Sherina. Fuja pun melepaskan pelukannya, dia sangat bahagia.
"Jadi mulai sekarang kita sudah resmi jadian ya?" tanya Fuja.
Ariel mengangguk dengan terpaksa bahkan senyumannya pun palsu. Ariel bingung dengan perasaannya sendiri, kenapa perasaannya bisa berubah dalam waktu sekejap. Padahal jawaban itu, dulu paling dia tunggu tapi kenapa sekarang dia tidak merasa bahagia sedikit pun.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22.00 malam, Ariel pun pamit. Pada saat Ariel naik ke atas motornya, dia melihat seseorang yang dia kenal masuk ke halaman rumah Sherina. Orang itu mengetuk pintu rumah dan Syarif yang membukanya, terlihat dia memberikan bungkusan kepada Syarif.
"Itu bukanya anak buah Papa, ngapain dia ke rumah Sherina?" batin Ariel.
Orang itu segera pergi dan Ariel pun bergegas menyusul dia. Dipertengahan jalan, Ariel berhasil mendahului motor itu. "Den Ariel," seru Sidik.
"Mang Sidik barusan ngapain ke rumah Sherina?" tanya Ariel yang langsung turun dari motornya.
"Anu Den----anu------"
"Anu apa? jawab!" sentak Ariel.
"Anu Den, saya disuruh Juragan Tama untuk memberikan obat buat anaknya Pak Tri," sahut Sidik ketakutan.
"Obat? memangnya Papa kenal dengan Sherina?" tanya Ariel bingung.
"Tidak tahu Den, lebih baik Aden tanyakan saja kepada Juragan karena saya tidak tahu apa-apa, saya hanya disuruh saja," ucap Sidik.
Ariel pun terdiam, lalu dia segera pergi menuju rumahnya. Sementara itu di dalam kamar, Tama sedang mengitung uang gepokan di atas ranjang. Ningning secara perlahan mendekati dan duduk di samping suaminya itu.
"Pa, apa Mama boleh bertanya?" seru Mama Ningsih hati-hati.
"Mama mau tanya apa?" sahut Juragan Tama.
"Tadi ada Ibu-ibu datang ke sini, katanya mereka melihat Papa memberikan uang kepada istrinya Pak Tri, apa itu benar?" tanya Mama Ningsih.
Tama seketika menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap Ningsih dengan tatapan tidak percaya. Tama sedikit kaget karena kelakuannya tadi ada yang melihat. Tama seketika tersenyum dan memperlihatkan wajah yang polos.
"Oh itu, tadi Papa cuma ngasih uang buat berobat untuk anaknya, soalnya anaknya lagi sakit. Itu bagian dari peraturan perkerjaan, Pak Tri meminjam uang kepada Papa untuk berobat anaknya lalu Papa pun mengantar uang itu langsung ke rumahnya karena Papa ingin lihat takutnya Pak Tri bohong dan akal-akalan," dusta Juragan Tama.
Ningsih pun akhirnya tersenyum lega. "Akhirnya Mama lega, tadi Mama sudah khawatir banget tapi Mama masih percaya sama Papa kok karena Papa tidak mungkin mengkhianati Mama, iya kan?" seru Mama Ningsih dengan senyumannya.
"Tentu saja, mana mungkin Papa mengkhianati Mama," sahut Juragan Tama dengan santainya.
Ningsih lega, akhirnya ini semua salah paham padahal Ningsih tidak tahu jika suaminya saat ini sedang berbohong. "Sudah, sekarang Mama tidur saja jangan banyak pikiran dan jangan percaya dengan omongannya ibu-ibu tukang gosip itu," ucap Juragan Tama.
"Iya, Pa," sahut Mama Ningsih.
Ningsih pun merebahkan tubuhnya dan tertidur. Sedangkan Tama menyunggingkan senyumannya kala istrinya percaya dengan ucapan dirinya. "Maaf Ma, Papa ingin menikah lagi dengan Jeng Wita, nanti kalau Jeng Wita sudah setuju maka Papa akan minta izin sama Mama," batin Juragan Tama.
***
Keesokan harinya....
"Pa, tadi malam aku melihat Mang Sidik ke rumah Sherina, apa benar itu suruhan Papa?" tanya Ariel.
"Iya, Papa suruh dia untuk mengantarkan obat. Ini 'kan tugas Papa sebagai bos, harus memberikan perhatian kepada karyawan perkebunan Papa. Papa dengar anaknya Pak Tri sakit, ini baru pertengahan bulan belum gajihan takutnya mereka gak punya uang buat beli obat jadi Papa kirim saja obat untuk anaknya," jelas Juragan Tama santai.
"Kok Papa sepertinya perhatian banget sama keluarga itu?" seru Rossa.
"Bukan perhatian, memang tugas Papa seperti itu. Bukanya dari dulu juga Papa suka memberikan uang jika ada yang sakit?" sahut Juragan Tama.
"Iya, juga sih," ucap Rossa.
"Nah, ya sudah terus masalahnya apa?" tanya Juragan Tama santai.
Keduanya langsung terdiam dan tidak berkata apa-apa. Lagi-lagi alasan yang diberikan oleh Tama masuk akal dan tidak termasuk mencurigakan.